Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Calon Gebetan


__ADS_3

Happy reading.....


Hari ini Emil sudah siap bersama dengan Leon untuk pergi menyusul Bintang, Tiwi dan juga Mama Ria ke Bali. Raasanya pria itu sudah tidak sabar ingin sekali bertemu dengan istrinya, karena tanpa Bintang di dalam kehidupannya, membuat Emil merasa Hampa.


Pesawat pun mendarat di Bandara, kemudian Emil dan Leon langsung memacu mobilnya menuju ke sebuah hotel milik keluarga Ferdinand. Di mana saat ini Bintang dan juga Mama Ria menginap di sana. Akan tetapi, saat Emil dan juga Leon sampai di hotel tersebut, mereka tidak menemukan ketiga wanita itu.


''Kira-kira, ke mana mereka ya, Le? Kok nggak ada di kamar?'' tanya Emil dengan bingung saat keluar dari kamar hotelnya.


Bukannya menjawab, Leon malah merasa kesal dengan ucapan Emil. Sebab pria itu menyebutnya dengan kata 'Le.


''Astaga, lo itu kenapa sih, senang banget nyebut gue dengan sebutan 'Le? Emang lo pikir, muka gue ini kayak ikan lele?'' kesal Leon sambil memutar bola matanya dengan sebal.


Memang Emil suka memanggil Leon dengan sebutan Le. Karena jika memanggilnya dengan nama lengkap, terkadang Emil sangat malas. Dan dia hanya mengambil simpelnya saja, tapi bukan berarti Emil menamakan Leon dengan ikan lele.


''Gue rasa, lo emang cocok sih? Panggilan lo itu, benar-benar amazing. Yang satu singa dan yang satu lagi ikan lele,'' ledek Emil sambil terkekeh kecil.


Leon yang mendengar itu malah merengut dengan kesal, kemudian dia berjalan masuk ke dalam lift dan tidak memperdulikan ucapan Emil. Sedangkan Bosnya itu, sekaligus sahabatnya, menatap ke arah Leon dengan tatapan meledek.


''Udah, jangan ngambek-ngambek! Jelek tahu. Mendingan sekarang, lo temenin gue untuk nyari Bintang, Mama dan juga calon gebetan lo itu,'' ujar Emil saat berada di dalam lift untuk turun ke lantai bawah.


Leon yang sedang menatap lurus ke arah depan, seketika mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Emil. ''Apa lo bilang tadi, calon gebetan? Enak aja, sembarangan!'' ketus Leon sambil membuang wajahnya ke arah samping, dan menatap hamparan pantai yang begitu luas.

__ADS_1


Emil mengangkat bahunya dengan acuh. ''Maybe ... siapa tahu aja 'kan, lo dan juga si buah berbulu itu jadian? Lagi pula, kalian tuh cocok,'' ujar Emil sambil terkekeh kecil


Leon hanya mendengkus dengan kasar, kemudian pintu lift pun terbuka dan mereka keluar dari hotel untuk menuju pantai. Karena Emil dan juga Leon sangat yakin, jika saat ini ketiga wanita itu sedang berada di pantai, menghabiskan waktu liburan.


Setelah 20 menit mereka mencari, tatapan Emil seketika mengarah pada ke-3 wanita yang sedang bermain voli. Kedua pria tampan itu pun menghampiri mereka bertiga, lalu Emil langsung memeluk tubuh Bintang dari belakang, hingga bola yang dilempar oleh Tiwi ke arah Bintang tidak bisa dikendalikan oleh wanita itu dan tepat mengenai jidat Bintang.


''Astaga naga! Kamu ... kamu, kok bisa ada di sini?'' Bintang berkata dengan nada yang kaget, saat melihat Emil berada di sana dan sedang memeluk dirinya di tempat umum.


''Memangnya kenapa? Kamu nggak suka aku di sini? Kaget ya?'' tanya Emil sambil melepaskan pelukannya. Sedangkan Mama Ria dan juga Tiwi menghentikan permainan voli mereka dan menghampiri Emil beserta juga Leon.


''Kalian, kapan datang? Kok nggak ngasih tahu Mama, dulu?'' tanya Mama Ria sambil melihat ke arah Emil dan juga Leon


''Dasar pasangan bucin! Cium-cium gak lihat tempat. Keturunan buletok,'' sindir Tiwi sambil menendang-nendang pasir, kemudian dia berjalan meninggalkan Bintang dan juga Emil yang sedang berpelukan.


''Yee ... kalau sirik, bilang aja Bos!'' ujar Emil sambil kembali mencium pipi Bintang. Namun Tiwi tidak perduli, wanita itu hanya mengedipkan bahunya saja sambil mengangkat satu tangan ke atas.


Mereka berlima pun berjalan menuju sebuah restoran di pinggir pantai untuk mengopi dan membeli beberapa cemilan, sekaligus untuk bersantai. Akan tetapi, Emil mengajak Bintang duduk jauh dari Mama Ria, Tiwi dan juga Leon. Karena dia ingin menghabiskan waktu berdua bersama sang istri, tanpa diganggu oleh mereka bertiga.


Leon yang melihat Tiwi berada duduk di hadapannya, hanya diam saja. Sedangkan Mama Ria tersenyum jahil sambil menatap dua jomblo yang diam tanpa saling menyapa satu sama lain. Mama Ria pun beranjak dari duduknya, membuat Tiwi seketika mengerutkan dahi dan menatapnya dengan bingung.


''Mama, mau ke mana?'' tanya Tiwi pada Mama Ria.

__ADS_1


Sekarang memang Tiwi menyebut Mama Ria sebagai Mama. Karena wanita itu yang memintanya. ''Mama mau ke dalam, mau bersih-bersih. Kamu di sini dulu, temani Leon. Kasihan dia baru datang, lagi pula sambil nunggu Bintang. Mama juga kangen sama papa Ezra, mau nelpon dulu,'' alibi Mama Ria sambil berlalu meninggalkan Leon dan juga Tiwi.


Tidak ada pembicaraan antara mereka berdua, hanya ada keheningan saja. Karena Leon juga bingung harus berkata apa, begitupun dengan Tiwi. Wanita itu hanya memainkan ponselnya, men-scroll grup yang ada di aplikasi hijau. Namun tidak ada yang menarik sama sekali.


Sebenarnya Tiwi membuka ponsel hanya untuk mengalihkan kegugupannya saja, saat berada duduk di dekat Leon. Sedangkan pria itux menatap Tiwi dari sudut ekor matanya. Dia ingat dengan ucapan Emil di dalam lift, yang mengatakan jika Tiwi adalah calon gebetannya.


'Entahlah, apa aku bisa membuka hatiku untuk seorang wanita? Atau hati ini akan terus tertutup?' batin Leon dengan bingung.


Memang selama ini Leon menutup hatinya dari wanita. Karena dulu saat dia masih kuliah, Leon mempunyai kekasih. Akan tetapi, kekasihnya itu malah selingkuh di belakang Leon bersama dengan sahabatnya, dan itu membuat Leon trauma dengan yang namanya cinta. Jadi dia menutup hatinya untuk wanita manapun.


Leon berpikir, jika semua wanita sama saja. Hanya melihat dari segi tampang dan juga harta. Tidak ada yang tulus. Dan dari sekian banyak wanita yang mendekatinya, 99% karena penampilan dan juga materi, serta kedudukan Leon sebagai sekretaris dari Emil.


Tiwi yang merasa jenuh pun seketika bangkit dari duduknya. Kemudian dia berjalan menyusuri pesisir pantai tanpa memperdulikan Leon yang terus saja memperhatikannya. Tiwi tidak ingin menyia-nyiakan masa liburannya di sana. Dia pun merentangkan kedua tangannya, menutup mata sambil menghirup udara pantai yang segar.


Semua yang dilakukan oleh wanita itu tidak luput dari pandangan Leon, bahkan ada segurat senyuman di wajah pria tampan itu saat melihat Tiwi yang sedang berjalan di pesisir pantai, sambil sesekali memutar badannya.


'Apakah dia berbeda dari wanita pada umumnya? Apakah aku bisa jatuh cinta kembali? Apakah aku memang harus mencoba, untuk membuka hatiku?' batin Leon merasa ragu kepada hatinya sendiri.


Entah tarikan dari mana, Leon pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Tiwi yang sedang berjalan di pesisir pasir, kemudian dia duduk di salah satu batu sambil menatap ke arah matahari yang mulai terbenam dengan Indah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2