Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Hampir Saja


__ADS_3

Happy reading....


Emil merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Dia merasakan pusaka di belahan paha nya mulai menegang. Apalagi sensasi yang Bintang berikan begitu memabukan.


''Kenapa tak membalas?'' tanya Bintang saat tautan bibir mereka terlepas.


Bintang menatap sayu ke arah Emil, dia benar-benar telah terbakar api gairah. Pada hal awalnya Bintang hanya ingin menguji Emil, apakah masih sesak atau tidak. Dia juga bertekad akan membuat Emil sembuh.


''Aku tidak bisa, berciumaan,'' jujur Emil.


Bintang tersenyum, lalu mengecup pipi Emil dengan lembut. Membuat pria itu kaget dengan tindakan berani Bintang.


''Ikuti alurnya. Ikuti kata hatimu, dan biarkan tubuhmu yang mengontrol,'' ujar Bintang memberi arahan pada Emil.


Kemudian, dia mulai mengecup dan menyatukan kembali bibirnya dengan Emil. Dan Bintang mulai kembali melakukan pemanasan kecil. Lama-lama Emil mulai membalasnya, walau masih kaku.


Dia mempraktekan apa yang dia lihat di film. Dan Bintang mulai menyeimbangi gerakan bibir dan lidah suaminya. Dia tidak menyangka jika Emil lumayan jago dalam olahraga itu.


Satu tangan Emil ter-ulur ke belakang leher Bintang, dan menahan tengkuk wanita itu agar tidak banyak bergerak. Sebenarnya Emil tidak tahu apa yang dia lakukan, dia hanya mengikuti naluri tubuhnya saja.


Olahraga ringan itu berlangsung selama beberapa menit. Saat tautan itu terlepas keduanya sama-sama bernafas dengan terengah, sambil menyatukan kening mereka.


Bahkan, tatapan Emil kepada Bintang sudah sayu dan di liputi kabut gairah. Emil tidak menyangka jika dia bisa menyentuh Bintang dengan begitu lama, tanpa merasakan sesak sedikitpun.


Emil ingat, jika di gerakan film yang dia tonton. Banyak adegan yang harus di peragakan. Kemudian Emil mulai menempelkan mulutnya di ceruk leher Bintang, membuat wanita itu mendoangkak ke atas dengan mata terpejam.


Menikmati setiap sentuhan panas di dalam dinginnya air kolam. Bahkan tangan Emil mulai merambat dan menangkup 1 buah semangka kembar milik Bintang. Hingga wanita itu memejamkan matanya dan melenguh saat merasakan sensasi yang luar biasa.

__ADS_1


Mendengar lenguhan nan merdu dari mulut istrinya, Emil mulai merasakan panas di dalam dirinya. Bahkan, dia seperti tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dan dengan kasar, Emil menarik lingerie yang Bintang kenakan, hingga saringan tempe itu robek dan menampilkan tubuh molek nan indah milik Bintang.


Kedua mata Emil membulat tanpa berkedip saat melihat tubuh sintal itu. Apalagi dalam keadaan basah, membuat Bintang kian sexy.


Emil mulai menyerang kembali, dan melancarkan aksinya. Dia mengikuti naluri ke lelakian-nya dan ilmu yang dia dapat.


Dengan gerakan cepat Emil mengangkat tubuh Bintang, dan wanita itu langsung mengapungkan tangannya di leher pria itu. Kemudian Emil membawa Bintang ke kamarnya.


Lalu, dengan perlahan Emil membaringkan tubuh Bintang, menatap lapar ke arah tubuh yang sudah setengah polos itu. Kemudian Emil mulai membuka bajunya, dan melakukan olahraga panas yang sesungguhnya bersama Bintang.


''Kamu pasti bisa,'' ucap Bintang saat Emil akan menjebol gawang miliknya.


Keringat dingin mulai bercucuran di wajah Emil. Bukan karena olahraga itu akan di mulai. Melainkan sepotong ingatan mengerikan yang menjadi kunci trauma Emil selama ini.


''Ayo sayang, kamu pasti bisa.'' Bintang mengusap lembut pipi Emil, mencoba memberi semangat pada pria itu.


Dia langsung menurunkan tubuhnya dari tubuh Bintang, lalu membaringkannya di samping. Emil mengusap wajahnya dengan kasar, dadanya naik turun mengatur nafas yang menderu akibat sepenggal ingatan mengerikan itu.


Bintang merasa kecewa saat Emil tidak jadi menjebol gawangnya. Padahal, gairah Bintang sudah di ubun-ubun. Akan tetapi, saat dia melihat Ukulele milik Emil mulai tertidur kembali dengan wajah tegang. Bintang pun merasa tidak tega.


'Padahal aku berharap, lele jumbo itu menerobos masuk malam ini. Namun sepertinya, semua harus aku tahan dulu. Kasian dia, pasti trauma itu sangat menyiksanya?' batin Bintang.


''Maaf ...'' lirih Emil sambil menatap ke arah istrinya.


Bintang tersenyum, lalu mengusap lembut tangan Emil. ''Enggak papa, aku ngerti kok,'' jawab Bintang.


Emil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Bintang, lalu dia bangkit dari tempat tidur dan memakai celana nya kembali. Sejujurnya Emil merasa bersalah kepada istrinya, karena dia tahu pasti dia telah membuat Bintang kecewa.

__ADS_1


Dengan langkah dan perasaan yang frustasi, Emil berjalan menuju balkon, kemudian dia mengacak rambutnya dengan kasar. Lalu berteriak sekencang-kencangnya.


''Aaaaghhhhh ... kenapa kau memberikan ku penyakit seperti ini Tuhan? Kenapa!'' teriak Emil sambil menundukkan kepalanya dengan tangan yang menggenggam pagar balkon dengan kuat.


Bintang yang mendengar teriakan Emil begitu memilukan menjadi tak tega. Kemudian dia melilit selimut di tubuh polos nya, lalu berjalan menyusul Emil ke balkon dan memeluk tubuh pria itu dari belakang.


Bintang dapat merasakan tubuh Emil yang bergetar karena isak tangis. Dia mengusap dada bidang suaminya dan menyandarkan kepalanya di punggung kekar milik pria itu.


''Sabarlah! Semua ada waktunya. Kesembuhan pun akan ada waktunya. Kamu harus yakin, jika kamu pasti akan sembuh. Kamu harus yakin, jika trauma kamu itu pasti hilang. Aku tidak masalah jika kita gagal malam ini. Kita bisa mencobanya esok hari bukan?'' ujar Bintang dengan nada yang lembut.


Emil melepaskan tangan Bintang, kemudian dia berbalik badan dan memeluk tubuh wanita itu. m


''Maafkan aku yang tidak bisa memberikanmu nafkah batin. Aku tahu kau menginginkannya, tetapi aku tidak bisa memberikan itu. Aku bukanlah pria yang sempurna, aku tidak bisa membuatmu bahagia,'' ucap Emil dengan suara yang purau.


Entah kenapa hati Bintang tersayat saat mendengar ucapan suaminya. Selama ini dia selalu meledek Emil, selalu mengatakan pria itu setengah yupi, karena tidak bisa menyentuh wanita. Bintang berpikir jika pria itu tidak normal, tapi malam ini kesedihan Emil adalah kesedihannya juga.


Bintang melepaskan pelukan Emil, kemudian menatap pria itu dan menghapus air matanya.


''Lihat aku! Aku ada di sini. Aku akan membantumu untuk sembuh. Jangan pernah berpikir, jika kamu sendirian. Sekarang kamu sudah bisa menyentuh lawan jenis mu bukan? Dan kita hampir bisa melakukannya. Itu artinya, kesembuhan mu semakin besar. Jadi jangan pantang menyerah oke,'' ujar Bintang sambil tersenyum.


Dia tidak pernah melihat Emil serapuh itu. Selama ini Bintang melihat pria itu sangatlah dingin, tegas dan menyebalkan, tapi malam ini Bintang melihat sisi lain dari Emil. Sisi yang begitu rapuh bahkan sangat terluka.


''Aku berjanji akan membantumu untuk sembuh. Kita akan melewatinya bersama-sama, Sayang.'' Bintang berucap dengan tatapan hangat kepada Emil, dan pria itu menatap Bintang dengan perasaan bangga dan juga penuh syukur.


aku harus selalu berusaha untuk melawan rasa trauma aku dan aku berharap kamu selalu ada disisiku aku juga berharap kamu tidak bosan untuk membantuku sembuh dan terus mencobanya terima kasih sayangku cape mi sambil mengecup kening bintang.


Ada rasa hangat di hati Emil dan juga Bintang saat keduanya menyebutkan kata 'sayang' satu sama lain. Dan setelah kejadian tadi yang hampir menjebol gawang, membuat Bintang menyadari jika dia mulai mencintai Emil. Begitupun dengan Emil, dia juga mulai menyadari jika Bintang berharga dalam hidupnya, tetapi untuk rasa cinta, Emil masih meyakinkan itu. Karena dia belum pernah jatuh cinta, jadi Emil Yatidak bisa membedakan mana cinta dan mana rasa nyaman.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2