Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Bab 63


__ADS_3

Happy reading......


Pagi ini Bintang bangun dengan badan yang terasa begitu remuk, karena semalaman Emil menggempur tubuhnya hingga jam 03.00 pagi. Pria itu jika sudah bercocok tanam maka tenaganya sangat kuat, hingga Bintang pun kewalahan.


Hari ini, Bintang tidak pergi ke kantor. Badannya terasa tidak enak, seperti sedang masuk angin. Bahkan sedari subuh dia terus saja membaringkan badannya di atas kasur, tidak ada semangat sama sekali, walaupun hanya untuk sarapan.


''Sayang, kamu beneran nggak mau ke kantor?'' tanya Emil memastikan, dan Bintang hanya menganggukkan kepalanya saja dengan pelan.


''Iya, kayaknya sih badanku nggak enak. Tidak apa-apa 'kan, aku nggak ke kantor dulu?'' ucap Bintang.


Emil merasa tidak tega saat melihat wajah istrinya. Dia tahu, jika wanita itu kurang enak badan karena ulahnya semalam. Kemudian Emil mengecup kening Bintang dengan lembut.


''Iya, nggak apa-apa. Kamu istirahat aja di rumah, atau kamu mau aku antar ke Rumah Sakit?'' Emil berkata dengan nada yang lembut, tetapi Bintang segera menggeleng, ''Tidak usah! Aku cuma masuk angin biasa kok, nanti juga mendingan. Mungkin karena semalam kamu menggempurnya terlalu kuat?'' ledek Bintang sambil memejamkan matanya.


Sementara itu Emil hanya terkekeh saja saat mendengar ucapan sang istri, kemudian dia turun ke lantai bawah untuk sarapan. Dian di sana juga sudah ada Mama Ria dan juga Papa Ezra yang sedang menunggunya.


''Loh, Bintangnya ke mana? Kok nggak ikut sarapan?'' tanya Mama Ria saat melihat Emil turun sendirian.


''Bintang lagi kurang enak badan, Mah. Jadi hari ini dia nggak ke kantor,'' jawab Emil sambil meminum kopi yang sudah tersedia di meja makan.


''Makanya Mil, istrimu jangan di gempur mulu tiap malam. Kasihan tahu!'' celetuk Papa Ezra meledek putranya.


Mama Ria mengangguk paham, kemudian dia meminta pelayan membuatkan bubur ayam untuk Bintang, dan wanita itu akan mengantarkannya ke kamar sang menantu. Dia khawatir terjadi apa-apa dengan Bintang.


''Mah, Emil pamit kerja dulu ya. Kalau ada apa-apa sama Bintang, hubungi Emil ya, Mah!'' Emil berpamitan kepada sang Mama, dan wanita paruh baya itu pun mengagukan kepalanya.


''Iya, tidak usah khawatir. Bintang biar dijaga sama Mama. Sudah kamu berangkat saja ke kantor!''


Setelah bubur siap, Mama Ria mengantarkannya ke kamar Bintang, dan dia melihat menantunya sedang terbaring lemas di atas kasur. ''Bintang ...'' panggil Mama Ria dengan lembut sambil duduk di samping wanita itu.


''Ini, Mama udah buatkan kamu bubur. Sekarang kamu duduk dan makan dulu ya!'' Mama Ria berkata dengan nada yang lembut, tapi lagi-lagi Bintang menolak. Karena lidahnya terasa begitu pahit, sehingga untuk makan saja dia tidak berselera.


''Aku lagi tidak ingin makan, Mah. Lidahku pahit! Rasanya mengingat nasi aja aku udah mual,'' ucap Bintang dengan nada yang lirih.


''Terus kamu mau makan, apa? 'Kan belum sarapan?'' Mama Ria terlihat begitu khawatir saat mendengar jika Bintang tidak ingin makan apapun.

__ADS_1


''Kayaknya Bintang lagi pengen kedondong deh, Mah. Enak deh asem-asem gimana gitu?'' ujar Bintang sambil meneguk ludahnya dengan kasar, membayangkan asamnya Kedondong yang dia makan.


''Hah! Kedondong? Kamu yang bener aja, Sayang? Ini masih jam 08.00 pagi, loh? Masa kamu makan kedongdong? Nanti sakit perut, itu 'kan makanan asam?'' Mama Ria berucap dengan nada yang heran. Bahkan alisnya bertaut menatap ke arah Bintang dengan bingung.


Tidak biasanya wanita itu meminta Kedondong di pagi hari, padahal Bintang termasuk orang yang doyan sarapan. Dan permintaannya kali ini benar-benar di luar kebiasaan pada umumnya.


''Iya Mah, Bintang tahu itu asam, tapi entah kenapa Bintang pengen makan kedondong? Kayaknya enak aja gitu, kalau makan yang asem-asem di pagi hari?'' Bintang berkata sambil sesekali meneguk ludahnya, membuat Mama Ria menatap menantunya itu dengan heran.


Namun, seketika mata Mama Ria membulat saat mengingat sesuatu. ''Jangan-jangan, kamu ...'' Mama Ria menggantung ucapannya sambil menatap Bintang dengan mata yang berbinar.


''Aku apa, Mah?'' tanya Bintang dengan bingung, karena Mama Ria menggantung ucapannya.


''Kamu, hamil Sayang!'' seru Mama Ria dengan antusias sambil memegang tangan Bintang.


Wanita itu terpaku saat mendengar ucapan Mama Ria untuk beberapa saat, kemudian dia pun terkekeh, membuat wajah Mama Ria yang tadinya senang malah kembali menjadi bingung. ''Kok, kamu malah ketawa?'' tanya Mama Ria saat melihat Bintang tertawa.


''Iya lucu aja, Mah. Masa iya aku hamil? Aku 'kan nggak muntah-muntah? Biasanya kalau orang hamil itu 'kan muntah-muntah, Mah? Ini nggak,'' jawab Bintang dengan wajah yang bingung, karena dia sama sekali tidak merasa mual.


''Ya ampun, sayang. Orang hamil itu nggak harus muntah-muntah. Semua punya perbedaannya masing-masing, karena bawaan anak bayi. Kalau gak, gini aja! Mama minta pelayan buat beliin tespek, nanti kamu coba, gimana? Buat mastiin,'' Mama Ria berucap dengan nada yang antusias, bahkan raut wajahnya terlihat begitu gembira.


''Apapun hasilnya itu, kita pikirkan terakhir. Saat ini, kita coba saja dulu!'' Mama Ria tahu apa yang dipikirkan oleh Bintang, kemudian dia memanggil pelayan dan menyuruhnya untuk membelikan tespek.


Bintang pun hanya pasrah, dia berharap jika memang hasilnya nanti positif, karena pasti Emil dan juga kedua orang tuanya sangat senang mendengar'' kehamilan Bintang. Setidaknya ada kebahagiaan yang terpancar dari keluarga itu.


Setelah beberapa lamanya menunggu, pelayan yang disuruh Mama Ria untuk membeli tespek pun datang. Lalu wanita itu langsung menyuruh Bintang untuk masuk ke dalam kamar mandi dan mencobanya.


''Aduh, kok aku jadi deg-degan gini ya? Takut hasilnya nggak sesuai,'' gumam Bintang dengan lirih, saat menunggu benda kecil itu yang masih ada di dalam wadah.


Setelah 2 menit, Bintang mengambil alat kecil itu sambil memejamkan matanya. Dia takut jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Kemudian dengan perlahan Bintang membuka matanya sambil menggigit bibir bawah.


Namun seketika mata Bintang membulat, kedua netranya memancarkan kebahagiaan dengan wajah yang berbinar saat melihat dua garis merah yang terpampang jelas di alat tersebut.


''Astaga naga! Ini beneran garisnya 2? Oh my God! Gue mimpi nggak sih? Ya Allah ...'' Bintang begitu kaget saat melihat hasil dari tespek tersebut yang menunjukkan jika saat ini dirinya tengah positif hamil.


Air mata sudah tidak terbendung lagi, Bintang benar-benar terharu, karena saat ini dia akan menjadi seorang ibu. Kemudian wanita itu membuka pintu kamar mandi, sedangkan Mama Ria sudah menunggunya dengan harap-harap cemas di depan pintu.

__ADS_1


''Bagaimana, sayang? Hasilnya gimana?'' tanya Mama Ria dengan tidak sabar. Apalagi saat ini dia melihat wajah Bintang yang sedang menangis. Seketika wanita paruh baya itu pun turut sedih, akan tetapi dia mencoba untuk menyemangati menantunya.


''Nggak apa-apa, sayang. Mungkin memang belum rezeki, 'kan kamu sama Emil bisa lebih giat lagi bikin adonannya, biar cepat jadi. Mungkin memang kamu masuk angin, atau---''


Ucapan Mama Ria terhenti saat Bintang menunjukkan benda yang dipakainya tadi di hadapan Mertuanya. Wanita itu terpaku, kemudian menatap ke arah Bintang dengan tatapan tidak percaya. ''Sayang ... kamu hamil?'' tanya Mama Ria dengan wajah yang bahagia.


Bintang menganggukkan kepalanya, ''Iya Mah,.aku hamil,'' jawab Bintang sambil memeluk tubuh Mama Ria dengan erat. Kedua wanita itu pun menangis bahagia, tangisan yang penuh haru.


''Mah, aku harus kasih tahu Emil soal kehamilan aku ini. Pasti dia sangat bahagia,'' ujar Bintang sambil menghapus air matanya. Namun Mama Ria segera menggeleng, membuat wanita itu bingung.


''Kamu harus memberikan kejutan untuk Emil tentang kehamilan kamu ini. Sebentar lagi 'kan, Emil akan ulang tahun? Nah, gimana kalau kamu kasih kejutannya pas Emil berulang tahun? Itu pasti akan jadi kado terindah buat dia,'' usul Mama Ria sambil menatap Bintang.


Wanita itu terdiam sejenak, memikirkan ucapan Mertuanya, kemudian dia pun mengangguk dengan semangat. ''Iya Mah, dua hari lagi 'kan ulang tahun dia? Ya sudah, kalau gitu dua hari lagi kita akan kasih tahu tentang kehamilan aku.'' Bintang berkata dengan wajah yang berbinar sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera memberitahukan tentang kehamilannya kepada Emil. Dia yakin, jika pria itu pasti sangat bahagia. Lalu Mama Ria pun menyarankan Bintang untuk ke rumah sakit menjalankan USG, untuk mengetahui berapa bulan kehamilan menantunya itu.


Bahkan Mama Riia juga sudah memberitahu Papa Ezra tentang kehamilan Bintang, dan tentu saja pria itu sangat bahagia. Bahkan dia terus saja berucap syukur, karena ternyata putranya yang selama ini alergi terhadap wanita, mampu membuahkan benih di dalam perut menantunya.


Sedangkan di tempat lain, Azkia baru saja masuk dan duduk di sebuah Cafe sambil mengerjakan tugas kampusnya. Kemudian dia hendak pergi ke toilet, akan tetapi tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang, hingga membuat keseimbangannya hampir saja oleng.


Dengan sigap orang itu menangkap pinggang Azkia, sehingga tubuh wanita itu tidak jatuh ke lantai. Tatapan mereka terkunci satu sama lain untuk beberapa saat. 'Ya ampun, dia tampan sekali?' batin Azkia saat melihat pria tampan yang kini tengah memeluk dirinya.


''Anda tidak apa-apa, Nona?'' tanya pria itu sambil menatap ke arah Azkia dengan tatapan khawatir.


''Sa-saya tid-ak apa-apa, Tuan,'' jawab Azkia dengan gugup, karena saat ini jantungnya sedang berdetak dengan kencang. Apalagi pria di hadapannya bukan hanya tampan saja, tapi aroma tubuhnya begitu maskulin dengan dada bidang yang begitu tegap.


''Maafkan saya, Nona. Tadi saya tidak melihat jika Anda lewat, apakah ada yang luka?'' tanya pria tersebut. Namun Azkia segera menggeleng dengan pelan. Akan tetapi, matanya memancarkan sebuah kekaguman akan rupa pada pria yang ada di hadapannya.


''Tidak ada! Mungkin hatiku yang terluka. Oh, tidak. Maksudku terpana,'' jawab Azkia meralat ucapannya sambil menatap ke arah pria yang ada di hadapannya dengan tatapan berbinar penuh kagum.


Pri itu tersenyum, membuat Azkia benar-benar semakin terpan. Lalu pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada wanita itu. ''Ini adalah kartu nama saya, jika Anda terluka atau butuh apa-apa bisa hubungi nomor tersebut. Kalau begitu saya pamit dulu, permisi,'' ucap pria tersebut sambil meninggalkan Azkia dengan senyuman miring di bibirnya.


'OMG! Gue mimpi apa semalam? Gue sangat yakin, pria itu pasti bukan orang biasa. Dari pakaiannya aja sudah kelihatan, kalau dia itu orang yang tajir? Pokoknya gue harus dapetin dia, gue nggak boleh lepasin mangsa sekaya itu,' batin Azkia sambil tersenyum menyeringai dan menatap ke arah kartu nama yang berada di tangannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2