
Happy reading......
Leon mengepalkan tangannya saat melihat kondisi Tiwi. Dia yakin, jika calon istrinya itu pasti trauma dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Dan itu membuat Leon benar-benar sangat geram. Dia tidak terima jika Tiwi mendapat gangguan mental.
Kemudian dia menelpon Jasper, mengabarkan untuk melakukan penyerangan lebih cepat, dan Jasper juga mengatakan jika mereka memang akan ke markas satu untuk membicarakan strategi.
Mendengar itu, akhirnya Leon meminta anak buah Jasper untuk berjaga di ruang depan. Dia takut jika nanti anak buah Excel menyamar dan menyakiti Tiwi kembali.
Sementara di tempat lain, Excel sedang duduk di rumah yang megah. Kemudian satu anak buahnya datang, lalu membungkukkan badannya ke arah pria tersebut.
"Maaf Tuan, sepertinya wanita yang kemarin kami celakai bukanlah istri dari Emil. Sepertinya kami salah sasaran." Pria berambut gondrong dan berbadan kekar berkata sambil membungkukkan badannya ke arah Excel.
BRAK!
"Apa! Salah sasaran? Lalu siapa wanita itu? Kenapa kalian bisa salah sasaran? Kalian bilang jika wanita itu adalah istrinya Emil? Lalu dari mana kau tahu jika dia bukanlah istri dari si brengsek?!" geram Excel.
Kemudian anak buahnya menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat, dan Excel langsung melihatnya. Dia menatap ke arah foto tersebut.
"Siapa wanita yang berada di foto ini?" tanya Excel.
"Setelah kami selidiki, ternyata dialah istri dari Emilio Ferdinand. Dan wanita kemarin sepertinya bukan. dmDan kabar bagusnya lagi, istrinya sedang hamil," ucapan anak buahnya Excel.
Mendengar itu tentu saja Excel sangat senang. Dia tersenyum menyeringai sambil menatap foto Bintang. "Wanita yang sangat cantik. Aku yakin, jika bermain dengannya sedikit saja, pasti Emil akan merasa tersiksa. Kita lihat, bagaimana dia akan melindungi istrinya?" Excel berkata dengan senyum seringai di wajahnya.
.
.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Jasper sedang berada di kantor dan dia akan bersiap-siap untuk menuju markas satu. Namun saat dia akan keluar dari ruangannya, tiba-tiba seorang wanita masuk dan ternyata itu adalah Azkia.
'Ck! Kenapa wanita murahan ini datang sih, di saat yang tidak tepat? Bikin moodku hancur saja!' batin Jasper dengan kesal saat melihat kedatangan Azkia.
Wanita itu langsung berjalan ke arah Jasper, kemudian dia berdiri di samping meja kekasihnya. "Sayang, kamu kok akhir-akhir ini jarang menemui aku sih?" tanya Azkia sambil duduk di pangkuan Jasper.
Melihat itu Jasper benar-benar merasa jijik. Bukannya dia akan terpesona, tapi dirinya malah seperti dilempar kotoran.
'Dasar wanita menjijikan!'
Namun tetap saja, Jasper tidak bisa untuk memperlihatkan kebenciannya kepada Azkia. Dia kemudian memegang tangan calon istrinya.
"Maafkan aku, sayang. Aku akhir-akhir ini banyak kesibukan. Pernikahan kita juga sepertinya ditunda dulu untuk beberapa hari, sampai urusanku selesai," ucap Jasper.
"Apa! Ditunda? Emangnya urusan apa sih, sampai kamu harus menunda pernikahan kita?" tanya Azkia yang pura-pura merajuk.
"Urusan yang sangat penting, soal kerjaan. Sudah ya, aku mau keluar. Soalnya sudah ditunggu sama klien." Jasper beranjak dari duduknya membuat Azkia pun seketika berdiri.
"Aku benar-benar harus pergi. Lagian kamu ke sini tidak ngabarin aku dulu. Ya sudah ya, aku benar-benar buru-buru." Jasper malas meladeni Azkia. Dia pun keluar dari ruangannya tanpa memperdulikan wanita itu.
Sementara Azkia menghentakkan kakinya dengan kesal. Padahal dia ke sana ingin sekali membujuk dan juga merayu Jasper untuk meminta uang, sebab dia ingin belanja, tapi usahanya harus gagal.
"Sial! Gagal deh aku ingin belanja. Lagian urusan apa sih yang harus dia kerjakan, sampai-sampai aku ke sini malah dicuekin?" gerutu Azkia.
.
.
__ADS_1
Sementara itu, saat ini di markas satu ada Jasper, Leon dan juga Emil, mereka sedang menyusun strategi bersama dengan beberapa anggota mafia di sana.
"auntuk mengalahkan Excel itu, tidak akan mudah. Harus ada salah satu dari kalian yang melawannya, sedangkan kami akan mengalihkan anak buahnya. Sebab dari yang aku ketahui, Excel membawa 30 anak buah ke Indonesia, dan itu yang paling terkuat. Sedangkan yang tidak kuat, sekitar ada 20 orang," jelas Gio.
"Aku yang akan turun tangan menghabisi Excel. Sementara kalian lawan saja anak buahnya!" ucap Leon.
"Yon, apa kau---"
"Aku bisa menghabisinya! Kalian lupa beberapa tahun yang lalu, bahkan Excel pernah ku kalahkan. Dan dia mempunyai luka di bagian pipi kirinya, karena aku pernah melukainya pakai samurai," jelas Leon.
"Baiklah, jika itu maumu. Tapi jangan kau mutilasi juga badannya!" timpal Emil.
Mendengar itu Leon malah tersenyum menyeringai, dia tertawa jahat. Bahkan tawa yang sudah lama tidak pernah didengar oleh siapapun. Dia dikenal sebagai singa pembantai dalam Clan mafia, dan Leon cukup disegani dan ditakuti oleh beberapa mafia.
"abukan hanya akan kumutilasi.nTapi kepalanya akan ku masukkan ke dalam toples, dan kupajang di markas. Berani dia menyentuh orang yang kucintai, bahkan sampai membuat Tiwi trauma. Maka jangan pernah berharap untuk menghirup udara segar dengan bebas!" geram Leon sambil mengepalkan tangannya.
Emil, Gio dan juga Jasper saling melirik satu sama lain, saat melihat kemarahan di wajah pria itu. Wajah menyeramkan yang tidak pernah dilihat sejak beberapa tahun, sekarang iblis itu benar-benar sudah bangun dalam diri Leon.
Setelah dari markas satu, mereka pun pulang. Leon kembali ke rumah sakit, sedangkan Emil kembali ke rumah, karena dia begitu mengkhawatirkan keadaan Bintang.
Emil takut, jika nanti Excel mengetahui tentang rupa wajah istrinya. Dia benar-benar harus melindungi Bintang. Apalagi saat ini wanita itu tengah mengandung calon bayi mereka.
"Lebih cepat lagi!" titah Emil pada anak buahnya.
"Baik Tuan."
Sementara itu, di kediaman Ferdinand, Bintang sedang menghirup aroma bunga yang ada di taman belakang. Dan di sana juga ada beberapa pengawal yang sedang mengawasi dari jauh, sesuai perintah Jasper.
__ADS_1
Namun tidak mereka sadari, pengintai dari jauh yaitu anak buahnya Excel, melihat keberadaan Bintang. Lalu mereka mengeluarkan senapan untuk membidik pada korbannya.
Bersambung.......