
Happy reading....
Setelah kejadian semalam, Bintang dan Emil mulai deka. Karena memang dia ingin membuat suaminya itu sembuh. Seperti halnya pagi ini, Bintang tengah memasak sarapan di dapur untuk suaminya, sambil menggunakan lingerie berwarna pink.
Sejujurnya Bintang tidak betah berpakaian seterbuka itu, tapi Mama Ria sudah menyiapkan semuanya, dan tidak ada pakaian apapun selain lingerie itu. Jdi mau tidak mau, Bintang pun terpaksa mengenakan saringan tempe itu.
Saat Bintang tengah mengaduk nasi goreng yang ada di wajan, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya, dan ternyata itu adalah Emil.
Pria itu mulai berani menyentuh Bintang, karena kejadian semalam. Dia sangat yakin, jika Bintang memang obat untuk nya. Dan menyentuh Bintang tidak membuatnya sesak sama sekali.
''Apa sih aku? Lagi goreng nasi, nanti kalau gosong gimana?'' ucap Bintang, merasa risih saat Emil memeluk dirinya.
''Biarkan seperti ini lima menit saja,'' pinta Emil sambil menaruh wajahnya di pundak Bintang.
Bintang pun akhirnya membiarkan Emil memeluk dirinya dari belakang, sementara dia fokus memasak. Setelah itu Bintang memindahkan nasi goreng itu ke dalam piring, dan Emil melepaskan pelukannya.
''Kita sarapan dulu ya,'' ajak Bintang sambil memberikan kopi kepada Emil.
Mereka berdua pun sarapan di meja makan bersama, dan sesekali Bintang menyuapi Emil. Hubungan mereka benar-benar hangat setelah kejadian semalam, mereka merasa tidak canggung lagi.
Setelah sarapan selesai, Bintang pun mencuci piring. Sementara itu Emil menelpon ke Indonesia, karena dia sudah membawa kartu cadangan dari kota Prancis yang sudah disiapkan oleh sekertaris Papanya.
__ADS_1
Bintang tidak melihat keberadaan Emil ada dimana, kemudian dia berjalan melangkahkan kakinya keluar dari villa menuju laut. Lalu Bintang berjalan-jalan di pesisir pantai sambil menikmati dinginnya air menerpa kakinya.
Pandangan Bintang mengarah ke depan. Luasnya lautan membuat Bintang termenung, dia tidak menyangka tentang pernikahannya saat ini. Apalagi tentang kejadian semalam, dia benar-benar penasaran tentang apa yang membuat Emil trauma.
''Kenapa melamun sendirian?'' tanya Emil sambil memeluk tubuh Bintang dari belakang.
Tadi saat Emil selesai menelpon Mamanya, dia hendak menemui Bintang, tetapi wanita itu tidak ada di dapur. Emil juga sudah mencarinya ke kolam renang, namun tidak ada, dan dia yakin jika Bintang berada di luar tepatnya di pesisir pantai.
''Tidak apa-apa, apakah aku boleh bertanya sesuatu?'' tanya Bintang sambil menggenggam tangan Emil yang berada di perutnya.
''Apa itu?''
Mendengar pertanyaan Bintang, Emil melepaskan pelukannya. Kemudian dia berjalan di samping Bintang, menelusuri pantai sambil menendang-nendang air.
Bintang yang melihat itu pun segera menyusul Emil dan berjalan di sampingnya. Bintag heran, sebab Emil tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu hanya diam saja.
''Jika kamu tidak ingin bercerita, maka aku tidak akan memaksa. Karena itu hak kamu.''
Emil menghentikan langkahnya, kemudian dia berbalik menatap ke arah Bintang. Wanita itu juga melihat ke arah dirinya. Emil dapat melihat dari kedua mata Bintang jika istrinya begitu penasaran, kemudian Emil menggenggam tangan Bintang dan mengajaknya untuk duduk di bawah pohon kelapa.
''Setiap kali aku mengingat itu, dadaku terasa sesak. Kejadian itu begitu membuat diriku trauma. Bahkan bagiku, kejadian malam itu adalah sebuah mimpi buruk yang sangat kelam,'' ucap Emil dengan lirih sambil menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Bintang menggenggam tangan Emil, kemudian mengecupnya. ''Jika kamu belum siap, maka aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk bercerita, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku ada di sini untuk kamu.''Bintang menatap kedua mata Emil sambil tersenyum manis.
Lalu wanita itu pindah dan duduk di pangkuan Emil, sambil mengalungkan tangannya ke lehernya. Dia menelusuri setiap jengkal wajah milik suaminya, dari mulai mata, hidung, pipi dan rahang. Tidak ada yang tertinggal dari penglihatan Bintang.
''Kamu begitu sempurna, dan jika aku adalah obatmu, maka kamu juga harus berusaha untuk sembuh.'' Bintang berucap dengan nada yang lembut, mencoba untuk membuat suaminya agar tenang.
Melihat posisi Bintang yang seperti itu, Emil merasakan sesuatu yang bereaksi di bawah sana, tepatnya di bawah perutnya yang saat ini tengah Bintang diduduki. Emil tidak menyangka, jika seperti itu rasanya bila berdekatan dengan seorang wanita.
Darahnya berdesir, bahkan degup jantungnya mulai tidak beraturan. Nafasnya sedikit demi sedikit mulai memburu saat melihat bibir seksi yang berada di hadapannya. Tanpa banyak bicara, Emil menahan tengkuk Bintang lalu mendaratkan ciuman di bibir wanita itu.
Keduanya sama-sama larut dalam olahraga bibir di pagi hari. Olahraga yang begitu memabukkan, namun cukup untuk membakar kalori cinta dan kalori gairah di dalam diri mereka.
Setelah tautan itu terlepas, Bintang dan Emil bernafas terengah-engah. ''Aku akan menceritakannya kepadamu. Aku rasa, memang sudah waktunya kamu tahu.''
Bintag tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya. ''Jika itu tidak membuatmu keberatan, maka aku siap mendengarkan, bicaralah!''
Emil menyelipkan anak rambut ke telinga Bintang, kemudian memeluk tubuh wanita itu. Bintang tau apa yang dirasakan suaminya saat ini. Memang sebuah trauma tidaklah mudah untuk diceritakan, karena pasti itu sangatlah menyakitkan. Dan Bintang tahu jika tidak mudah bagi Emil untuk membuka sebuah ingatan yang kelam.
Emil menghela nafasnya, kemudian dia menatap ke arah Bintang. ''Sebenarnya dulu ....''
BERSAMBUNG
__ADS_1