Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Menyebalkan


__ADS_3

HAPPY READING


Tiwi dan juga Leon saling melirik satu sama lain saat mendengar ucapan dari Bintang, kemudian Tiwi memutar bola matanya dengan malas, lalu dia meminum jusnya kembali dan mengacuhkan ucapan sahabatnya.


''Kalau kalian mau pacaran silahkan, aku pulang saja. Lagi pula aku mau ke toko Bakery nya mama,'' ucap Tiwi menyelesaikan makanannya, kemudian dia beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja itu.


''Jubaidah lo mau ke mana? Masa gitu aja ngambek? Gue 'kan, cuma bercanda.'' Bintang merasa tidak enak jika nanti Tiwi tersinggung dengan ucapannya.


''Gue mau ke toko bakery mama. Lagi pula nanti sore ada pesanan yang harus di antar. Kalau gitu, gue pulang dulu ya. Kalian baik-baik, ingat jangan mikirin si lumpur lapindo itu! Kalau dia berani ganggu lo lagi, bilang sama gue! Biar gue kasih ciumaan sandal jepit ala Jubaedah,'' ujar Tiwi sambil mengambil tas-nya.


Setelah itu, dia pun pamit keluar dari restoran. Dan Emil yang melihat itupun menatap kearah Leon, sambil mengarahkan matanya ke arah pintu restoran.


''Maksud lo, apa? Mata lo sakit? Atau leher lo kecengklak?'' tanya Leon yang tidak mengerti dengan kode dari Emil.


BUGH!


Emil melempar bantal sofa ke arah Leon, hingga pria itu menangkap benda yang di lempar oleh sahabatnya.


Emil mengusap wajahnya dengan kasar, karena Leon dalam hal cinta itu sangat lemot. ''Kau ini lemot sekali sih? Ayo diantar pulang tuh si Jubaedah!'' titah Emil sambil menyandarkan tubuhnya di sofa dan merangkul pundak Bintang.


Leon menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan Emil. ''Loh, kok gue yang nganter dia pulang?'' bingung Leon sambil menunjuk wajahnya sendiri.


''Ayolah Kak Leon, kasihan Tiwi kalau pulang sendiri. Lagi pula, emangnya Kakak mau lihat kita pacaran di sini?'' timpal Bintang sambil menyuapi Emil dengan kentang goreng.


Leon terdiam, kemudian dia menatap kearah dua orang yang ada di hadapannya itu, lalu dia pun mendengus dengan kasar. ''Baiklah, daripada aku di sini jadi kambing conge, mendingan aku pergi,'' ujar Leon sambil beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan suami istri itu.


Bintang dan juga Emil meny ber-tos ria sambil tersenyum. ''Kita akan buat mereka jadian, sayang. Gimana, kamu setuju gak?'' tanya Emil kepada Bintang, dan wanita itu langsung mengangguk dengan senang.

__ADS_1


''Iya sayang, aku juga pengen deh ngelihat mereka jadian. Lagi pula, si Tiwi juga 'kan jomblo, terus kak Leon juga jomblo. Jadi aku rasa mereka cocok,'' timpal Bintang sambil kembali menyuap Emil.


*************


Tiwi berjalan menyusuri Mall. Dia senang, karena masalah mereka bertiga telah selesai. Tiwi juga merasa lega, karena dia sudah menceritakan semuanya kepada Bintang. Jadi tidak ada lagi yang mengganjal di hati wanita itu.


Karena sejatinya jika kita menyembunyikan sesuatu dari seseorang, apalagi orangnya itu adalah sahabat kita. Maka rasanya seperti membawa beban yang berat, dan Tiwi sekarang merasa plong, karena dia tidak menyembunyikan apapun lagi dari Bintang.


Saat pintu lift terbuka, Tiwi pun langsung masuk ke dalam, dan dia kaget saat ada seorang pria masuk juga ke dalam lift itu, dan ternyata dia adalah Leon. Namun Tiwi aku biasa saja, dia tidak perduli dengan kehadiran Leon disisi-nya. Wanita itu memencet lantai satu kemudian lift pun murai turun.


Leon berdehem untuk menarik perhatian Tiwi, tapi wanita itu masih sibuk dengan ponsel-nya. Dia tidak perduli dengan Leon sama sekali.


'Dasar wanita robot! Aku berdehem saja, dia tidak menengok. Apa telinga dia belum dibersihin, ya?' batin Leon dengan kesal, saat melihat jika tidak ada reaksi dari Tiwi.


Pintu lift pun terbuka, kemudian Tiwi berjalan keluar untuk mencari taksi. Namun tangannya langsung dicekal oleh Leon dan menariknya ke ke arah mobil. Tiwi yang merasa bingung pun memberontak dan melepaskan pegangan tangan Leon di pergelangan tangannya.


''Aku akan mengantarmu pulang, ayo!'' ajak Leon sambil kembali menarik tangan Tiwi, tapi wanita itu lagi-lagi menghempaskan dengan kasar.


''Anda ini ngajak saya pulang, atau Anda menyeret saya? Ini bukan ngajak namanya, tapi pemaksaan!'' Tiwi berucap dengan nada yang ketus.


Dia tidak habis pikir dengan Leon, ada lelaki seperti pria itu. Di mana mengajak seorang perempuan untuk pulang, tetapi malah memaksanya. Bahkan kesannya Leon seperti menyeret Tiwi, agar wanita itu masuk ke dalam mobilnya.


Leon yang dikatakan seperti itu pun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung caranya untuk menawari Tiwi pulang, karena gengsi di dalam diri Leon sangatlah tinggi. Dia takut jika Tiwi nanti kegeer-an saat dirinya menawarkan pulang, padahal itu adalah permintaan dari Emil.


''Aku hanya ingin mengantarkan-mu pulang, bukan menyeret.'' bantah Leon dengan nada canggung.


''Mengantarkan sama memaksa itu, beda Tuan singa yang terhormat! Saya bisa naik taksi sendiri, tidak usah di anta. Lagi pula, kalau saya dekat-dekat dengan Anda, yang ada saya bisa kena darah tinggi. Udah deh, Anda ini benar-benar seperti lumpur lapindo, bikin saya kesal.''

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Tiwi pun berjalan menjauh dari Leon. Wanita itu akan pergi untuk menaiki taksi, tetapi Leon yang sudah di amanahi oleh Emil dan juga Bintang untuk mengantarkan Tiwi pulang, tidak bisa membiarkan wanita itu untuk pergi sendiri.


Kemudian Leon berjalan ke arah Tiwi, lalu dia menggendong tubuh wanita itu tanpa permisi.


Tiwi tersentak kaget saat tubuhnya melayang dan digendong oleh Leon. ''Hei, apa yang lo lakuin? Kenapa lo gendong gue?'' berontak Tiwi saat Leon menggendong dirinya.


Jantung Tiwi bahkan sudah berdetak dengan kencang. Dia dapat melihat rahang tegas, bibir yang seksi, hidung mancung, mata yang tajam, tubuh wangi dan alis tebal milik Leon. Wanita itu sejenak terpaku dengan ketampanan Leon.


'Dia benar-benar tampan jika dilihat dari dekat, tetapi kenapa sifatnya sangat menyebalkan?' batin Tiwi merasa heran.


Lamunannya tersadar saat Leon mendudukan tubuhnya di jok mobil, kemudian dia memukul dada Leon. ''Dasar kembarannya harimau! Ngapain kamu giendong-gendong aku? Aku bisa jalan sendiri!'' kesal Tiwi sambil memanyunkan bibirnya.


''Dasar nenek lampir, berisik!'' jawab Leon sambil menutup pintu mobil. Tiwi yang mendengar itu pun merasa geram. Dia menatap tajam kearah pria yang sedang berjalan mengitari mobilnya dan duduk di sebelahnya.


''Heh, lo bilang apa tadi? Gue nenek lampir? Enak aja. Lo kalau ngomong jangan asal jeplak. Kalau ganti nama orang nggak ada bagus-bagus nya banget? Gak bisa main sama nenek lampir aja dong! Mendingan lo samain gue, sama Nikita Willo, yang cantik, anggunly.''


Tiwi terus aja berceloteh dan menggerutu, saat Leon mulai meninggalkan mall itu, tetapi pria yang ada di sampingnya itu tidak perduli dengan ocehan Tiwi. Akan tetapi, lama-lama Leon geram juga, karena Tiwi terus aja berbicara tanpa ada rem.


''Lalu, jika kamu bukan nenek lampir, apa dong? Dari tadi kamu berbicara terus nggak ada remnya, berisik tau nggak sih? Kalau mau disamain sama Nikita Willo, ya jangan bar-bar,'' jawab Leon dengan nada yang ketus.


''Tau ah, gelap.'' Tiwi berbicara dengan anda yang ketus. Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah samping dan melipat kedua tangannya di depan dada.


''Mata Anda picek? Ini masih siang, belum malem? Bulan juga belum datang, mataharinya belum tenggelam,'' jawab Leon dengan datar sambil menatap lurus ke arah depan.


Tiwi benar-benar geram dengan pria yang ada di sampingnya itu. Dia kemudian meremas tangannya di samping wajah Leon sambil menampilkan wajah yang begitu kesal, kemudian Tiwi menghentak-kan kakinya dengan keras, hingga membuat pria yang ada di sampingnya terkekeh melihat kekesalan wanita itu.


''Menyebalkan!'' batin Tiwi dengan wajah ditekuk kesal.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2