Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Meminta Bantuan


__ADS_3

Happy reading.....


Seperti apa dugaan Emil, jika yang datang adalah keluarga dari istrinya. Benar saja, saat ini ada Azkia dan juga tante Emma. Mereka sengaja pagi-pagi ke sana karena ingin bertemu dengan Bintang dan juga Emil.


Mama Ria dan juga papa Ezra saling melirik satu sama lain, saat melihat dua ular dari keluarga menantunya datang.


''Bintang, biarkan Bunda masuk Nak. Ada yang ingin Bunda bicarakan dengan kamu!'' ucap tante Emma te berteriak kepada Bintang.


Wanita hamil itu melirik ke arah Emil. Dia meminta persetujuan dari suaminya. Kemudian Emil menyuruh satpam untuk membuka gerbang dan membiarkan kedua ular itu untuk masuk.


Setelah sampai di ruang tamu, tante Emma dan juga Azkia hanya diam saja . Mereka merasa takut ingin menyampaikan sesuatu kepada Bintang.


Sedangkan mama Ria dan juga Papa Ezra hanya diam menatap ke arah dua wanita yang saat ini tengah menundukkan kepalanya.


''Azkia, Bunda, apa yang ingin kalian katakan?'' tanya Bintang.


Azkia menyenggol lengan sang Bundanya, begitupun dengan tante Emma, dia juga menyenggol Azkia. Mereka melempar tatapan satu sama lain, dan itu membuat Emil benar-benar jengah.


''Cepatlah bicara! Jangan lama-lama. Aku mual melihat wajah kalian,'' ujar Emil sambil menahan sesuatu yang ingin dikeluarkan.


''Emil, tidak baik berbicara seperti itu!'' tegur Papa Ezra sambil menatap tajam ke arah putranya.


''Pah, aku berbicara jujur. Ini Aku sedang menahan mual. Entah kenapa, melihat wajah mereka aku ingin sekali muntah?'' Setelah mengatakan itu, Emil langsung berlari ke dapur. Dia tidak bisa lagi menahan rasa mual yang ada di dalam perutnya.


Setelah menyelesaikan kegiatannya, Emil kembali berjalan ke arah ruang tamu dengan badan yang cukup lemas. Kemudian dia duduk di sofa dan menatap ke arah tante Ema dan juga Azkia.


Namun, seketika pria itu kembali merasakan mual, hingga akhirnya dia berlari ke dapur lagi dan memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


Tiga kali berturut-turut tetap seperti itu, hingga membuat semua orang merasa heran. Apakah mungkin memang itu bawaan bayi dari Bintang atau bukan.


''Emil, sebaiknya kamu ke kamar sekarang. Jika di sini terus, dan melihat wajah mereka, badan kamu bisa kurus dalam sekejap.'' celetuk mama Ria.


''Mama benar. Bisa-bisa tulang dan darahku juga disedot sama mereka. Sudahlahx aku ke kamar dulu. Lemas badanku,'' jawab Emil sambil berjalan gontai menuju kamar.


Dia pikir aku sama Bunda ini Pamvire apa?" rutuk Azkia dalam hati.


''Apa yang ingin Bunda dan juga kamu katakan, Azkia?'' tanya Bintang kembali sambil menatap ke arah dua wanita yang berada di hadapannya.


''Sebenarnya kami ke sini ingin meminta bantuan dari kamu, Nak. Sebab ayah mengalami stroke, dan dia harus dirawat di rumah sakit akibat jatuh dari tangga. Bunda mohon, pinjamkanlah Bunda uang untuk berobat ayah. Jika memang kamu tidak percaya, silakan ke rumah sakit dan menengok keadaannya secara langsung,'' ujar tante Emma sambil menundukkan kepalanya.


Bintang cukup kaget saat mendengar penuturan wanita yang pernah dianggap sebagai ibu kandungnya sendiri . Walaupun sebenarnya Bintang membenci mereka, tapi mendengar penderitaan yang dialami oleh mantan keluarganya tersebut, membuatnya merasa tidak tega.


Apalagi saat Bintang mengingat jika orang tuanya meninggal karena dibunuh oleh tante Emma dan jugo Om Prima. Namun Bintang bukanlah orang yang pendendam, walau sebenarnya dia masih belum bisa memaafkan mereka.


''Tolong Bintang, kami sudah tidak mempunyai apa-apa. Emil sudah mencabutnya dari kami. Untuk berobat saja, kami tidak mampu. Bahkan rumah juga sudah disita oleh Bank. Apakah kamu tidak kasihan melihat Bunda, Nak?'' Tante Emma berkata dengan wajah yang sudah memelas.


''Anda bilang kasihan? Seharusnya perkataan seperti itu, tertuju pada diri Anda sendiri, Nyonya Emma. Apakah anda tidak kasihan kepada Bintang, di saat Anda dan juga suami menyabotase mobil orang tuanya Bintang hingga kecelakaan?''


Tante Emma terdiam, saat mendengar ucapan mama Ria. Apa yang dikatakan wanita itu memang ada benarnya. Saat tante Emma ingin menguasai harta dari kedua orang tua Bintang, dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana kondisi Bintang saat itu.


''Tante tidak bisa dong menghakimi orang tua saya seperti itu? Itu 'kan hanya masa lalu. Beda dengan sekarang, Tante,'' timpal Azkia.


''Kamu bilang hanya masa lalu? Pikir nggak sama otak kamu. Kalau orang tua kamu tidak membunuh orang tuanya Bintang, mungkin saja sekarang hidup kalian melarat. Dan mungkin juga, kalian menumpang hidup dengan Bintang. Oh, memang sudah ya? Lupa saya!'' sindir mama Ria yang tidak bisa menahan emosinya.


''Mah,'' panggil papa Ezra dengan lembut sambil menggenggam tangan istrinya. Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan.

__ADS_1


Bukannya papa Ezra juga tidak kesal melihat dua orang pembunuh di hadapannya. Namun sebagai seorang pria dan juga kepala keluarga, dia harus bijak dalam mengambil keputusan.


''Bintang, Bunda tahu, kesalahan Bunda begitu fatal kepada kamu, tapi Please ... tolong selamatkan ayah Nak!'' Tante Emma terus memelas kepada Bintang. Sedangkan wanita itu hanya diam saja.


Bayang-bayang kematian orang tuanya, masih terngiang jelas di kepala. Walaupun tidak secara langsung dia menyaksikan itu semua. Ingin sekali dia memberikan pelajaran kepada mereka, dan melakukan hal yang sama, tetapi Bintang tau rasanya kehilangan orang tua seperti apa.


''Aku akan berbicara dulu dengan mas Emil,'' jawab Bintang..Setelah itu dia pergi meninggalkan ruang tamu.


''Kalian dengarkan, apa yang dikatakan oleh Bintang? Sekarang lebih baik kalian pergi dari sini! Tunggu saja kabarnya, nanti pasti akan dihubungi kok,'' ucap mama Ria dengan ketus. Kemudian dia pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.


Sejujurnya tante Emma ingin sekali merobek mulut mama Ria. Hanya saja, dia tidak ingin gegabah. Sebab di sana juga ada suaminya. Bisa-bisa wanita itu tidak mendapatkan biaya pengobatan untuk suaminya di rumah sakit.


*Ji*ka saat ini aku masih terpandang, sudah kau robek mulutmu Ria! batin tante Emma dengan kesal.


Sesampainya Bintang di kamar, dia melihat Emil sedang menyandarkan tubuhnya di ranjang sambil memijit keningnya yang terasa pusing.


Wanita itu pun duduk di samping Emil, dan meminta suaminya untuk tiduran dan menaruh kepalanya di paha Bintang. Setelahnya dia memijit kepala Emil dengan penuh kasih sayang.


''Apa masih pusing?'' tanya Bintang saat melihat Emil memejamkan matanya.


''Sedikit, apa yang mereka bicarakan?'' tanya Emil.


Bintang pun menjawab dan menjelaskan tentang apa yang tante Emma bicarakan. Dan Emil hanya mendengarkan dengan seksama, seketika ide konyol pun muncul di benaknya.


''Sudah, kamu tidak usah memikirkan mereka. Biar urusan mereka, aku yang handle. Tenang saja. Soal pria tua itu, aku akan mengurusnya,'' jawab Emil kemudian dia bangkit dari duduknya.


''Loh, kamu mau ke mana? Katanya tadi masih sakit?'' tanya bintang dengan heran.

__ADS_1


''Aku mau ke kantor, ada meeting sebentar lagi. Kamu di rumah saja ya! Nanti siang aku pulang untuk mengantar USG. Aku sudah tidak sabar ingin menengok anak kita,'' jawab Emil sambil mencium perut Bintang. Setelah itu dia keluar dari kamar untuk menuju kantor.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2