
Richie menemui papanya di rumah sakit jam 5 subuh. Kebetulan papanya berjaga di sana. Ia menceritakan semua yang terjadi dengan Dila, Bram, dan istri Bram. Juga tentang Vio yang dibuntuti orang kemarin.
"Pantas saja Papa dari kemarin tidak lihat Dila lagi. Tapi dia baik-baik saja kan?" tanya Andi.
"Kayaknya sih sudah Pa. Tapi masih pakai penopang dulu, biar jahitannya tidak terbuka. Pa, Richie izin pulang ke Jogja ya antarin Dila. Richie tidak tenang kalau dia pulang sendiri. Tolong Papa saja yang ngomong sama mama kalau mama sudah bangun." pinta Richie.
"Iya, nanti Papa kasih tahu."
"Satu lagi Pa. Papa merestui hubungan Richie dan Dila kan?" Richie menatap mata papanya.
"Tentu saja. Papa senang kalau kamu yang menjaga Dila. Selama ini Papa sering memikirkan di mana anak-anak Dery dan Cassie. Papa pernah menanyakan tentang mereka ke Bram. Tapi Bram bilang dia tidak tahu."
"Pa, Papa tahu kan mama kurang setuju dengan Dila. Bisa bantu Richie ga Pa?" tanya Richie. Andi tertawa.
"Hahaha...Akhirnya ada juga hal yang tidak bisa kamu lakukan sendiri ya. Selama ini Papa selalu berpikir kamu bisa melakukan semuanya sendiri. Kamu terlalu mandiri. Jadinya Papa merasa kehilangan peran untuk melindungi dan menjaga kamu selama ini. Akhirnya ya...Papa bisa bantu kamu untuk urusan cinta. Ok. Papa akan bantu kamu. Dijamin mama akan kasih restu. Kasih papa waktu satu minggu. Eh, tidak.. Dua hari. Approval pasti akan keluar." Richie tertawa senang dan langsung memeluk papanya.
*****
"Vio, kamu baik-baik kan?" Dila memeluk adiknya erat. Ia dan Richie baru sampai di rumahnya.
"Aman Kak. Untung ada Pak Yanto. Tangan Kakak gimana? Maaf ya karena Vio jadi Kakak harus cepat pulang."
"Bodoh. Kamu itu yang terpenting bagi Kakak." Richie masuk setelah berbincang dengan Yanto di teras.
"Aku suruh Yanto pasang cctv di depan rumah." ucap Richie.
"Hah? Rumah jelek gini pasang cctv? Ngapain?" Dila terkejut.
"Atau mau tinggal di rumahku? Atau di hotel lebih aman?" Richie menawarkan sesuatu yang tidak Dila kira.
"Kayaknya aku suruh kamu pilih saja deh. Mau di rumahku atau di hotel? Ayolah. Kita juga akan menikah sebentar lagi." Richie tersenyum memikirkan ide itu.
"Hah? Kakak sama Pak Richie mau menikah?" Vio terkejut. Dila menginjak kaki Richie.
__ADS_1
"Auuww...Panggil aku Kak Richie, Vio."
"Ok..Siiipp Kak Richie." Vio senang kakaknya mendapat calon suami yang baik seperti Richie.
"Jadi kamu pilih yang mana Sayang? Rumahku atau hotel? Kamu jangan berpikir hotel itu mahal ya. Kan aku sudah ada satu kamar pribadi di sana. Kamu dan Vio bisa pakai itu." Dila bingung.
"Sudah. Tidak usah pikir panjang lagi. Aku paksa. Aku tidak mau kalian diancam atau terancam. Vio, bantu kakakmu beresin pakaian ya." Dila menurut. Ia merasa Richie ada benarnya.
Mereka menuju Sky Hotel. Dila tidak mau ke rumah Richie karena tidak enak dengan tetangga. Ia juga takut jika keluarga Richie mendadak ke Jogja dan datang ke sana. Sebenarnya Dila juga malu menginap di Sky. Sebagian pegawai sana mengenal Dila sebagai asisten Richie. Richie sudah memberi tahu Rena bahwa Dila adalah calon istrinya sehingga Rena bisa membantu Dila jika ada yang dibutuhkan. Richie tahu kabar itu sebentar saja akan tersebar di antara para pegawai. Ia tidak peduli, malah itu yang diharapkan Richie.
"Gila Kak. Kamarnya luas banget." Vio berteriak senang.
"Jangan lari-lari Vio." ucap Dila. Vio langsung berbaring di tempat tidur yang super besar itu.
"Sayang. Kalau aku kangen gimana?" bisik Richie.
"Apaan sih? Kita sudah bersama tiga hari."
"Makanya. Aku sudah terbiasa ada kamu. Rasanya enggan untuk pulang ke rumah. Aku nginep di kamar sebelah ya." kata Richie.
"Kamu lupa ya, Cinta pernah bilang bucin itu tidak mengenal usia. Bahkan Romeo pun pernah bucin dengan Juliet pada masanya. Lusa aku antar kamu siaran ya."
"Kak, Vio ke sekolah gimana? Ga ada angkot di depan." tanya Vio.
"Nanti Kak Richie yang antar. Kakak tinggal di sebelah." Richie mengedipkan matanya ke Dila. Alasan yang tepat untuk tinggal di kamar sebelah.
*****
Vio melangkahkan kakinya keluar dari gerbang sekolah. Dia sedang menunggu taksi online untuk pulang menuju Sky. Calya Putih. AB 1022 MA. Vio masuk ke mobil itu.
"Iya Kak, sudah di jalan pulang. Kakak di kantor?" Dila menelepon Vio.
"Iya, Kak Richie masih ada meeting sama klien. Kamu langsung pulang ya."
__ADS_1
"Siap bos!"
Vio menutup panggilan itu dan mulai membuka beberapa sosmed miliknya. Beberapa saat kemudian Vio memperhatikan jalannya.
"Lho Pak? Ini ke arah mana?" Vio mengecek peta di aplikasinya. Mobil yang ditumpanginya sudah melewati Sky Hotel 1 kilometer.
"Pak!! Berhenti!! Saya mau turun." Mobil itu berhenti mendadak. Saat Vio ingin membuka pintunya, ternyata pintunya terkunci dan tidak bisa dibuka dari sana.
Pria itu menoleh ke belakang. Dia masih tampak muda.
"Vio, ini aku. Kamu tidak kenal aku?" Vio melihat wajah pria itu. Tampak tidak asing.
"Ka..kamu yang ikutin aku kemarin kan?" Vio mengingatnya sekarang.
"Memang aku yang ikutin kamu dari kemarin. Tapi kamu benar-benar tidak kenal aku?" Vio menatapnya tajam. Pria itu berkulit sawo matang namun tampan. Vio menggeleng. Ia tidak mengenalnya.
"Aku Alvares. Alvares Putra. Sepupu kamu." Pria itu tersenyum. Tapi Vio bertambah bingung sekarang.
"Aku...anak Bramantio." sambungnya.
"Haaahh??" Vio terkejut. Ia baru agak mengingatnya sekarang. Kak Alva. Dia mungkin hanya dua atau tiga tahun lebih tua dari Vio. Tapi Vio sama sekali lupa dengan rupanya. Dulu Vio masih terlalu kecil saat meninggalkan rumah itu.
"Dari mana aku tahu kamu benar-benar Alva?" tanya Vio. Pria itu mengeluarkan kartu identitasnya. Alvares Putra. Benar ia Alva.
"Terus ngapain kamu ikutin aku dari kemarin-kemarin?" Vio teriak berpura-pura berani. Sebenarnya ia takut Alva akan menjahatinya karena kasus yang menimpa kedua orang tuanya.
"Aku...aku mendengar semuanya dari om Ivan. Aku sangat malu dengan perbuatan orang tuaku. Sebenarnya aku harus menemui Kak Dila, tapi aku tidak berani. Makanya aku menemuimu dulu."
"Memangnya Kak Alva kemana selama ini?" tanya Vio.
"Aku..kuliah di Singapura." Vio geram mendengarnya. Di saat ia dan kakaknya hidup susah, Alva malah bisa kuliah di luar negeri.
Alva meminta Vio untuk menyampaikan kepada Dila bahwa ia ingin menemuinya. Vio sebenarnya enggan untuk melakukannya. Ia tidak tahu apakah Alva benar-benar tulus atau hanya ingin mengacaukan keluarganya lagi. Belum lagi dengan risiko akan dimarahi Dila. Vio mengerti jika kakaknya lebih marah akan keadaan mereka. Vio tahu betapa menderitanya Dila dulu karena ulah Bram dan istrinya. Dulu Dila melakukan apapun demi Vio hingga ia yang selalu menerima hukuman.
__ADS_1
*****