Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Penyerangan


__ADS_3

Happy Reading....


"Sayang, kamu kenapa kok wajahnya tegang kayak gitu sih? Itu telepon dari Tuan Jasper 'kan? Dia bilang apaan?" tanya Bintang saat melihat wajah suaminya begitu tegang.


"Mah, sayang, sepertinya kita undur aja ke rumah sakitnya ya. Kalian saat ini tidak aman jika harus keluar rumah. Aku akan mengurus sesuatu dulu, baru nanti setelah aman kita pergi ke sana untuk menengok keadaan Tiwi," jelas Emil.


"Enggak! Aku tetap mau ke rumah sakit. Atau kamu jelasin dulu sama aku, ada apa?" desak Bintang.


Kemudian Emil pun mengatakan, jika tadi Jasper memberitahunya, bahwa anak buah Excel sedang mengintai kediaman Ferdinand. Itu kenapa mereka mengira Tiwi adalah Bintang, dan membuntuti wanita itu.


Bintang dan juga mama Ria yang mendengar itu, twntu saja sangat kaget. Kemudian mereka menatap ke arah Emil untuk memastikan, dan pria itu menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Jadi, sebaiknya kalian di rumah saja dulu! Tidak usah keluar ya! Saat ini situasinya sedang tidak baik. Aku dan Jasper akan mengurus semuanya dulu. Nanti setelah keadaannya sudah memungkinkan, kita akan ke rumah sakit," tutur Emil.


Bintang dan juga mama Ria mengerti tentang keadaan saat ini. Mereka juga tidak mau menambah Emil khawatir. Akhirnya keduanya pun hanya bisa menurut dan menunggu keadaan sampai aman dulu.


Emil pergi ke rumah sakit untuk menemui Jasper, namun saat dia keluar dari kediaman Ferdinand, tiba-tiba saja ada satu buah motor yang mengikuti dirinya. Pria itu pun tersenyum miring, karena dia yakin itu adalah orang suruhan dari Excel.


"Ternyata mereka masih berani terang-terangan menyerangku seperti ini?" gumam Emil. Kemudian dia membuka jasnya, lalu menggulung kemejanya setengah lengan dan dia mengambil pistol yang berada di bawah jok bagian depan.


Ternyata tidak hanya satu motor saja, di persimpangan jalan ada satu buah mobil yang sedang menghadang mereka, dan di sana ada empat orang.


'Ck! Mereka ini benar-benar tidak ada kapoknya. Rupanya ingin bermain-main denganku? Baiklah, belum tahu ya aku ini siapa? Akan aku habisi mereka!' batin Emil.

__ADS_1


Saat dia akan keluar, anak buahnya mencegah, memerintahkan Emil untuk diam di dalam mobil saja. Karena dia yang akan menghadapi mereka.


Emil pun akhirnya hanya diam di dalam mobil, menunggu bagaimana anak buahnya akan menghabisi mereka semua. Namun, ternyata anak buah dari Excel cukup kuat, sehingga dua diantara anak buahnya Emil sudah kehilangan nyawa.


Emil yang melihat itu pun akhirnya turun tangan, dia mengeluarkan tangannya dari samping jendela kemudian mulai menembak tepat sasaran mengenai jantung anak buah Excel. Tiga orang sudah dia jatuhkan, tinggal dua orang saja.


Namun peluru Emil sudah habis, akhirnya dia mengambil lagi pistol yang berada di jok sebelah kanan, dan langsung menembak dua orang pria yang terus saja melepaskan peluru ke arah mobilnya.


"Merepotkan!" geram Emil. Kemudian dia keluar dari mobil setelah semua anak buah Excel di lumpuhkan.


Emil kemudian menelpon anak buah Jasper untuk mengurus jasad mereka semua. Sedangkan anak buah yang masih bernafas di bawahnya ke rumah sakit, setelah itu dia bertemu dengan Jasper di kantor. Pria itu tidak jadi ke RS.


"Lo nggak papa 'kan? Ada yang terluka nggak?" tanya Jasper saat Emil masuk ke dalam ruangannya.


Mendengar itu, tentu saja Jasper merasa lega, karena sahabatnya baik-baik saja. Dia tidak menyangka, jika Excel sudah memulai perang lebih awal. Padahal mereka juga baru menyiapkannya untuk penyerangan ke markasnya Excel.


"Kayaknya kita perlu deh menyerang lebih awal. Sepertinya Excel memang sudah benar-benar ingin berperang kematian dengan kita," ujar Jasper sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan menyandarkan punggungnya di sofa yang ada di ruangan Emil.


"Kau benar! Sepertinya kita memang harus segera menyerang mereka. Kabarkan kepada markas satu, kita akan segera menyerang ke markasnya Excel! Mereka juga sudah menyiapkan strategi bukan?" tanya Emil.


"Iya, aku juga sudah mendapatkan kabar, jika mereka sudah menyiapkan strategi. Kira-kira kapan kita akan menyerang markas mereka?" tanya Jasper kembali.


"Aku rasa, secepatnya. Sebaiknya nanti sore kita ke markas satu dulu, untuk membicarakan semuanya. Oh ya, untuk Leon jangan dikabari dulu! Biar dia menemani Tiwi di rumah sakit. Perasaannya saat ini sedang kacau, yang ku khawatirkan adalah, jiwa iblisnya keluar. Kau tahu sendiri bukan jika Leon itu lebih ganas daripada kita?" jelas Emil sambil memijit keningnya.

__ADS_1


"Aku rasa, seperti apapun kita akan menghalanginya, tetap tidak bisa. Kau ini mengenal Leon bukan? Namanya saja Leon, seekor singa. Sudah pasti, singa tidak akan pernah melepaskan mangsanya. Dan aku rasa korban pertamanya adalah Excel? Tapi walau begitu, kita harus tetap membantunya untuk mengalahkan Excel," timpal Jasper.


Keduanya pun bekerja sama untuk membantu Leon dalam menghadapi Excel. Karena Emil dan juga Jasper tau, sasaran utama Leon adalah Excel. Sebab walau anak buah pria itu yang mencelakai Tiwi, namun bosnya adalah prian itu sendiri.


Sedangkan di tempat lain, Leon sedang menunggu Tiwi di ruang ICU. Dia melihat luka-luka yang ada di tubuh dan juga wajah calon istrinya. Apalagi saat ini kepala Tiwi sedang diperban, dan wanita itu belum siuman sama sekali, keadaannya masih kritis.


Leon berjanji, dia akan membalaskan atas rasa sakit yang Tiwi derita saat ini. Tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah membuat Tiwi seperti ini.


Setelah sekian lama, dia melihat jari kekasihnya bergerak. Dan Leon yang melihat itu pun tentu saja sangat bahagia, kemudian dia memecat tombol untuk memanggil Dokter, dan tak lama Dokter dan Suster pun masuk ke dalam ruangan ICU.


"Dokter, tadi jarinya bergerak Dok!" seru Leon dengan wajah yang bahagia.


Setelah Dokter memeriksa keadaan Tiwi, tiba-tiba saja wanita itu membuka matanya. Namun, badannya kejang-kejang. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat sambil berteriak.


"Tolong jangan habisi aku! Tolong! Aku tidak mengenal kalian! Aku bukan Bintang! Tolong jangan sakiti aku!" teriak Tiwi sambil memejamkan matanya.


Leon yang melihat itu pun segera mendekat dan menggenggam tangan kekasihnya. "Sayang, ini aku. Kamu aman sayang! Mereka tidak mengganggumu! Aku di sini," ucap Leon. Namun tetap saja, Tiwi berteriak tidak karuan.


Akhirnya terpaksa Dokter menyuntikkan obat bius kembali kepada Tiwi, agar wanita itu tenang. Apalagi saat ini keadaan Tiwi juga belum stabil.


Leon mengepalkan tangannya. Dia benar-benar tidak terima dengan keadaan Tiwi saa ini.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2