Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Bab 61


__ADS_3

Happy Reading......


Tidak terasa lima hari sudah mereka berada di sana, dan hari ini Emil, Bintang, Tiwi dan juga Mama Ria akan kembali untuk pulang ke Jakarta. Sebenarnya Mama Ria sangat tidak ingin pergi dari sana, akan tetapi mau bagaimana lagi, suaminya berada di Jakarta. Jadi mau tidak mau, Mama Ria pun harus kembali ke sana.


Setelah pesawat mendarat di Bandara, Emil meminta Leon untuk mengantarkan Tiwi pulang. Sementara itu dia bersama dengan istri dan juga Mamanya akan langsung pulang ke rumah.


Awalnya Tiwi menolak, tetapi Bintang memaksanya. Dia juga ingin melihat kedekatan dua kanebo kering itu. Karena entah kenapa, Bintang sangat yakin jika keduanya mempunyai perasaan, tapi tertutup oleh rasa kaku dan juga gengsi.


Saat Bintang berada di dalam mobil, Emil menatap ke arah istrinya dengan tatapan yang bingung. Dia masih merasa heran, sebab tadi saat di Bandara Bintang begitu memaksa kepada sahabatnya untuk diantar oleh Leon.


''Sayang, apakah aku boleh bertanya sesuatu?'' tanya Emil lalu Bintang pun mengangguk.


''Kenapa kau tadi memaksa si Jubaedah, untuk pulang bersama Leon?'' tanya Bintang.


''Iya sayang, aku sengaja memaksa Tiwi untuk pulang bersama dengan kak Leon. Sebab, aku ingin mereka itu menjalin hubungan,'' jawab Bintang sambil menyandarkan tubuhnya di jok, lalu menatap lurus ke arah depan.


Emil mengerutkan dahinya saat mendengar penjelasan istri tercintanya itu. Kemudian dia menatap ke arah Bintang. ''Maksud kamu, mereka jadian, begitu? Mana mungkin bisa, sayang? Mereka itu kaku sama kaku, kalau bertemu saja udah kayak Tom and Jerry,'' jelas Emil yang merasa tidak mungkin jika kedua insan itu akan bisa bersatu.


Sebab dari yang Emi lihat selama ini, jika Leon dan Tiwi bertemu mereka selalu saja bertengkar tentang apapun itu ,.mau hal yang kecil ataupun besar selalu ada saja yang diributkan.


Mama Ria yang mendengar ucapan Emil segera menepuk pundak putranya. ''Kamu lupa? Bahkan kamu sama Bintang pun awalnya seperti Tom and Jerry. Kalian lebih parah malahan, tapi sekarang malah bucin aku' 'kan? Sudah kayak perangko enggak bisa dipisahin,'' ledek Mama Ria sambil terkekeh kecil.


Bintang yang mendengar itu pun menjadi malu, yang dikatakan Mama mertuanya memang benar. Awalnya dia dan Emil tidak pernah akur, bahkan setiap hari ada saja yang mereka ributkan, tapi sekarang bahkan mereka seperti magnet dan juga besi tidak bisa berjauhan akan terus menempel.


Sesampainya di kediamana Marquez, Emil menyuruh Bintang untuk masuk kedalam rumah, sedangkan dia akan pergi kembali untuk bertemu dengan Jasper. Karena ada sesuatu hal yang harus dibicarakan dengan temannya itu.


*******************


Di dalam mobil, Tiwi beserta dengan Leon hanya diam saja. Sebab mereka tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Apalagi Tiwi yang merasa canggung berdekatan dengan Leon.


Sesampainya di rumah Tiwi, wanita itu pun langsung turun dari mobil, tapi kemudian Leon memanggil dirinya hingga Tiwi pun menengok ke arah pria itu.


''Ada apa?'' tanya Tiwi.


Leon sejenak terdiam, kemudian dia pun berkata, ''Apa nanti malam kamu ada acara?'' tanya Leon.


''Tidak! Nanti malam aku free, memangnya kenapa?'' Tiwi menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arah pria tampan itu.

__ADS_1


''Nanti malam aku akan jemput kamu,'' ucap Leon membuat Tiwi menatapnya dengan bingung. ''Menjemputku? Memangnya kita mau ke mana?''


Namun Leon tidak memberitahukan ke mana dia akan membawa Tiwi. Pria itu hanya bilang jika nanti malam dia akan menjemput Tiwi di rumah. Setelah itu Tiwi pun keluar dari mobilnya, walaupun sebenarnya dia penasaran ke mana Leon akan membawanya.


Sesampainya di kamar, Tiwi merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Memikirkan ucapan Leon barusan. ''Apakah dia akan menembakku, ya?'' gumam Tiwi dengan suara yang lirih. Akan tetapi, seketika tangannya menutup wajah sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


''Tidak! Tidak mungkin si kanebo kering itu nembak aku, tapi jika dipikir. Untuk apa dia memintaku bersiap-siap nanti malam? Aduh ... kok aku jadi penasaran banget ya.'' Tiwi berkata dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.


Sementara itu Leon yang sedang menyetir mobilnya tiba-tiba mendapatkan pesan dari Emil untuk menyuruhnya ke markas, dan pria itu pun langsung menuju ke sana.


Sesampainya di markas, Billy melihat sudah ada mobil Emil dan Jasper yang terparkir. Pria itu merasa heran, tapi langsung masuk ke dalam markas tersebut. ''Ada apa, lo manggil gue ke sini? Baru aja gue pengen balik,'' ucap Leon sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Tqnpa berkata apapun, Emil menepuk sampingnya meminta Leon untuk pindah di sana dan pria itu pun hanya menurut, kemudian dia menatap ke arah Emil dan juga Jasper bergantian.


''Sebenarnya ada apa sih? Kayaknya serius banget?'' tanya Leon dengan penasaran.


Kemudian Emil menatap ke arah dua sahabatnya bergantian, lalu dia pun menjelaskan tujuannya mengumpulkan mereka untuk membahas perihal balas dendam kepada keluarga Bastian.


Emil ingin membuat mereka menderita, walaupun perusahaan mereka sudah dihancurkan oleh Emil. Akan tetapi, rasanya pembalasan seperti itu belum cukup dia masih kurang puas melihat penderitaan keluarga itu.


''Iya, lagian lo balas dendam tuh nanggung-nanggung. Tinggal hancurin aja perusahaannya.sampai ke akar-akarnya, kenapa dibuat pusing?'' Jasper berkata sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


Emil menghela napasnya dengan kasar, kemudian dia menatap ke arah Leon dan juga Jasper bergantian dengan kepala menggeleng. ''Aku sebenarnya ingin, bahkan bisa saja menghabisi mereka, tapi masalahnya Bintang tidak ingin mereka dipenjara,'' jelas Emil.


''Kok bisa,'' ucap Leon dan juga Jasper serempak.


Emil pun menjelaskan jika Bintang tidak ingin mereka dipenjara, sebab walau bagaimanapun tante Ema dan juga Om Prima pernah merawat dirinya. Walaupun sebenarnya hanya untuk menjaga harta Bintang.


Jadi mau tidak mau, Emil pun tidak bisa memenjarakan mereka atas permintaan sang istri. Dia hanya memberikan mereka pelajaran saja, tapi walaupun begitu tetap saja Emil akan memberikan mereka penderitaan yang tidak pernah mereka duga.


''Aku punya usul,'' ucap Jasper mengangkat tangannya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah depan.


''Apa itu?'' jawab Emil dengan dahi mengkerut.


Kemudian Japer tersenyum miring, lalu menggerakkan kedua jarinya ke arah Emil dan juga Leon. Kedua pria itu pun mencondongkan badannya, lalu Jasper mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya tentang rencana jahatnya itu.


Awalnya Leon menolak usulan dari Jasper, tetapi Emil malah setuju. ''Aku rasa, rencanamu memang sangat bagus,'' ucap Emil sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


''Ya kalau gue sih setuju aja. Cuma masalahnya, apa lo nggak akan kemakan sama permainan lo sendiri?'' tanya Leon sambil menatap ke arah Jasper dengan alis terangkat satu.


Mendengar itu Jasper malah tertawa sambil menggelengkan kepalanya. ''Leon, Leon. Lo ini kayak baru kenal gue? Hal kecil seperti itu, sudah biasa bagi gue.'' Jasper berkata dengan nada meremehkan.


Leon pun menghela napasnya, ''Ya, kalau itu udah jadi keputusan lo, ya udah. Gue dukung aja, tapi kalau lo kemakan sama permainan lo sendiri, gue nggak tanggung jawab ya!'' Leon berkata sambil mengangkat kedua tangannya, sementara itu Emil hanya terkekeh kecil melihat kedua sahabatnya sedang beradu argumen.


****************


Sore hari Bintang ingin keluar untuk membeli buah di supermarket, karena buah naga kesukaannya sudah habis. Jadi dia pun memutuskan untuk membelinya sendiri, padahal di sana ada pelayan akan tetapi, Bintang ingin mencari udara segar.


Setelah mobil terparkir di depan supermarket, wanita itu pun turun dari mobil, masuk ke dalam dan membeli buah yang dia butuhkan serta beberapa cemilan untuk menemaninya membaca novel.


Saat Bintang tengah memilih beberapa cemilan, tiba-tiba saja trolinya menabrak troli belanjaan orang lain, hingga wanita itu menatap ke arah depan. Seketika tatapannya terpaku saat bertabrakan dengan mata wanita yang ada di hadapannya.


''Bintang!'' ucap wanita itu dengan kaget.


''Azkia,'' gumam Bintang saat melihat adiknya.


Azkia yang melihat Bintang di sana, seketika berjalan dan mendekat ke arahnya. Kemudian tanpa aba-aba dan tanpa tak terduga, Azkia menjambak rambut wanita itu hingga membuat Bintang sedikit meringis karena kaget.


''Gara-gara lo ya, perusahaan Ayah sekarang mulai bangkrut. Lo sengaja melakukan itu, hah! Bener-bener jahat lo!'' bentak Azkia sambil mendorong tubuh Bintang hingga dia mundur beberapa langkah.


Bintang menggeleng dengan cepat, sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Kemudian dia berjalan mendekat ke arah Azkia, lalu menampar wajah wanita itu dengan keras.


''Selama ini aku diam, selama ini kalian menindasku, memperlakukan diriku hanya karena sebuah harta, aku diam. Hingga kalian menukar ku dan menikahkanku dengan Emil, aku tidak menolak, tapi aku bersyukur. Karena dengan kebodohan kalian itu, aku bisa bertemu dengan seorang pangeran yang menyelamatkan hidupku dari sebuah neraka.'' Bintang berkata dengan sorot mata yang tajam menatap ke arah Azkia.


Wanita itu ingin berkata lagi, akan tetapi Bintang kembali menyela, ''Dan asal kau tahu ya! Aku bisa saja menjebloskan kedua orang tuamu ke dalam penjara, karena mereka telah membunuh orang tuaku, tapi apa aku masih berbaik hati bukan?'' Kalian ini, benar-benar seperti binatang.'' Setelah mengatakan itu Bintang pergi meninggalkan Azkia, dan menyenggol tubuh wanita itu hingga jatuh ke lantai.


Mengingat bagaimana kematian orang tuanya, dan bagaimana jahatnya tante Ema serta Om Prima yang menghabisi orang tersayang Bintang, membuat amarahnya seketika memuncak. Dia bahkan tidak perduli dengan ringisan Azkia yang jatuh.


Setelah membayar, Bintang masuk ke dalam mobil. Akan tetapi, Askia menahan tangannya, karena tadi wanita itu mengejar langkah Bintang. Dia tidak terima dengan penghinaan Bintang yang mengatakan dirinya dan juga kedua orang tuanya adalah binatang.


''Tarik ucapanmu kembali, wanita ******!'' Azkia berkata dengan nada membentak.


Bintang terkekeh mendengar ucapan Azkia, kemudian dia tersenyum sinis, ''Ucapan mana, yang harus kutarik? Semuanya sudah betul,'' sarkas Bintang dengan tatapan yang tajam.


''Orang tuaku bukan pembunuh! Orang tuamu mati, itu karena kecelakaan, bukan karena orang tuaku!'' bentak Azkia tidak terima jika orang tuanya dituduh membunuh orang tua Bintang.

__ADS_1


Mendengar itu, Bintang malah terkekeh. Kemudian dia menatap ke arah A,kia dengan mata yang memancarkan kemarahan dan kekecewaan yang begitu dalam. ''Kau berpikir jika aku berbohong? Jika seperti itu, tanyakan kepada orang tua yang kau sayangi itu, bagaimana cara mereka menghabisi orang tuaku.'' Bintang berkata sambil menutup pintu mobilnya dengan keras, hingga membuat Azkia terjingkat kaget.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2