
Happy reading....
Saat Emil tengah duduk di kantor sambil memeriksa berkas yang diberikan Leon kepadanya, tiba-tiba saja pintu ruangannya dibuka, dan ternyata yang masuk adalah Jasper.
Pria itu berjalan ke arah Emil, lalu melemparkan jasnya ke sofa. Setelahnya dia menghempaskan tubuhnya dan membentangkan kedua tangan sambil menatap lurus ke arah depan, di mana kedua sahabatnya saat ini tengah menatap dirinya.
''Apa yang ingin lo sampaikan es kobokan? Kenapa lo ngajak gue bertemu?'' tanya Jasper tanpa basa-basi.
Mendengar itu, Emil beranjak dari duduknya, kemudian dia duduk di samping Leon.
''Sepertinya memang nama gue sudah beralih menjadi es kobokan.nSejak kapan kobokan piring ada esnya?'' jawab Emil sambil menggelengkan kepalanya dengan heran.
''Masih mending lo lah, es kobokan, noh si Leon. Dia namanya banyak banget. Ada lampion sama kembarannya singa, tapi cocok sih, nggak terlalu parah banget,'' ujar Jasper sambil menatap ke arah Leon dengan satu alis terangkat.
''Iyalah, mendingan lampion daripada es kobokan?'' ledek Leon sambil terkekeh kecil. Sementara Emil hanya merengut dengan kesal.
Sebenarnya Emil mengajak Jasper dan juga Leon untuk berkumpul di kantornya, karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan dengan kedua sahabatnya tersebut. Dan ini menyangkut dengan kedatangan tante Emma dan juga Azkia tadi pagi.
''Ada apa sih? Kok tumben lo nyuruh kita untuk kumpul? Atau ada janda bohay yang lagi cari job?'' celetuk Jasper.
Emil yang mendengar itu segera melempar bantal sofa yang ada di sampingnya, dan pas mengenai wajah Jasper.
''Janda bohay mulu di pikiran lo! Kayak nggak ada yang lain aja?'' heran Emil.
''Iya, soalnya kalau goyangan janda bohay itu lebih Hot men. Lebih membuat ardenalin itu terpacu,'' jawab Jasper sambil menaik turunkan alisnya.
Leon dan juga Emil yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Mereka memang tahu, jika Jasper adalah orang yang hiper-sexs, dia gila dalam hal berhubungan.
Namun walau begitu, Jasper tidak sembarangan memilih teman tidurnya. Dia pasti mengecek tentang kesehatan wanita itu dulu, karena Jasper juga tidak ingin jika nanti tertular penyakit.
__ADS_1
''Heran gue sama pisang ambon lo, kagak ada melehoy-melehoy nya? Jagan-jangan, lo pakai ajian Mbah Google ya?'' celetuk Leon.
Mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak. Memang pembicaraan seperti itu sudah biasa di antara mereka bertiga, apalagi semenjak kenal dengan Bintang. Jasper, Emil dan juga Leon ketularan somplak, ditambah dengan adanya Tiwi.
''Sudah, sudah!.Malah pada bercanda. Jadi kenapa lo ngumpulin kita berdua di sini?'' tanya Jasper kemudian.
Emil mulai serius, dia pun mengutarakan tentang rencananya kepada Leon dan juga Jasper. Saat Emil mendengar jika tante Emma membutuhkan bantuan dari Bintang untuk kesembuhan suaminya yang berada di rumah sakit.
Tiba-tiba saja dia teringat dengan rencana Jasper yang ingin membalaskan dendamnya kepada Azkia. Lalu dia pun menjelaskan apa yang harus Jasper lakukan.
''Tunggu! Maksud lo, gue nolongin mereka gitu? Terus sebagai imbalannya, gue dapat apa nikah sama si wanita jalaang itu?'' jelas Jasper.
''Iya,'' jawab Emil dengan singkat sambil menganggukan kepalanya dengan mantap.
Sejenak Jasper terdiam, sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Kemudian dia pun menganggukkan kepala, tapi sebelum itu, Jasper bertanya terlebih dahulu kepada Emil, tentang keuntungan apa yang akan dia dapat jika menikahi Azkia.
''Keuntungannya sudah jelas bukan? Lo bisa mempermainkan wanita itu, dan lo bisa bermain sepuasnya, tanpa lo harus membayar setiap menit dan setiap detik,'' jawab Emily sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Setelah perbincangan mereka bertiga, Jasper menelpon anak buahnya, menanyakan tentang keberadaan Azkia saat ini berada di mana. Dia akan memulai rencananya untuk menjerat keluarga itu.
Dan ternyata Askia sedang berada di salah satu Cafe seorang diri. Jasper yang mendengar itu tersenyum menyeringai, kemudian dia melajukan mobilnya untuk menuju cafe di mana saat ini Azkia tengah duduk.
''Rasanya aku sudah tidak sabar, ingin segera bermain-main. Mungkin akan seru,'' gumam Jasper sambil tersenyum miring dan menyetir mobilnya.
Sesampainya di cafe, Jasper pura-pura tidak melihat Azkia. Kemudian dia duduk tak jauh dari wanita itu. Dia yakin, jika nanti Azkia pasti akan berjalan ke arahnya dan menghampirinya.
Benar saja dugaan Jasper, tak lama Azkia datang dan menghampiri dirinya. Kemudian wanita itu duduk di depannya lalu mengulurkan tangan.
''Tuan Jasper, Anda di sini juga?'' tanya Azkia dengan wajah yang senang.
__ADS_1
''Eeh, Azkia! Kamu di sini sama siapa?'' tanya Jasper balik. dengan raut wajah yang di buat kaget.
''Aku sendiri saja Tuan, biasa lagi merefreshkan pikiran aja,'' jawab Azkia dengan nada yang dibuat semanja mungkin.
''Ya sudah, kalau gitu kamu temani aku di sini ya! Kebetulan aku juga sendirian,'' ujar Jasper.
Azkia yang mendengar itu tentu saja sangat senang. Dia pikir, pucuk dicinta ulam pun tiba. Di mana sebenarnya dia akan meminta bantuan kepada Jasper, tetapi ternyata pria itu sudah ada di hadapannya. Jadi Azkia tidak perlu repot-repot ke kantor pria tampan itu.
''Gimana kabar kamu dan juga keluarga kamu?'' tanya Jasper yang memulai rencananya.
Dia yakin, pasti Azkia akan bercerita tentang kondisi ayahnya saat ini,ndan di sanalah Jasper akan berpura-pura menjadi pahlawan.
Azkia yang mendengar itu memasang wajah sedihnya, kemudian dia menceritakan tentang kondisi ayahnya saat ini yang tengah terbaring lemah di Rumah Sakit, dan sedang membutuhkan pertolongan biaya. Bahkan Azkia pura-pura menangis di hadapan Jasper.
*D*asar kadal betina! Kau salah jika memilih lawan Nona. Kadal kok ngelawan buaya? Ya mana bisa! batin Jasper.
''Jadi ayah kamu sekarang berada di Rumah Sakit, dan sedang membutuhkan pertolongan?'' tanya Jasper.
''Iya Tuan, aku tidak tahu lagi harus mencari biaya ke mana. Sebab hanya ayah dan bundalah yang aku punya saat ini,'' jawab Azkia dengan wajah yang sudah dibuat sesedih mungkin.
''Baiklah, kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang. Aku ingin menengok keadaan Ayah kamu,'' ujar Jasper tanpa berlama-lama sambil beranjak dari duduknya.
''Tuan yakin, ingin menengok keadaan Ayah saya?'' tanya Azkia memastikan.
''Tentu saja! Kenapa. tidak boleh ya?''
''Tentu saja boleh, Tuan.'' jawab Azkia dengan senang.
Kemudian mereka pun berjalan keluar dari kafe setelah makan siang, lalu melajukan mobil menuju rumah sakit di mana saat ini ayah Azkia sedang dirawat.
__ADS_1
Wanita itu sangat senang, karena dia pikir Jasper melakukan itu sebab mempunyai perasaan kepada dirinya. Azkia tidak tahu saja, jika itu adalah sebagian rencana yang telah dibuat oleh Jasper dan juga Emil, di mana sebenarnya keluarga wanita itu sedang masuk dalam perangkapnya.
BERSAMBUNG.....