
Happy reading......
Emil datang ke kantor Jasper dengan sedikit terburu-buru. Dia menatap ke arah dua sahabat yang saat ini sudah berada di sana.
"Yaelah ... ada hal penting apaan sih? Ganggu orang aja lo. Nggak tahu apa, gue tadi lagi makan rujak? Emang ada apaan?" tanya Emil saat sudah duduk di sofa sambil menatap kesal ke arah Jasper.
"Astaga Pakmil. Ini masih pagi kali, lo udah makan rujak aja? Apa nggak sakit tuh perut?" heran Leon.
"Lo heran, apalagi gue? Pagi-pagi biasanya juga sarapannya roti apa nasi, ini malah sarapan rujak? Entah kenapa mulut gue itu terasa asem banget, pengen yang pedes-pedes terus sama asem. Mungkin ngidamnya Bintang itu gue yang megang. Ya udahlah, kembali ke topik awal! Ada apa?" jelas Emil.
Jasper yang mendengar itu segera memberikan ipad-nya kepada Emil, dan pria tampan itu menerima dengan dahi mengkerut. Namun saat dia melihat ke arah benda yang saat ini tengah dipegang olehnya, tiba-tiba saja tatapan Emil membulat, kemudian dia menatap ke arah kedua pria yang ada di hadapannya.
"Itu adalah kabar dari anak buah gue. Sebaiknya sekarang kita hati-hati! Gue rasa, orang pertama yang diincar oleh dia, adalah Bintang. Jadi sebaiknya lo jangan biarin Bintang keluar dari rumah. Atau kalau bisa, lo kasih penjagaan ketat. Gue juga udah memerintahkan beberapa anak buah andalan gue untuk berjaga di rumah lo," jelas Jasper.
Mendengar itu, Emil merasa cemas. Tentu saja dia memikirkan keselamatan Bintang. Apalagi saat ini istrinya tengah mengandung calon buah hati mereka.
"Kenapa dia harus datang di saat-saat seperti ini sih? Aduh, gue bener-bener khawatir dengan keadaannya Bintang. Terus anak buah lo gimana? Masih lama nggak sampai di Indonesia?" tanya Emil.
"Tenang! Nanti sore juga mereka udah datang kok. Nanti gue langsung arahin mereka untuk ke rumah lo ya," ujar Jasper menenangkan sahabatnya.
Setelah dari kantornya Jasper, Emil dan juga Leon pun menaiki mobil untuk menuju kantor. Pria itu terus saja terdiam selama dalam perjalanan, karena rasa khawatir terhadap keluarganya membuat Emil benar-benar sangat takut.
Leon menatap Emil dari pantulan cermin, dia tahu jika saat ini Bos sekaligus sahabatnya itu tengah merasa khawatir dengan keadaan keluarganya, di mana musuh terbesarnya sudah kembali datang.
"Jangan terlalu dipikirkan. Anak buah Jasper itu ahli-ahli, kita juga harus menyusun strategi untuk mengalahkan dia. Lagi pula, kita lebih unggul bukan dari segalanya? Nanti aku akan telepon markas satu untuk membantu kita," ucap Leon.
"Iya, aku rasa memang kita harus meminta bantuan markas satu, tapi nanti siang kita ke sana dulu. Aku akan berbicara dengan ketuanya," ucap Emil kepada Leon.
__ADS_1
.
.
Saat ini, Bintang dan juga mama Ria Tltengah membuat cake kesukaan Emil, dan akan diantarkan ke kantor pria itu.
Tiba-tiba saja ada Tiwi yang datang ke sana. Wanita itu membawakan cake terbaru dari bakery mamanya.
"Assalamualaikum," ucap Tiwi saat masuk ke ruang makan.
"Waalaikumsalam, eh ada elu Jubaedah. Ngapain ke sini?" tanya Bintang sambil menaruh cake di rantang.
"Yaelah, teman sendiri ke sini nggak bolehin? Ya udah, gue pulang aja lah Markonah!" rajuk Tiwi sambil memanyunkan bibirnya.
Namun, bukannya pergi, Tiwi malah duduk di kursi yang ada di meja makan, dan itu membuat mama Ria terkekeh kecil melihat kelakuan dua wanita yang sangat bar-barly.
"Oh iya, Bintang, nanti lo ke kantor gue antar ya?" ujar Tiwi sambil tersenyum manis ke arah Bintang.
"Udahlah, nggak usah pakai alasan lo nganterin gue. Bilang aja mau ketemu Babang Leon?" ledek Bintang.
Tiwi yang mendengar itu terkekeh kecil, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara mama Ria hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum menatap ke arah dua wanita cantik yang saat ini sedang berdebat soal cinta.
"Ya sudah, sebaiknya kalian berangkat sekarang! Nanti keburu panas," tutur mama Ria.
Bintang mengangguk, kemudian dia berjalan ke arah kamar untuk bersiap-siap dulu. Setelah beberapa menit, wanita itu pun turun dan pergi ke kantor bersama dengan Tiwi.
Selama dalam perjalanan, mereka terus saja membahas soal hubungan Tiwi dan juga Leon. Di mana Bintang menanyakan keseriusannya Leon kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Berarti besok orang tuanya kak Leon akan datang ke rumah lo? Wah! Gue ingin deh berada di sana, tapi sayang, itu adalah acara yang sakral. Jadi nanti aja deh, kalau lo dan dia tuh sudah tunangan." Bintang menggoda Tiwi sambil menaik turunkan alisnya.
Sesampainya di kantor, mereka langsung menuju lantai atas, di mana ruangan Emil berada. Namun saat sampai di sana, Tiwi berpamitan kepada Bintang, karena dia akan ke ruangannya Leon.
Akan tetapi, saat Tiwi sampai di depan ruangan Leon, dia mendengar pria itu sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"Iya, pokoknya saya nggak mau tahu, kamu kerahkan semua anak buah terhebat kamu untuk menjaga kediaman Ferdinand. Dan satu lagi, siapkan senjata ampuh yang dibuat oleh markas satu, paham!" ucap Leon pada seseorang yang berada di seberang telepon.
Dahi Tiwi mengkerut heran saat mendengarkan kata senjata, anak buah dan juga kediaman Emil. Itu membuat Tiwi benar-benar sangat penasaran. Wanita itu pun masuk ke dalam, mengagetkan Leon yang baru saja selesai menelpon.
"Senjata apa maksud kamu? Dan anak buah untuk apa?" tanya Tiwi tiba-tiba.
Leon sangat terkejut saat mendengar suara Tiwi, kemudian dia membalik tubuhnya. Dan benar saja, di sana ada kekasihnya yang sedang menatap Leon dengan tatapan menyelidik.
"Loh, buah kiwi! Kamu ke sini nggak ngasih tau aku? Kapan kamu datang?" tanya Leon dengan heran.
Leon yang mendengar pertanyaan Tiwi menjadi kelabakan, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Tiwi. Karena Leon yakin, jika kekasihnya mendengar pembicaraannya tadi ditelepon.
"Kenapa diam saja? Apa maksudnya anak buah dan juga senjata? Apa ada hal yang akan terjadi pada keluarga Ferdinand?" tanya Tiwi dengan raut wajah yang cemas.
Leon menarik tangan Tiwi, kemudian dia duduk di kursinya. Sementara Tiwi duduk di pangkuan Leon, lalu kedua tangan Leon memeluk pinggang ramping milik kekasihnya. Sementara dagunya disandarkan pada pundak wanita itu.
"Hanya masalah kecil saja, untuk berjaga-jaga supaya keluarga Ferdinand selamat," jawab Leon.
Namun Tiwi tidak percaya, dia yakin kekasihnya tengah menyembunyikan sesuatu hal yang sangat besar dari dia. Dia pun terus mendesak ke arah Leon.
"Aku nggak percaya. Kamu jujur sama aku, atau aku pergi dari sini dan nggak mau ketemu kamu lagi!" ancam Tiwi.
__ADS_1
Leon yang mendengar itu menjadi frustasi. Apakah dia memang harus menceritakannya kepada Tiwi, atau tidak. Namun Leon juga tidak ingin jika sampai dia tidak bertemu dengan Tiwi. Akhirnya mau tidak mau, pria itu pun mengatakan yang sejujurnya.
BERSAMBUNG......