SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 22


__ADS_3

Dila membangunkan Vio jam 6 pagi. Semalam ia ingin menjelaskan ke Vio tentang keberangkatannya ke Jakarta pagi ini tetapi saat dia pulang Vio sudah tidur.


"Kenapa Kak? Hari ini kan ga sekolah, kok pagi banget bangunin Vio." Vio masih mengucek matanya.


"Kakak sejam lagi mau ke bandara. Ada perlu di Jakarta. Kak Dila menemukan om Bram. Kamu ingat dia?" Vio mengangguk.


"Kak Dila akan mengambil semua yang mama dan papa tinggalkan untuk kita. Kakak akan menghadapinya sekarang. Kak Dila tidak akan mengalah lagi Vio." Vio menangis. Selama ini ia tidak pernah mengingat dan mendengar nama Bram lagi.


"Vio takut Kak. Nanti Kak Dila kenapa-kenapa Vio harus gimana?" Vio memeluk kakaknya.


"Jangan takut. Kak Dila ga sendirian, Pak Richie temanin Kakak ke Jakarta. Kami...berpacaran sekarang." Dila tersenyum.


"Haaahhh? Yang benar Kak? Selamat ya Kak..Dari dia ke rumah kita sebenarnya Vio sudah curiga dia punya perasaan sama Kak Dila." Vio terlihat sangat senang mendengar kabar itu.


*****


Richie menjemput Dila sejam kemudian. Ia akan memarkirkan mobilnya di bandara nanti.


"Dress itu cocok untukmu." Richie mengagumi pilihan bajunya untuk Dila. Gaun selutut berwarna hijau lumut. Dihiasi belt berwarna silver. Sederhana namun cantik dipakai Dila.


"Kamu memilihnya sendiri?" tanya Dila.


"Sebenarnya aku meminta masukan dari Vicky. Tapi aku yang memilih ukurannya. Aku membayangkan lingkar tubuhmu saat memelukmu. Pas kan?" Mereka tertawa. Dila mengabarkan bahwa ia akan ke Jakarta bersama Richie ke Chris. Chris tentu saja kecewa, namun ia turut berbahagia dengan hubungan mereka. Dila tidak menceritakan soal hubungannya dengan Richie, namun Chris bisa membacanya. Bagaimana Richie sering terlihat cemburu jika Chris mendekati Dila. Atasan mana sih yang mau menemani bawahannya ke luar kota untuk urusan pribadi jika tidak ada hubungan khusus.


Mereka dijemput oleh Vicky. Richie akan meminjam mobil Vicky dua hari.


"Kak Richie!! Di sini." panggil Vicky. Ia melihat Dila, asisten kakaknya berjalan di sebelah Richie.


"Kak, baju kemarin untuk dia?" bisik Vicky. Richie mengangguk ke Vicky yang semakin terlihat bingung. Richie belum menceritakan soal hubungannya ke Vicky. Ia tahu sedekat apa Vicky dengan mamanya. Richie tidak mau emosi mamanya memanas lagi setelah ia dan Hannah putus. Richie melajukan mobilnya ke rumahnya untuk mengantar Vicky.


"Vicky, ingat ya. Jangan kasih tau mama kalau Kak Richie ke Jakarta. Kakak pusing kalau dikaitkan sama Hannah lagi. Ok?" Richie mengacak rambut Vicky. Ia tahu adiknya bisa dipercaya jika sudah diingatkan. Vicky menurut walau dia kesal melihat kakaknya yang putus dengan Hannah tapi malah memilih Dila. Richie meminta Dila untuk pindah ke sebelahnya yang tadi ditempati Vicky.


"Sepertinya dia kurang suka sama aku." Dila tahu dari sikap Vicky yang dari tadi tidak terlihat bersahabat.

__ADS_1


"Dia hanya belum mengenalmu lebih dekat. Jangan terlalu diambil hati ya." Richie menggenggam tangan Dila. Mereka langsung menuju ke kantor Ivan.


Dila tidak terlalu mengingat bagaimana wajah Ivan. Namun Dila yakin karena Richie menyebut nama Bramantio sebagai orang yang mengenalkannya ke Ivan. Ivan langsung mengiyakan bahwa ia mengenal Bram.


"Selamat siang Pak Ivan, saya Richie." Mereka bersalaman.


"Selamat siang Pak Richie. Ini istri Bapak?" tanyanya sambil menjabat tangan Dila. Dila melihat pria berusia kurang lebih 50an tahun. Samar-samar ia mulai mengingatnya.


"Saya Ardila Cintania. Keponakan Bramantio. Bapak ingat?" tanya Dila. Ivan tampak mengerutkan keningnya, mencoba mengingatnya.


"Kamu putri almarhum...Deryanto Firdaus?" Ivan seakan takut menyebut nama itu. Nama yang menghantuinya selama ini.


"Maafkan om Ivan, Ardila. Om terpaksa." Dila terkejut dengan Ivan yang mendadak berlutut di depannya. Ia bahkan belum mengatakan tujuannya datang ke sana.


"Berdiri Om Ivan. Dila bahkan belum mengatakan apa-apa." Dila membantu Ivan berdiri.


"Om tahu Dila. Bahkan Om sudah menunggu kamu untuk datang." Mata Ivan terlihat memerah. Dila melihat penyesalan yang mendalam di matanya. Mereka duduk di sofa sederhana di ruangan itu.


"Om Ivan tahu kan apa yang sudah diambil Bram dari Dila dan Vio? Om Ivan tahu dia selalu menyiksa kami?" tanya Dila. Ia berusaha untuk menahan air matanya. Tetapi setiap ia teringat masa kecilnya dengan Vio, sakit itu masih tetap terasa.


"Ya, Om. Dia menyiksa kami. Kami sering kelaparan, kami dikurung. Bahkan Dila ingat, Dila pernah demam tiga hari terkurung dalam gudang." Dila tidak bisa lagi membendung tangisannya. Semua sakit yang dulu dikuburnya seakan baru terjadi kemarin. Masih jelas di ingatannya. Richie memeluknya, mencoba menenangkannya.


"Itulah alasan Dila mengajak Vio lari dari rumah." ucap Dila lagi.


"Om waktu itu pernah kembali ke sana untuk mengembalikan uang dari Bram dan meluruskan warisan kalian. Namun dia bilang kalian disekolahkan di luar kota. Dia juga mengancam akan membeberkan bahwa Om menerima suap. Om takut akan kehilangan pekerjaan. Putri Om juga masih membutuhkan banyak biaya untuk berobat. Maafkan Om." Ivan menunduk.


"Om pernah menanyakan keberadaan kalian saat usiamu hampir tujuh belas tahun. Saat itu Om baru tahu bahwa kamu dan Bram sudah putus hubungan. Dia berkata kamu yang memutuskan dan tidak akan pernah mengungkit warisan lagi karena Bram sudah memberimu setengahnya." Ivan menjelaskan apa yang ia dengar dari Bram. Dila tertawa keras dalam tangisnya. Tidak percaya dengan skenario yang dibuat Bram.


"Hahaha...Setengah Om? Bram bilang setengah? Bahkan sebutir nasipun tidak dia berikan saat kami keluar dari rumah itu. Itulah alasan Dila ke sini Om. Tolong bantu Dila mengambil semua yang menjadi hak Dila dan Vio." Dila memegang tangan Ivan yang tampak berkeriput.


"Pasti Dila, setidaknya hanya ini yang bisa Om lakukan untuk menebus dosa Om. Dan ini sebagai tanda terima kasih Om karena nyawa anak Om yang bisa diselamatkan dengan mengorbankan kalian." Sekarang giliran Ivan yang mulai menangis.


Ivan berjanji akan menemukan bukti kuat untuk menggugat Bram. Ia menuliskan beberapa harta peninggalan orang tua Dila yang tersimpan di file komputernya. Surat waris yang asli berada di tangan Bram. Dila membacanya di mobil bersama Richie.

__ADS_1


Satu unit rumah di Jalan Matahari no 472 Jakarta Utara


Satu unit rumah di Jalan Utara no 23 Yogyakarta


Satu unit vila no 12 Puncak Bogor


Tiga unit mobil atas nama Deryanto Firdaus


Sebidang tanah seluas 110 hektar di Wonogiri Timur


Asuransi jiwa atas nama Deryanto Firdaus dan Cassandra Brian senilai Rp 4,5 Milyar


Dila tidak menyangka semua itu diambil oleh Bram. Dila bahkan baru mengetahui harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya sebanyak itu. Dulu saat Dila mengetahui mereka meninggal karena kecelakaan, Bram datang seolah ingin melindunginya dan Vio. Dila ingat saat mereka sudah tinggal dengan Bram, Vio merengek ingin makan burger, dan Bram bilang mereka tidak bisa membelinya karena tidak memiliki uang.


Tiba-tiba Dila teringat mereka sempat pindah ke Yogyakarta sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan rumah bunga matahari di lukisan adalah rumah mereka sebelumnya. Ia melihat lagi alamat rumah di kertas tadi. Jalan Matahari no 472 Jakarta Utara.


"Richie, bisa kita ke alamat sini?" Richie menjawabnya dengan satu kecupan di kening Dila. Richie memang telah berniat meluangkan semua waktunya hari ini dan besok untuk Dila. Itu salah satu alasan Richie tidak mau mamanya mengetahui keberadaannya di Jakarta.


Mereka sampai di Jalan Matahari sejam kemudian. Samar-samar Dila mulai mengingatnya. Sepanjang jalan itu ditumbuhi bunga matahari, itulah mengapa dinamakan Jalan Matahari. Itu cerita mamanya dulu. Ternyata itu masih menjadi ciri khas jalan itu sampai sekarang. Nomor 469.470.471. Dan ini 472. Jantung Dila berdegup kencang. Ia gugup. Tanpa Dila sadari, Richie sudah turun membukakan pintu mobil Dila. Kaki Dila seakan berat untuk turun. Ia terus menatap rumah megah di depannya. Richie menggandengnya, membangkitkan kesadaran Dila. Dila melihat rumah itu, mencoba membandingkannya dengan lukisan mamanya. Tidak banyak yang berubah. Mungkin warna cat nya yang sedikit beda, bunga matahari yang tidak sebanyak di lukisan, namun masih ada. Kursi teras yang lebih modern dibandingkan miliknya dulu.


"Maaf, kalian cari siapa ya?" seorang wanita berusia 40an tahun menyapa mereka sambil memegang sebuah sapu lidi.


"Oh, cuma mau lihat-lihat rumah saja, Bu. Apakah ini rumah Ibu?" tanya Dila.


"Oh bukan, rumah majikan saya. Tapi dia juga hanya sewa, dia jarang pulang." Dila mengangguk. Jika orang di rumah ini masih menyewanya, ada kemungkinan Bram belum menjualnya.


"Baiklah, saya permisi Bu." Mereka masuk kembali ke mobil.


"Sekarang kita kemana Dila?" tanya Richie.


"Kita di sini saja dulu ya. Aku...masih sangat merindukan mereka." Dila hanya terdiam, menatap rumah itu. Seperti ada film yang berputar di otaknya. Ia telah menghabiskan dua belas tahun sia-sia. Dua belas tahun masa muda yang dilewatkannya hanya untuk mencari cara bertahan hidup. Sakit yang dirasakannya tidak akan bisa dimengerti oleh siapapun.


"Yuk kita makan siang Richie." Dila tersenyum setelah tiga puluh menit ia terdiam. Merasa semangatnya kembali setelah bertemu orang tuanya di dalam dunia khayalnya. Richie senang melihat Dila yang kembali ceria. Ia berjanji akan membuat Dila bisa ceria seperti Cinta karena menjadi Cinta adalah impian Dila.

__ADS_1


*****


__ADS_2