Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Pertarungan


__ADS_3

Happy reading........


Sesuai dengan ucapan Emil, Jasper dan juga Leon, mereka bertiga saat ini tengah bersiap-siap untuk menyerang markas Excel. Di mana anak buahnya juga sudah bertebaran di seluruh sudut untuk mengepung markas tersebut, dan kali ini Emil mengerahkan sekitar 40 anggota, dan mereka termasuk anggota yang handal.


Emil menggerakkan tangannya pada salah satu mafia dari markas satu, meminta untuk mereka menyerang terlebih dahulu.


Anggota dari markas satu sudah menyerang dan terjadilah baku hantam dengan tembak-menembak. Emil, Jasper dan juga Leon masuk ke dalam saat situasi sudah memungkinkan.


Beberapa anak buahnya gugur, begitupun dengan anak buah Excel. Bahkan pria yang saat ini tengah berada di lantai atas kaget saat mendengar jika Emil menyerang kediamannya, padahal Excel pikir tidak secepat itu, tapi ternyata dia salah.


"Sial! Siapkan semua anak buah!" teriak Excel pada asistennya.


"Benar-benar dia mengantarkan nyawa kepadaku!" geram Excel, kemudian beranjak dari duduknya dan mengambil dua buah pistol lalu diselipkan di bagian pinggangnya.


Sedangkan Emil, Leon dan juga Jasper berpencar untuk mencari keberadaan Excel. Mereka menaiki lantai atas, dan ternyata Excel menembaki mereka, untung saja ketiganya bisa menghindar.


.


.


Sementara itu di kediaman Ferdinand, saat ini Bintang tengah berada di kamar, dijaga oleh dua anak buah Jasper. Dia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Emil, karena saat ini suaminya tengah bertarung dengan orang yang benar-benar sangat kejam.


Tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang datang membawakan minuman untuk Bintang, kedua anak buah Jasper saling melirik satu sama lain.


"Mau apa, kamu?" tanya salah satu anak buah Jasper.


"Maaf Tuan, saya ingin mengantarkan minum untuk Nona Bintang. Sebab beliau sedang hamil," ucap pelayan tersebut sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Pengawal itu pun mengambil gelas tersebut, lalu mencium aromanya. "Masuklah!" Setelah mengetahui tidak ada racun di dalam minuman itu.


Pelayan tersebut masuk dengan senyum seringai, kemudian dia berjalan mendekati Bintang yang saat ini tengah mondar-mandir di dekat ranjang.


"Permisi Nona muda, ini saya membawakan minuman untuk Nona," ucap wanita itu sambil menaruh minuman tersebut di meja yang ada di dekat sofa.


"Iya Bi, terima kasih," jawab Bintang.


Kemudian pelayan tersebut mendekat ke arah Bintang sambil tersenyum jahat, dan Bintang menyadari itu. "Iya, ada apa Bi? Apa ada lagi?" tanya Bintang namun, pelayan itu langsung menggelengkan kepalanya.


Sedangkan di sisi lain, papa Ezra meninggalkan mama Linda di kamarnya, dan dia berjalan ke kamarnya Bintang untuk melihat keadaan menantunya. Karena entah kenapa, perasaannya sedari tadi tidak enak.


"Apakah Bintang masih di dalam?" tanya papa Ezra saat berada di depan kamar menantunya.


"Benar Tuan besar," jawab anak buah Jasper sambil menundukkan kepala.


"Bersama siapa dia di dalam?" tanya papa Ezra, kemudian dia meminta anak buahnya untuk membukakan pintu, karena dia akan masuk dan melihat keadaan Bintang.


Entah kenapa, perasaan Bintang menjadi tidak enak. Dia pun memundurkan langkahnya, "Bibi mau ngapain?" tanya Bintang dengan waspada.


"Kau akan mati wanita sialaan!" geram pelayan tersebut sambil mengacungkan pisau ke arah Bintang.


Melihat itu, Bintang sangat kaget. Dia semakin memundurkan langkahnya. "Jangan mendekat!" ucap Bintang dengan wajah yang ketakutan.


"Berteriaklah! Karena saat ini ajalmu sudah menjemput," ucap pelayan tersebut sambil tersenyum menyeringai dan mendekat ke arah Bintang.


Kemudian Bintang berlari menjauh. Namun, seketika kakinya dihentikan oleh pelayan itu, hingga Bintang pun jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Tolong jangan sakit saya! TOLONG!!" teriak Bintang.


Pelayan itu merasa panik saat Bintang meminta tolong, kemudian dia hendak menancapkan pisau itu di perut wanita hamil tersebut. Namun seketika pintu terbuka, dan Papa Ezra begitu sangat kaget saat melihat Bintang dalam bahaya.


Lalu pria itu langsung mengambil pistol dan menembak pelayan tersebut, hingga akhirnya wanita itu meninggal di tempat.


Papa Ezra segera berlari ke arah Bintang, dan melihat keadaan menantunya di mana saat ini Bintang tengah pendarahan, karena tadi sempat terjatuh dengan cukup keras.


"Aduh Pah, perut Bintang sakit ... aduh!" ringis Bintang sambil memegangi perutnya yang terasa begitu sakit.


"Cepat siapkan mobil! Kita akan membawanya ke Rumah Sakit. Minta beberapa anak buah untuk menjaga istriku! Jangan sampai membiarkan pelayan masuk ke dalamnya, paham!" bentak papa Ezra kepada anak buah Jasper.


Pria itu pun langsung menggendong menantunya ke lantai bawah, setelah itu membawa Bintang ke rumah sakit.


Sedangkan di tempat lain, Emil sedang baku hantam bersama dengan Excel. Pistol mereka sudah terjatuh satu sama lain, sehingga saat ini Emil sedang melawan satu banding satu dengan Excel.


Tetapi entah kenapa, pikiran Emil sedari tadi tidak enak. Dia terus aja kepikiran dengan istrinya, dan saat Emil berhasil melumpuhkan Excel, tiba-tiba saja pria itu berkata, "Jika kau membunuhku, itu akan sia-sia. Karena istrimu sudah pasti masuk ke dalam neraka. Dia sudah kukirim ke sana! Hahaha ..." Excel tertawa menggelegar.


"Apa maksudmu, brengsek?!" geram Emil.


"Anak buahku pasti sudah menghabisi istrimu! Kau tidak akan pernah melihatnya lagi, Emilio Ferdinand!"


Mendengar itu Emil sangat syok, dan itu dijadikan senjata oleh Excel, kemudian dia menghajar wajah Emil dan menodongkan pistol kepadanya. Tetapi tidak ada peluru. Akhirnya Excel melihat pisau yang ada di samping tubuh, kemudian mengambilnya dan hendak menancapkan pisau itu ke arah jantung milik Emil.


"Susulah istrimu ke neraka, pria sialaan!" Excel berkata dengan nada yang penuh dendam.


Akan tetapi, saat pisau itu akan ditancapkan ke jantung Emil, tiba-tiba saja tangannya ditembak oleh seseorang dan ternyata dia adalah Leon. Pria itu berjalan ke arah Excel dengan amarah yang sudah tidak terbendung lagi. Dia baru saja selesai menghabisi anak-anak buah Excel, dan saat sampai di sana dia melihat sahabatnya hampir saja dibunuh.

__ADS_1


"Kemari kau Excel! Luka harus dibalas dengan luka! Aku tidak akan membiarkanmu hidup!" teriak Leon dengan amarah yang membara.


BERSAMBUNG......


__ADS_2