Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Perubahan


__ADS_3

Happy Reading.....


Hari ini adalah hari ulang tahun Emil. Bintang, Mama Ria, Papa Ezra dan juga kedua sahabat Emil, yaitu Leon dan Jasper sudah menyiapkan kejutan untuk pria tampan itu. Mereka bahkan sudah bekerja sama dari 2 hari yang lalu.


Emil: Sayang, nanti siang kamu bawa makanan ya ke ruangan aku.


Sebuah pesan masuk dari suaminya. Bintang langsung menatap ke arah ponselnya, wanita itu tersenyum kemudian wanita itu membalas pesannya.


Bintang: Iya, Dear. Nanti siang aku akan membawakan makan siang kesukaan kamu.😘


Dahi Emil mengkerut heran, saat melihat emot dari istrinya. Tidak biasanya Bintang memberikan Emot cium seperti itu, karena biasanya wanita itu tidak pernah mengirimkan emot selain senyuman manis.☺


'Kenapa ya, sedari pagi dia terasa begitu aneh? Sangat romantis. Biasanya jika pagi hari bangun, ada saja yang diributkan. Bahkan kata-kata es kobokan piring pun, tidak pernah lepas dari bibirnya, tapi entah kenapa pagi ini dia begitu berbeda?' batin Emil yang merasa heran dengan sikap Bintang.


Memang wanita itu terkesan manis sedari pagi, dia bahkan tidak marah-marah kepada Emil. Apalagi saat pria itu menaruh handuk basah di atas kasur, karena biasanya Bintang akan marah-marah, tetapi tadi pagi wanita itu hanya tersenyum saja lalu menaruh handuknya di jemuran.


Jam makan siang pun telah tiba, saat ini Bintang masuk ke dalam ruangan suaminya, dan di tangannya membawa nampan yang berisi makanan, kemudian dia menaruhnya di meja.


''Sini sayang, kita makan dulu!'' ajak Bintang sambil menepuk sofa di sebelahnya.


Pria itu pun mengangguk, kemudian dia berjalan ke arah sofa dan duduk di sebelah Bintang, lalu dengan perlahan Bintang menyiapkan makan siang untuk suaminya.


''Aaaa ...'' Bintang menyuruh Emil untuk membuka mulutnya sambil menyodorkan sendok yang sudah berisi dengan makanan.


Pria itu benar-benar heran dengan sikap istrinya kemudian Bintang menaik turunkan alisnya, meminta Emil untuk membuka mulut. Akhirnya dia pun membuka mulutnya dan melahap makanan itu dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.


''Sayang, kamu baik-baik aja, 'kan? Otak kamu tidak lagi geser, 'kan?'' tanya Emil dengan hati-hati, sebab takut Bintang marah.


Mendengar itu, tentu saja Bintang merasa kesal. Dia menatap tajam ke arah Emil. Saat melihat tatapan tajam istrinya, pria itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


''Hehehe ... aku hanya bercanda, sayang. Jangan dibawa serius,'' ucap Emil dengan canggung.


Bintang yang kadung kesal seketika menahan amarahnya. Sabar Bintang, sabar. Jika bukan karena misi kejutan saja, sudah ku bejek-bejek si tempe mendoan ini.


''Tidak apa-apa, sayang. Aku tidak marah kok, lebih baik kamu habiskan makanannya ya! Aku juga lapar mau makan.'' Bintang mencoba untuk meredam emosinya, padahal di dalam hati dia begitu sangat kesal kepada Emil. Ingin rasanya dia membejek-bejek pria itu sampai menjadi perkedel tahu.


Jika saja bukan karena misi untuk kejutan nanti malam, Bintang mungkin sudah mengamuk. Karena secara tidak langsung, Emil mengatakan jika dia wanita gila.


Emil benar-benar heran saat melihat reaksi Bintang. Dia pikir, wanita itu tadi akan mencak-mencak memarahinya, tapi benar-benar di luar dugaan. Bintang sama sekali bahkan tidak berkata kasar ataupun membentak dirinya.


'Astaga! Ada apa, dengan istriku? Apa dia sudah berubah menjadi Alien? Tidak mungkin jika dia tidak marah dengan ucapanku? Atau jangan-jangan ... istriku diculik oleh temannya BoBoi-Boy, dan dibawa ke planet kora-kora?' batin Emil merasa heran dengan sikap istrinya yang terkesan cuek dan tidak marah kepada dirinya.


Selesai makan, Bintang membereskan piring yang ada di atas meja, kemudian dia kembali ke ruang kerjanya. Sementara Emil benar-benar dibuat penasaran setengah mati dengan sikap istrinya.


Pintu ruangan Emil diketuk, lalu masuklah Leon. Dia membawa berkas untuk meeting satu jam lagi.


''Siang Pak, ini ada berkas yang harus Anda tanda tangani untuk meeting nanti,'' ucap Leon sambil menyerahkan berkas itu kepada Emil, lalu pria tampan itu pun menerimanya.


''Bertanya apa?'' tanya balik Leon.


''Entah kenapa, dari pagi sikap Bintang begitu aneh? Tidak biasanya dia itu menjadi baik dan juga romantis , karena biasanya wanita itu akan marah-marah, tetapi hari ini begitu berbeda. Aku seperti tidak mengenalnya. Bahkan aku berpikir, mungkin saja istriku diculik oleh temannya BoBoi-Boy yang berwarna hijau itu, lalu dibawa ke planet kora-kora? Dan sekarang yang ada di sampingku bukanlah Bintang, tapi jelmaan Alien,'' ujar Emil sambil bergidik geli.


Leon yang mendengar itu tentu saja tertawa terbahak-bahak. Dia tidak habis pikir dengan pikiran Emil. Kenapa pria itu sampai berpikir, jika istrinya diculik oleh temannya BoBoi-Boy? Padahal itu hanyalah kartun, tidak ada di dunia nyata.


''Kenapa kau malah tertawa? Emangnya ucapanku ada yang lucu?'' tanya Emil dengan bingung, saat melihat sahabatnya tertawa terbahak-bahak.


Leon memegangi perutnya yang terasa keram, kemudian dia menghentikan tawanya sampai keluar air mata. ''Jelas aja aku tertawa, kau ini begitu aneh? Mana mungkin istrimu diculik oleh kawannya siapa tadi ...? BoBoiBoy. Tidak mungkin, Emil! Itu hanyalah cerita kartun, kau ini aneh-aneh saja. Sudahlah, tanda tangani surat itu! Sebentar lagi kita akan meeting,'' jelas Leon sambil menggelengkan kepalanya dengan heran.


''Tapi Le, gue bener-bener--''

__ADS_1


''Udah, lo nggak usah mikirin kayak gitu. Yang ada, nanti kepala lo pecah! Mendingan sekarang lo tanda tangani, karena sebentar lagi kita akan meeting.'' Leon memotong ucapan Emil hingga membuat pria itu mendesah dengan pelan.


Sebenarnya Leon merasa lucu melihat ekspresi sahabatnya yang merasa kebingungan dengan sikap Bintang, karena dia pun tahu perubahan sikap wanita itu untuk acara nanti malam.


'Benar-benar pasangan yang kocak, yang satunya gesrek, dan yang satunya somplak,' batin Leon tertawa di dalam hati.


*****************


Malam pun tiba, saat ini Bintang dan Emil sudah sampai di rumah. Akan tetapi, keadaan rumah sangat sepi, tak ada keberadaan mama Ria maupun papa Ezra.


''Bi, mama sama papa, ke mana?'' tanya Emil pada salah satu pelayan yang ada di rumah.


''Tuan dan nyonya sedang keluar, Tuan Muda. Anda dan juga Nona Bintang diminta untuk menyusul,'' jawab pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.


''Menyusul?'' bingung Emil yang merasa heran, karena tidak biasanya kedua orang tuanya pergi tanpa memberitahunya.


Saat Emil akan bertanya kembali, tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata itu panggilan dari Mama Ria. Pria itu pun langsung menggeser tombol hijau ke atas.


''Halo Mah, Mama di mana? Kok di rumah sepi?'' tanya Emil saat telepon tersambung.


Pria itu terdiam saat mendapat jawaban dari Mama Ria, kemudian dia mengangguk paham. Sementara itu Bintang sudah berada di dalam kamar sedang membersihkan diri, untuk bersiap-siap keluar. Karena dia sudah tahu ke mana mereka akan pergi.


''Sayang, kamu sudah rapi saja?" tanya Emil saat masuk ke dalam kamar.


''Iya, tadi Mama menelpon-ku, dan meminta agar kita pergi keluar,'' jawab Bintang sambil merias wajahnya.


Pria itu mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sebab dia juga akan bersiap-siap untuk makan malam di luar.


Akan tetapi, sebenarnya Emil merasa heran. Sebab tidak biasanya jika makan di luar dia sama sekali tidak di beri tahu, tetapi pria itu berpikir positif saja. Mungkin memang mama Ria dan juga papa Ezra ingin suasana yang baru.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2