SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 34


__ADS_3

"Kamu Martha yang itu?  Maaf aku tidak mengenalimu. Tapi aku rasa memang kita tidak memiliki hubungan apapun." Richie berbalik merangkul Dila hendak pergi dari sana. Martha menarik lengan Richie. Dila mendorongnya menjauh.


"Lepaskan tangan kamu dari calon suamiku." Richie terkejut Dila bisa melakukan hal itu. Ia senang Dila bersikap begitu. Richie akan jujur tentang semuanya dengan Dila. Nanti.


Martha shock dengan sikap Dila. Calon suami? Richie calon suami Dila? Martha tertawa tidak percaya dengan hal itu. Ia melihat mereka bertiga berjalan ke pintu restoran. Richie tampak masih merangkul Dila yang kesakitan.


"Kak Martha apa-apaan sih? Tangan kak Dila itu kan kena tembakan mama minggu lalu." Martha lupa dengan hal itu. Benar-benar lupa. Ia memanggil pelayan meminta bill tagihan makanan di meja itu.


"Sudah masuk ke tagihan pribadi Pak Richie semua Mba." kata pelayan itu.


"Pak Richie tamu hotel ini?" tanya Martha.


"Beliau pemilik hotel ini Mba. Bu Dila dan Vio juga tinggal di sini." katanya lagi.


"Ooohh...terima kasih Mba."


'Richie, akhirnya aku menemukanmu. Gila ya. Ada cowok ganteng gitu, tajir pula.' Martha tersenyum mengingat kejadian dulu.


Flashback enam tahun lalu.


Martha berkuliah di Amerika. Ini tahun pertamanya. Namun ia sudah sering hangout ke bar dengan teman-temannya. Kapan lagi bisa keluar menikmati dunia malam tanpa ocehan orang tuanya.


"Mar. Ada kakak tingkat yang sering kamu lihatin tu di kampus?" kata Nicole temannya.


"Mana?" tanya Martha. Nicole menunjuk ke meja depan bartender. Seorang pria tampan sedang duduk sendirian sambil meminum whisky. Ia sudah tampak setengah mabuk. Richie. Martha sering melihatnya di kampus. Memperhatikannya tepatnya. Setahunya Richie sedang mengambil gelar Master di sana. Martha mendekati Richie yang tampak berantakan itu.


"Hai. Kamu Richie yang kuliah di Harvard kan. Aku Martha." Martha mengulurkan tangannya. Richie tidak menyambutnya. Ia hanya diam.


"Aku temanin kamu minum ya.  Aku jarang melihatmu di sini." Martha memesan minuman keras untuknya. Richie masih tidak mengatakan satu hal pun. Ia hanya minum dan minum.


"Cukup donk minumnya. Kamu sudah mabuk." Martha menarik lengan Richie dan memapahnya keluar dari sana.


Martha memanggil taksi dan menuju ke apartemennya. Ia memapah Richie dengan susah payah ke kamarnya. Richie sudah setengah sadar. Martha membaringkannya di tempat tidur. Membuka kaos yang dipakai Richie.

__ADS_1


'Astaga ototnya.' Martha membelai wajah, leher, dan tubuh Richie.


"Airin..Airin.." Richie mengigau. Airin? Pasti dia yang membuat Richie jadi mabuk begini.


"Iya, Sayang. Ini aku Airin." Martha akan melakukan apapun agar Richie mau menyentuhnya. Benar saja. Ucapan itu membuat Richie membuka matanya.


"Airin, kamu di sini? Aku kangen kamu Airin. Jangan pergi." Richie memeluk Martha erat. Martha kegirangan. Ia memeluk Richie, pria yang disukainya sejak awal ia kuliah. Pria yang menjadi idola di kampusnya.


"Aku tidak akan pergi, Sayang." Martha mengecup Richie. Menciumnya dengan penuh nafsu. Sudah lama Martha tidak melakukannya sejak putus dengan kekasihnya di Indonesia. Richie balas menciumnya. Ia tidak menyangka Airin akan menciumnya. Richie sangat mencintai Airin sejak sekolah dulu. Tanpa sadar mereka berdua sudah tidak mengenakan apa-apa lagi. Martha sangat menikmati permainan Richie di ranjang. Terlihat bahwa Richie masih kurang berpengalaman, namun Martha menyukainya. Lembut, tidak kasar seperti pria lain yang menidurinya. Akhirnya mereka tertidur setelah permainan mereka selesai.


"Hei bangun. Siapa kamu?" Richie membangunkan seorang perempuan di sebelahnya. Martha terbangun dalam keadaan tidak mengenakan apapun. Tubuhnya hanya tertutup oleh selimut. Ia melihat Richie yang sudah berpakaian.


"Sudah bangun Sayang? Sini donk. Kita lanjut lagi." Martha berkata manja.


"Lanjut apaan sih? Kamu siapa? Jawab!" ucap Richie.


"Kamu memang tidak kenal aku. Aku Martha. Kita satu kampus. Semalam kamu hebat banget." Martha tersenyum.


"Semalam? Memang kita ngapain? Aku hanya ingat minum di bar. Ini di mana?" Richie bingung. Ia tidak ingat apa-apa.


"Dengar. Maaf atas apa yang aku lakukan. Tapi semalam aku benar-benar tidak sadar. Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa sampai ke sini." Richie salah tingkah.


"It's ok. Tapi mulai hari ini bisa kan kita berteman?" ucap Martha peuh percaya diri.


"Mungkin lebih baik tidak. Aku tidak ingin memperpanjang keadaan ini. Jika kamu ingin meminta pertanggungjawaban apapun, tolong hubungi saja pengacaraku." Richie mengeluarkan kartu nama pengacara dari dompetnya dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Aku permisi." Richie keluar dari apartemen itu. Martha hanya melongo tanpa sempat mengucapkan apapun.


Hari-hari berikutnya di kampus, Martha hanya bisa menatap Richie dari kejauhan. Ia pernah menghubungi pengacara Richie. Setidaknya Martha hanya berharap Richie bisa menjadi kekasihnya. Namun pengacara itu menjawab dengan mengirimkan video CCTV bar dan apartemen Martha. Video yang menunjukkan bahwa Martha yang memapah Richie yang setengah sadar keluar dari bar dan masuk ke apartemen Martha. Martha tidak bisa meminta pertanggungjawaban apapun karena ia merupakan pelaku di video itu.


Setahun kemudian Martha mendapat kabar bahwa Richie keluar dari kampus dan kembali ke Indonesia. Martha pun perlahan mulai melupakan Richie.


Hingga sekarang Martha mulai bertemu kembali dengan pria yang sempat mencuri hatinya. Namun sayang ia adalah calon suami orang lain. Dan yang membuatnya lebih kesal orang lain itu adalah Dila, sepupu satu-satunya yang sangat dibencinya. Jangankan calon suami, jika sudah menjadi suami pun Martha tetap akan mencoba merebut Richie. Senyum licik Martha pun mengembang.

__ADS_1


*****


"Kamu tidak apa-apa?" Richie membantu Dila duduk di kamarnya.


"Apa nih yang tidak apa-apa? Tangan atau hatiku dilihat kamu dipeluk wanita itu?" tanya Dila ketus.


"Ya tangan kamulah. Aku hanya mengenalnya sebentar dulu. Aku lihat luka kamu ya." Richie mengangkat lengan baju Dila yang memang agak longgar di tubuh mungilnya.


Lukanya sudah mengering. Tidak ada yang terbuka.


"Aku tidak apa-apa. Mungkin tadi hanya sakit sesaat. Sekarang kamu cerita tentang Martha. Bagaimana kamu bisa mengenalnya?" Richie tahu Dila akan menanyakan hal ini segera.


"Vio, kamu ke kamar Kak Richie dulu ya." ucap Richie. Ia tidak ingin Vio mendengarnya. Setelah Vio keluar. Richie duduk menghadap Dila.


"Janji ya kamu jangan pakai emosi." Dila mengangguk. Yang penting Richie cerita, ia tidak tahu apakah bisa menahan emosinya nanti.


"Sebenarnya aku tidak mengenalnya. Ia bilang kami satu kampus dulu saat di Amerika. Kami...kami...pernah tidur bersama." Richie menunduk. Dila tidak bisa mengeluarkan suaranya, seperti ada yang mencekat tenggorokannya. Seakan ada yang menonjok perutnya.


"Itu terjadi enam atau tujuh tahun lalu. Aku tidak ingat. Tapi itu saat aku mabuk Dila. Aku benar-benar mabuk sampai tidak sadar dia mengajakku ke apartemennya. Saat aku sadar ternyata aku dan dia berada di satu ranjang."


"Aku bingung dengan pria. Kalian bilang mabuk tapi kalian bisa meniduri wanita. Bukannya aktivitas itu kalian yang aktif?"


"Aku bahkan tidak ingat aku atau dia yang aktif. Atau aku hanya di bawah." Wajah Dila memerah mendengar kalimat itu. Untung Vio tidak di sini.


"Apakah itu terjadi beberapa kali?" tanya Dila.


"Tidak. Hanya sekali. Aku tidak mau menemuinya lagi. Bahkan pengacaraku pun mencari bukti video CCTV bahwa dia yang membawaku dari bar ke apartemennya. Maaf Dila. Itu hanya masa lalu di saat keterpurukanku." Richie berlutut di depan Dila yang sedang duduk di sofa.


"Aku percaya padamu. Aku hanya kesal kenapa harus dia. Kamu tidak tahu betapa jahatnya dulu saat aku dan Vio masih tinggal di rumahnya. Dan membayangkan kamu juga sudah menyentuhnya, melakukan perbuatan yang sangat intim dengannya. Aaaahhh...rasanya aku tidak rela." Mata Dila berkaca-kaca.


"Maafkan aku, Sayang. Jangan dibayangkan ya. Aku mencintaimu. Kamu kira aku tidak ingin menyentuhmu? Kadang aku bisa gila menahannya. Tapi aku bisa karena aku ingin menjaga kehormatanmu hingga kita menikah nanti. Makanya jangan lama-lama. Bulan depan ya kita menikah." Richie memeluknya.


"Memaafkanmu saja belum, mau ajak menikah." Dila mendengus kesal. Dila merasa marah dengan keadaan Richie yang pernah berhubungan dengan Martha. Mungkin jika itu wanita lain, Dila tidak semarah ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2