SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 36


__ADS_3

"Iya, kangen berat." Martha masuk. Ia memakai baju tidur satin tipis. Richie bisa melihatnya tidak mengenakan bra.


"Ngapain kamu? Keluar sekarang." Richie tidak mau menutup pintu kamar. Ia tidak mau bertindak bodoh seperti pria-pria di dalam drama. Menutup pintu, Dila datang, Martha bersembunyi di kamarnya, dan akhirnya Dila salah paham. Richie tidak akan pernah melakukan itu.


"Kan sudah aku bilang aku kangen. Sini donk." Martha duduk setengah berbaring di tempat tidur Richie. Richie tidak mau mendekatinya. Ia memilih keluar, membunyikan bel kamar Dila. Martha mengejarnya.


"Dila. Sepupu kamu sudah gila." ucap Richie begitu pintu dibuka oleh Dila. Martha menarik lengan Richie. Richie menghempasnya.


"Martha. Kamu ngapain sih berpakaian seperti itu?"


"Dila. Dia ke kamarku. Aku sudah mengusirnya tapi dia tidak mau pergi. Aku langsung ke sini." Richie berdiri di belakang Dila seolah meminta perlindungannya.


"Kok tidak panggil sekuriti saja Sayang? Martha, kalau kamu bersikap keterlaluan begini terus, aku akan minta Richie mengusirmu walau kamu tamu di sini. Banyak bukti cctv kalau kamu menerobos masuk ke kamar calon suamiku." ucap Dila. Martha kesal. Menghentakkan kakinya lalu pergi dari kamar Dila. Ia menuju lift dan turun.


"Sayang. Terima kasih." Richie benar-benar takut dengan tipe wanita seagresif Martha. Dila melotot pada Richie.


"Kamu pegang dia ga tadi?" tanya Dila pelan. Takut Vio terbangun.


"Tidak." jawab Richie.


"Kamu lihat kan dia bahkan tidak memakai pakaian dalam?" Dila bertanya lagi karena hal itu dapat terlihat jelas di mata Dila tadi. Apalagi di mata lelaki.


"I..iya..Kan itu bukan sengaja. Memang terlihat Sayang. Nanti aku suruh bagian sekuriti atur kartu kamar biar yang dari bawah ga bisa naik ke lantai ini. Ini kan special floor untuk pribadi. Tapi dia benar-benar gila ya. Kamu harus selalu percaya padaku ya Dila. Aku tidak akan pernah mengkhianati cinta kita." Dila tahu Richie bukan pria yang cepat tergoda dengan perempuan lain. Ia sudah lama berada di dekat Richie. Tidak ada wanita yang dekat dengannya kecuali Hannah. Walaupun Hannah lebih sering di Jakarta, tapi Richie tidak pernah berbuat macam-macam walau ia sering dikelilingi wanita cantik.

__ADS_1


"Iya aku percaya padamu." Dila memeluk Richie. Ia akan menjaga Richie sekuat tenaga. Apalagi dari perempuan seperti Martha. Richie menciumnya. Dila sangat menggoda dengan baju tidur Mickey Mouse nya. Tidak perlu lingerie ataupun gaun tidur tipis. Dila cantik dan menggoda dengan hanya menjadi dirinya sendiri. Dila melepas ciuman yang semakin dalam itu.


"Nanti Vio bangun." bisik Dila.


"Ke kamarku saja." Richie memohon.


"Tidak mau. Banyak setannya hahaha...Tunggu sebulan lagi ya." Dila mendorong Richie keluar dari kamarnya. Richie bersyukur Dila tidak menuruti permintaannya. Memang harus ada satu orang yang masih bisa berpikir lurus dalam situasi seperti ini. Richie menertawakan dirinya sendiri. Tidak percaya dengan apa yang dipikirkannya ke Dila tadi.


*****


"Jadi kalian sudah menentukan kapan akan menikah?" tanya Desy. Richie tersenyum. Ia tiba-tiba mendekat dan memeluk mamanya.


"Makasih ya Ma." ucapnya.


"Bulan depan Ma, 10 Oktober. Di Jogja ya Ma. Richie mau menikah di Sky. Di sana adalah saksi cinta Richie dan Dila" jawab Richie. Dila mendorongnya pelan, malu dengan apa yang dikatakan Richie.


"Teman-teman mama sama papa gimana? Kamu kasih diskon ya kalau nginep di sana. Mama keluarin duit tiket untuk mereka." ucap Desy dan dijawab dengan kedua jempol Richie.


"Oh iya, butik teman mama yang kamu tanya di telepon sudah pindah ke Bandung. Mama ajak kamu ke butik teman mamanya Aiden saja ya, ada di mall XP. Kemarin kan Airin juga pakai yang di sana. Sekalian Mama, Vio, dan Vicky juga ukur di sana. Senin ada sidang kan. Berarti besok kita ke butik. Sore ini kita belanja yuk." ajak Desy. Ia sangat antusias mendengar anak laki-laki satu-satunya akan menikah.


"Mama jangan capek-capek dulu, ya." Andi mengingatkan istrinya yang baru sembuh pasca operasi.


"Tante, Om, terima kasih sudah merestui Dila. Dila bahagia. Dila dan Vio sudah lama tidak merasakan memiliki orang tua. Kami berdua berharap Om dan Tante menerima jika kami menganggap kalian sebagai orang tua kami." Mata Dila berkaca-kaca. Ia sebenarnya takut jika mama Richie tidak menerimanya dan Vio. Desy berdiri. Ia mendekati Dila dan Vio yang duduk bersebelahan. Desy memeluk mereka. Ia terbawa suasana haru. Rasa keibuannya mendadak muncul membayangkan kehidupan mereka yang menderita seperti yang diceritakan suaminya.

__ADS_1


"Kalian boleh memanggil saya Mama mulai sekarang." kata Desy.


"Kalian juga ada papa sekarang." Andi tersenyum. Richie sungguh sangat bahagia melihatnya. Ini lebih dari apa yang diharapkan dan didoakannya.


*****


Martha dan Alva mengunjungi orang tuanya di penjara secara bergantian. Setelah itu mereka menemui pengacara yang akan membela kedua orang tuanya besok. Mereka berbincang cukup lama karena harus menyatukan pikiran dan pendapat dalam banyak hal.


"Mama sama papa tuh buat kita susah tau ga." Martha dan Alva pulang ke rumah mereka.


"Kok kamu ngomong gitu sih Kak? Kita juga ikut nikmatin kok. Emang pernah Kak Martha hidup susah? Mau apa saja pasti mereka kasih. Mobil, sekolah di Amerika." kata Alva.


"Ya tapi kalau mau nipu yang cantik donk mainnya. Masa sampe dipenjara? Malu-maluin banget." Martha kesal karena kasus ini ia sampai harus resign dari pekerjaannya. Sebenarnya ia ingin cuti, tapi ia tidak yakin sampai kapan kasus ini selesai. Belum lagi kemarin ia melihat Richie dan Dila yang sok-sok an duduk di kursi bisnis. Martha dan Alva terpaksa duduk di kursi ekonomi karena harus berhemat.


"Sudahlah Kak. Alva juga cuti kuliah dulu nih. Kakak dengar ga kata Pak Bara tadi? Katanya kemungkinan besar aset keluarga kita bakal disita."


"Aaahhh...Dila brengsek." Martha melempar bantal sofanya.


"Ini semua memang punya dia Kak. Kita yang sudah merebutnya tanpa izin."


Martha tidak mau terlalu berharap orang tuanya bisa bebas. Ia yakin Dila tidak akan mencabut tuntutannya. Makanya Martha juga tidak mau memperpanjang kasus. Ia sudah berpesan kepada Pak Bara bahwa mereka akan terima apapun vonis dari hakim nanti. Martha tidak mau menghabiskan banyak uang untuk itu. Untung saja mamanya mengirimkan uang yang lumayan untuk biaya hidupnya dan Alva sebelum kejadian penembakan itu.


"Sudah ah, aku suntuk. Mau keluar dulu." Martha menelepon beberapa temannya untuk bertemu. Ia ingin menyegarkan pikirannya.

__ADS_1


*****


__ADS_2