
Happy reading.......
Sesampainya di rumah sakit, Leon langsung menggendong tubuh Tiwi yang sudah tidak sadarkan diri ke dalam UGD. Dan dia meminta Dokter dan Suster untuk segera memeriksa keadaan calon istrinya.
Pria itu mondar-mandir di depan ruang UGD, bahkan bajunya sudah basah oleh darah, tapi dia tidak peduli. Emil dan Jasper pun yang melihat bagaimana kegelisahan Leon, menjadi iba.
Mereka tidak pernah melihat temannya se-khawatir itu kepada seseorang. Selama ini Leon terkenal orang yang serius jika dihadapkan dengan orang lain. Namun, sekarang sisi lain dari Leon terlihat begitu jelas
"Tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa dengan Tiwi. Kita berdoa saja, kau juga harus mengobati luka yang ada di tanganmu itu, nanti infeksi," ucap Emil sambil menepuk bahu Leon.
"Bagaimana aku bisa tenang, Emil? Saat ini Tiwi sedang berada di dalam dengan luka yang begitu parah, bahkan luka di tanganku ini tidak seberapa, dengan apa yang dia rasakan!" jawab Leon sambil memukul tembok beberapa kali.
Jasper yang melihat itu segera menghentikan aksi Leon. "Apa kau sudah gila? Kau boleh khawatir kepada keadaan Tiwi, tapi jangan menyakiti dirimu sendiri!" gertak Jasper.
Mendengar itu Leon langsung mencengkram kerah baju Jasper, dia menatap tajam ke arah sahabatnya tersebut.
"Aku mau, kau kerahkan anak buahmu untuk membalas di Excel. Tidak peduli, dia mau mati atau hidup! Aku akan menembak kepalanya! Dia sudah berencana menghabisi calon istriku!" geram Leon dengan sorot mata yang begitu tajam, bak elang yang siap menyantap mangsanya.
Jasper dan juga Emil saling menatap satu sama lain. Mereka baru melihat lagi bagaimana sosok iblis di dalam diri Leon. Selama ini pria itu tidak pernah sekalipun menunjukkan kemarahannya setelah sekian lama, tetapi kali ini keduanya merasa jika Leon pasti akan mengamuk.
"Kau dengar tidak, apa yang ku katakan, hah!" bentak Leon.
"Tenanglah sobat! Kau tidak lihat, ini rumah sakit? Kalau kau seperti ini terus, bisa diusir. Tenang saja, kami ada di sini untukmu. Kita pastikan dulu keadaan Tiwi, soal si Excel, aku akan mengurusnya bersama dengan Emil! Tenang saja, kami ada untukmu," jelas Jasper.
Leon yang mendengar itu pun akhirnya terduduk di kursi sambil menjambak rambutnya. Dia benar-benar frustasi dengan keadaan Tiwi sekarang, bahkan rasa takut sudah menyelimuti hati Leon
Bagaimana tidak? Mereka sebentar lagi akan menikah, bahkan Leon nanti malam baru akan ke rumah keluarga Tiwi untuk melamar wanita itu secara resmi. Bahkan orang tuanya pun sudah datang, tapi Tiwi malah kecelakaan.
Tiba-tiba ponsel Leon berdering, dan ternyata itu panggilan dari sang mama. Pria itu ragu untuk mengangkatnya. Namun, lagi-lagi teleponnya bunyi, hingga Emil pun menyarankan Leon untuk mengangkatnya.
"Tapi, apa aku harus mengatakan tentang keadaan Tiwi?" tanya Leon kepada Emil dan Jasper.
"Katakanlah! Orang tuamu patut untuk mengetahuinya. Lagi pula, nanti malam 'kan kalian akan lamaran secara resmi. Nanti orang tuamu akan bingung, jika tidak tahu kebenarannya," jelas Jasper.
Leon yang mendengar itu pun segera mengangkat telepon tersebut, kemudian dia mengabarkan tentang keadaannya Tiwi dengan suara yang bergetar, bahkan terdengar begitu serak karena pria itu terus saja menangis.
Leon tidak perduli, mau dia dikatakan cengeng atau tidak. Karena memang saat ini perasaannya benar-benar sangat ketakutan, kehilangan kekasihnya yang amat sangat dia cintai.
Emil mengepalkan kedua tangannya, dia tahu jika sasaran mereka adalah Bintang. Namun ternyata, anak buah dari Excel mengira jika Tiwi adalah istrinya. Kemudian dia menarik Jasper untuk duduk di sebelahnya.
"Kerahkan semua anak buah terbaikmu! Kita akan serang markas mereka, tapi bicarakan ini dengan markas satu! Kita harus membuat strategi, karena Excel lumayan kuat, dan kita tidak bisa untuk meremehkannya," jelas Emil.
"Kau benar! Semakin kita menghabisinya secara cepat, maka semakin baik. Lagian tuh orang nggak pernah ada kapoknya ya. Sudah kalah dalam dunia bisnis, kenapa pula harus mengganggu kehidupan orang? Rasanya aku ingin menjadi orang biasa saja, daripada orang kaya. Banyak musuhnya, pusing kepalaku!" gerutu Jasper sambil menghela napasnya.
"Biarkan aku yang menghabisi Excel dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan membiarkan, seseorang yang telah mencelakai calon istriku menghirup udara segar dengan nyaman!" geram Leon dengan rahang mengeras dan sorot mata yang tajam.
Tangannya terkepal dengan nafas memburu, seperti menyimpan dendam kesumat kepada Excel. Dia tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah menyakiti Tiwi, apalagi sampai mencelakai wanita itu.
__ADS_1
"Leon, ingat! Jangan gegabah!" Emil mencoba memperingatkan Leon.
Dia tahu, jika Leon sudah turun tangan, jangankan Excel, iblis aja takut kepada pria itu. Karena dibalik sikap dingin Leon, ada iblis yang bersemayam dalam dirinya. Bahkan beberapa tahun yang lalu, dia pernah menghabisi klan mafia ketujuh, sekaligus 20 orang dengan satu buah pistol.
Bahkan jika jiwa psikopat dari Leon sudah keluar, dia bahkan tidak akan segan-segan memutilasi lawannya. Dan jiwa itu sudah hilang dalam diri Leon, bergantikan dengan aura yang dingin dan juga humoris.
Tak lama Dokter pun keluar, dan berbarengan dengan itu kedua orang tua Leon juga datang.
"Bagaimana keadaan calon istri saya, Dok? Dia tidak parah 'kan? Baik-baik saja 'kan, Dok?" tanya Leon dengan nada yang sudah tidak sabar.
Emil yang mendengar itu menepuk pundak Leon, mencoba untuk memberi pengertian kepada sahabatnya untuk bersabar.
"Bagaimana Dok?" tanya Leon kembali saat Dokter hanya diam saja.
"Begini Tuan, benturan yang ada di kepalanya cukup keras, tetapi untung saja tidak apa-apa. Hanya saja, luka-luka yang ada di tubuhnya serta kakinya lumayan parah. Tulang rusuknya juga ada satu yang patah, ditambah kakinya seperti tertimpa dahan pohon, dan kami harus melakukan operasi untuk kakinya, sebab ada bagian tulang yang retak," jelas Dokter tersebut.
"Apa Dok!" kaget Leon. Tubuhnya seperti lemas tidak bertenaga. Namun Emil segera memegang bahu Leon, agar pria itu tabah mendengar penjelasan dari Dokter.
"Tolong tanda tangani suratnya! Agar kami segera melakukan operasi. Dan kemungkinan, setelah ini pasien tidak akan bisa berjalan untuk beberapa waktu dulu, sampai kakinya benar-benar pulih kembali. Dan pasien juga harus menggunakan kursi roda terlebih dahulu," jelas Dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk calon istri saya, Dok," jawab Leon.
Setelah surat ditandatangani, Dokter dan Suster pun mulai melakukan operasi. Sementara kedua orang tua Leon duduk mendampingi Putra mereka, yang saat ini sedang terpuruk karena keadaan Tiwi.
"Kamu yang sabar, Papa yakin kok, kalau calon istri kamu itu pasti akan selamat. Tidak masalah bukan, kita tunda pernikahannya sampai dia sembuh," ucap papa Baskoro kepada Leon.
"Iya Leon, pernikahan itu bisa dilaksanakan kapan saja. Saat ini pasti calon istrimu sedang mengalami trauma. Jadi kamu harus berada di sampingnya," jelas sang mama yang bernama Dewi.
.
.
"Sayang, kamu kenapa sih, dari tadi mondar-mandir terus? Kasihan itu bayi kamu di dalam perut," ucap mama Ria saat melihat menantunya yang tidak bisa diam sama sekali.
"Aku tidak tahu, Mah. Kenapa tiba-tiba terpikirkan sama Tiwi ya? Padahal si Jubaedah baru aja dari sini. Perasaanku tiba-tiba jadi nggak enak ya, Mah. Aku telepon dia juga tidak diangkat-angkat? Entah kenapa, aku begitu merindukannya," jawab Bintang.
Mama Ria tersenyum, kemudian dia mengusap lengan Bintang. "Tidak usah khawatir. Tiwi 'kan baru saja dari sini. Mungkin sekarang dia sudah sampai di bakery, dan sedang memasak pesanan, jadi tidak usah khawatir. Atau kamu telepon Leon aja, mungkin dia tahu keberadaan Tiwi? Atau mereka lagi bersama?" tutur mama Ria.
Bintang mengangguk, kemudian dia langsung menelpon Leon. Akan tetapi, sampai panggilan ke lima tidak diangkat, dan itu membuat Bintang benar-benar sangat khawatir.
"Tidak diangkat Mah. Kenapa mereka kompak sekali sih? Mentang-mentang pasangan somplak!" gerutu Bintang.
Mama Ria yang mendengar itu juga merasa heran, tidak biasa-biasanya Leon tidak mengangkat telepon, kemudian dia pun menghubungi Emil, siapa tahu memang Leon sedang bersama dengan putranya.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah sakit, Leon, Jasper dan juga Emil tengah kebingungan. Karena Bintang dan juga mama Ria menelpon mereka. Awalnya Leon juga bingung, kenapa Bintang terus menelpon dirinya.
"Kenapa istriku malah menelpon dirimu? Jangan-jangan kau ada---"
__ADS_1
"Ada apa, Paijo? Dasar kau es kobokan piring. Jangan berpikir yang macam-macam! Di hatiku cuma ada buah kiwi, kalau untuk Bintangmu ambil saja sono, sekalian sama planet Jupiter nya!" gerutu Leon memotong ucapan Emil.
"Sebaiknya lo telepon deh Istri lo, atau angkat tuh telepon dari Mama lo! Takutnya ada yang penting mereka nelpon. Atau jangan-jangan, terjadi sesuatu di kediaman Ferdinand?!" seru Jasper yang seketika langsung membulatkan matanya.
Emil yang mendengar itu pun menjadi panik, kemudian dia langsung mengangkat telepon dari sang mama.
"Halo mah, ada apa? Apa Bintang baik-baik saja? Kenapa dia menelpon ke si kembarannya singa? Di rumah tidak ada apa-apa 'kan, Mah?" tanya Emil dengan suara yang panik.
Jasper dan juga Leon menepuk jidatnya serempak, saat melihat reaksi pria tampan itu. Mereka rasa, Emil terlalu berlebihan. Seharusnya bertanya dulu, bagaimana keadaan di rumah, jangan langsung nyerobot kayak bajai yang sedang terburu-buru.
Mama Ria : Astaga Emil! Kalau nanya satu-satu sih. Yang ada Mama tanya sama kamu, kenapa telepon tidak diangkat? Saat ini Leon sedang berada sama kamu 'kan?
"Iya, Leon memang sedang sama aku, Mah. Memangnya ada apa?" tanya Emil.
Mama Ria : Ini istri kamu, tiba-tiba saja kepikiran sama Tiwi. Padahal tadi pagi wanita itu baru dari sini. Bintang ingin menanyakan, apakah Tiwi sedang bersama dengan Leon? Soalnya dari tadi dia kelihatan gelisah sekali?
Mendengar itu, Emil seketika menatap ke arah Leon dan Jasper bergantian. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada mamanya. Apakah memang dia harus jujur, jika saat ini Tiwi sedang berada di rumah sakit.
Mama Ria : Emil, kenapa kamu diam saja? Jawab pertanyaan mama!
"Itu mah, anu ... Tiwi ... dia ..." Emil terlihat ragu untuk mengungkapkan bagaimana keadaan Tiwi sekarang. Dia takut jika nanti Bintang tahu dan akan berdampak kepada kandungannya.
BERSAMBUNG......
PENGUMUMANš¢Author mau Kasih kalian Novel yang akan di Publish Bulan Depan. Dan Novel ini BerbedašBerbalut Thriller dan kisah CintašDari Deskripsi, kalian akan tahu Novel ini pasti bikin deg² anššSo, bagaimana Respon kalian?
Sinopsis 'The Hotties Morphine' :
Tarian jemari lembut
Sentuhan gemulai indah
Erangan cantik menyeruak
Ketika tatapan cinta
Hadirkan lukisan sempurna
Di kanvas bernafas
Sembilu merah
Helaan napas disertai detakan jantung perlahan menepi di persimpangan hidup dan mati. Tetesan merah menyelimuti sosok raga terbuka, mempertontonkan organ tubuh. Segar dari bungkusan mulus nan elok, tergeletak di bangsal berbercak memesona.
Sedang sepasang mata indah, hadirkan raut ketakutan bersama isak tangis menggoda. Di atas bangsal dengan kedua tangan dan kakinya terikat erat. "Ketika pisau bedah ini menyusuri gairah raga seksi para wanita muda. Bagiku adalah suatu kenikmatan sendiri dan kebanggaan atas kepercayaan tuan Jian pada keterampilan seni yang kumiliki.
Lelaki tua itu sangat mengerti akan keindahan makhluk terindah Tuhan. Bersabarlah wahai cantik, dirimu menunggu giliran," ucap lelaki berseragam putih itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Bayangan raut wajah sang adik yang menjadi korban penculikan. Seakan menari - nari di pelupuk mata sepanjang waktu. Julianti menjadi salah satu korban penculikan dari organisasi mafia internasional. Dia bersama yang lain menjadi korban human traficking.
Mampukah Yusuf menyelamatkan adik kesayangannya? Sementara dirinya sendiri terkurung di ruang isolasi Nusakambangan.