
Happy reading....
Sesuai dengan ucapan Leon, setelah pekerjaannya selesai, dia pergi ke butik Tiwi untuk menjemput kekasihnya.
Saat sampai di sana, toko Tiwi baru saja tutup. Leon pun bertanya kepada salah satu karyawan yang sedang mengunci toko tersebut.
''Maaf tuan, mbak Tiwinya sudah pulang. Baru beberapa menit yang lalu sih. Katanya dia mau ke supermarket, mau beli sesuatu. Lagi pula, supermarketnya tidak jauh dari sini Tuan, hanya beberapa menit saja. Tinggal lurus ke depan, nanti belok kanan,'' jelas karyawan tersebut.
Leon mengerti, kemudian dia berjalan menuju supermarket tanpa menggunakan mobil.
Sedangkan di sisi lain, Tiwi sedang berjalan dan sebentar lagi akan sampai di tempat belanja. Namun, dia sedikit aneh, jalanan itu sangat sepi. Karena biasanya akan banyak orang yang nongkrong, tapi malam itu benar-benar tidak ada orang.
''Tumbenan jalan sini sepi? Biasanya juga ramai aja,'' gumam Tiwi dengan lirih.
Saat dirinya tengah berjalan, tiba-tiba dihadang oleh dua orang pria berbadan kekar dan berambut gondrong. Tiwi yang melihat itu tentu saja sedikit ketakutan.
''Hai Nona manis, mau ke mana? Malam-malam gini kok jalannya sendirian? Lebih baik temenin kita, iya nggak?'' ucap salah satu pria dengan rambut ikal.
''Bener banget, mending temenin kita yuk! Dijamin deh pasti kamu puas,'' timpal pria yang satu lagi.
''Mau ngapain kalian? Pergi, jangan gangguin aku!'' bentak Tiwi mulai memundurkan langkahnya.
Dua pria itu malah terkekeh dan semakin mendekat ke arah Tiwi, kemudian Tiwi berlari namun kakinya tersandung hingga jatuh, dan kedua pria itu semakin mendekat sambil tertawa.
''Jangan mendekat! Atau saya akan teriak!'' ancam Tiwi dengan suara ketakutan.
''Teriak saja, Nona. Di sini tidak ada orang. Jadi tidak akan ada yang mendengarmu!'' Pria itu Berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
Langkahnya semakin mendekat ke arah Tiwi, lalu wanita itu bangkit dan hendak kabur. Namun, tangannya dicekal oleh pria yang berambut ikal, tapi Tiwi tidak tinggal diam, dia terus saja berontak.
''Tolong! Tolong!'' teriak Tiwi, tapi kedua pria itu malah tertawa.
''Lebih baik kau ikut dengan kami! Layani kami!'' titah pria yang satunya sambil menyeret tangan Tiwi.
Namun, belum juga mereka melangkah, tiba-tiba pria yang sedang mencekal tangan wanita itu terpelanting ke aspal sebab ditendang oleh seseorang.
__ADS_1
Tiwi langsung menengok ke arah samping, dan ternyata di sana ada Leon. Wanita itu pun langsung memeluk tubuh kekasihnya dengan raut wajah yang sudah ketakutan.
''Kamu nggak apa-apa, sayang?'' tanya Leon dengan khawatir.
''Nggak papa, sayang,'' jawab Tiwi sedikit bergetar.
''Siapa lo, hah? Berani-beraninya ikut campur urusan kita!'' bentak pria yang berambut gondrong.
''Seharusnya aku yang bertanya kepada kalian, kenapa kalian mengganggu calon istriku, hah!'' Leon membentak balik kedua pria itu.
''Halaah ... Enggak usah banyak bacot deh, lo. Hajar!'' ucap pria berambut Ikal, lalu mereka berdua mulai menghajar Leon. Sementara Tiwi berdiri menjauh karena takut.
Satu lawan dua memang terlihat tidak imbang, tetapi Leon bisa menanganinya, walaupun badan mereka berdua sangat kekar.
Saat Leon lengah dan sedang bertarung dengan pria yang satu lagi, tiba-tiba si pria yang berambut gondrong mengambil balok kayu, lalu menghantam pelipis Leon hingga jatuh tersungkur.
''Leon!'' jerit Tiwi saat melihat kekasihnya terluka.
Kedua pria itu pun langsung kabur, takut jika Leon kenapa-napa. Dan Tiwi langsung berlari mendekat ke arah Leon yang sedang memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
Leon menggelengkan kepalanya, walaupun dia sedikit merasakan pusing. ''Nggak apa-apa, nggak usah khawatir. Ini hanya luka kecil kok,'' jawab Leon.
''Luka kecil gimana? Jelas-jelas itu pelipis kamu berdarah. Udah, ayo kita ke butik. Aku obatin dulu lukanya.'' Tiwi berkata sambil menggandeng tangan Leon, dan pria itu hanya menurut saja.
Sesampainya di butik, Tiwi langsung membuka tokonya, kemudian dia menyuruh Leon untuk duduk di salah satu sofa. Sedangkan Tiwi mengambil kotak P3K lalu mengobati luka di pelipis kekasihnya.
Dengan telaten, Tiwi mengobati luka itu, sehingga tatapan Leon tidak pernah terhenti dari wajah wanita yang saat ini tengah berada di hadapannya. Bahkan sesekali Tiwi meniup luka tersebut.
Melihat bibir Tiwi, rasanya Leon ingin sekali melahapnya dengan habis. Namun dia sadar, saat ini perempuan itu tengah cemas, tetapi godaan imannya begitu kuat. Sehingga pikirannya traveling kepada kejadian tadi sore di dalam mobil.
''Apa masih sakit?'' tanya Tiwi dengan raut wajah yang khawatir, saat luka itu sudah diperban.
Leon menggenggam tangan kekasihnya, kemudian dia menggeleng. ''Sama sekali tidak sakit. Apalagi melihat kamu baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku,'' jelas Leon.
Tiwi yang mendengar itu malah menangis, kemudian dia mencubit pinggang kekasihnya, dan Leon langsung menarik tubuh Tiwi dalam dekapan.
__ADS_1
''Seharusnya kau berhati-hati, jika tadi kenapa-napa, bagaimana?'' ucap Tiwi dengan suara yang purau.
''Aku tidak akan kenapa-napa, sayang. Lagi pula, nyawa pun akan aku pertaruhkan, demi melihatmu baik-baik saja.'' Leon berkata sambil mengecup kening Tiwi, membuat wanita itu semakin mengeratkan pelukannya.
''Jangan berkata seperti itu! Aku tidak suka!'' rajuk Tiwi.
.
.
Sedangkan di sisi lain, Bintang sedang memakan sushi, spaghetti, takoyaki, Topokki dan juga bakso aci. Semua makanan sudah tertata rapi di atas meja.
Sedangkan Emil yang melihat itu hanya meneguk ludahnya dengan kasar. Dia tidak bisa membayangkan, perut istrinya akan muat atau tidak dengan makanan sebanyak itu? Melihatnya saja, bahkan Emil sudah kenyang duluan.
''Sayang, apa kau yakin akan menghabiskan semuanya?'' tanya Emil dengan ragu.
''Aku tidak akan menghabiskan semuanya, sayang. 'Kan orang hamil itu tidak harus habis semua, hanya perlu mencicipinya sedikit saja,'' jelas Bintang sambil memakan takoyaki.
''Lalu, jika tidak habis, kenapa pesan sebanyak ini? 'Kan mubazir makanannya?'' bingung Emil.
''Looh, 'kan ada kamu yang ngabisin. Aku cuma nyicip-nyicip aja, sisanya kamu yang ngabisin ya, sayang,'' jelas Bintang sambil memberikan tatapan imutnya kepada pria itu.
''Apa! Aku? Kamu yang bener aja dong! Masa aku ngabisin semua makanan ini? Melihatnya aja, aku udah kenyang,'' tolak Emil dengan mentah sambil menggelengkan kepalanya.
''Jadi, kamu nggak mau?'' Bintang mulai merajuk. Air matanya sudah berembun di kedua pelupuk mata indah milik wanita itu. Dia sudah akan menangis.
Emil yang melihat istrinya sudah bersedih dan sebentar lagi hujan akan turun, seketika menghembuskan napasnya dengan ikhlas.
''Baiklah, kalau begitu aku yang akan menghabiskan semuanya,'' ujar Emil dengan terpaksa dan wajah yang lesu.
Bintang yang mendengar itu tentu saja sangat bahagia. Dia kemudian memeluk tubuh Emil dari samping, lalu mulai menyuapi suaminya.
Astaga! Alamat naik berat badan ini, mah? Kenapa orang hamil begitu menyusahkan sekali? Memangnya mereka mau mempunyai suami yang perutnya buncit? Ya Tuhan, tenggelamkan aku saja di dasar laut. batin Emil.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1
Sabar ya kang Emil🤣🤣🤣🤣