
Jantung Dila berdegup kencang, ia menjadi gugup. Ia tidak menyangka Richie yang memutuskan Hannah. Dan tadi ia bilang tidak mau mencoba? Tidak sanggup? Tidak sanggup apa? Apakah Richie tidak bisa... Astagaaa, ia tidak menyangka pria sempurna seperti Richie bisa mengalami masalah seksual. Atasannya yang malang. Pantas saja selama ini Dila melihat Richie tidak tergoda melihat wanita-wanita cantik di sekitarnya. Ternyata...
"Dila! Ngapain kamu di sana? Saya cariin dari tadi." panggil Richie yang melihat Dila sedang berdiri di balik tembok.
"Sa..saya..saya cari Bapak. Ada perlu apa Pak?" Dila gugup, sekaligus iba setelah mengetahui rahasia kelam Richie.
"Coba kamu hubungi staf RAF yang ngatur penginapan tamu. Sebagian dari mereka ada yang mau check out hari ini, besok Senin kan banyak yang kerja." ucap Richie. Dila segera berbalik setelah ucapan 'Baik Pak' nya yang khas.
Richie merasakan kepalanya sangat sakit. Puncak kelelahannya selama ini. Lelah jiwa dan raga. Tapi ia masih sanggup menahannya, setidaknya hingga pesta selesai. Richie memutuskan untuk berkeliling menyapa tamu-tamunya. Ponselnya berbunyi. Pesan dari Hannah yang mengatakan bahwa ia sudah check out dan akan pulang ke Jakarta. Richie merasa dirinya sangat kejam, tapi ia sudah tidak bisa lagi terikat hubungan dengan Hannah tanpa mencintainya. Hambar tanpa rasa.
"Richie, mama sama papa pulang sore ini. Papa kamu sih bilangnya banyak pekerjaan terus. Selamat ya Nak, Mama doain sukses. Terus Hannah jangan dianggurin lama-lama. Gadis cantik kayak dia nanti bisa direbut orang." Richie terpaksa tersenyum. Tidak membantah namun tidak juga mengiyakan. Daripada ia mendengar suara mamanya menggelegar di tengah pesta, Richie lebih memilih diam.
Airin dan keluarganya memilih untuk pulang lusa. Mereka akan berkeliling Jogja besok, mengajak anak-anak melihat bangunan bersejarah. Richie melihat Chris sedang berbincang dengan Vicky. Ia menghampirinya.
"Chris, kamu baru datang hari ini? Kemarin aku tidak melihatmu." kata Richie.
"Wah, kenapa omongan lo sama persis dengan Dila?" Chris tertawa. Richie mendadak teringat panggilan Dila ke Chris yang terdengar sangat akrab sebelum acara dimulai tadi.
"Chris, nanti malam jalan yuk." ajak Vicky.
"Nanti malam aku sudah ada janji." jawabnya ke Vicky yang langsung cemberut.
"Aku mau ngajak Dila dinner nanti malam." Chris berbisik ke Richie. Richie terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Emang dia mau?" tanya Richie.
"Belum tahu, tergantung lo katanya, masih ada kerjaan ga. Makanya lo kasih dia pulang cepat ya."
__ADS_1
Perasaan Richie jadi tidak tenang mendengar ajakan Chris ke Dila. Dila begitu lugu, bagaimana jika Chris macam-macam. Tapi kan dia gay, atau jangan-jangan ia biseksual.
Richie kembali ke kamar hotelnya jam 6 sore. Ia tepar, kepalanya seakan mau pecah. Richie merasakan hawa panas keluar dari hidungnya setiap ia bernapas. Sudah sangat lama ia tidak pernah merasakan sakit demam. Tubuhnya sangat kuat karena ia berolah raga tiap pagi. Richie tertidur. Tidak lama kemudian ia terbangun karena ponselnya berdering.
"Mmmh.." ia hanya bergumam.
"Maaf Pak, apa masih ada pekerjaan untuk saya?" suara Dila. Richie memaksa otaknya untuk berpikir.
"Dila, bisa tolong bawain obat? Sepertinya aku demam." Richie melihat layar ponselnya. Panggilan sudah diputus oleh Dila. Apakah ia pergi dengan Chris? Ia tidak bisa berpikir lagi. Richie lanjut memejamkan matanya. Berharap ia bisa tidur. Bel pintunya berbunyi. Itu mungkin Dila, ia tidak mungkin meninggalkan aku sendiri. Dan benar itu Dila. Ia masuk, melihat rambut Richie yang acak-acakan. Richie langsung berbaring lagi.
"Pak? Kenapa bisa begini Pak? Astaga..Ini saya bawain obat. Diminum dulu." Dila membantu Richie menelan obatnya, memberikannya minum. Dilihatnya kemeja Richie yang sudah basah karena keringat. Ia bingung bagaimana harus membantu atasannya itu. Dila tidak pernah melihat langsung tubuh seorang pria. Tapi ia kasihan melihat Richie.
"Bapak bawa baju ganti ga? Kemeja Bapak basah. Kalau tidak diganti nanti malah tambah sakit."
"Di koperku, tolong ambilin Dil." Richie berusaha duduk di ranjangnya. Ia membuka kemeja basahnya. Dila yang melihatnya otomatis berbalik badan. Melihat langsung tubuh polos atasannya itu tidak pernah masuk di wishlist nya. Untung ia sempat melihat tubuh kekar bos nya itu sesaat.
"Saya ada minyak kayu putih Pak, mau?" Richie hanya mengangguk tanpa mengambil botol itu dari tangan Dila. Dila berinisiatif untuk mengesampingkan rasa segannya, menolong Richie lebih penting.
Dila mengoleskan minyak itu ke kening Richie. Ia terkejut ketika merasakan suhu yang lumayan panas. Refleks ia juga memegang sisi leher Richie untuk mengecek suhunya. Richie menangkap tangannya, ia membuka mata. Dila kaget.
"Maaf Pak, badan Bapak panas sekali, saya hanya..." Dila gugup menyadari tangannya yang masih digenggam Richie.
"Tolong pijat kepala saya, sakit." Dila menurutinya, memijat kening bos nya pelan hingga akhirnya ia tertidur. Dila menatap Richie yang tertidur. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan pria sempurna seperti ini? Alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya, kulit putihnya..Tubuhnya yang indah. Tidak sengaja Dila menatap ke arah bawah perut Richie. Wajah Dila memerah. Astagaaa... memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sungguh kasihan Richie, ia pasti merasa sangat tersiksa. Jika Dila berada di posisi Hannah, ia pasti akan tetap menerima kekurangan Richie. Richie pria dan atasan yang baik. Cacat itu tidak mengurangi rasa kagumnya kepada Richie. Mungkin juga rasa suka. Rasa cinta? Ia tidak berani. Dila mengambil sapu tangan Richie yang ia lihat ada di koper tadi, membasahinya dengan air mineral untuk dikompres di kening Richie. Menunggu 5 menit, kemudian mengulanginya lagi dan lagi. Hingga rasa kantuk menyerangnya.
Dila terbangun, ia melihat ponselnya sudah pukul sembilan lewat. Dan astagaaa...Ia lupa mengabari Chris bahwa ia tidak bisa datang. Dila segera menelepon Chris.
"Maaf Chris, aku.. ketiduran." jelasnya.
__ADS_1
"......."
"Oh sarapan besok pagi? Ok, nanti aku datang sebelum ke kantor."
"......"
"Sekali lagi maaf ya, byee." Dila menutup teleponnya. Richie yang sudah terbangun, menutup kembali matanya. 'Maaf Chris aku sudah membatalkan rencanamu.' ucap Richie dalam hati.
Dila membilas sapu tangan itu, mengompresnya lagi. Ia memberanikan diri menyentuh leher Richie untuk mengecek apakah demam Richie sudah turun. Deg. Deg. Deg. Richie merasakannya. Sentuhan di lehernya membuat rasa itu muncul. Getaran yang sudah lama tidak ia rasakan. Tapi ini kan Dila asistennya. Orang yang selalu bersamanya selama ini. Mengapa baru sekarang ia merasakannya? Apa karena memang belum ada kesempatan selama ini? Richie membuka matanya. Sakit di kepalanya sudah berkurang banyak.
"Bapak sudah bangun? Kepalanya masih sakit Pak?" Richie menggeleng, ia bangkit untuk duduk. Dila mengambilkan air minum untuknya.
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu Dila. Kamu kok belum pulang? Ini kan sudah malam. Atau kamu mau menginap di sini?" tanya Richie. Dila terdiam.
"Maksudku di kamar lain. Nanti biar aku bicara sama resepsionis bawah." jelas Richie lagi.
"Ooh tidak perlu Pak. Vio sendirian di rumah. Saya permisi dulu ya. Semoga cepat sembuh Pak, selamat malam." Dila bersiap keluar kamar.
"Tunggu Dila. Saya suruh Pak Dani antar kamu pulang. Dia standby di sini untuk antar tamu hotel." Richie menelepon sopir kantor mereka.
"Ok, dia sudah di bawah. Makasih ya Dila. Hati-hati di jalan." Richie tersenyum padanya. Dila tidak bisa tidak membalas senyuman itu. Ia pun keluar dari kamar Richie.
'Tidak, perasaan tadi tidak mungkin salah. Tapi mengapa Dila. Apa karena ia merawatku tadi? Aku memang sudah mengenalnya hampir dua tahun. Tapi memang akhir-akhir ini aku melihat sosok lain dari dirinya. Tanpa sadar, Dila memang sering membuatku tertawa.' Richie memilih tidur. Mungkin perasaannya tadi salah, hanya gugup karena sakit.
'Pak Richie, senyumanmu itu.. Tolong jangan sering kau tujukan untukku. Bagaimana nanti jika aku berharap lebih dan lebih? Kamu pasti tidak sanggup memberinya untukku.'
*****
__ADS_1