SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 48


__ADS_3

20 OktoberĀ  "Pesawatku delay jam 7 malam."


Benar. Saat itu Richie memang ke Jakarta. Mungkin ia tidak sengaja bertemu Vina dan Airin di sini. Ya pasti itu. Dila tidak ingin berpikir lebih jauh yang akan membuatnya curiga dengan Richie. Ia mengambil foto USG bayinya. Tersenyum bahagia. Ia mengambil ponselnya dan memotretnya. Dila mengirim foto itu ke Vio dengan tulisan "Hai Auntie" di bawahnya.


Dila mengelus perutnya, masih tidak percaya ada makhluk hidup yang tumbuh di dalamnya. "Hai anakku. Terima kasih ya sudah hadir dan tumbuh di perut mama. Nanti kita kejutin papa ya dengan kehadiranmu. I love you." kata Dila. Ia kemudian tertidur, matanya terasa sangat berat.


Dila merasa kepalanya terasa geli karena ada yang bergerak di rambutnya. Ia terbangun, mendapati Richie sedang mengelus kepalanya.


"Sudah selesai?" tanya Dila sambil mengucek matanya.


"Sudah sejam lalu. Kamu nyenyak banget tidurnya."


"Iya, ngantuk sayang." Dila sudah merasa lebih segar sekarang. Ia tertidur dua setengah jam. Cukup lama untuk ukuran tidur siang Dila yang biasanya tidak pernah lebih dari satu jam.


"Tadi siang kemana saja? Siang ada makan kan?" tanya Richie. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru selesai mandi. Dila memeluk Richie yang sedang duduk di sebelahnya.


"Aku ke rumah sakit." Dila mengeluarkan sesuatu dari laci di sebelahnya. Ia tidak tahu bagaimana membuat kejutan yang indah seperti yang sering dilihatnya di media sosial. Dila hanya bisa langsung memberinya ke Richie.


"Apa ini?" Richie membalik kertas itu.


"Terima kasih sudah membuatku bisa menjadi seorang mama." ucap Dila. Ia menunggu reaksi Richie. Sepuluh detik Richie melihat foto USG itu tanpa berbicara.


"Really? Aku jadi papa?" tanyanya. Dila mengangguk. Richie berteriak senang. Selama ini ia sangat berharap Dila hamil, tapi Richie tidak pernah menunjukkannya karena takut menyinggung Dila. Sebenarnya Richie juga sempat takut jika ia yang memiliki masalah. Untunglah semua doanya terjawab. Tuhan mempercayakan mereka untuk menjadi orang tua. Richie memeluk Dila.

__ADS_1


"Terima kasih sayang. Terima kasih. Kok kamu tidak ajak aku tadi?" tanyanya.


"Tadi aku hanya mengira sedang tidak enak badan hingga menstruasi ku terganggu."


"Mama sama papa pasti senang mendengarnya. Aku telepon mereka dulu ya." Richie menuju balkon dan menelepon mamanya. Dila tersenyum melihat kebahagiaan suaminya. Ia menyusul Richie dan memeluknya dari belakang. Ia menyukai aroma tubuh Richie. Richie pun berbalik dan berganti posisi dengan Dila.


Sepasang mata melihat adegan yang mengocok perutnya. Mario bisa melihat mereka dari jendela kamarnya. Ia seakan sulit untuk bernapas. Mengapa ia harus bertemu Dila di saat ia tak mungkin memilikinya? Apakah ia bisa merelakannya seperti yang dikatakan Cinta? Ponselnya berdering, ia menjawabnya.


"Hai bro. Tumben." jawabnya.


"Rio, aku tahu ini berat. Tapi kan kamu tahu Dila sudah menikah." Jeno meneleponnya.


"Iya, aku tahu. Bagaimana aku tidak tahu saat mereka bulan madu di hotelku?" Jeno bahkan bisa mendengar hembusan kasar napas Mario.


"Jadi kamu ngapain kirim chat di acara Dila? Aku mau bertanya dari minggu lalu tapi lupa gara-gara sibuk." tanya Jeno.


"Dengar bro. Kita bersahabat sudah sangat lama. Aku tahu dari dulu kamu suka sama Dila. Kamu selalu berpesan agar aku bisa menjaga dan membantunya saat kamu ke Amerika. Makanya saat aku tahu Dila membutuhkan pekerjaan aku menawarkan posisi di stasiun radioku. Kamu juga selalu menanyakan kabarnya walaupun kamu sudah menikah."


"Aku tahu. Aku sangat menyadari posisiku sekarang. Aku tidak akan mengganggu kebahagiaannya jika itu yang kamu khawatirkan. Tenang saja. Jadi kapan kita bisa bertemu?" tanya Mario.


"Aku tidak bisa keluar kota untuk sementara ini. Bagaimana kalau kamu saja yang ke Jogja? Waktu kerjamu kan lebih fleksibel."


"Baiklah, aku akan mampir dalam waktu dekat." Mario menutup teleponnya.

__ADS_1


Flashback masa kuliah dulu....


"Apa Dila menyukaimu?" tanya Mario ke Jeno yang sedang bermain gitar di belakang kampus mereka siang itu.


"Sepertinya tidak. Aku tahu bagaimana ekspresi gadis jika dekat dengan orang yang dia suka. Aku kan berpengalaman hahaha..." Jeno tertawa. Lalu ia berhenti bermain gitar.


"Tunggu. Kenapa kamu menanyakan itu? Jangan-jangan...Kamu suka sama si cupu?" Jeno melihat muka Mario yang pelan-pelan bersemu merah.


"Kamu tahu kan sebentar lagi aku akan ke Amerika. Aku hanya bisa pergi dengan menyimpan perasaanku." Jeno menepuk pelan pundak Rio.


"Aku sebenarnya sudah curiga dari dulu. Aku sering melihat kamu diam-diam memandang Dila. Tapi aku pikir itu tidak mungkin. Cowok sekeren kamu menyukai si cupu. Ups..Maaf. Aku tidak bermaksud mengatainya."


"Entahlah. Aku juga tidak sadar kapan mulai menyukainya. Mungkin saat ia tidak tertarik melihatmu saat kalian berpapasan. Ia tidak seperti gadis lain. Atau mungkin saat ia menumpahkan es jeruknya ke sepatumu. Wajah paniknya. Aku sangat menyukainya." Mario tersenyum.


"Andai aku tahu dari dulu kamu menyukainya, pasti sudah aku comblangin." ucap Jeno. Mario menggeleng.


"Tidak. Mungkin ini yang terbaik. Aku sudah tahu tentang perjodohanku sejak lama. Aku tidak berani berpacaran ya karena ini. Aku tidak mau perasaan suka atau cinta ini semakin dalam. Sakitnya pasti lebih menyakitkan untuk kedua belah pihak. Dan aku tidak akan pernah mau menyakitkan Dila. Biar aku saja yang merasakannya. Kehilangan tanpa pernah merasa memilikinya." Mario menunduk. Jeno sedikit iba dengan sahabatnya. Ia berteman dengan Rio sudah cukup lama, sejak SMP. Ia tidak pernah melihat Rio seputus asa ini. Jeno tahu Mario tipe orang yang tidak akan bilang menyukai seorang perempuan jika tidak serius.


"Sabar bro. Semua pasti akan indah pada waktunya. Siapa tahu kamu bisa lebih mencintai istrimu kelak. Mungkin perlahan perasaanmu ke Dila bisa menghilang. Perasaan kan bisa tumbuh seiring waktu."


"Mudah-mudahan ya. Mungkin ini hanya perasaan sesaat. Sekedar suka atau cinta monyet hahaha.. Jeno, boleh aku minta satu hal? Aku minta kamu bisa menjaga Dila di saat aku tidak ada. Bantu dia jika dia membutuhkan pertolongan apa saja. Jika menyangkut finansial, kamu boleh menghubungiku kapan saja. Mau kan?" pinta Mario. Jeno hanya bisa mengangguk melihat keseriusan Mario.


Flashback end.

__ADS_1


Ya, Mario pernah meminta bantuan Jeno untuk menjaga Dila di saat ia tidak ada. Tapi sekarang ia sudah kembali. Walau Dila sudah memiliki seseorang di sampingnya, namun Mario sudah merasa cukup untuk berada di belakangnya. Kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang akan terjadi. Mungkin saat ini hanya ini yang bisa dilakukan Mario. Ia tidak berani berharap banyak. Memang benar tingkat tertinggi dari cinta adalah mengikhlaskan. Namun semua butuh proses bukan. Mario sedang menjalani proses itu. Entah berhasil atau gagal, hanya waktu yang bisa menjawabnya.


*****


__ADS_2