
Enam bulan sudah berlalu sejak Mario dioperasi. Perut Dila juga semakin membesar di usia kehamilannya yang memasuki bulan ke sembilan. Lima bulan lalu Tiara mengabarkan jika Mario sudah kembali ke rumah mereka di Jogja. Hotel di Bali sementara diurus oleh kakaknya. Hingga hari ini, Dila belum menemui Mario karena Tiara bilang ia belum bisa mengingatnya.
"Sudah pulang?" Dila menyambut Richie yang baru pulang kerja, mengambil tas nya dan membawanya ke kamar.
"Aku mandi dulu ya." kata Richie sambil masuk ke kamar mandi.
Dila duduk kembali menghadap laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda. Ia sedang mengumpulkan lukisan mamanya. Sebagian ia sudah mendapatkannya dari Bram. Sebagian lagi sudah terjual ke beberapa pembeli. Dila mencari nomor kontak para pembeli itu dan bermaksud membelinya kembali. Ia ingin lukisan itu dipajang di galeri seni. Akan ada pameran lukisan dan fotografi terbesar di Yogyakarta dua minggu lagi. Minggu ini adalah tenggat waktu Dila harus menyerahkan lukisan yang akan dipamerkan.
"Yang dari Bram dapat berapa sayang?" tanya Richie sambil mencium kening Dila.
"Enam. Aku baru dapat dua kontak pembeli. Dua-duanya menolak untuk menjualnya." Dila terdengar kecewa.
"Kita tidak bisa memaksa mereka." kata Richie.
"Aku tahu. Tapi tetap saja aku sedikit kecewa."
"Jadi apa yang bisa aku bantu?" Richie memeluknya dari belakang karena agak sulit melakukannya dari depan sekarang. Ia mengelus perut Dila.
"Entahlah. Aku belum tahu." jawabnya.
"Sayang. Tadi Mario meneleponku." Richie memutar kursi kerja Dila menghadapnya.
"Mario?" tanya Dila. Ia pernah menelepon Tiara sekedar menanyakan kabar Mario. Tiara bilang Mario sudah sangat sehat, hanya saja ia tidak pernah menyebut nama Dila ataupun Cinta. Mungkin Mario benar-benar sudah melupakannya. Dila memutuskan untuk tidak meneleponnya lagi, biarlah Mario memulai kehidupan barunya.
__ADS_1
"Iya. Dia ingin bertemu denganku. Sekedar nongkrong. Kamu mau ikut?" tanyanya. Richie memperhatikan ekspresi istrinya.
"Kamu mau ngetest aku ya?" tebak Dila.
"Ngetest apaan? Dia sudah tidak mengingatmu lagi. Buat apa aku cemburu?" Richie menertawakan perkataannya sendiri. Memang benar ia masih cemburu. Walaupun Mario tidak mengingat Dila lagi, Richie tidak pernah bisa menebak perasaan Dila yang sebenarnya. Richie tahu dan yakin Dila mencintai dirinya. Andaikan cinta adalah ilmu pasti yang hanya bisa membidik satu hati, mungkin Richie tidak akan pernah merasa cemburu.
"Aku tidak ikut deh. Kamu saja." jawab Dila. Ia mencium bibir Richie sekedar untuk menyampaikan bahwa ia mencintainya.
"Kamu menggodaku? Aku kebetulan sangat lapar sekarang." Richie menggendongnya. Dila tertawa geli saat Richie mencium lehernya. Sejak Dila pulang ke Jogja dari 'kencan' nya bersama Mario, Richie lebih menginginkan dirinya. Richie seperti mendapatkan kembali istrinya yang sempat hilang. Tubuh Dila pun lebih terlihat menggoda sekarang karena lebih berisi. Namun sekarang ia melakukannya dengan lebih pelan karena perut Dila yang membesar.
*****
Jeno bermain ke rumah Mario. Ia sedang tidak ada siaran.
"Siang Tante. Rio di mana?" tanya Jeno.
Jeno masuk ke kamar Rio. Sejak Mario keluar dari rumah sakit, ia sering mengunjunginya. Sekedar ngobrol dan menemani Rio agar tidak bosan. Jeno melihat kamar Rio yang tidak rapi seperti biasanya. Foto-foto berukuran cukup besar berserakan di kamarnya. Ada juga beberapa foto berukuran kecil yang akan disusunnya menjadi suatu pola. Jeno baru ingat Rio akan mengikuti pameran lukisan dan foto yang sebentar lagi diadakan di galeri seni Jogja. Ia melihat foto-foto yang diambil Rio. Semuanya bernilai seni dan bukan sekedar foto. Ia tahu Rio menyukai fotografi sejak kuliah dulu. Jeno menangkap satu foto yang menarik di matanya. Foto seorang perempuan bergaun putih panjang dengan topi lebarnya. Foto itu sangat kecil. Sepertinya itu bagian dari foto-foto yang akan disusun menjadi sebuah foto besar. Jeno memperhatikan lagi foto mini itu. Ia yakin itu Dila. Dia tidak mungkin salah.
"Sudah lama Jen?" Mario masuk. Rambutnya sudah tumbuh. Ia masih tampak tampan seperti biasanya. Hanya saja bobot tubuhnya yang menurun belum sepenuhnya kembali.
"Ini foto siapa Rio?" tanya Jeno. Ia melihat mimik muka Rio yang agak berubah namun mencoba terlihat tenang.
"Aku lupa. Ada di kameraku. Mungkin tidak sengaja tercetak." jawabnya.
__ADS_1
"Kamu tahu kan tidak ada seorangpun yang kamu lupakan selain Dila."
"Dila? Istri Richie?" tanya Rio.
"Iyalah. Ini dia kan?" Jeno memegang foto mini berukuran 3x4 cm itu.
"Mungkin. Entahlah." Mario tidak berani menatap mata sahabatnya itu.
"Lalu bagaimana foto Cinta ada di sini?" tanya Jeno lagi.
"Aku tidak tahu. Mungkin ia bersama Richie saat itu." jawab Rio.
"Dari mana kamu tahu Cinta adalah Dila?" Pertanyaan Jeno membuat Mario terdiam.
"Kamu mengingatnya kan? Jawab aku Rio." Jeno ingin berteriak kepada sahabatnya itu. Tapi ia menahannya karena takut Rio akan shock atau tertekan. Melihat Rio yang terdiam, Jeno tahu pasti jawabannya.
"Kenapa berbuat seperti itu? Kamu menyiksa dirimu sendiri. Dari dulu kamu selalu begini." Ucapan Jeno membuat Mario tersenyum.
"Aku tahu aku bodoh. Aku tidak bisa berbuat banyak Jen. Aku tidak bisa bilang padanya 'kembalilah kepada suamimu.' atau 'aku merelakanmu', atau 'aku tidak mencintaimu lagi.' Aku tidak bisa. Aku tidak bisa berbohong padanya tentang perasaanku. Lebih baik aku berbohong padanya bahwa aku tidak mengingatnya. Ia bisa menjalani hidupnya dengan bahagia bersama suaminya. Perasaanku sudah terlalu dalam untuknya." Mario merasa lebih baik begini.
"Temanku yang bodoh. Aku tidak tahu cinta ini membuatmu kuat atau lemah. Tapi tolong lihatlah ke depan. Tuhan sudah memberimu kesempatan untuk hidup kembali. Hargai itu. Dalam hidup ini, jika kamu lebih banyak belajar untuk menerima daripada berharap, mungkin kamu hanya mendapatkan sedikit kekecewaan." Jeno berusaha membuka pikiran Rio.
"Aku akan berusaha Jeno. Tapi kalau aku berusaha terlalu keras, kepalaku bisa sakit. Kamu tidak mau itu terjadi kan?" Mario tertawa. Jeno hanya bisa melemparnya dengan bantal.
__ADS_1
Mario merasa perasaannya lebih lega setelah Jeno mengetahui itu. Jeno memang selalu tahu dengan apa yang dipikirkannya sejak dulu, mustahil rasanya menutupi rahasia ini lebih lama darinya. Mario tahu Jeno bisa menyimpan rahasianya. Ia melanjutkan menyusun foto-foto mini itu menjadi sebuah pola wajah kolase seorang perempuan. Mario menatap foto Dila. Cukup banyak ia mengambil foto Dila saat di Bali, terutama di taman kupu-kupu. Ikhlas baginya adalah saat dia bisa melepas Dila dengan senyuman, bukan dengan air mata. Mario akan menunggu saat itu tiba. Saat ia bisa benar-benar mengikhlaskan Dila dan cintanya.
*****