
"Sayang. Kamu mau ke galeri? Perutmu sudah besar begitu. Dokter bilang kan kamu akan melahirkan minggu ini." kata Richie sehabis mandi.
"Aku mau ngecek lukisan mama. Besok kan pameran sudah mulai." Dila memasukkan beberapa pakaiannya dan pakaian bayi berwarna merah muda ke dalam sebuah tas besar. Persiapan jika ia harus mendadak melahirkan.
"Aku ikut ya. Jam berapa ke sana?" tanya Richie sambil memakai kemeja kerjanya.
"Jam sepuluh."
"Yaaah..Jam satu siang ya. Jam sepuluh aku ada meeting." Richie membantu Dila menutup tas yang penuh itu.
"Ga bisa, jam nya ya segitu, nanti kan ada briefing sebentar. Aku sama Pak Wahyu juga kok. Tidak apa-apa sayang." Dila membelai wajah suaminya.
"Habis meeting aku hubungin kamu ya. Kalau kamu masih di galeri, aku nyusul ke sana." kata Richie. Dila memakaikan dasi Richie. Ia lebih suka memilih semua yang akan dipakai suaminya.
Richie pergi ke kantor setelah mencium Dila dan perut besarnya. Ia begitu bersemangat setelah mengetahui anaknya adalah seorang perempuan. Mereka sudah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk bayinya. Namun Dila ingin enam bulan pertama anaknya tidur di kamar mereka karena akan diberikan asi eksklusif.
Dila begitu bersemangat hari ini. Ia berhasil mengumpulkan sembilan lukisan mamanya. Enam dari Bram dan tiga lagi ia dapat dari pembeli yang berhasil ia beli kembali. Dua dari tiga lukisan itu ternyata dibeli oleh teman mertuanya, Andirawan. Sungguh sebuah kebetulan yang mempermudah jalannya.
Dila sampai ke galeri. Pak Wahyu membantunya mengecek lukisan yang akan dipamerkan. Ia sudah mengganti semua bingkai lukisan itu dengan yang baru. Galeri itu terbagi menjadi dua ruangan, satu pameran lukisan, dan satunya pameran fotografi. Ternyata briefing yang dimaksud hanyalah melakukan registrasi ulang lukisan atau foto yang akan dipamerkan. Nama penanggung jawab, judul lukisan atau foto, dan beberapa identitas lainnya.
Dila berkeliling melihat-lihat banyak sekali lukisan menarik di sana. Tidak terlalu ramai di sana karena galeri belum dibuka untuk umum. Ia lanjut menuju ke bagian fotografi. Banyak sekali foto-foto indah di sana. Berbagai macam aliran foto ada di sana. Dari jauh ia melihat sebuah foto besar wajah perempuan cantik. Ia mendekat. Ternyata foto kolase itu terbentuk dari banyak sekali foto-foto kecil yang dibentuk dengan menggabungkan pola warna yang sama. Sungguh indah. Namun ia tidak bisa melihat foto-foto berukuran mini tersebut dikarenakan ada pembatas yang melarang pengunjung terlalu dekat. Dila membaca judul lukisan itu "Tutto su di te". Ia bingung dengan artinya.
"All about you. Semua tentang kamu. Itu artinya." jelas seorang pria. Dila menoleh ke sebelahnya.
"Mario?" Dila terkejut. Ini pertemuan pertamanya sejak enam bulan lalu Mario dioperasi.
"Kamu istri Richie kan?" tanyanya. Dila mengangguk.
__ADS_1
"Judul lukisan ini, dari mana kamu tahu artinya?" tanya Dila.
"Itu bahasa Italia. Aku yang membuatnya." Dila melihat nama pembuat karya itu. Mario Vincentio. Ia tidak membacanya tadi.
"Kamu apa kabar?" tanya Dila. Ia melihat Mario yang sudah terlihat sehat. Ia memakai topi kupluk abu-abu gelap untuk menutupi rambutnya yang belum tumbuh panjang seperti sebelumnya.
"Baik. Aku baru bertemu Richie minggu lalu." jawabnya. Mario memandang Dila sangat dalam sedalam rindunya. Dila masih cantik seperti biasa, tidak terlalu gemuk untuk ukuran ibu hamil. Dila hanya mengangguk. Ia bingung harus berbicara apa dengan Mario. Kenyataan bahwa Mario tidak bisa mengingatnya membuat mereka seperti dua orang asing.
"Sudah berapa bulan?" Mario menunjuk ke perut Dila.
"Sembilan. Sudah hampir melahirkan. Tapi mudah-mudahan bukan di sini." Mereka tertawa.
"Kok kamu bisa ke sini? Bukannya hari ini belum dibuka untuk umum?" tanya Mario.
"Oh, aku membawa lukisan mamaku dulu." jawab Dila.
"Iya, dulu. Sebelum ia meninggal."
"Oh maaf." Mario menatap Dila.
"Tidak apa-apa. Beliau dan papa sudah meninggal jauh sebelum kita kenal." jawab Dila. Ia menyesali perkataannya yang terakhir. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia dan Mario pernah akrab sebelumnya.
"Aku permisi dulu." kata Dila canggung. Ia memilih untuk ke kantor Richie karena urusannya di sana sudah selesai.
"Baiklah. Hati-hati." Mereka berpisah di sana.
Tanpa Dila sadari, mata Mario terus melihat ke arahnya. Dan ketika ia tidak bisa melihatnya lagi, Mario malah mendengar teriakan Dila. Ia berlari keluar mencari asal teriakan itu. Dila sedang berlutut. Lantai di bawahnya basah.
__ADS_1
"Tolong." pinta Dila saat Mario berada di dekatnya.
"Cinta, kamu kenapa? Cinta?" Dila mengernyitkan keningnya. Namun ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Sepertinya ketubanku pecah." Mario buru-buru menggendongnya keluar. Pak Wahyu terkejut melihat majikannya yang digendong seorang pria.
"Kita ke rumah sakit." ucap Mario kepada Pak Wahyu.
Richie datang ke rumah sakit segera setelah Mario meneleponnya. Ternyata Dila harus dioperasi cesar karena ia pingsan akibat tekanan darahnya yang cukup rendah.
"Istrimu di dalam. Tadi dia pingsan saat perjalanan ke sini. Dokter sedang mengoperasinya." jelas Mario.
"Bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Richie.
"Kami tadi bertemu di galeri. Aku ada pameran di sana." jawab Mario. Ia ingin tetap tinggal di sana karena mengkhawatirkan Dila.
"Terima kasih atas pertolonganmu. Aku sudah berpesan padanya untuk tinggal di rumah. Tapi dia tetap ngotot ingin mengurus semuanya sendiri." Richie mengendorkan dasinya. Ia merasa sesak karena khawatir dengan istrinya. Tidak berapa lama dokter keluar.
"Maaf, yang mana suaminya?" tanya dokter saat melihat Richie dan Mario sama-sama berdiri. Richie pun maju mendekati dokter itu, sementara Mario terdiam di tempat ia berdiri.
"Selamat Pak. Istri dan anak Bapak sehat. Anaknya perempuan." Richie tertawa bahagia. Ia memeluk Mario yang juga tersenyum bahagia.
"Selamat Richie. Kamu sudah jadi seorang ayah sekarang." Seorang ayah dari anak yang dilahirkan oleh wanita yang kucintai, pikir Mario.
"Terima kasih." Richie mengabari kedua orang tuanya. Kemudian ia mengikuti perawat yang mengantar Dila ke kamar pasien. Dila masih belum sadar dari pengaruh obat biusnya. Mario hanya bisa melihatnya dari jauh sampai akhirnya ia membalikkan badan dan pergi dari sana.
'Haruskah aku mundur sekarang?' pikir Mario. Selama enam bulan ia tidak melihat Dila, hanya rindu yang dirasakannya. Tetapi setelah bertemu Dila sekarang, bukan hanya rindu, ia merasa tersiksa tidak bisa memeluknya atau hanya sekedar memegang tangannya. Mario merasa ia harus mengambil keputusan sekarang.
__ADS_1
*****