
"Aku senang kamu mau melakukannya duluan. Belajar mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Perlahan aku mulai menyadari memang ada sosok Cinta di kamu." ucap Richie setelah mereka kembali ke tenda. Hanya ada dua bantal, satu selimut, satu lampu di dalam tenda itu. Mereka sedang duduk di depan tenda. Langit mulai menggelap dan angin malam mulai terasa dingin.
"Ya, berkat kamu Richie. Terima kasih untuk semuanya." Dila bersandar di lengan kiri Richie.
"Aku yang terima kasih karena kamu sudah membangkitkan cinta dan gairah dalam hidupku. By the way, sekali-sekali coba ngomong kayak Cinta donk. Kamu harus tahu bagaimana aku menunggu siaranmu tiap malam."
"Nah Richie, aku baru ingat mau bertanya tentang sesuatu." Dila mendadak teringat.
"Apa?"
"Kamu punya hubungan apa dengan Airin?" tanya Dila.
"Pasti gara-gara ucapan mama tadi siang ya?" Richie memang harus menceritakannya ke Dila, ia tidak mau ada salah paham nantinya.
"Airin cinta pertamaku dan itu bertahan selama dua belas tahun, sejak kami masih SMA. Kami tidak pernah berpacaran karena aku harus kuliah di luar negeri. Kemudian ia menikah, tapi suaminya meninggal saat anak mereka masih bayi. Aku kembali menemaninya dan mendirikan RAF bersamanya. Saat itu aku masih sangat mencintainya. Tapi mama menentangnya karena statusnya janda dan memiliki satu anak, Vely. Dulu aku pacaran dengan Hannah ya karena ingin melupakan Airin. Akhirnya Airin menikah dengan pria yang dicintainya, Aiden. Dan tidak lama dari pernikahannya, aku pindah ke sini. Dan bertemu kamu." Richie menatap Dila yang mengangguk.
"Apa sekarang kamu masih...." Pertanyaan Dila yang hanya setengah itu dimengerti oleh Richie.
"Tidak sama sekali. Dulu saat masih bersama Hannah terkadang aku masih memikirkan Airin. Tanpa sadar aku membandingkan Hannah dengannya. Hannah tidak mampu mengalahkan pikiranku ke Airin. Tapi sejak aku menyadari kalau aku mencintaimu, kamu sudah memenuhi seluruh otak, pikiran, hati, semuanya.. Seolah aku sudah tidak mempunyai masa lalu. Karena yang aku rasakan sekarang hanya ada kamu." Dila terdiam mendengarnya. Lalu ia tidak bisa menahan tawanya.
"Hahaha...Kamu kebanyakan dengerin Suara Cinta ya? Setahu aku Pak Richie yang aku kenal jutek, kadang cerewet kadang dingin, ngambekan pula. Kok sekarang bisa jadi manis dan gombal gini sih?"
"Cinta bisa mengubah semuanya Dila. Lihat saja asistenku yang dulunya lugu, sekarang bisa mencium atasannya duluan hahaha..."
"Iiiihh..kok gitu sih? Jadi kamu tidak suka?" Dila berpura-pura marah.
"Suka donk. Mau lagi sayang." Kali ini Richie yang memulainya duluan.
__ADS_1
Udara dingin malam itu seakan mengeluarkan insting mereka untuk mencari kehangatan. Mereka masuk ke tenda tanpa melepaskan ciuman mereka. Ciuman pelan dari Richie sekarang berubah menjadi panas. Lidah Richie bermain di dalam mulut Dila. Dila pun mengimbanginya, mengisi semua celah di dalam sana. Leher Dila menjadi sasaran Richie sekarang. Dila merasakan panas di bawah sana. Ia belum pernah merasakannya hingga begini. Richie satu-satunya pria yang pernah menyentuhnya. Tanpa sadar Dila mendesah. ******* Dila membuat Richie menggila. Ia tidak bisa berhenti sekarang. Richie sudah lama tidak menyentuh seorang wanita. Kejantanannya memberontak di bawah sana.
"Dila, bolehkah aku...?" mata Dila yang tadinya terpejam sekarang terbuka lebar. Ia menginginkan Richie. Tapi ia juga takut melakukan kesalahan. Bagaimana nanti jika Richie meninggalkannya. Tapi ia percaya dengan cinta Richie.
"Tapi..aku belum pernah.." ucap Dila gugup. Richie mendadak kembali ke sadarnya. Ia mengambil beberapa helai tissue dan berlari ke arah toilet di luar. Melepaskan hasratnya di sana. Ia tidak bisa menahannya lagi. Tapi ia juga belum berani menyentuh Dila lebih dari tadi walaupun ia sangat ingin melakukannya.
Saat Richie kembali, ia menemukan Dila sedang berbaring menghadap luar tenda. Richie ikut berbaring dan melingkarkan tangannya di pinggang Dila.
"Maaf, aku tadi hampir tidak bisa menahannya lagi." ucap Richie malu. Dila pun merasakan malu yang tidak kalah besar karena ia juga tadi sangat menginginkannya. Siapa yang tidak tergoda untuk melakukan hal itu dengan orang yang kita cintai. Dila bersyukur Richie masih bisa menahannya. Dila membalikkan badannya.
"Makasih ya Richie, kamu sudah menjagaku. Aku berharap nanti kamu yang akan jadi yang pertama untukku." Dila membelai wajah Richie.
"Pertama dan satu-satunya untukmu. Walaupun kamu bukan yang pertama untukku, tapi aku pastikan kamu yang terakhir Dila." Richie mencium mata indah itu.
"Kamu ga lepasin softlens sayang?" tanya Richie lagi.
"Aku ingin menikahimu secepatnya Dila." Richie memeluknya hingga Dila perlahan tertidur. Ya, ia akan meyakinkan mamanya sekali lagi. Dan setelah itu Richie akan menikahi Dila dengan ataupun tanpa restu mamanya.
*****
"Halo Dila, Om sudah dapat salinan sertifikat tanah dan rumahmu. Sepertinya Bram mau proses balik nama dari almarhum papamu ke namanya. Mungkin dia tidak menyangka kamu akan kembali. Kemarin dia konsultasi sama Om, dia lagi mencari oknum notaris yang dapat membantunya." Ivan menelepon Dila seminggu setelah pertemuan mereka.
"Asuransi jiwa bagaimana Om?"
"Itu sudah dicairkan ketika kamu berumur tujuh belas tahun kemarin. Entah bagaimana itu bisa cair ke tangan Bram. Om masih menyelidikinya. Kalau mobil, Om rasa sudah tidak mungkin Dila. Lagian mobil kan mengalami penyusutan tiap tahun dan lebih mudah diperjualbelikan." Dila juga tidak berharap lagi mobil orang tuanya akan kembali.
"Iya, Dila ngerti Om. Dila mohon Om bisa bantu Dila semampu Om. Cuma Om Ivan harapan Dila."
__ADS_1
"Pasti, nanti Om kabarin lagi. Apa Dila keberatan jika Om bantu melaporkan ini ke polisi? Om Ivan punya kenalan. Tapi dengan risiko paman kandungmu sendiri akan dipenjara jika terbukti bersalah." Dila ingin sekali menjawab langsung bahwa ia tidak keberatan. Tetapi jawabannya akan menentukan nasibnya kelak.
"Dila..akan memikirkannya dulu Om." ia masih ragu. Dila juga takut jika Ivan akan terkena masalah jika sudah berhubungan dengan polisi.
"Baiklah. Kamu jangan ragu karena Om ya. Yang bersalah memang harus mendapatkan sanksi. Salam untuk Vio." Ivan memutuskan panggilannya.
Dila menatap layar komputernya, mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tersisa di akhir minggu ini. Banyak pekerjaan yang tertunda karena urusan pribadinya. Satu per satu karyawan sudah mulai pulang. Dila melihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 18.10. Richie juga masih di dalam. Sedikit lagi pekerjaan Dila selesai, lalu ia akan mengajak Richie untuk pulang. Samar-samar Dila mendengar suara heels wanita. Tok..tok..tok..
"Jadi ini pekerjaan kamu tiap hari? Sengaja pulang malam biar bisa ngerayu bos kamu di saat karyawan lain sudah pulang?" Hannah menghampiri meja Dila.
"Bu Hannah?" Dila terkejut. Ia memundurkan kursinya dan berdiri.
"Aku kira kamu cewek lugu, ternyata rencana kamu licin juga ya. Nih biar tambah licin." Hannah mengambil gelas berisi air di atas meja dan menyiramnya ke wajah Dila. Dila terkejut. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Maaf.." Hanya itu yang bisa Dila katakan.
"Harusnya kamu yang minta maaf Hannah. Apa yang sudah kamu lakukan itu sangat kelewatan." teriak Richie. Ia mengambil beberapa helai tissue dan membantu Dila mengeringkan wajahnya.
"Aku tidak apa-apa Pak." ucap Dila pelan.
"Sudah deh, tidak usah akting sampai kasihan begitu. Aku tahu Richie tidak mungkin kembali lagi sama aku. Tapi aku masih tidak bisa terima kalau kamu pilih dia, Richie. Setidaknya kamu cari donk yang lebih baik dari aku." Hannah berteriak.
"Cukup Hannah. Kamu tidak perlu mengatur dengan siapa aku berhubungan sekarang. Yang pasti aku sudah menemukan wanita yang aku cintai. Dan itu adalah Dila. Aku ingin kita putus baik-baik. Maafkan jika aku banyak salah dengan kamu. Aku mohon kamu bisa menerimanya secara dewasa." Richie melunak, tetapi tindakan itu malah membuat Hannah menangis.
"Kamu jahat Richie. Jahat. Kamu tahu bagaimana aku sangat mencintaimu dua tahun ini." Hannah menangis. Richie mendekatinya, mencoba menenangkannya.
"Aku akan semakin membohongimu dan diriku sendiri jika aku terus meneruskan hubungan kita Han. Maaf." Richie memeluk Hannah, mungkin untuk yang terakhir kali. Dila tidak merasa cemburu. Sebenarnya ia sangat merasa bersalah kepada Hannah. Mungkin memang benar secara tidak langsung ia menyebabkan hubungan mereka tidak bisa diperbaiki lagi.
__ADS_1
Dila mematikan komputernya dan mengambil tasnya. Ia ingin membiarkan mereka berdua menyelesaikan semuanya. Richie melihat Dila turun ke bawah. Ia ingin mengejar Dila, namun pelukan Hannah yang begitu kuat dan tangisannya yang semakin menjadi membuat Richie tidak tega melepasnya. Bagaimanapun juga Richie ingin hubungan mereka benar-benar berakhir. Berakhir berarti Hannah menerima dengan lapang hati bahwa mereka sudah putus.