SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 59


__ADS_3

Dila terbangun karena bunyi ponselnya berdering jam delapan pagi. Mario masih tertidur di sebelahnya.


"Kak Jeno?" jawabnya.


"Hai Dila. Masih di Bali?" tanya Jeno.


"Iya Kak. Maaf, aku belum bisa siaran kak."


"Tidak apa-apa. Aku meneleponmu bukan untuk itu. Mario di sana?"


"Iya, dia masih tidur."


"Dila, maaf sebelumnya. Aku mungkin teman yang egois karena meminta ini darimu. Tapi aku mohon, buat Mario bahagia di sana. Setidaknya sebelum ia dioperasi. Aku tahu benar bagaimana ia mencintaimu dari dulu. Dan sekarang dia menderita kembali. Aku sangat hancur mendengar tentang penyakitnya. Si bodoh itu. Ia selalu berusaha membahagiakan orang lain. Dia tidak pernah hidup untuk dirinya sendiri. Aku kira ia bisa bahagia setelah bercerai dengan istri yang tidak dicintainya itu. Tapi ternyata..." Dila mendengar suara Jeno yang sedikit bergetar.


"Kak?" panggil Dila.


"Aku tahu kamu sudah menikah dan bahagia dengan Richie. Please Dila, tujuh hari ini tolong buat Rio bahagia." Baru sekali ini Dila mendengar suara Jeno yang seperti sedang menahan tangisnya. Padahal selama ini Jeno adalah sosok yang ceria dan seperti tidak pernah ada masalah.


"Iya Kak. Aku janji. Aku juga ingin Mario menghadapi operasi nanti tanpa ketakutan apapun. Kak Jeno tahu kan operasi akan dilakukan di Jakarta hari Senin nanti. Aku dan Richie mungkin akan kesana. Kalau Kak Jeno sempat mungkin kita bisa berangkat bareng." ajak Dila.


"Ok. Aku juga akan ke Jakarta. Kalau waktunya bisa pas nanti kita bareng saja. Terima kasih ya Dila. Salam untuk Rio." Mereka menutup panggilan itu.


Dila menarik napas panjang. Ia tidak menganggap Mario adalah beban. Namun Dila merasa banyak perasaan yang harus ia jaga. Richie, Mario, tante Tiara, Jeno. Dila tidak bisa mengabaikan mereka walaupun sebenarnya ia tidak berkewajiban menjaga semua itu. Ia hanya ingin melakukan semua yang dirasanya benar walaupun itu "tidak benar".


"Mario, bangun yuk. Sudah waktunya disuntik obat." panggil Dila. Mario membuka matanya dan menarik Dila ke pelukannya. Ia ingin menikmati rasanya melihat wanita yang dicintainya saat pertama kali membuka matanya. Mario tahu ia hanya bisa melakukan itu empat hari lagi.

__ADS_1


"Ayolah, Mba Etty sudah tunggu dari tadi." Bukannya melepaskan, Mario malah menguatkan pelukannya.


"Sebentar lagi Cinta. Aku ingin mencium baumu yang belum mandi." Dila membiarkan Mario memeluknya hingga akhirnya pintu kamar mereka diketuk.


"Pasti Mba Etty. Jam nya sudah lewat Mario. Lepasin." Akhirnya Mario mengalah. Dila membuka pintu dan membiarkan Mba Etty melakukan tugasnya. Dila melihat Mario mengatakan sesuatu ke Etty sebelum disuntik.


"Tadi ngomong apa sama Mba Etty?" tanya Dila setelah Etty keluar.


"Oh, cuma suruh pelan-pelan saja suntiknya. Kemarin agak sakit. Sarapan yuk di luar. Ada restoran di atas. Pemandangannya bagus." kata Mario.


Sekarang mereka berada di restoran dengan pemandangan pantai yang sangat indah. Dila mengambil beberapa foto untuk dikirim ke Richie. Mario memberitahunya tentang Richie yang menelepon saat Dila tertidur kemarin. Mereka sepakat untuk merahasiakan kondisi Dila yang tidak sehat kemarin. Dila tahu Richie pasti mengomelinya dan kemungkinan terburuk adalah Richie akan menyusulnya ke Bali.


"Boleh kita berfoto berdua?" tanya Mario. Dila tersenyum. Mario mengeluarkan ponselnya dan meminta Pak Wayan yang mengambil foto mereka. Mereka duduk dan Mario merangkul pundak Dila. Mario melihat hasilnya dan tersenyum. Dila sangat cantik. Mereka tampak serasi di sana. Itu adalah foto pertama mereka.


Jam dua siang mereka sampai di Hotel Paradise milik Mario. Dila mengganti pakaiannya dengan baju rumahnya. Ia berbaring.


"Mario, jangan ah." Dila menariknya namun ditahan Mario.


"Aku tahu kamu kuat. Dulu aku sering melihatmu berlari di kampus. Tapi sekarang kan kamu sedang hamil, pasti melelahkan." Dila mengelus perutnya. Anaknya pasti kangen dengan papanya.


"Mario, dari sini kita langsung ke Jakarta kan? Hari Minggu kita sudah harus sampai di sana. Ada tes yang harus kamu jalani karena Senin kamu akan dioperasi. Kamu siap kan?" tanya Dila. Mario masih memijat kakinya.


"Kalau aku bilang tidak siap bagaimana? Bohong jika aku bilang siap dan tidak takut. Kamu tahu apa yang paling aku takuti? Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku bisa melihatmu." katanya tanpa melihat ke arah Dila.


"Kamu sedikit pucat. Apa perlu aku panggil Mba Etty?" tanya Dila. Ia duduk dan melihat Mario yang berkeringat.

__ADS_1


"Dila, maaf. Bisa kamu keluar sebentar dan panggil Etty kemari?"


"Tidak. Aku tidak mau keluar. Aku panggil Mba Etty sekarang." Dila menelepon Etty dan dalam sekejap ia sudah berada di sana.


"Keluar Dila. Aku mohon." pinta Mario sambil meringis kesakitan. Ia memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Dila menurutinya. Dila tidak tega melihatnya dan menangis di luar pintu. Dari luar pun ia bisa mendengar teriakan Mario yang sedang kesakitan. Tidak berapa lama, Etty keluar.


"Ibu Dila. Saya rasa Pak Mario harus segera dirawat. Sudah dua hari ia meminta saya memberinya dosis yang lebih tinggi dari biasanya. Sekarang dosis tinggi itupun gagal menahan sakit kepalanya. Sekarang saya hanya bisa memberinya obat penenang." ucap Etty. Dila tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia harus membujuk Mario.


Dila melihat Mario yang sedang tertidur. Ia mengelap keringat di kepala dan tubuh Mario. Dila menangis lagi. Ia takut penyakit Mario bertambah parah jika tidak segera dioperasi. Dila menelepon Richie.


"Sayang, lagi ngapain?" tanyanya.


"Masih di kantor. Kamu sehat?" tanya Richie.


"Sehat. Aku kangen sayang." Dila menangis. Ia merasa sangat bodoh menangis setelah mengatakan kangen pada Richie.


"Hei, sayang. Kamu nangis? Mau pulang?" tanya Richie.


"Belum sayang. Bentar lagi aku pulang. Aku tidak apa-apa. Mungkin bawaan bayi, ia kangen sama papanya." jawab Dila. Ia bingung bagaimana menceritakan kondisi Mario.


"Sayang, kalau kamu tidak sehat, mau pulang, capek, kasih tau aku ya. Aku jemput. Jangan ditahan. Aku tidak mau kamu dan anak kita tertekan di sana." Richie mengkhawatirkan istrinya.


Tertekan. Ya. Itu kata yang tepat menggambarkan kondisi Dila sekarang. Selama ini Dila sendiri bingung menggambarkan apa yang ia rasakan. Ia tertekan. Mengapa hanya dirinya yang melihat kondisi Mario sekarang? Mengapa keluarganya yang lain tidak di sini? Setidaknya Dila tidak menangisi kondisi Mario sendirian. Setidaknya ada teman yang bisa saling menguatkan. Ia mengakhiri pembicaraan dengan suaminya.


Richie merasa ada yang aneh dengan Dila. Tidak biasanya ia menangis karena alasan sepele. Firasat Richie mengatakan ada sesuatu yang terjadi. Ia mengambil tas nya dan berencana melakukan sesuatu.

__ADS_1


*****


__ADS_2