
Happy reading......
"Cepat tembak dia dengan racun itu!" ucap salah satu anak buah Excel pada pembidik.
Pria yang berwajah garang itu pun mengangguk, kemudian dia mulai membidikkan sebuah jarum yang berisi racun ke arah Bintang. Namun saat racun itu akan mengenai Bintang, tiba-tiba saja mama Ria datang untuk mengajak Bintang masuk.
"Aagh!" jerit mama Ria saat merasakan sesuatu yang menancap di punggungnya.
"Mama kenapa?" tanya Bintang dengan panik.
"Tidak tahu Nak, punggung Mama terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang ..." Belum juga ucapan mama Ria selesai, wanita itu sudah pingsan.
"Astaga! Mama!" teriak Bintang.
Beberapa pengawal yang ada di sana segera menghampiri Bintang, kemudian mereka menatap ke arah jarum yang tertancap di punggung mama Ria, lalu mereka pun mencabutnya dan menciumnya.
"Astaga! Ini sudah dibaluri dengan racun. Gawat, cepat bawanya ke dalam! Jangan lupa dengan Nona muda juga!" ucap salah satu pengawal dengan panik.
Emil baru saja sampai di kediaman Ferdinand, dan berbarengan dengan itu papa Ezra juga baru pulang dari kantornya. Mereka pun masuk ke dalam. Namun seketika tatapan mereka terpaku, saat melihat anak buah Jasper sedang menggendong mama Ria dan menidurkannya di sofa.
"Mama! Sayang, Mama kenapa?" tanya Emil dengan panik saat melihat mamanya pingsan.
"Aku tidak tahu sayang, tiba-tiba saja saat Mama menghampiriku di taman belakang, terus ada sesuatu yang menancap di punggungnya. Dan saat diperiksa oleh pengawal, ternyata itu sudah dibaluri dengan racun," jelas Bintang dengan waraut wajah yang sudah panik.
"Apa! Racun?!" kaget Emil, kemudian dia melihat punggung sang mama.
"Keterlaluan! Mereka benar-benar sudah melewati batas!" geram papa Ezra.
__ADS_1
"akamu telepon Jasper, dia pasti memiliki penawarnya, cepat!" titah papa Ezra kepada Emil, dan pria itu pun langsung menganggukkan kepalanya.
Kemudian Emil pun menelpon Jasper untuk meminta penawarnya. Apalagi saat ini dari mulut mama Ria sudah keluar busa, efek dari racun tersebut. Dan papa Ezra segera mengecek nadi istrinya.
"Gawat! Detak jantung Mama semakin lemah!" panik papa Ezra. Kemudian dia langsung menggendong mama Ria ke kamar, lalu dia langsung memompa darah mama Gita. Pria itu melakukan tindakan pertama untuk menyelamatkan istrinya.
Bintang yang melihat itu pun semakin panik, dia merasa bersalah karena entah kenapa, Bintang merasa jika mama Ria begitu karenanya. Walaupun tidak secara langsung, dan tidak sengaja racun itu mengenai mertuanya.
Karena kepanikan yang terlalu dalam, membuat saraf-saraf yang ada di tubuh Bintang menegang, hingga perutnya terasa sakit. Dia pun meringis sambil memegangi perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" panik Emil saat melihat Bintang kesakitan.
"Aduh, sayang. Perut aku sakit banget ini. Aawh ..." ringis Bintang sambil menahan sakit yang begitu menyiksa di perutnya.
Kemudian Emil menidurkan Bintang di sofa, lalu dia meminta pelayan untuk membawakan air hangat. "Kamu tenang dulu, jangan tegang! Mama tidak akan kenapa-napa. Ingat, jangan banyak pikiran, dibawa rileks sayang! Rileks." Emil berkata dengan wajah yang panik.
"Bagaimana mungkin bisa kalian ke colongan, hah? Apa kalian tidak menjaga keluargaku!" bentak Emil pada salah satu anak buah Jasper yang berada di ambang pintu, sambil menundukkan kepalanya.
"Maafkan kami, Tuan. Kami menjaga dari jarak yang lumayan jauh. Kami tidak tahu jika ada pembidik dari jarak jauh, sehingga mengenai nyonya besar. Tapi kami merasa jika sasarannya adalah Nona Bintang, akan tetapi kebetulan Nyonya besar datang, dan sehingga bidikan itu terkena kepadanya. Itu yang saya analisa Tuan," jelas anak buah Jasper.
Emil yang mendengar itu pun merasa geram. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan sorot mata yang tajam. Apalagi saat ini dia melihat Bintang sedang kesakitan, dan sang mama sedang dalam keadaan kritis.
Sedangkan papa Ezra sedang memberikan pertolongan kepada istrinya. Walaupun dia selama ini terkenal dengan pria yang pendiam, tapi siapa yang tahu, jika papa Ezra juga pernah menjadi anggota mafia. Jadi dia sudah tahu pertolongan seperti apa yang harus diberikan kepada istrinya.
Tak lama Jasper datang sambil membawakan penawar, kemudian dengan cepat papa Ezra langsung memberikan penawar itu, dan meminumkannya kepada mama Ria.
Tak lama wanita itu memuntahkan darah yang kental dari mulutnya, lebih tepatnya racun yang baru saja masuk ke dalam tubuh. Untung saja Jasper dengan cepat membawakan penawarnya Jika tidak, dan lewat dari beberapa menit saja, nyawa mama Ria sudah hilang.
__ADS_1
"Mereka benar-benar sudah keterlaluan! Kita tidak bisa tinggal diam saja. Emil, strategi sudah kita susun, dan aku rasa nanti malam kita harus melakukan penyerangan," ucap Jasper di hadapan Bintang dan juga papa Ezra.
"Kau benar. Aku tidak terima dia telah menyakiti keluargaku!" geram Emil dengan sorot mata yang penuh kebencian.
"Kalian memang harus memberi pelajaran kepadanya. Papa akan membantu menyumbangkan beberapa senjata terampuh dalam klan mafia Papa." timpal papa Ezra dengan amarah yang sudah memuncak.
"Apa? Klan mafia? Jadi Papa selama ini ..." Emil menggantung ucapannya sambil menatap sang papa.
pria itu menganggukkan kepalanya iya selama ini Papa tidak pernah menceritakan tentang masa lalu di mana Papa juga pernah terjerumus ke dalam lembah yang hitam namun sampai saat ini kami masih memproduksi senjata untuk para klan mafia lainnya jelas Papa Ezra.
"Baiklah, kita akan melakukan penyerangan nanti malam. Kau siapkan anak buahmu Jasper! Jangan sampai mereka juga lengah, paham!" titah Emil.
Jasper menepuk pundak sahabatnya. "Tidak usah cemas! Urusan anak buahku biar menjadi aturanku. Tapi yang kuhawatirkan adalah keluargamu. Aku rasa, di sini ada mata-mata. Entah itu dari pelayanmu, karena dari anak buahku tidak mungkin. Sebab mereka di tubuhnya sudah aku pasang bom. Jadi jika mereka berkhianat, bukan hanya bom itu yang akan meledak di tubuhnya, tapi keluarga mereka juga akan hancur sampai ke akar-akarnya," jelas Jasper.
"Kau benar. Aku harus mengamankan istriku terlebih dahulu," ucap Emil.
Bintang merasa perutnya sudah jauh lebih baik, dia menatap ke arah suaminya, kemudian memanggil Emil dengan nada yang lirih.
"Ada apa, sayang?" tanya Emil dengan lembut, sambil mengusap perutnya. "Apa perut kamu sudah lebih enakan?" tanya Emil dengan cemas.
"Aku mohon, jangan pergi! Aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Kita akan segera mempunyai anak, tapi jika terjadi apa-apa denganmu, lalu aku harus apa? Tolong, demi aku, demi anak kita!" pinta Bintang.
"Kamu tidak usah cemas, sayang. Aku akan baik-baik saja. Kamu di rumah saja jangan kemana-mana! Di sini juga ada papa yang akan menjaga kamu, dan beberapa anak buah dari Jasper. Pokoknya sebelum aku kembali, jangan pernah keluar rumah, jangan pernah keluar kamar paham!" titah Emil kepada Bintang.
Wanita itu terlihat ragu untuk menganggukkan kepalanya. Entah kenapa, perasaan dia menjadi tidak enak saat mendengar sebuah nama peperangan. Karena jika ada kata perang, sudah pasti menyangkut dengan kematian.
Walaupun selama ini Bintang dan Emil tidak pernah akur. Namun saat mendengar suaminya akan berperang, tentu saja Bintang merasa ketakutan. Apalagi dengan keadaan dia yang saat ini tengah hamil.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....