SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 33


__ADS_3

"Apaa? Alva? Dia yang ikutin kamu kemarin?" Dila terkejut. Ia baru pulang siaran dijemput Richie.


"Iya Kak. Dia mau ketemu Kak Dila." jawab Vio.


"Kalian membicarakan siapa sih?" tanya Richie. Dila menjawab pertanyaannya tadi.


"Terus Martha di mana?" tanya Dila.


"Martha siapa Kak?" Vio tidak ingat, masa kecilnya terlalu suram untuk diingat.


"Kakaknya Alva lah." Martha sepupu seumur dengan Dila. Orang tua Dila memang menikah dua tahun baru bisa dikaruniai anak. Martha sering bersikap jahat kepada Dila dan Vio. Ia selalu menjadi penyebab Nancy menghukum Dila dan Vio. Cuma Alva yang sering membela mereka di rumah itu walaupun ucapannya tidak pernah didengar oleh kakak dan ibunya.


"Alva ada kasih nomornya. Dia minta Vio menghubunginya kalau Kakak mau ketemu."


"Besok. Jam makan siang. Lebih cepat lebih baik. Kakak mau tahu apa maunya." Dila sudah menutup pintu maaf untuk mereka. Belum lagi kasus Bram selesai, Nancy malah mencoba membunuhnya.


"Aku ada kabar baik." kata Richie.


"Mama sudah merestui kita Dila. Tadi papa telepon. Dan aku juga sudah menelepon balik mama. Sudah beres. Kita bisa menikah Dila." Richie tersenyum menatap Dila yang masih terbengong mendengar kabar itu.


"Masa? Secepat itu mama memberi restu?" ucapnya tidak percaya.


"Iya benar. Memang cuma papa yang bisa menaklukkan mama. Kita tinggal mencari tanggal baik. Kita menikah di Jogja saja. Di Sky." Richie memegang tangan Dila. Dila mengangguk tersenyum.


"Eheeem..eheemm...Jadi nyamuk deh Vio." Vio pura-pura ngambek. Namun dia langsung teriak kegirangan memeluk mereka berdua.


Vio sangat bahagia mendengar berita itu. Tidak ada yang lebih mengharapkan kebahagiaan Dila selain Vio, adiknya. Hanya Vio yang tahu betapa menderita hidup kakaknya. Hancur dan terpuruk saat mereka masih sangat kecil. Bangkit dan berjuang dengan mengorbankan masa mudanya. Kini sudah ada Richie yang melindungi mereka berdua. Vio bisa melihat cinta yang begitu besar dari Richie untuk Dila. Ya, Dila pantas mendapatkannya. Lebih dari pantas karena Dila adalah wanita terhebat yang Vio kenal.

__ADS_1


"Kok kamu yang nangis sih Vio?" Dila memeluk adik kecilnya. Dila berjanji tidak akan meninggalkan Vio walaupun ia sudah menikah. Dila sangat bahagia ia akan menikah dengan pria yang sangat dicintainya sejak dulu. Ia sangat mengharapkan restu dari kedua orang tua Richie. Dila ingin merasakan memiliki keluarga yang utuh. Cinta dari kedua orang tua walaupun itu dari mertuanya.


Richie melihat dua wanita di depannya sedang berpelukan. Richie berjanji akan menjaga Vio setelah dia menikah nanti. Menjaga kebahagiaan Dila adalah tugasnya sekarang. Cintanya ke Dila adalah anugerah bagi Richie. Di saat ia berpikir cinta tidak akan datang lagi di hidupnya, Dila datang tanpa menawarkan apapun untuknya. Cinta tanpa syarat apapun. Dan Richie tidak pernah memberi tahu Dila bahwa ia sebenarnya menyukai Cinta terlebih dahulu. Berpikir alangkah menyenangkannya memiliki kekasih seperti Cinta. Dan Tuhan pun melengkapi kebahagiaan Richie ketika Dila yang ia cintai pada akhirnya ternyata adalah Cinta. Memang kita tidak perlu membatasi cara kita mencintai seseorang, semua yang terjadi pastilah akan datang dengan cara terindah.


*****


Dila, Richie, dan Vio turun ke restoran di lantai bawah Sky jam 6 sore. Richie ingin mereka bertemu dengan Alva di sana. Lebih aman. Ia tidak mau Dila dijebak mereka. Sudah cukup Dila pernah terluka bahkan hampir mati jika peluru Nancy tidak meleset.


"Kak, itu Alva." bisik Vio. Ia menunjuk ke seorang pria yang memakai jaket jeans biru yang duduk menghadap mereka. Pria itu berdiri dan tersenyum melihat kedatangan Vio dan dua orang lagi di sampingnya.


"Hai, Vio. Kak Dila?" Alva tersenyum dan mengulurkan tangannya ke Dila. Walaupun Dila enggan tapi dia menerimanya.


"Aku Alva." ucapnya ke pria sebelah Dila.


"Richie."


"Kak Dila. Maaf aku baru bisa menemui kalian sekarang. Aku ingin meminta maaf tentang semua yang dilakukan mama dan papa. Pasti berat untuk Kak Dila dan Vio memaafkan mereka. Tapi aku tetap merasa harus minta maaf." Alva menunduk malu. Richie mendengarnya dari meja sebelah. Ia memilih memberikan privasi untuk mereka bertiga.


"Aku tidak bisa memaafkan mereka begitu saja. Mamamu hampir saja membunuhku. Aku tahu kamu tidak pernah berniat jahat pada kami. Setidaknya itu yang aku ingat saat masih kecil." Dila memang mengingat Alva yang berbanding terbalik dengan Martha kakaknya.


"Iya, aku mengerti. Kak Dila mau menemuiku saja aku sudah sangat berterima kasih." Alva tersenyum. Sungguh ia sangat malu dengan kejadian itu. Ia tidak bisa berharap banyak bahwa Dila akan mencabut tuntutannya. Apalagi setelah ia melihat tempat tinggal Dila dan Vio, sungguh berbeda dengan yang kehidupan keluarganya selama ini. Mereka menikmati sesuatu yang seharusnya menjadi hak anak yatim piatu. Sungguh memalukan.


"Oh itu Kak Martha." Dila enggan untuk menoleh. Tapi ia penasaran dengan sosok Martha yang sekarang. Seorang perempuan dengan tubuh tinggi langsing, rambut coklat kemerahan, cantik tapi agak norak menurut Dila.


"Hai Dila, Vio. Kalian tidak banyak berubah ya." Dan gaya bicara yang masih sangat mengesalkan. Tambah Dila dalam hatinya. Dila hanya tersenyum paksa.


"Maaf, aku baru sampai tadi siang. Jadinya aku menginap di sini karena Alva bilang kalian mengajak bertemu di sini." Martha mengibaskan rambut panjangnya.

__ADS_1


"Kak Martha." Alva seperti mengingatkan maksud mereka ke sana.


"Oh, Dila, Vio. Aku minta maaf ya atas perbuatan orang tuaku. Aku menyesal ini terjadi kepada kalian. Aku harap kamu dapat mencabut tuntutanmu. Bagaimanapun juga kita kan keluarga." Martha berkata tanpa ada sedikitpun raut wajah menyesal, membuat Dila naik pitam.


"Keluarga? Keluarga kamu bilang? Sejak kapan kalian menganggap kami keluarga?" Dila berusaha menahan suaranya agar tidak mengganggu tamu restoran yang lain.


"Kamu lupa kami ajak kalian tinggal di rumah kami saat orang tuamu meninggal dulu?" ucap Martha. Dila mengepalkan tangannya. Vio mengelus lengan kakaknya.


"Sudah donk Kak Martha. Kita kesini bukan untuk membahas itu." kata Alva.


"Anggap itu sudah impas dengan penyiksaan kalian dulu terhadapku dan Vio. Kasus penipuan dan percobaan pembunuhan tidak akan aku tarik." Dila berucap dengan pasti. Ia berdiri dan berniat meninggalkan meja itu.


"Tunggu donk. Aku belum selesai." Martha menarik lengan Dila.


"Auuuwww..." Dila berteriak saat lengan kanannya ditarik Martha. Martha terkejut. Ia tidak terlalu keras menarik tangan Dila. Dila terlalu mengada-ada menurutnya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Richie langsung mendekati Dila yang terlihat kesakitan.


"Richie? Kamu Richie kan?" Martha mendekati Richie untuk melihat wajahnya dari dekat. Kemudian ia memeluknya erat.


"Akhirnya kita ketemu lagi. Dulu waktu kamu tiba-tiba hilang di Amerika aku cari kamu tahu ga. Kok ga kabarin aku sih?" Richie melepas paksa pelukan itu. Dila dan yang lainnya tampak kaget dengan adegan itu.


"Maaf kamu siapa ya?" tanya Richie heran. Amerika? Itu kan waktu dia kuliah dulu.


"Martha Firdaus. Kamu lupa?" Richie masih bingung.


"Kamu lupa dengan gadis yang kamu tiduri di Amerika dulu?" bisiknya ke telinga Richie. Richie terkejut bukan main. Ia hanya pernah melakukan hal itu dua kali. Satu dengan perempuan bule teman kuliahnya dulu. Dan satu lagi perempuan Indonesia yang dia temuin di bar. Richie mendengar Airin sudah menikah, lalu ia mabuk karena ingin melupakan Airin. Astaga. Perempuan itu Martha?

__ADS_1


__ADS_2