SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 51


__ADS_3

Sekitar jam 6 pagi Desy sudah muncul di kamar Dila. Andirawan membantunya membawa bantal guling yang masih terbungkus plastik.


"Kok pagi banget Ma?" tanya Richie sambil memeluk mamanya.


"Mama tidak bisa tidur mikirin Dila dan cucu mama. Jadi jam 5 tadi mama sudah masak bubur ayam untuk Dila. Masakan rumah sakit pasti tidak seenak masakan mama." Richie terharu sambil mengucapkan terima kasih.


"Makasih Ma. Pa. Maaf Dila merepotkan." kata Dila. Ia masih agak lemas.


"Makasih apaan? Ini tugas kami sebagai orang tua kalian. Makan dulu yuk." Richie mengambil mangkok berisi bubur dan menyuapi Dila. Dila lapar, namun ia merasa mual.


"Nanti lagi ya. Aku agak mual." Richie berhenti setelah Dila menelan beberapa suap. Dila merasa sedikit ngantuk setelah merasakan bantal guling yang ada di sebelahnya. Pelan-pelan ia tertidur. Mamanya mengajak mereka keluar untuk berbicara.


"Ada masalah apa?" tanya mamanya.


"Tekanan darah Dila rendah Ma. Tidak ada apa-apa kok." jawab Richie.


"Kamu jangan buat masalah ya. Awas kamu." ancam mamanya.


"Iya. Tenang saja. Kami tidak jadi pulang ke Jogja untuk sementara waktu. Nanti biar Richie urus dari sini kerjaan di sana. Untung ada bawa laptop kesini."


"Kerjaan saja yang kamu pikirin. Jagain Dila ya. Mama sama papa pulang dulu. Nanti kalau mau dibawain apa kasih tahu mama." Richie memeluk mama papanya dan melambaikan tangannya.


Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


"Airin? Maaf aku mengganggumu pagi-pagi." katanya.


Mario datang ke rumah sakit sekitar pukul 11 siang. Ia membawa bunga dan sekeranjang buah untuk Dila.


"Hai Dila. Sudah baikan?" Mario masuk setelah mengetuk pintu. Ia melihat Dila sedang berkaca.


"Hai, Mario. Sudah lumayan. Maaf, mukaku sedikit berantakan hahaha.." Dila meletakkan cermin lipatnya.

__ADS_1


"Masih cantik kok seperti dulu. Mana Richie?" Mario memberikan buket bunganya ke Dila dan meletakkan keranjang buah di atas meja.


"Lagi ke kantin beli makan siang. Duduk sini." Dila mempersilahkan Mario duduk di kursi sebelah ranjangnya.


"Selamat ya atas kehamilanmu. Aku baru tahu kemarin." Mario tersenyum tulus. Ia benar-benar ingin mundur dari perasaan cintanya ke Dila. Bersahabat dengannya seperti sekarang sudah cukup menyenangkan.


"Terima kasih. Bukannya kamu mau pulang ke Bali hari ini?" tanya Dila.


"Mungkin nanti malam. Aku belum beli tiket. Kok kamu tidak panggil aku Kak Mario lagi seperti dulu?"


"Hahaha...Nanti Richie bingung lagi aku panggil Kak. Maaf. Jadi tidak sopan ya."


"Tidak masalah. Jadi bisa tambah akrab hahaha.." Mereka berbincang santai hingga akhirnya Richie masuk bersama seseorang. Mario melihat muka Dila menegang.


"Rio, kamu di sini? Oh kenalin ini Airin." Ini kali pertama Mario bertemu Airin. Pantas saja ekspresi Dila langsung berubah.


"Iya, belum lama. Aku keluar sebentar ya Dila." Mario keluar agar mereka lebih leluasa berbicara. Ternyata Richie juga ikut keluar dan meninggalkan Airin berdua dengan Dila.


"Terima kasih. Tidak perlu repot-repot." jawab Dila datar.


"Selamat ya atas kehamilanmu. Aku mendengarnya dari Richie tadi." Dila tersenyum setengah terpaksa. Ia bingung mengapa Richie meninggalkannya berdua dengan Airin.


"Begini. Aku minta maaf jika sudah membuat kamu dan Richie berselisih paham. Aku benar-benar tidak tahu saat itu kalian sedang berbulan madu. Waktu itu Aiden meminta bantuan Vina untuk berbicara dan membujukku. Tapi aku tidak tahu bahwa Vina juga meminta Richie datang menemaninya." Airin menatap Dila. Dila bisa melihat kejujuran di matanya.


"Aku..terkadang aku bingung Rin. Aku seakan tidak percaya diri. Aku takut jika Richie masih.. masih mencintaimu. Aku mendengar bahwa ia menyimpan perasaan untukmu dalam waktu yang cukup lama." Mata Dila berkaca-kaca saat ia menyatakan ketakutan terbesarnya. Airin dengan cepat menggeleng.


"Tidak Dila. Aku bisa melihat jika ia sangat mencintaimu. Ia bukan tipe pria yang akan menikahi seorang perempuan jika tidak sungguh-sungguh ia cintai. Maaf, bukannya aku sok mengenalnya. Tapi sebagai sahabat yang telah mengenalnya sekian lama, aku tahu pasti tentang itu. Ia saja memutuskan Hannah karena tidak cinta. Dan waktu ia menceritakan tentangmu padaku pada saat kalian akan menikah, aku bisa langsung tahu bahwa ia sangat mencintaimu. Caranya bercerita tentangmu, jangankan aku, orang yang tidak mengenalnya pun tahu kalau ia sedang jatuh cinta. Tolong kamu jangan meragukannya." Airin memegang tangan Dila.


"Maaf aku sudah mencurigai kalian berdua." kata Dila. Ia memutuskan untuk mempercayainya. Airin memeluknya.


"Lalu hubunganmu dengan suamimu bagaimana?" Dila sudah terlihat agak tenang.

__ADS_1


"Kami baik-baik saja. Masalahnya sudah selesai. Dulu juga kami sempat merasakan pertengkaran. Namun cinta bisa mengalahkan ego kami masing-masing. Terlebih ada anak-anak di antara kami." Mereka berbincang cukup lama. Saling bertukar pikiran dan pendapat tentang kehidupan keluarga.


"Kok Airin bisa ikut ke sini Ric? Tidak apa-apa membiarkan Dila berdua dengannya?" tanya Mario. Ia mengkhawatirkan Dila.


"Sepertinya Airin bisa mengatasinya. Aku tidak tahu bagaimana lagi membuat Dila bisa percaya padaku. Aku tahu walaupun Dila bilang sudah memaafkanku tapi dia belum sepenuhnya percaya. Ia sering memendam perasaannya." Richie dan Mario duduk di kursi panjang depan kamar Dila. Ia menunggu dengan gelisah. Takut jika Dila masih tidak percaya padanya. Sekitar dua puluh menit kemudian, Richie mendengar suara tawa dari dalam kamar. Ia mengajak Mario untuk masuk.


"Sayang, kamu belum makan ya? Makanan kamu beli tadi mungkin sudah dingin." ujar Dila setelah ia melihat Richie masuk.


"Dila, Richie, aku balik dulu ya ke kantor. Vicky sudah menungguku. Kami mau ke tempat klien. Cepat sehat ya Dila." Airin berjalan menuju pintu.


"Makasih ya Rin. Tolong bilang sama Vicky jangan terlalu dekat sama Chris. Nanti kalau kecewa baru nangis tu anak." Mereka tertawa.


"Aku juga permisi dulu ya biar Dila bisa istirahat. Jaga kesehatan ya Dila. Nanti kita ngumpul lagi di Jogja. Bye Ric. Telepon saja kalau butuh apa-apa ya." Mario pun ikut pamit pulang.


"Thank you ya Rio. Safe flight to Bali." ucap Richie.


Kini tinggal Richie dan Dila berdua di dalam kamar. Richie mengambil makan siang yang diantar oleh perawat dan mulai menyuapi Dila.


"Kamu ambil makan siangmu deh sayang. Kita makan bareng. Aku juga sudah bisa makan sendiri." Richie menuruti perintah istrinya.


"Tadi ngobrol apa saja dengan Airin sayang?" tanya Richie dengan hati-hati.


"Masalah wanita. Kamu pasti tahu kan apa yang kami bicarakan, makanya kamu ajak dia kemari." Richie terdiam dan menunduk sambil mengaduk-aduk kuah soto yang dibelinya.


"Awas ya kalau berani bohong lagi. Aku tidak akan memaafkanmu lagi." Perkataan Dila barusan membuat Richie tersenyum bahagia.


"Terima kasih sayang. Aku janji tidak akan berbohong apapun lagi. Aku janji. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Apapun yang terjadi kamu harus percaya dengan hal itu." Richie memeluknya erat. Tidak ada lagi kebohongan, janji Richie dalam hati. Ternyata ia benar-benar takut kehilangan istrinya. Apalagi mereka akan segera memiliki anak.


Dila tersenyum. Ternyata kepercayaan memang dibutuhkan dalam membangun keluarga. Cinta saja tidak cukup untuk menjaganya. Richie memang salah sudah membohonginya. Tapi setidaknya itu memberi pelajaran kepada Richie bahwa berbohong bisa menghancurkan rumah tangga mereka. Pohon memang harus diterpa angin kuat untuk mengetahui seberapa kuat akarnya. Begitupun dengan cinta.


*****

__ADS_1


__ADS_2