
"Jangan lupa makan siang ya Han." pesan singkat dari Jeno. Hannah selalu menyempatkan untuk membalas setiap pesan Jeno.
"Sudah masuk ke perut." Jeno tersenyum membaca balasan pesan dari Hannah. Ia lagi merasakan kasmaran tingkat tinggi. Ia tidak berani berharap banyak. Hannah membalas pesan atau menjawab teleponnya saja sudah cukup. Biasanya Jeno yang selalu dikejar para wanita. Tapi sekarang? Bahkan hanya dengan satu pesan biasa ia bisa tersenyum sendiri. Tapi Jeno akan lebih berusaha lagi agar bisa mendapatkan hati Hannah. Namun ia tidak mau terburu-buru. Jeno tahu Hannah butuh waktu untuk melupakan Richie. Ia sangat bersyukur hadir di hidup Hannah di saat yang tepat sehingga Jeno tidak perlu menjadi orang ketiga. Sebenarnya jarak Yogyakarta dan Jakarta tidak terlalu jauh. Besok adalah hari ulang tahun Hannah. Tidak sulit mencari biodatanya di internet. Tapi ia bingung mencari alasan yang tepat ke Jakarta. Jika ia tiba-tiba muncul di depan Hannah, bagus jika Hannah bahagia menyambutnya, jika tidak? Mungkin Jeno akan dianggap sebagai penguntit.
"Apakah boleh aku kangen?" Jeno memberanikan diri mengirim pesan itu ke Hannah. Sungguh ia merindukan Hannah. Rindu itu sakit jika yang dirindukan tidak mengharapkannya. Jeno menunggu satu menit belum ada jawaban. Ting. Akhirnya.
"Jika kangen bisa membuat kita dekat kenapa tidak." Kening Jeno berkerut. Apakah itu berarti boleh? Jeno takut salah. Ia membaca kalimat itu berulang-ulang. 'Hannah ingin dekat denganku juga?' Pikir Jeno. Jeno tidak membalas pesan itu. Ia malah menelepon Dila, meminta bantuannya untuk sesuatu.
Hannah menyesal dengan jawaban yang dikirimnya ke Jeno. Apakah ia terlalu cepat mengiyakan perasaan Jeno? Jelas Jeno tadi secara langsung mengatakan kangen ke Hannah. Dan dengan bodohnya Hannah menjawab ia ingin lebih dekat dengan Jeno. Dan sekarang Jeno tidak membalas pesannya lagi. 'Bodoh. Bodoh. Harusnya aku jual mahal sedikit.' sesal Hannah. Jeno memang tipe pria yang sangat mudah disukai oleh kaum hawa. Ganteng pastinya. Humble. Mandiri. Dan satu lagi, Jeno adalah pahlawan bermotor Hannah.
Hannah pulang ke apartemennya pukul setengah satu malam sendirian. Billy langsung pulang dari lokasi syuting. Selesai memarkirkan mobilnya, ia menuju pintu masuk. Dari jauh ia melihat sosok yang ia kenal. Jeno sedang duduk di kursi taman memeluk sebuah boneka beruang putih yang cukup besar juga sebuket bunga. Ia sedang menunduk seperti sedang menunggu seseorang. Hannah mendekatinya.
"Jeno?" Jeno mendongak. Ia langsung berdiri setelah melihat Hannah di depannya.
"Hannah? Selamat ulang tahun." Ia menyerahkan bunga dan boneka yang dibawanya untuk Hannah.
"Kamu...datang dari Jogja untuk ini?" tanya Hannah sambil menerimanya. Jeno bingung menjawab pertanyaan itu.
"Maaf..apa aku mengganggumu?" tanya Jeno. Kepercayaan dirinya seketika runtuh. Hannah tersenyum.
"Naiklah Hannah, kamu pasti lelah. Aku...permisi dulu." Jeno hendak berbalik pergi.
__ADS_1
"Tidak ada makan malam?" tanya Hannah. Jeno menatapnya.
"Mau makan malam denganku?" tanya Jeno pelan.
"Tentu. Sebenarnya aku sangat lapar hahaha...Kita makan malam di luar ya, maaf aku tidak bisa mengundangmu ke apartemenku. Bisa banyak gosip nanti." Mereka tertawa.
Jeno mengajak Hannah makan malam di sebuah restoran di hotel yang buka 24 jam. Mereka memesan banyak makanan.
"Maaf, aku juga kelaparan. Pesawatku tadi landing jam 8. Aku langsung membeli kado untukmu, semoga kamu suka. Maaf aku belum tahu seleramu, jadi hanya boneka."
"Itu hadiah terindah. Terima kasih. Juga untuk birthday dinner ini. Biasanya aku menikmatinya sendiri, orang tuaku di Singapura. Oh iya, dari siapa kamu tahu alamatku?" tanya Hannah.
"Richie. Aku minta Dila menanyakannya."
"Terima kasih atas semuanya Jeno. Kedatanganmu ini membuatku bahagia." ucap Hannah di dalam mobilnya yang terparkir di halaman apartemen.
"Aku bahagia bisa melakukan ini di ulang tahunmu." Jeno tersenyum. Hannah mengecup pipi Jeno. Jeno memberanikan diri memegang tangan Hannah, bergerak mendekati Hannah. Jeno memegang ujung dagu Hannah dan mencium bibir Hannah yang indah. Hannah terkejut namun ia membalas ciuman itu. Ciuman singkat tapi sangat berarti untuk mereka berdua.
"Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku sangat menyukaimu." kata Jeno dengan jantung berdebar-debar.
"Aku juga menyukaimu, kita jalani saja dulu. Aku belum siap terikat hubungan lagi. Tapi aku sungguh menyukaimu." Hannah membelai pipi Jeno. Jeno mengangguk. Tidak sia-sia perjuangannya ke Jakarta. Besok pagi ia harus kembali ke Jogja dengan penerbangan pertama. Semua lelahnya terbayar, bahkan yang didapatnya lebih dari itu.
__ADS_1
*****
"Kak, mama masuk rumah sakit. Jantung mama kambuh." Vicky menelepon Richie. Richie menutup panggilan itu. Ia terdiam. Richie sedikit menyesali keadaan itu. Ini salah satu yang ia takutkan setiap Richie bertengkar dengan mamanya. Entah benar atau tidak tapi Richie merasa ia penyebab semua itu terjadi. Richie memanggil Dila ke ruangannya.
"Sayang, mama masuk rumah sakit. Sakit jantung." Richie membuka maskernya untuk menutupi sisa cacar yang masih ada di wajahnya.
"Maaf." Dila menutup mulutnya karena terkejut, ia duduk di depan Richie.
"It's ok... Aku belum memberitahumu bahwa mama ada penyakit jantung. Sebenarnya mama harus pasang ring, tapi ia menolak terus. Masih kuat katanya. Aku harus ke Jakarta sore ini. Kamu langsung ikut aku saja ya. Kan lusa juga jadwal ketemu om Ivan." Richie jadi teringat alasan dia tidak bisa memperjuangkan Airin dulu, itu karena penyakit jantung mamanya.
"Apakah mama sakit karena...hubungan kita?" Dila menebak.
"Aku tidak tahu. Aku juga tidak mau menutupi apapun darimu. Kita akan mencari jalan keluar untuk mendapat restu mama. Aku mungkin akan meminta bantuan papa. Kamu ikut ya sore ini?" Richie mengulang pertanyaannya tadi.
"Masih banyak pekerjaan, Sayang. Aku tidak enak ikut kamu bolos kerja terus. Kamu direktur, tapi aku kan karyawan sama kayak yang lain Richie."
"Ini perintah Dila, kamu asisten aku, berarti kamu berhak dan berkewajiban mengikuti kemanapun aku pergi. Ayolah Sayang, aku butuh kamu temanin aku. Lagian aku tidak mau kamu ke Jakarta sendirian besok. Cuma beda satu hari saja kok."
"Ya sudah. Kamu yang pesan tiket ya. Kita masih harus pulang mengambil barang." Dila akhirnya mengalah. Ia juga sebenarnya takut jika diajak ke rumah sakit menjenguk mama Richie. Dila menyesal pernah berkata sedikit kasar kepada mama Richie saat di telepon beberapa waktu lalu. Saat itu ia tersulut emosi. Bagaimanapun juga ia harus mendapat restu jika ingin kehidupan pernikahannya bahagia kelak.
Dila bahkan belum bercerita dengan Richie bahwa ia akan meminta bantuan polisi kenalan Ivan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Bram. Hanya sebagai penengah agar Bram tidak bertindak di luar kendali. Tadinya ia akan memberi tahu Richie hari ini, tapi melihat situasi sekarang ia takut akan menambah beban pikiran Richie.
__ADS_1
*****