
Happy reading......
Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, tiba-tiba saja Bintang bangun, karena perutnya terasa begitu lapar. Kemudian dia menggoyang lengan Emil membangunkan suaminya.
''Sayang ... sayang, bangun. Temenin aku yuk di dapur! Aku laper nih,'' ucap Bintang sambil terus menggoyang lengan Emil.
''Hmm.'' pria itu hanya menjawabnya dengan gumaman saja, membuat Bintang benar-benar kesal.
Kemudian wanita hamil itu mencubit perut Emil dengan kencang, hingga membuat pria itu kaget dan membuka matanya. ''Kamu apa-apaan sih, sayang? Masa nyubit perut aku? Sakit tahu!'' kesal Emil sambil mengusap perutnya.
''Makanya bangun, temenin aku ke dapur. Aku lapar tahu!'' pinta Bintang dengan nada manja.
Emil bangkit dari duduknya lalu dia bersender di sandaran ranjang, kemudian melihat jam yang berada di dinding, ternyata masih pukul 02.00 dini hari. Seketika pria itu menghela napasnya dengan kasar, kemudian dia menemani Bintang untuk pergi ke dapur.
Sesampainya di sana, Emi langsung duduk di meja makan dan kembali tertidur. Bintang yang melihat itu pun merasa kesal, kemudian dia menjewer telinga suaminya hingga membuat Emil seketika membuka mata sambil mengaduh kesakitan.
''Sayang, aku minta kamu temenin makan, bukannya tidur!'' kesal Bintang.
''Ya sudah, kamu tinggal makan. Panggil pelayan, hangatin sayurnya yang ada di kulkas,'' jawab Emil sambil mengusap telinganya yang terasa panas karena dijewer oles istri tercintanya.
__ADS_1
''Nggak mau es Milo! Aku maunya kamu yang masak. Aku pengen mie, kamu masakin ya!'' pinta Bintang sambil mengedipkan matanya beberapa kali dengan manja.
Emil tersedak ludahnya sendiri saat mendengar permintaan Bintang, lalu dia menunjuk wajahnya dengan tatapan melongo dan mulut menganga. ''Maksud kamu, aku masak sayang? Kamu yang benar saja, ini sudah malam, loh ? Suruh pelayan aja yang masak!'' titah Emil sambil kembali duduk di kursi.
''Kamu jahat! 'Kan yang mau makan anak kamu?'' Bintang merajuk, bahkan air matanya sudah menetes membasahi pipi. Entah kenapa, semenjak wanita itu hamil dia menjadi sensitif, tidak bisa disentil sedikit langsung saja menangis.
Emil mengusap wajahnya dengan kasar. "Sayang, bukan seperti itu, tapi 'kan aku tidak bisa masak? Bagaimana nanti kalau Makanannya tidak enak?'' jelas Emil.
Jangankan untuk masak, memegang panci atau wajan saja Emil tidak pernah. Jadi bagaimana mungkin pria itu akan memasak makanan untuk istrinya? Yang ada, mungkin rasanya bagaikan makanan seperti sebuah perasaan yang campur aduk, ada galau, cinta, bahagia dan sedih, semuanya menjadi satu.
Namun Bintang menolak, dia semakin menangis dengan keras, hingga mau tidak mau Emil berjalan ke arah kompor untuk memasak mie pesanan istrinya, tapi dia bingung bagaimana cara menyalakan kompor. Akhirnya pria itu pun hanya berdiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''Itu, anu ... eeum ... sayang, aku ...'' Emil sangat malu jika harus mengatakan dia tidak bisa memasak dan menyalakan kompor.
''Itu, anu, apa? Kalau ngomong yang bener dong!''
''Aku nggak tahu caranya nyalain kompor gimana,'' ucap Emil akhirnya.
Bintang yang mendengar itu sampai terbengong, dia tidak menyangka jika pria dengan badan kekar seperti Emil tidak bisa menyalakan kompor. Kemudian dia punggung tangannya di kening Emil.
__ADS_1
''Suhunya aman kok,'' ucap lirih Bintang.
Emil menepis kasar tangan Bintang dengan kesal. ''Kamu pikir, aku ini gila apa?'' ketus Emil.
''Ya habisnya kamu, masa nyalain kompor aja nggak bisa? Badan aja segede gajah,'' ledek Bintang sambil terkekeh kecil.
Emil benar-benar tidak terima dinamakan gajah, padahal tubuh dia begitu ideal, bahkan roti sobeknya pun ada enam. Setiap hari dimakan oleh Bintang tidak habis-habis. Dan saat pria itu akan menjawab ucapan Bintang, tiba-tiba salah seorang pelayan datang menghampiri mereka.
''Maaf Tuanx Nona muda. Ini ada apa ya? Kenapa malam-malam Nona dan Tuan Muda ada di sini? Apakah Nona, butuh sesuatu?'' tanya pelayan itu kepada Bintang sambil menundukkan kepalanya.
''Kebetulan banget Bibi di sini. Tolong ajarin tuh es milo buat nyalain kompor! Dia mau bikinin aku mie, Bi,'' ucap Bintang.
''Kalau begitu, biar saya saja Nona yang membuatkan,'' tawar pelayan tersebut. Namun Bintang segera menggeleng, dia tidak ingin dibuatkan oleh siapapun kecuali Emil.
Tadinya Emil terlihat begitu senang, bahkan senyum mengembang di wajahnya, tapi seketika luntur, saat Bintang mengatakan jika dia tetap yang harus memasak mie tersebut d. Dan mau tidak mau Emil pun melakukannya, sebab itu keinginan anaknya juga.
Bintang menunggu di meja makan, sementara itu Emil memasak mie sambil bertanya kepada pelayan. Sebab dia tidak tahu caranya memasak seperti apa? Dan bagi pelayan itu, melihat Emil masak di dapur itu adalah kejadian yang langka. Sebab jangankan untuk memegang kompor, memegang panci saja Emil tidak pernah.
BERSAMBUNG......
__ADS_1