Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Suamiku Tertukar


__ADS_3

Happy reading....


Selesai menghibur sahabatnya yang sedang hamil, Tiwi merebahkan tubuh di sofa sedangkan. Emil dan juga Leon pergi untuk meeting.


Wajahnya sedari tadi terus aja ditekuk sambil menatap ke arah Bintang. Sedangkan wanita itu hanya terkekeh saja, saat melihat sahabatnya tengah menahan kekesalan kepada dirinya.


''Jangan ditekuk kayak gitu wajahnya! Anggap aja itu pajak jadian darimu, untukku, ya nggak?'' kekeh Bintang.


''Pajak jadian, udelmu bodong. Kalau minta traktiran masih mending. Lo apa nggak lihat, tadi gue nyanyi Leon aja sampai tutup telinga? Emang suara gue sih cempreng itu ya?'' sewot Tiwi sambil menekuk wajahnya dan menopang dagu.


Melihat ekspresi sahabatnya yang terlihat murung, Bintang berjalan mendekat ke arah Tiwi, lalu merangkul pundak wanita itu.


''Suara lo itu sebenarnya nggak cempreng, cuma 11 12 sama suaranya Kekey. Harusnya, tadi lo tuh nyanyi aku bukan boneka ... aku bukan boneka,'' ledek Bintang sambil ketawa kecil.


Tiwi yang diledek oleh sahabatnya semakin kesal. Apalagi harus disamakan dengan Kekey. Dia mengambil bantal lalu memukul tubuh Bintang. Namun seketika tangannya mengambang di udara.


''Loh, kenapa lo nggak jadi mukul tubuh gue?'' tanya Bintang dengan heran.


Biasanya Tiwi akan langsung memukul dirinya, tapi kali ini wanita itu terlihat ragu. Dan Tiwi langsung menaruh bantal tersebut di atas sofa kembali.


''Enggak ah! Kalau gue mukul lo, terus entar lo ngadu sama si es kobokan piring? Yang ada entar suami gue dipecat kerja. Terus kita makan apa nanti kalau udah nikah? Makan cinta aja mana kenyang,'' ujar Tiwi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


''Anak pintar,'' kekeh Bintang sambil mengusap kepala Tiwi dan itu semakin membuatnya kesal. ''Tapi ngemeng-ngemeng, kan lo belum kawin sama si singa, Jubaedah? Haha ...'' Bintang tertawa saat melihat wajah cemberut sahabatnya.


.


.


Sepulang dari kantor Emil, Tiwi diantarkan oleh Leon untuk menuju butiknya. Dia hari ini tidak ke bakery milik Mamanya, karena pesanan juga tidak terlalu banyak.


''Sayang, kapan kamu akan ke rumah untuk meresmikan hubungan kita?'' tanya Tiwi saat berada di dalam mobil.


''Aku akan ke rumah kamu, kemungkinan lusa. Semalam aku juga sudah menelpon mama dan papa, agar mereka pulang dari Filipina untuk melamar kamu secara resmi,'' jawab Leon.

__ADS_1


Tina benar-benar bahagia saat mendengar jawaban Leon. Dia berharap, semua akan dilancarkan dan apa yang Tiwi inginkan tercapai untuk hubungannya dan juga Leon.


''Kamu nggak mampir dulu?'' tanya Tina saat mobil sudah sampai di depan butik. Apalagi hujan juga sudah mulai turun deras.


''Nggak dulu deh, sayang. Soalnya aku masih harus mengerjakan tugas dari si es kobokan,'' jawab Leon.


Tina mengangguk, kemudian dia mengambil payung dari samping kursinya untuk turun. Namun, saat tangannya akan membuka pintu, Leon mencegahnya, membuat seketika Tiwi menengok ke arah samping.


''Kenapa sayang?'' tanya Tiwi dengan heran.


''Berikan aku kecupan semangat dulu. Karena nanti malam aku kan lembur,'' tutur Leon sambil menepuk pipinya dan menaik turunkan alisnya ke arah Tiwi.


Wanita itu menatap Leon dengan tajam. Namun, bibirnya tersenyum. ''Nggak! Aku nggak mau!'' tolak Tiwi.


''Kalau kamu nggak mau, ya sudah, aku nggak akan bukain pintu mobil ini. Biar kamu di sini terus sama aku!'' ancam Leon sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


''Kok gitu sih, sayang? Katanya kamu harus ke kantor, masih banyak kerjaan?'' rajuk Tiwi.


Tiwi menghembuskan napasnya dengan kasar, dia memutar bola matanya. Entah apa yang dipikirkan oleh Leon, hingga pria itu meminta dirinya untuk mengecup pipi sebagai tanda semangat.


Akhirnya Tiwi pun memajukan tubuhnya untuk mencium pipi Leon, dan pria itu memejamkan matanya sambil menyerahkan pipi kiri kepada Tiwi.


Namun, baru saja bibir Tiwi akan mencapai pipi milik Leon, tiba-tiba pria itu membalikkan wajahnya, hingga bibir keduanya sama-sama menempel. Dan itu sontak membuat Tiwi sangat terkejut.


Kedua matanya membulat menatap ke arah netra tegas milik Leon. Saat Tiwi akan menarik kepalanya, tapi Leon malah menahan tengkuknya dan memperdalam ciumannya.


Hisapaan kecil dan juga permainan yang begitu manis dimainkan oleh bibir Leon. Dia memang tidak pandai dalam hal seperti itu namun, dirinya selalu belajar dari drama yang sering dia lihat.


Setelah beberapa menit, tautan bibir itu pun terlepas. Leon menempelkan dahinya di kening milik Tiwi. Keduanya bernaoas terengah-engah, bahkan sesuatu dibalik celana Leon pun sudah mengeras dan minta untuk keluar.


Sedangkan Tiwi hanya menundukkan kepalanya dengan pipi yang sudah bersemu merah, sebab Leonlah orang pertama yang mengambil ciumannya. Dan lagi, dia tidak pandai dalam hal itu. Makanya tadi Tiwi bermain dengan sangat kaku.


''Jangan pulang terlalu malam! Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menjemputmu,'' ucap Leon sambil mengacak rambut Tiwi.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk, kemudian turun dari mobil Leon dengan wajah yang sudah bersemu merah bagai kepiting rebus. Dia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian manis tadi di dalam mobil.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 malam. Saat ini Bintang baru saja selesai melantunkan ayat suci Al-quran di dalam ruangan Emil.


''Sayang, kita pulang yuk! Nih udah malem. Aku juga udah ngantuk, tapi sebelum itu, kita mampir dulu yuk ke restoran! Aku mau makan sushi sama takoyaki!'' pinta Bintang.


Emil mengangguk, kemudian dia menutup laptopnya lalu berjalan ke arah Bintang yang yang sudah menatapnya dengan lesu.


Tiba-tiba saja Emil menggendong tubuh Bintang, membuat wanita itu sedikit menjerit dan mengalungkan tangannya ke leher kekar milik suaminya.


''Sayang, kok malah ngegendong aku sih? Turunin ah! Entar jatuh gimana? Lagian, aku berat tahu!'' rengek Bintang, karena dia takut jatuh.


''Bahkan tubuh kamu seringan bulu, sayang. Sudah, biar aku gendong saja. Lagi pula, kamu kecapean 'kan? Aku nggak mau jika nanti istri dan anak aku sampai kelelahan. Jadi biar aku gendong kamu sampai mobil,'' ucap Emil dengan nada yang lembut.


Bintang sempat terpaku saat mendengar penuturan suaminya. Dia tidak pernah mendengar Emil berkata selembut itu kepadanya. Biasanya pria itu akan berkata sedikit ketus, tetapi kali ini sangat beda.


*A*pa suamiku salah minum obat ya? Atau tadi kepalanya terbentur? Kok tumben dia berbicara dengan nada yang lembut? Atau jangan-jangan ... suamiku tertukar lagi? Bintang berkata di dalam hati.


PLETAK!


Emil menyentil kening Bintang saat berada di dalam lift. Dia heran, karena Wanita itu terus saja menatap ke arahnya. Padahal tidak ada yang salah dengan wajah Emil.


''Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Suamimu ini tidak tertukar dan tidak salah minum obat. Kamu ini aneh sekali? Diperlakukan lembut malah mikirnya yang nggak-nggak,'' ucap Emil dengan suara yang datar sambil menatap lurus ke arah depan.


Bintang melongo saat mendengar ucapan suaminya. Padahal dia hanya berkata di dalam hatix tapi kenapa Emil bisa mengetahuinya?


''Kamu ini benar-benar seperti cenayang ya? Bisa baca pikiran orang,'' celetuk Bintang sambil menggelengkan kepalanya. Setelah itu dia bersandar di dada bidang milik suaminya.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2