
Happy reading......
Tiwi masih tidak percaya dengan apa yang dia baca di kertas tersebut, tetapi Tiwi juga merasa heran, apakah Leon yang menulis itu untuknya,.atau pria lain.
''Bisa kau jelaskan ini!'' pinta Tiwi.
Kertas itu bertuliskan, I love you buah kiwiku.
Leon tersenyum, kemudian dia mengambil satu tangkai mawar merah di balik jasnya, lalu menyerahkan kepada Tiwi sambil berlutut di hadapan wanita itu.
''Aku tidak bisa berkata dengan ungkapan yang manis dan juga romantis, tapi satu hal, entah kapan kamu sudah mencuri hatiku? Dan aku rasa, lampu lampion ini sudah jatuh cinta pada seorang gadis yang menjelma menjadi buah kiwi,'' ucap Leon sambil menatap kedua manik indah milik Tiwi.
Wanita itu terdiam, dia begitu syok saat melihat Leon tengah menyatakan perasaan kepadanya. Tidak Tiwi sangka, selama ini pria dingin itu mempunyai perasaan kepadanya. Padahal, mereka selalu saja berantem jika bertemu.
''Lampion, apa kamu yakin? Kamu nggak lagi nge-prank aku, 'kan?'' tanya Tiwi memastikan.
Leon sudah menurunkan harga dirinya untuk bersikap romantis kepada Tiwi, tapi seketika wanita itu malah menganggap jika dirinya sedang bercanda.
Kemudian Leon berdiri, lalu dia mencubit salah satu pipi Tiwi dengan gemas, sehingga membuat wanita itu merengut dengan kesal.
''Sakit tahu, lampion! Kenapa malah nyubit pipi sih? Nanti kalau tambah bakpao gimana?'' kesel Tiwi sambil menekuk wajahnya.
''Ya lagian kamu! Gimana aku nggak marah? Aku ini udah menurunkan harga diri untuk bersikap romantis, tapi kamu malah bilang nge-prank? Emangnya kamu nggak lihat, mana candaan dan mana seriusan?'' jawab Leon dengan nada yang kesal.
Tiwi malah cengengesan, menampilkan deretan gigi putihnya. Dia merasa bersalah, karena sudah membuat Leon kesal.
''Iya, aku minta maaf. Lalu, maksudnya ini bagaimana? Apakah kamu sedang menembakku? Atau---''
''Iya, aku sedang menembakmu. Apa kau mau menjadi pacarku? No! No! Bukan pacar, tetapi, apa kau mau menjadi tunanganku?'' tanya Leon dengan tatapan yang dalam sambil menggenggam kedua tangan Tiwi.
Wanita itu terdiam sejenak, melihat ke arah mata Leon, tetapi dia tidak melihat adanya kejahilan di sana. Kemudian, wanita itu pun menganggukkan kepalanya.
''Iya, aku rasa bertunangan dengan lampion tidak ada salahnya,'' jawab Tiwi sambil terkekeh kecil.
__ADS_1
''Dasar cewek berbulu,'' ujar Leon sambil memeluk tubuh Tiwi.
Keduanya tersenyum bahagia. Setelah beberapa saat, Leon melepaskan pelukan tersebut, lalu dia memasangkan cincin di jari manis milik Tiwi yang sekarang menjadi calon tunangannya.
''Cincin ini adalah pengikat antara aku dan kamu. Jadi, kamu jangan berani-berani untuk berpaling atau bermain dengan laki-laki lain! Jika itu terjadi, maka aku akan menyeretmu ke dalam hotel!'' ancam Leon sambil menarik pinggang Tiwi dan merapatkan tubuhnya.
Tiwi meneguk ludahnya dengan kasar, saat melihat tatapan tegas milik pria yang saat ini sudah bergelar menjadi kekasihnya. Dia tidak menyangka, jika perdebatan mereka selama ini malah menumbuhkan bumbu-bumbu cinta di dalam hati masing-masing.
''Aku nggak akan macam-macam. Kamu pun harus begitu! Jika kamu berani macam-macam, maka aku potong pisang ambonmu, paham!'' ancam balik Tiwi.
Leon yang mendengar ucapan kekasihnya semakin mengeratkan pelukan di pinggang Tiwi, hingga membuat tubuh wanita itu semakin merapat kepadanya.
Tatapan keduanya sama-sama terkunci satu sama lain, apalagi Tiwi yang tidak bisa lepas menatap lekat ke arah wajah Leon. Dia tidak menyangka, Tuhan bisa menciptakan pahatan yang begitu indah. Bahkan saat ini, tangannya sudah terulur mengusap rahang tegas milik kekasihnya tersebut.
''Apa kau ingin melihat bintang?'' tanya Leon.
''Di mana?'' tanya Tiwi balik.
Kemudian Leon menatap ke arah samping, tepatnya ke arah langit. Hingga Tiwi pun mengikuti kemana tatapan kekasihnya mengarah. Namun dia tidak melihat bintang sama sekali.
Ucaan Tiwi terhenti saat dia membalikkan wajahnya menghadap ke arah Leon kembali. Namun seketika matanya terbelalak saat tiba-tiba saja Leon mengecup singkat bibir Tiwi, tetapi hanya sepersekian detik saja.
.
.
''Makasih ya! Kamu udah membuat malam ini begitu indah buatku,'' ucap Tiwi saat sudah sampai di rumah.
''Sama-sama. Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu ya, ini sudah malam,'' jawab Leon.
Tiwi mengangguk, kemudian dia masuk ke dalam rumah. Sementara Leon masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kediaman kekasihnya.
Sesampainya di kamar, Tiwi menjerit bahagia sambil membanting tubuhnya ke atas ranjang. Lalu dia membalik badannya dan menatap langit-langit kamar sambil tersenyum dan menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Pipinya kembali merona malu, saat mengingat bagaimana Leon mengecup singkat bibirnya. Kemudian Tiwi menggelengkan kepalanya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
''Ya ampun, apa ini namanya jatuh cinta? Aduh, kok jantung gue jadi deg-degan gini ya? Padahal kejadiannya 'kan udah beberapa jam yang lalu? OMG! Nggak gue sangka, ternyata dia bisa seromantis itu? Oh lampion ku!'' teriak Tiwi sambil menggoyangkan kedua kakinya.
Tante Salma yang baru saja akan masuk ke dalam kamar, tiba-tiba mendengar jeritan putrinya. Lalu dia pun mengetuk pintu.
''Tiwi ... ada apa, Nak? Kamu kenapa, kok teriak-teriak?'' tanya tante Salma di luar kamar.
Seketika Tiwi langsung menutup mulutnya dengan tatapan membulat. Lalu dia menepuk jidatnya. ''Oh my God, Tiwi! Bodoh banget sih! Ngapain lu pake teriak segala?'' gerutu Tiwi pada diri sendiri.
''Nggak papa, mah. Itu tadi, ada cicak jatuh dari dinding!'' jawab Tiwi sambil berteriak.
Sementara itu di tempat lain, Leon baru saja sampai di apartemennya. Kemudian dia mengabarkan pada kedua sahabatnya di grup, jika dia dan juga Tiwi sudah jadian.
Leon : Gue udah jadian dong, sama buah kiwi😛
Jasper : Waah ... pecah telor juga lo Bro! Tinggal gue nih😎
Emil : Selamat Bro! Awas, jangan berantem mulu kek bebek🤣
Leon : Nggak lah, emang lo sama cewek ratang😛
Jasper : Diam kalian! Kalian itu 11 12 tau gak? Sama aja suka berantem😪
Emil, Leon : Daripada lo JOMBLO AKUT🤣🤣
Leon tersenyum saat melihat chat di grup. Apa yang dikatakan Jasper memang benar. Mungkin saja, dia akan sering berantem bersama dengan Tiwi, seperti halnya Emil dan Bintang.
Akan tetapi, bagi Leon Itu adalah sebuah bumbu dalam suatu hubungan. Jika tidak berantem, maka hubungan akan terasa hambar, tetapi tetap saja, walaupun mereka bertengkar, harus bisa menjaga perasaan satu sama lain.
''Kira-kira buah kiwi ku sedang apa ya? Oh iya, aku belum menggantinya,'' gumam Leon sambil melihat ponselnya.
Kemudian dia mulai mengganti nama Tiwi dengan buah kiwi ku. Bagi Leon, itu adalah panggilan kesayangan antara dia dan Tiwi. Walaupun terdengar sangat konyol, tapi Leon sangat menyukainya. Apalagi saat kiwi menyebutnya dengan lampu lampion.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
cieeee ada yg jadian nih🤠🤣🤣