
HAPPY READING...
Emil benar-benar tidak terima karena tante Emma menampar dan juga membentak Bintang. Sebagai seorang suami, tentu saja dia sangat marah. Apalagi mengingat kejahatan tante Emma dan juga suaminya.
''Security! Bawa wanita ini pergi! Jangan pernah biarkan dia masuk kembali ke sini, kalian paham! Jika berani kalian membiarkan dia masuk, maka kalian akan ku pecat!'' ancam Emil sambil memerintahkan kepada kedua Security untuk mengusir tante Emma dari sana.
Wanita itu berontak saat kedua Security memegang tangannya dan menyeretnya untuk pergi dari kantor. ''Tidak! Aku tidak mau pergi dari sini! Kembalikan dulu perusahaan suamiku, dasar kau pria penyakitan! Bintang, wanita sialan kembalikan perusahaan suamiku!'' teriak tante Ema sambil memberontak, tapi kedua Security itu tidak peduli dan tetap menyeretnya sampai keluar dari gerbang.
''Pergi dari sini Nyonya, sebelum kami berbuat kasar kepada Anda!'' ucap salah satu Security, lalu mendorong tante Emma hingga hampir saja wanita itu jatuh.
Tante Emma benar-benar tidak terima telah dipermalukan oleh Emil dan juga Bintang. Kemudian dia menatap Bintang dengan tatapan yang begitu tajam, sambil menunjuk wajah wanita itu.
''Kau dengar ya, Bintang! Kau akan berakhir sama dengan kedua orang tuamu. Tidak akan kubiarkan kalian hidup bahagia, PAHAM!'' teriak tante Emma pada Bintang dengan nada membentak. Setelah itu dia menaiki sebuah taksi dan pergi dari sana.
Bintang terdiam mendengar ucapan tante Emma, dahinya mengkerut dengan bingung. Karena dia sama sekali tidak paham apa yang dimaksud dengan berakhir sama dengan kedua orang tuanya.
Emil yang mendengar itu sangat khawatir, kemudian dia menatap ke arah istrinya yang sedang melihat ke arah jalanan. Lalu dia menggenggam tangan Bintang. ''Sudah, jangan dipikirkan. Sebaiknya kita masuk ke dalam yuk!'' ajak Emil dan Bintang langsung mengangguk, kemudian mereka pun masuk ke dalam kantor.
Semua karyawan masih berkumpul menyaksikan kerusuhan tadi, dan Emil yang melihat itu pun membubarkan mereka kembali. ''Kerja! Jangan biarkan perusuh itu mengotori pikiran kalian, paham!'' tegas Emil dengan tatapan dingin dan wajah yang datarnya.
''Paham Pak,'' jawab semua karyawan serempak.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan, Emil menghempaskan tubuhnya di kursi lalu dia menarik Bintang agar duduk di pangkuannya, kemudian tangan Emil mengusap pipi bintang yang tadi ditampar oleh tante Emma. Dia melihat jika pipi istrinya memerah, lalu Emil pun mengambil telepon dan menyuruh office girl untuk membawa air kompresan ke ruangannya.
''Apakah sakit?'' tanya Emil kepada istrinya itu.
Bintang menggeleng dengan lemah sambil menundukkan kepalanya. Tersirat raut kesedihan di wajah Bintang, dan Emil yang melihat itu memegang dagu Bintang agar wanita yang ada di pangkuannya menatap ke arah dirinya.
''Kenapa sayang? Apa yang mengganggu di pikiranmu?'' tanya Emil dengan lembut sambil mengusap pipi Bintang yang tadi itu ditampar oleh tante Emma. Sementara satu tangannya memeluk pinggang ramping wanita itu.
''Aku sedih, sebab aku bisa melihat bagaimana dalamnya kebencian Bunda kepadaku. Sebenarnya apa salahku kepada mereka? Kenapa Bunda sepertinya sangat membenci diriku? Lalu, apa ucapannya tadi? Kenapa aku harus berakhir sama dengan kedua orang tuaku?'' Bingung Bintang dengan wajah yang sedih.
Emil terdiam mendengar ucapan istrinya, dia bingung apakah harus menjelaskan semuanya kepada Bintang atau tidak. Karena tante Emma membentaknya saja Bintang sudah sesedih ini, bagaimana jika wanita itu tahu kalau Tante Emma dan juga suaminya yang membunuh kedua orang tua Bintang.
Iya, tante Ema dan juga suaminya yaitu Prima Sebastian, adalah pembunuh dari kedua orang tua Bintang. Dari laporan yang diterima Emil, bahwa tante Emma dan juga suaminya telah menyebotase mobil kedua orang tua Bintang, hingga mereka kecelakaan dan masuk ke dalam jurang lalu mobil itu pun meledak.
''Sayang, kamu kenapa? Kok malah ngelamun?'' tanya Bintang saat melihat Emil sedang melamun.
Kedua alisnya bertaut dengan tatapan menyipit ke arah Emil. Dia melihat suaminya melamun setelah Bintang mengatakan tentang ucapan tante Emma beberapa waktu yang lalu.
''Ah, tidak apa-apa say-ang,'' jawab Emil dengan ragu.
Bintang merasa ada yang disembunyikan oleh suaminya, dan itu sangat terlihat jelas di kedua sorot mata milik Emil. ''Kamu yakin, tidak ada yang kamu sembunyikan dari aku?'' tanya Bintang sambil menatap kedua manik tegas milik suaminya.
__ADS_1
Emil tersenyum, kemudian dia mengecup tangan Bintang. ''Tidak ada yang aku sembunyikan sayang,'' bohong Emil sambil menatap ke arah lain.
Bintang tidak percaya, sebab pria itu tidak berani menatap ke arahnya. Dan tak lama pintu terketuk, padahal Bintang ingin bertanya kembali, tetapi harus dia pending dulu. ''Masuk!'' titah Emil kepada seseorang di luar dan ternyata dia adalah office girl yang membawakan air kompresan pesanan Emil.
''Taruh di meja!'' titah Emil dan wanita paruh baya itu segera menaruh baskom dan juga kain di atas meja kerja milik Emil, lalu dia pun pergi keluar kembali.
''Sekarang kita kompres dulu ya lukanya, biar nggak bengkak,'' ujar Emil sambil mengangkat tubuh Bintang dan mendudukkannya di kursi. Sementara itu dia mengambil air kompresan dan mulai memerasnya.
''Tangan Emil ditahan oleh Bintang saat pria itu akan mengompres wajah mulus istrinya. ''Loh, kenapa sayang?'' tanya Emil dengan bingung sambil menatap wajah Bintang yang sedang menatapnya dengan serius.
''Katakan! Ada yang kamu sembunyikan 'kan dari aku? Apa ini ada hubungannya dengan mama dan papaku?'' tanya Bintang dengan tatapan yang dalam ke arah Emil.
Pria itu menghela nafasnya saat mendengar ucapan Bintang. Tangannya di tarik, kemudian dia menaruh kompresan itu kembali dalam baskom lalu Emil berjalan ke arah jendela dan menatap ke arah luar.
''Katakanlah! Apa benar ada hubungannya dengan orang tuaku?'' tanya Bintang mengulang ucapannya, karena dia masih belum menemukan jawaban dari Emil.
''Jika aku mengatakan kejujurannya kepada kamu, maka kamu harus berjanji. Kenyataan apapun itu yang aku ucapkan, kamu tidak boleh menganggap jika kamu itu sendiri. Ada aku disini. Aku selalu berada di sisi kamu.'' Emil Berkata sambil memegang tangan Bintang dan wanita itu hanya diam saja.
Entah kenapa bintang merasa Jika ada hal besar yang akan diungkapkan oleh Emil perasaannya menjadi tidak enak jantungnya berdetak dengan kencang tidak karuan dia dapat melihat jika wajah Emil begitu resah saat mengatakan hal itu kepadanya.
''Aku berjanji, bahwa apapun kebenarannya dan apapun yang akan kamu sampaikan kepadaku, maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Walaupun mungkin itu sangat menyakitkan,'' ujar Bintang sambil memeluk tubuh suaminya.
__ADS_1
''Aku akan menyampaikannya saat kita berada di rumah, karena semua buktinya ada di sana,'' ucap Emil sambil mengecup pucuk kepala Bintang. Dan wanita itu hanya mengangguk, dia sudah tidak sabar ingin sekali cepat sampai di rumah dan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
...BERSAMBUNG...