SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 40


__ADS_3

"Kita sambut Raja dan Ratu kita malam ini. Richie Andirawan dan Ardila Cintania." Seorang master of ceremony ternama dari ibu kota diundang untuk acara tersebut.


Penyanyi pria terkenal melantunkan sebuah lagu "I Do" dari Westlife. Sekitar enam dancer masuk diikuti oleh Richie dan Dila dibelakangnya. Mereka berjalan menuju sebuah gazebo wedding yang dipersiapkan di tengah taman. Vely dan Darren sudah menunggu di sana untuk memberikan bouquet bunga ke Dila sebelum mereka mulai berdansa di sana.


Richie memeluk pinggang Dila bergerak pelan mengikuti alunan lagu. Dila mengalungkan kedua lengannya di leher Richie. Baru sekali ini ia berdansa. Tadinya ia gugup karena dilihat banyak orang, namun postur tinggi Richie menutupinya sehingga Dila hanya bisa melihat wajah Richie.


Acara pernikahan ditutup dengan toast bersama dari keluarga dengan semua tamu yang hadir. Kembang api yang sudah disiapkan pun diletuskan. Untung saja malam itu langit cerah, bintang pun bersinar terang. Acara berlangsung sangat meriah. Richie dan Dila berkeliling membagikan bunga dan coklat sebagai ucapan terima kasih kepada tamu yang hadir.


"Kakiku sakit Sayang." bisik Dila kepada Richie.


"Kamu duduk saja."


"Tidak enak lah."


"Kenapa Dila?" tanya Airin. Ia melepaskan sepatunya setelah tahu apa yang terjadi.


"Pakai sepatuku, setidaknya lebih nyaman dibanding sepatumu yang tinggi itu. Aku akan memakai sepatumu untuk sementara." Dila terharu dengan apa yang dilakukan Airin. Ia benar-benar wanita yang luar biasa dengan apa yang dilakukannya. Dila tahu itu.


"Sayang, sepatu Airin bagaimana?" tanya Dila. Mereka baru kembali ke kamar private Richie di Sky.


"Besok aku balikin. Kayaknya dia pesawat siang juga besok." Richie membantu Dila melepaskan head piece di rambutnya.


"Makasih ya." Dila merasa beban di kepalanya sudah berkurang. Richie mencium leher Dila dari belakang.


"Terima kasihnya disimpan nanti saja Sayang." ucap Richie. Ia tidak bisa menahannya lagi sekarang. Semua halangan sudah dilewatinya. Richie melepas jas nya. Dila akan menjadi miliknya malam ini. Dila berbalik, membalas ciuman Richie yang seolah tidak akan berhenti. Malam itu akan menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua. Dila bahagia bisa menjaga kesuciannya hingga malam ini. Richie akan menjadi yang pertama untuknya.


Richie melepas gaun pengantin Dila. Tubuh bagian atas Dila pun terekspos. Dila menutupinya karena malu. Dila sudah berada di bawah Richie sekarang. Richie mengangkat tangan Dila yang menutupi dadanya.


"Kamu indah." Suara Richie terdengar serak. Dila sudah merasakan milik Richie yang mengeras dari tadi. Richie menuntun tangan Dila untuk menyentuhnya.


"Aku akan membuktikan kalau aku normal." Mereka tertawa mengingat Dila pernah menganggap perpisahan Richie dan Hannah disebabkan oleh ketidaknormalan Richie sebagai pria.

__ADS_1


"Aku takut." kata Dila.


"Peluk saja aku. Aku akan melakukannya pelan-pelan." Dila mengangguk. Ia memeluk leher Richie saat Richie menyatukan tubuh mereka. Richie bahkan harus mencoba dalam beberapa kali hentakan. Ia tidak pernah melakukannya dengan gadis perawan. Akhirnya ia berhasil. Dila berteriak kecil. Richie melihat Dila menitikkan air mata.


"Maaf Sayang. Sakit?" Dila menggeleng. Tidak terlalu sakit memang, namun entah karena terkejut atau memang sakit. Ia tidak tahu lagi. Dila bingung di mana letak rasa enaknya seperti yang diceritakan oleh teman-teman di kantornya.


Richie melanjutkannya dengan pelan hingga ia melepaskannya setelah sekian lama ia menahannya. Sejujurnya Dila tidak menikmatinya. Mungkin belum.


"Terima kasih Sayang. Aku bisa menjadi yang pertama untukmu. Mungkin malam ini kamu belum menikmatinya, tapi kita bisa mengulangnya besok pagi." Richie tersenyum mencium kening Dila. Mereka mandi bergantian. Dila belum berani mandi berdua. Ia masih malu di depan Richie, belum terbiasa.


Dila terbangun karena merasa sesuatu di lehernya. Bibir Richie ternyata sedang bermain ada di sana.


"Sayang, ngapain sih?" tanya Dila.


"Bangunin kamu. Tadi aku terbangun, tidak bisa tidur lagi. Apalagi lihat kamu pakai baju tidur gitu." Dila langsung menarik selimut menutupi tubuhnya yang mengenakan gaun tidur tipis.


"Jam berapa ini?" tanya Dila.


"Sayang, aku harus mengembalikan sepatu Airin." kata Dila.


"Biar aku saja. Kamu tunggu sebentar ya." Dila mengangguk.


Richie turun ke lantai bawah ke kamar Airin. Ia hendak membunyikan bel, tapi tangannya tertahan. Richie tidak bermaksud menguping pembicaraan orang di dalam kamar itu. Hanya saja suara mereka terdengar oleh Richie.


"Selalu saja Evelyn. Sampai kapan dia ada di dalam kehidupan kita, Ai?" suara Airin terdengar meninggi.


"Kamu doain saja dia mati kalau kamu tidak mau dia ada. Aku bosan kamu selalu membahas Evelyn seolah dia adalah masalah terbesar."


"Memang dia masalah buatku. Sampai kapanpun dia tidak akan melepaskanmu."


"Dia sudah berubah, Ai. Dia tidak seperti yang kamu pikirkan." Aiden terdengar berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


"Kalau dia sudah berubah kamu mau apa? Mau kembali sama dia?"


"Astaga Airin. Kok kamu bisa ngomong gitu sih? Kamu tidak pernah percaya sama aku? Terserah! Aku mau nyusul anak-anak di bawah." Richie menjauh dari pintu menuju lift seolah-olah baru keluar dari sana. Ia berpapasan dengan Aiden.


"Hai Aiden, mana Airin? Aku mau kembalikan sepatu yang dipinjam Dila kemarin." Richie melihat muka Aiden yang sedikit memerah, mungkin karena pertengkaran tadi.


"Sini. Titip sama aku saja, nanti aku kasih ke Airin." Richie mengucapkan terima kasih dan berbalik menuju lift lagi kembali ke kamarnya. Ia tidak menyangka masalah yang diceritakan Airin padanya tentang Evelyn akan membesar.


"Kamu ucapin terima kasih kan?" tanya Dila membuyarkan lamunan Richie.


"Aku tidak bertemu Airin tadi. Aku titip sama Aiden. Nanti aku telepon dia deh." jawab Richie.


"Ooh..Ok."


"Sayang, kamu mau honey moon kemana? Mama mau kasih kita kado bulan madu. Kita yang pilih tujuannya." Richie memeluk istrinya yang baru selesai mengeringkan rambutnya.


"Mmmh..Aku kurang tahu tempat bagus. Kamu saja yang pilih." jawab Richie.


"Aku sih dimana saja sama. Yang penting ada kamu dan tempat tidur." Mereka tertawa.


"Bali saja yuk. Waktu itu kita kan pernah kesana. Tapi aku kurang menikmatinya." Sesederhana itu pilihan Dila. Baginya Bali tempat terindah.


"Yakin tidak mau keluar negeri?" tanya Richie. Dila mengangguk yakin.


"Ok deh. Kita ke Bali. Kalau cuma ke Bali tidak perlu mama yang bayar hahaha...Kamu tahu Sayang, sepertinya aku mulai menyukaimu sejak kita ke Bali bersama."


"Hah? Masa? Kok bisa?" tanya Dila.


"Saat itu aku melihatmu sangat cantik di bawah sinar matahari terbenam di Kuta." Dila terdiam. Ia tidak menyangka Richie bisa melihatnya saat itu. Dila berpikir hanya ia yang selalu melihat ke arah Richie, memandang dan mengagumi pria itu diam-diam. Dila memeluk Richie. Richie membalas pelukan itu seakan tahu apa yang dipikirkan istrinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2