
Happy reading.......
Jasper dan juga Azkia sampai di rumah sakit, kemudian mereka langsung naik ke lantai dua, di mana saat ini orang tuanya Azkia sedang dirawat..Dan kebetulan di sana juga sedang ada tante Emma yang menjaga suaminya.
''Bunda, Ayah,'' panggil Azkia saat masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tante Ema dan juga om Prima sangat heran saat melihat Jasper. Kemudian wanita tua itu mendekat ke arah putrinya.
''Sayang, dia siapa?'' tanya Tante Ema.
''Bunda, Ayah, perkenalkan ini Tuan Jasper yang pernah aku ceritakan kepada kalian,'' ucap Azkia sambil menundukkan kepalanya dengan wajah merona malu.
Jasper rasanya ingin muntah sekali berhadapan dengan keluarga parasit tersebut. Namun demi rencananya, dia menahan itu semua.
''Oh iya, kata Azkia om Prima sedang mengalami kesulitan dalam biaya pengobatan? Apa itu benar, Tante?'' tanya Jasper pada intinya kepada tante Ema.
''Iya Nak Jasper, kami kesulitan dalam biaya untuk pengobatan Ayahnya Azkia,'' jawab Tante Ema dengan wajah yang sudah memelas.
*S*aatnya menjalankan rencana. batin Jasper.
''Oh iya Tante, Om, Azkia, kalau memang kalian tidak keberatan, aku bisa membantu biaya pengobatan Om Prima sampai sembuh,'' ujar Jasper.
Tante Emma tentu saja sangat senang saat mendengar itu. Begitu pula dengan Azkia dan juga om Prima, tetapi pria itu hanya bisa terbaring dan tidak bisa berbicara, karena bibirnya miring ke samping.
''Benarkah? Tapi Nak Jasper, kami tidak ingin merepotkan.'' Tante Emma mencoba menolak, tetapi sebenarnya dalam hati dia sangat senang, hanya sedikit jual mahal.
''Saya tidak merasa direpotkan, tapi tentu saja itu ada syaratnya,'' jelas Jasper.
''Apa itu?'' tanya tante Emma dan juga Azkia serempak.
''Saya sedang mencari seorang istri, dan jika tidak keberatan, apakah Azkia mau menikah dengan saya? Jika dia mau, maka pengobatan Om Prima akan saya tanggung sampai sembuh,'' jelas Jasper.
Azkia dan tante Emma melirik satu sama lain. Mereka pikir persyaratan yang akan diberikan Jasper itu sangat sulit, dan mereka tidak bisa mengabulkannya, tetapi jika harus menikah dengan pria tampan dan kaya itu, tentu saja Azkia tidak akan menolak.
__ADS_1
''Tuan, apakah Anda serius dengan persyaratan tersebut?'' tanya Tante Ema memastikan.
Jasper langsung menganggukkan kepalanya. ''Tentu saja Tantex saya serius. Apakah Azkia mau menikah dengan saya?'' tanya Jasper sekali lagi.
Gadis itu langsung menganggukan kepalanya dengan cepat. Tentu saja dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas seperti itu. Azkia pikir, setelah menikah dengan Jasper hidupnya akan bahagia.
Dia akan hidup dengan bergelimang harta, dan tentu saja Azkia pasti akan menikmati kemewahan kembali. Dia yakin, jika Jasper sebenarnya menyimpan perasaan kepadanya. Hanya saja, pria itu malu untuk mengungkapkan.
''Baiklah, jika memang Azkia dan juga Tante beserta Om setuju, pernikahan duq minggu lagi akan dilaksanakan, bagaimana?'' ujar Jasper.
''Apa! Dua minggu lagi? Apa itu tidak terlalu cepat Nak Jasper?'' tanya tante Emma dengan wajah yang kaget begitupun dengan Azkia.
''Saya bilang 'kan memang sedang mencari seorang istri untuk menemani hari-hari saya, tapi jika Azkia menolak, ya sudah. Saya akan mencari wanita lain saja.'' Jasper mencoba menarik ulur sebuah benang permainan.
''Tentu saja Tuan, saya tidak keberatan,'' jawab Azkia dengan cepat.
.
.
Entah kenapa, dari semalam Emil ingin sekali memakan jambu air dipadu dengan bumbu rujak. Sedangkan biasanya dia tidak pernah doyan makanan seperti itu.
Mama Ria masuk ke meja makan, dan dia melihat Emil sudah duduk di sana. Biasanya putranya jam segitu belum bangun dan masih di kamar.
''Hey Boy, tumben sekali kamu jam segini udah bangun?'' tanya mama Ria sambil membuatkan kopi untuk papa Ezra.
''Iya Mah, aku ingin sekali memakan jambu air. Makanya tadi aku minta pelayan untuk membelikannya ke pasar,'' jawab Emil.
Mama Ria paham, jika putranya sedang ngidam, tapi sedikit kasihan juga. Karena Emil harus merasakan gimana rasanya orang ngidam.
''Aku bingung deh, kenapa ya kemarin melihat wajah Azkia dan juga mamanya tiba-tiba saja mual? Apa sampai segitunya ya jika orang hamil?'' tanya Emil.
''Bawaan orang hamil itu beda-beda, tidak semuanya sama. Mungkin saja memang karena kamu sudah tidak suka kepada mereka, jadi melihatnya membuat kamu mual,'' jawab mama Ria sambil mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
.
.
Semua orang saat ini sudah berkumpul di meja makan. Di sana juga sudah ada Bintang, dan dia merasa heran saat melihat Emil bukannya memakan sarapan, tetapi malah menyantap rujak dengan lahap.
''Sayang, kamu kok malah makan rujak sih pagi-pagi? Nanti perutnya sakit loh,'' ucap Bintang dengan cemas.
''Enggak lah sayang, aku lagi nggak pengen sarapan. Entah kenapa, mulutku tuh pahit sekali. Pengennya yang pedes-pedes dan asem-asem,'' jawab Emil sambil terus mengunyah jambu air dipadu dengan sambal rujak.
Papa Ezra menatap ke arah putranya, dia langsung bergidik, karena membayangkan bagaimana pagi-pagi rasanya memakan rujak. Untung saja Papa Ezra tidak pernah merasakan apa yang dilalui oleh Emil saat istrinya hamil.
''Oh ya Emil, bagaimana kandungan Bintang kemarin?'' tanya papa Ezra, ''Lalu, jenis kelaminnya perempuan atau laki-laki?'' sambungnya kembali.
''Kalau untuk itu, rahasia dong Pah. Aku dan juga Bintang, memang tidak ingin mengetahui tentang jenis kelamin anak kami. Hanya melihat perkembangannya saja, karena biar itu menjadi hadiah yang indah saat nanti anak Kami lahir,'' jawab Emil sambil menggenggam tangan istrinya.
''Apapun itu, Papa mendukung dan selalu mendoakan agar kandungan Bintang baik-baik saja.''
Saat Emil dan juga semua orang tengah sarapan, tiba-tiba saja ponsel pria itu berdenting, dan sebuah pesan masuk ke dalamnya.
Wajah Emil seketika seperti terlihat bingung, saat membaca pesan tersebut, kemudian dia segera memakai jasnya.
''Aku pergi ke kantor dulu ya,'' ujar Emil seperti sedang terburu-buru.
''Kamu mau ke mana? Kenapa terburu-buru sekali? Ini masih jam 07.00 loh, masa mau ke kantor?'' tanya mama Ria dengan bingung.
''Ini Mah, Jasper dan juga Leon mengajak aku untuk bertemu. Katanya ada yang perlu dibicarakan, penting soal pekerjaan,'' bohong Emil.
Kemudian dia berjalan ke arah Bintang, lalu mencium kening wanita itu. Setelahnya dia mengusap perut Bintang dengan lembut, dan berbicara pada bayi yang berada dalam kandungan istrinya.
Sayangnya Dady, Dady berangkat kerja dulu ya..Kamu jangan nakal-nakal. Nanti kalau kamu nakal, kasihan Mommy,'' ucap Emil dengan lirih sambil mengusap perut Bintang. Setelah itu dia pergi keluar dengan langkah terburu-buru.
Bersambung.......
__ADS_1