Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Musuh Terbesar Emil


__ADS_3

Happy reading......


Terlihat Leon menghembuskan napasnya, dan itu semakin membuat Tiwi sangat yakin, jika ada masalah besar yang tengah dihadapi kekasihnya dan juga bosnya.


"Ada musuh terbesar Emil yang datang, dan akan menyerang keluarga dia. Makanya kenapa, aku meminta anak buah terhebat dan juga senjata terampuh. Sebab musuhnya Emil itu bukan orang yang sembarangan, dia Klan dari mafia terkenal," jelas Leon.


Tiwi yang mendengar itu tentu saja yang sangat kaget. Kemudian dia membalik tubuhnya hingga menghadap ke arah Leon.


"Mafia! Kok bisa Emil berurusan dengan orang-orang semenyeramkan itu? Hidupnya aja sudah susah berhadapan dengan wanita seperti Bintang. Masa iya harus berhadapan dengan mafia lagi?" ucap Tiwi sambil memanyunkan bibirnya.


Leon tersenyum saat melihat kecemasan di wajah kekasihnya itu. "Ada beberapa hal yang tidak bisa ku jelaskan, bagaimana Emil mengenal mereka, tapi intinya, setiap orang yang berkuasa itu pasti memiliki banyak musuh. Sebab ada saja orang yang iri dengan kesuksesannya," jelas Leon.


"Ya, tapi 'kan nggak bisa gitu! Bintangnya sedang hamil, bagaimana kalau nanti terjadi apa-apa dengan kandungannya? Bagaimana nanti kalau---"


Ucapan Tiwi terhenti saat tiba-tiba saja Leon mencium bibirnya, hingga membuat kedua bola mata indah itu membulat menatap ke arah Leon. Namun seketika Tiwi yang tersadar pun segera menjauhkan wajahnya, sedangkan satu tangannya menyentuh bibir dia yang habis dicium oleh pria tampan itu.


"Iish, kamu kok malah nyium aku sih?" kesal Tiwi sambil mencubit perut Leon.


Wajahnya sudah merah merona bagaikan tomat rebus, dan Leon yang melihat itu pun semakin gemas. Di mana cewek sebar-bar Tiwi, ternyata bisa juga tersipu malu.


"Daripada kamu terus nyerocos, ya 'kan?" kekeh Leon.


"Tapi 'kan, aku benar-benar khawatir sama Bintang. Nanti kalau terjadi apa-apa sama dia gimana? Saat ini 'kan---"


Lagi-lagi ucapan Tiwi dihentikan oleh Leonm. Pria itu mencium bibirnya kembali, namun kali ini bukan hanya sebuah kecupan, tetapi Leon juga memberikan sedikit permainan. Membuat Tiwi yang tersadar ingin menjauhkan wajahnya, tapi sayang, Leon malah menahan tengkuknya.


Wanita itu tidak berkutik, apalagi saat Leon menggigit bibir bawahnya, hingga Tiwi membuka mulutnya dan pria itu pun mulai menjelajahi rongga mulut milik kekasihnya.

__ADS_1


"Astaga p0rno! Mata suciku ternoda!" teriak Bintang di ambang pintu, saat dia melihat Tiwi dan juga Leon sedang berpagutan.


Kedua insan itu pun langsung melepaskan ciumannya, dan Tiwi langsung beranjak dari tubuh Leon dan menatap ke arah ambang pintu, di mana Bintang tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Tiwi benar-benar malu, wajahnya yang sudah merah bertambah merah. Sedangkan Leon hanya cuek saja, sambil mengelap bibirnya, di mana sisa-sisa manis milik kekasihnya masih sangat terasa.


"Kalian ini kalau mau ciumaan, tutup dulu pintunya! Masa dibuka kayak gitu? Mata suciku 'kan ternoda," celetuk Bintang.


Tiwi yang mendengar itu pun menjadi kesal, kemudian dia mendekat ke arah Bintang.


"Heh, Markonah. Mata lo itu udah ternoda sama pisang ambon milik si Emil. Sok-sokan bilang ternoda dengan ciumaan gue sama Leon? Yang ada, mata gue nih yang masih suci belum menatap pisang ambon yang sesungguhnya!" cetus Tiwi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Bintang yang mendengar itu pun menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sambil cengengesan. "Ya iyalah, kalau itu namanya rezeki nomplok. Masa mau gue sia-siain? Lo belum ngerasain 'kan indahnya pisang ambon berbulu, dengan kuncup yang merekah?" Lagi-lagi Bintang berkata dengan ekspresi wajah yang menjengkelkan.


PLETAK!


"Ya ampun suami kobokan, kenapa malah nyentil kening aku sih? Nanti kalau benjol gimana?" kesal Bintang.


"Jidat kamu itu nggak bakalan benjol, yang ada otak kamu yang benjol. Masa senjata tempur suami sendiri dibicarain? Udah kayak kembang aja merekah gitu, ada-ada aja kamu?" ketus Emil.


Tiwi yang mendengar perdebatan antara suami istri itu tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana senjata tempur Emil yang mempunyai kuncup begitu merekah. Sementara Leon sedari tadi menahan tawanya, dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak, tetapi ditahan karena tidak enak kepada Emil


"Kenapa lo ketawa, Jubaedah? Ada yang lucu sama omongan gue?" tanya Bintang dengan heran.


"Ya jelas aja lah, gimana gue nggak ketawa? Membayangkan senjata tempur laki loh, dengan kuncup yang merekah. Itu bunga sakura, bunga edelweis atau bunga mawar?" kekeh Tiwi.


"Sudah, sudah. Dasar dua bar-baarly. Lebih baik sekarang kita makan siang! Eh nggak jadi deh, gue pengen berduaan sama istri gue. Lo sama si lampion aja sono!" ucap Emil sambil menatap ke arah Leon.

__ADS_1


"Nggak usah ketawa lo lampion! Kayak senjata lo nggak merekah aja?" kesal Emil saat melihat Leon tengah menahan tawanya.


Sebelum mendapatkan jawaban dari Leon, Emil segera menarik tangan Bintang. Dia tidak ingin istrinya itu berkata sebar-bar seperti tadi. Itu membuatnya sangat malu.


.


Tiwi hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat pasangan somplak di hadapannya. Dia benar-benar masih tidak ada habis pikir, bagaimana senjata seorang pria memiliki kuncup yang merekah.


"Jangan tertawa! Atau kamu mau melihat punyaku, merekah atau tidak?" goda Leon sambil memeluk tubuh Tiwi dari belakang.


Mendengar itu, Tiwi menatap kekasihnya dengan kesal, kemudian dia mencubit pinggang Leon, sehingga membuat pria itu sedikit meringis.


"Dasar piktor! Udah, ayo kita makan siang!" ajak Tiwi sambil menggandeng tangan Leon keluar dari kantor, untuk menuju sebuah cafe yang tak jauh dari sana.


Sementara itu papa Ezra yang sedang berada di kamarnya terlihat begitu cemas, saat anak buahnya menelpon tentang kabar musuh Emil yang akan menyerang keluarga Ferdinand.


Mama Ria datang ke kamar dan melihat suaminya tengah merasa cemas. Dia pun menanyakan tentang apa gerangan yang membuat Imam dalam keluarganya terlihat begitu khawatir.


Papa Ezra pun menjelaskan kepada mama Ria, tentang kabar yang baru saja dia dapatkan. Walaupun selama ini semua tanggung jawab diserahkan kepada Emil, akan tetapi tetap saja, papa Ezra melindungi keluarganya secara diam-diam.


"Apa! Terus bagaimana, Pah? Mama takut jika incarannya adalah Bintang," ucap mama Ria dengan raut wajah yang cemas


"Mama tenang aja! Selama papa dan Emil masih ada, kami akan terus menjaga keluarga ini. Tidak akan oapa biarkan mereka menyakiti keluarga kita, termasuk Bintang!" jawab pap Ezra sambil memeluk tubuh istrinya.


Dia juga sudah menelpon beberapa kenalannya dalam Clan mafia, untuk berjaga-jaga. Karena pria itu tahu, lawannya kali ini bukanlah orang yang sembarangan. Jadi dia tidak ingin mempertaruhkan keselamatan keluarganya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2