
Hannah menangis. Ia tahu jika ini gagal maka tamatlah sudah hubungannya dengan Richie. Sebenarnya ia sudah melihatnya, usaha Richie untuk mencintainya. Namun itu tidak pernah berhasil. Hannah bisa melihat tidak ada cinta untuknya di mata Richie, sejak pertama. Mereka hanya berusaha untuk terus mencobanya. Namun Hannah tidak akan menyerah hingga Richie yang memutuskannya. Sebenarnya tidak ada di kamus hidup Hannah diputuskan oleh pria. Sungguh memalukan jika itu sampai muncul di media. Tapi demi mempertahankan Richie, Hannah akan menunggunya hingga akhir. Ia akan menerima apapun keputusan Richie. Jika memang harus putus ia rela. Jika Richie ingin menikah tanpa cinta pun ia juga akan menerimanya. Begitulah cinta, membuat kita buta dan bodoh. Namun anehnya, gabungan dua senyawa itu bisa membuat kita bahagia.
Richie merasa sangat bersalah meninggalkan Hannah tadi. Ia sempat merasa bahwa ia bukan pria normal. Tapi Richie bisa merasakannya sempat "berdiri" tadi. Entahlah, Richie juga tidak tahu mengapa. Ia hanya tidak bisa menyentuh Hannah, tidak ada keinginan untuk itu. Apa yang dilakukannya tadi hanyalah upayanya untuk lebih dekat ke Hannah. Namun ia gagal, tidak tahu apakah harus berhenti atau mencobanya lagi.
"Pak Richie, Bapak kenapa? Bapak sakit?" Dila melihat Richie sedang memijit pelipisnya. Ya, kepala Richie jadi terasa sedikit sakit gara-gara insiden tadi. Atau juga mungkin karena kecapekan.
"Duduk dulu Pak, saya ambilin minum ya." Hanya dua menit Dila berlari membawa sebotol air mineral. Richie meneguknya. Dilihatnya muka Dila yang sedikit cemas.
"Bapak mau obat?" tanyanya lagi.
"Tidak perlu. Terima kasih untuk airnya." jawab Richie, ia sudah merasa sedikit tenang. Richie sedikit kecewa dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia menolak Hannah. Ia berpikir akan meminta maaf lagi besok.
"Pak Richie jangan sampai sakit ya. Ini kan acara Bapak, setidaknya bertahanlah sampai besok." Dila masih cemas melihat keadaan atasannya itu.
"Bertahan sampai besok? Kamu kira saya mau mati?" Richie mendapat sedikit kekuatannya jika berhadapan dengan Dila. Ia senang melihat Dila yang terkejut karena bentakannya.
Richie ada janji makan malam bersama orang tuanya dan Vicky. Ia dan Vicky sudah datang duluan di restoran hotel Richie. Tidak lama kemudian, orang tuanya datang, dengan Hannah.
"Wah, ada Hannah. Cantik banget artis kita." sambut Vicky. Richie tidak tahu Hannah ikut makan malam. Ya, ia memang tampak cantik dengan dress hitam panjangnya. Sebenarnya Richie masih merasa sedikit malu, Hannah pasti menganggap dirinya tidak normal. Siapa yang tidak akan tergiur dengan Hannah jika sudah berada dalam posisi tadi. Hanya saja Richie berbeda dengan pria umumnya.
"Mama ajak. Masa Hannah makan sendirian malam ini. Richie emang gitu Han orangnya, kaku, ga romantis. Kamu maklumin aja ya, yang sabar hadapin cowok kayak Richie. Dia mirip papanya hahaha.." mereka tertawa. Richie sudah bosan mendengarnya. Mereka memesan makanan. Richie ingin acara dinner itu cepat berakhir agar ia bisa cepat istirahat. Belum lagi ia membutuhkan banyak tenaga untuk acara besok. Richie dan Hannah tidak banyak berbicara malam itu. Mereka agak canggung dan lebih memilih diam, hanyut dalam pikiran masing-masing.
*****
__ADS_1
"Selamat ya Richie. Semoga hotelnya sukses ya." Aiden memberikan selamat untuk Richie.
"Om Richie, apa kabar? Kok jarang ke Jakarta." Vely memeluk om kesayangannya itu. Richie baru akan menggendong Vely.
"Om, jangan gendong Vely lagi donk, Vely sudah besar sekarang. Sudah SD kelas 2." ucap Vely lagi. Mereka tertawa.
Para tamu undangan sudah banyak yang hadir. Untung saja cuaca cukup cerah siang itu karena acara akan dilaksanakan outdoor di halaman belakang hotel yang menghadap ke laut. Lima belas menit lagi acara akan dimulai. Richie masih sibuk menerima ucapan para tamu undangan.
"Hai, gadis candi.." Chris menyapa Dila.
"Pak Chris? Kemarin saya ga lihat Bapak." ucap Dila.
"Kamu cariin aku ya? Kenapa ga telepon? Aku baru sampai pagi ini." Chris tersenyum manis ke Dila. Ia menyukai penampilan Dila. Gaun putih sederhana. Sopan dan manis, cocok dipakai Dila.
"Just called me Chris. Aku belum setua itu. Malam ini ada acara? Boleh aku ajak kamu jalan?" tanya Chris. Dila tampak terkejut dengan ajakan yang tiba-tiba itu.
"Aku..entahlah. Aku belum tahu apakah masih ada pekerjaan yang tersisa. Jadi aku belum berani janji Chris."
Richie mendengarnya. Dila memanggil Chris tanpa "Pak". Ia ingin menghampiri mereka, penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Namun langkahnya terhenti oleh seorang staf RAF. Acara akan segera dimulai dan Richie akan memulai opening speech nya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, acara ditutup dengan penampilan tarian tradisional Yogyakarta. Mereka juga mendatangkan penyanyi ibu kota yang sedang naik daun, Tiara Andini. Richie ingat ia pernah mendengar lagu itu di Suara Cinta. Dalam seminggu ini, Richie hanya sempat mendengar suara Cinta dua hari. Ia tidak sabar menunggu besok, mendengarkan acara favoritnya tanpa ada beban pekerjaan lagi.
Para tamu sedang menikmati makan siang yang disediakan. Chris menghampiri Dila kembali.
__ADS_1
"Dila, aku mau ngomong bentar. Kita ke ujung sana yuk. Di sini agak berisik." Chris mengajak Dila mendekati bibir pantai.
"Tawaran jalan aku nanti malam tolong diterima ya. Besok aku harus kembali ke Jakarta." Dila melihat raut wajah serius dari Chris. Ia kira Chris tipe pria yang suka bercanda.
"Bukan aku ga mau Chris, hanya saja..Kamu kan tahu hari ini pembukaan hotel pak Richie. Aku benar-benar belum tahu apakah malam ini ada waktu senggang." Dila bingung. Di satu sisi dia memang tidak tahu apakah Richie masih membutuhkannya. Untuk bekerja tentunya. Di sisi lain, dia tidak tega menolak niat baik Chris. Chris sang aktor telenovela.
"Ok aku mengerti, diusahakan saja ya. Nanti malam aku akan menghubungimu kembali." ucap Chris.
"Chris!!" mereka berdua berbalik badan untuk melihat arah suara itu.
"Hai Vicky, you look gorgeous!" mereka cipika cipiki. Cukup dekat sepertinya.
"Dila? Ngapain kamu di sini? Tadi dicari kak Richie." kata Vicky. Dila langsung permisi dengan mereka. Chris memberikan kode bahwa ia akan menelepon Dila. Samar-samar Dila masih mendengar suara Vicky menanyakan apa yang Chris bicarakan dengan Dila. Sedangkan jawaban Chris sudah tidak terdengar lagi olehnya. Ia mencari Richie di tengah pesta. Namun tidak menemukannya. Dila lanjut mencari ke arah toilet. Samar-samar ia mendengar suara Richie dari arah gudang. Ia mendekat ke sana untuk menanyakan alasan Richie mencarinya. Namun ia mendengar suara lain, perempuan. Dan sepertinya mereka bertengkar? Dila tidak yakin. Dila berjalan mendekat lagi. Dilihatnya Hannah mencium Richie, Richie membalasnya, namun hanya tiga atau empat detik. Richie melepasnya.
"Aku benar-benar tidak sanggup Han. Maaf." Richie berbalik, berniat meninggalkan Hannah di sana.
"Jadi kamu tidak mau mencobanya lagi? Kamu mau kita putus? Itu yang kamu mau kan?" Hannah menangis. Richie hanya terdiam, tidak berbalik lagi. Dan ia tetap berjalan meninggalkan Hannah yang menangis semakin jadi. Dila cepat-cepat pergi dari sana sebelum ketahuan menguping. Walaupun itu tidak disengaja, namun ia tidak enak mengetahui permasalahan pribadi atasannya.
*****
PS: Chris guys...
__ADS_1