Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Ide Konyol Jubaedah


__ADS_3

Happy reading......


Mama Ria masuk ke dalam kamar Bintang, dan melihat wanita itu tengah duduk di tepi ranjang membelakangi pintu sambil menangis. Dan di tangannya ada sebuah foto yang sedang Bintang tatap.


''Sayang ...'' panggil Mama Ria sambil duduk di samping Bintang, kemudian dia menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah menantunya itu.


Bintang langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Mama Ria, dan wanita itu langsung merangkul bahu Bintang dan mengusap nya dengan lembut. Dia tahu, pasti Bintang sangat sedih dengan kematian orang tuanya yang tragis.


''Sabar ya. Mama tahu kok apa yang kamu rasakan saat ini. Tidak mudah untuk melupakan semuanya. Tidak mudah juga kita menerima sebuah kenyataan yang pahit. Akan tetapi, harus kamu ingat! Semua ini adalah jalan takdir yang sudah ditentukan oleh Allah. Dan kita sebagai manusia hanya menjalaninya saja,'' ucap Mama Ria dengan nada yang lembut dan menenangkan.


Mendengar itu, Bintang semakin measakan sesak. Air matanya bahkan terus mengalir dengan deras. Tidak bisa dipungkiri, sekuat apapun melupakan rasa sakit itu, Bintang tidak bisa. Karena bayang-bayang orang tuanya terangiang di kepala Bintang.


''Kenapa mereka sejahat itu, Mah? Kenapa mereka tega membunuh kedua orang tuaku, hanya karena harta? Kenapa mereka bisa sejahat itu? Padahal orang tuaku adalah saudara kandung mereka?'' tanya Bintang dengan suara yang purau.


Mama Ria menarik nafasnya dengan dalam, dia tahu saat ini hati Bintang tercabik-cabik, dan tugasnya adalah menenangkan menantu kesayangannya itu. Lalu dia mengusap pipi Bintang, menegakan tubuh wanita itu dan memegang kedua tangannya.


''Lihat Mama, Nak!'' titah Mama Ria kepada Bintang, dan wanita itu langsung menatap kearah sang Mama mertua.


''Semua manusia pasti akan kembali kepada Allah. Tidak tahu mereka akan kembali kepadanya dengan cara apa. Semua punya takdirnya masing-masing, dan memang manusia jika sudah berhubungan dengan namanya harta, pasti akan lupa. Sebab, mereka sudah dibutakan oleh iblis. Mata hati mereka telah tertutup. Tugas kita menyadarkan mereka, tetapi orang seperti tante Emma dan juga om Prima, memang perlu diberi pelajaran,'' jelas Mama Ria dengan tenang.


Bintang terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Lalu Mama Ria kembali melanjutkan ucapannya.


''Mama tahu, tidak mudah berada di posisi kamu saat ini. Mama juga tahu kok, perasaan kamu itu seperti apa sekarang. Memang sangat sulit untuk melupakan sebuah kenyataan yang pahit, tetapi kita harus membuka lembaran baru, karena hidup terus berjalan. Orang tua kamu juga pasti akan sangat sedih, jika melihat kamu menangis seperti ini.''

__ADS_1


Mendengar itu Bintang langsung memeluk tubuh Mama Ria dan menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya. Saat ini pelukan hangat sang ibulah yang diperlukan, dan Bintang dapat merasakannya.


Dia sangat bersyukur, karena ada Mama Ria di sampingnya. Sebab dia tidak tahu jika tanpa wanita itu, mungkin saja saat ini dia sedang down, karena Bintang benar-benar tengah butuh support dari orang-orang terdekatnya.


Saat perasaan Bintang sudah jauh lebih baik, tiba-tiba pintu kamar terketuk. Mama Ria menatap Bintang dengan heran, tapi wanita itu hanya menggeleng pelan. ''Masuk!'' titah Mama Ria. Kemudian pintu pun terbuka dan masuklah seorang wanita.


''Markonah ... i am coming!'' seru Tiwi sambil merentangkan kedua tangannya.


Bintang tersenyum saat mendengar suara cempreng milik Tiwi, dan wanita itu mendekat ke arah Bintang lalu memeluk tubuh sahabatnya dari samping.


''Udah lo jangan nangis, jelek tahu kalau lo nangis. Nih ya, lo itu nggak pantes kalau nangis. Cengeng, kayak anak bawang,'' ledek Tiwi sambil menghapus air mata Bintang dengan selimut.


''Iish, Jubaedah. Lo kok jorok banget sih? Itu 'kan di samping ada tisu, kenapa pakai selimut?'' kesal Bintang saat Tiwi menghapus air matanya dengan selimut.


Mama Ria yakin dengan kehadiran Tiwi di samping Bintang, bisa membuatmu wanita itu kembali membaik. Karena Mama Ria tahu, jika Tiwi adalah wanita yang humoris dan juga suka melawak.


''Kalian ini, sehari aja nggak sebut Markonah dan Jubaedah, apa tidak bisa? Nama kalian bagus lho, kenapa harus diganti dengan nama jelek seperti itu?'' heran Mama Ria menimpali ke konyolan Tiwi.


Akan tetapi, dalam hatinya juga dia sangat bingung. Kenapa panggilan kesayangan dua gadis itu sangatlah berbeda dari yang lain. Biasanya orang akan memanggil sweety, baby, honey, bunny, tapi mereka berdua malam menyebut dengan nama Markonah dan Jubaedah? Itu 'kan nama yang sangat jadul sekali.


''Ya Tante, justru Markonah sama Jubaedah itu nama terkeren. Kalau nama Bintang, jauh banget. Terlalu tinggi. 'Kan kata Emil juga si Bintang itu cewek rantang, Tante. Nah ... kalau Bintang nyebut Emil dengan es kobokan piring, es milo sama es capcay. Eh salah gak ya ...?'' Tiwi berkata sambil mengetuk jari telunjuk nya di dagu, karena dia lupa panggilan Bintang kepada Emil itu apa? Sebab saking banyaknya.


PLAK.

__ADS_1


Bintang menggeplak lengan Tiwi, membuat wanita itu merengut kesal. ''Apa-apaan sih? Main geplak aja! 'Kan yang gue bilang itu bener? Emangnya ada yang salah sama omongan gue?'' kesal Tiwi dengan wajah cemberut.


Sementara itu Mama Ria hanya terkekeh saja melihat ke konyol 2 wanita itu. Terkadang dia pun terhibur dengan kehadiran Tiwi yang somplak. Wanita itu begitu sederhana, dengan gaya hidup yang apa adanya. Bahkan kepribadian yang terbuka tidak pernah ditutup tutupi dengan pribadi yang jaim.


''Gue nggak pernah ya, ngomong es capcay? Mana ada sayur capcay dipakai es? Ngadi-ngadi aja kalo ngomong,'' seloroh Bintang dengan wajah sembabnya.


''Sorry Markonah ... 'kan gue nggak tahu. Lagian, kalian itu pasangan yang cocok, bener nggak sih? Yang 1 cewek rantang rasa bon cabe, dan yang satu es kobokan piring rasa es capcay. Klop banget. Iya gak, Tante?'' tanya Tiwi sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Mama Ria.


Wanita hampir setengah paruh baya itu pun tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia benar-benar terkakak dengan ucapan Tiwi yang somplak. Sedangkan, Bintang menekuk wajahnya dengan kesal, akan tetapi senyuman terbit di bibir manisnya.


Tiwi memang sengaja disuruh Emil untuk ke rumah. Sebab pria itu yakin, jika Tiwi bisa menghibur Bintang, dan benar saja saat ini keadaan Bintang sudah jauh lebih baik. Perasaannya juga sudah tenang, karena kehadiran Tiwi yang berada di sisinya dengan semua ke konyolan dan kesomplakan wanita itu.


Bintang menatap Tiwi sambil tersenyum. Dia benar-benar beruntung mempunyai sahabat seperti cewek somplak yang ada di sampingnya. Karena saat ini, itulah yang Bintang butuhkan. Sebuah hiburan dari orang-orang terdekatnya.


''Makasih ya, lo udah hibur gue. Lo juga udah datang ke sini. Gue bener-bener beruntung banget punya sahabat kayak lo. Di saat gue lagi sedih, lo datang untuk membuat gue tertawa kembali,'' ucap Bintang sambil memeluk tubuh Tiwi.


''Gue ke sini itu bukan buat menghibur. Emangnya gue badut? Kalau merasa terhibur dengan gue, bayar dong! Lo pikir, melawak itu kagak capek? Emangnya nggak pakai materi? Ini otak gue udah mandek sama adonan kue, terus sekarang gue harus ngelawak di depan sahabat gue yang lagi galau karena cinta? Jadi, nggak ada yang gratis. Apa bayarannya gue minta aja deh sama laki lo?'' ujar Tiwi sambil cengengesan.


''Iya nggak papa, lo minta aja sama si es kobokan. Nanti lo mintanya mobil, kalau bisa lo minta tiket liburan ke Bali, biar kita sama-sama pergi ke sana.'' Bintang mulai menimpali ke konyolan Tiwi.


''Eh, kalian ini kalau liburan jangan berdua aja aja kek! Mama di ajak dong. Nanti kita sama-sama porotin Emil,'' timpal Mama Ria kepada kedua wanita yang ada di hadapannya


Mereka bertiga pun tertawa, karena saling melempar ke konyolan satu sama lain. Akan tetapi, author kasihan kepada Emil. Karena pasti dia akan bangkrut diporoti oleh tiga wanita sekaligus.

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2