
Dila dikenalkan dengan penyiar baru, Meisya. Jeno telah memutuskan akan menyiarkan Suara Cinta setiap Selasa dan Kamis. Sedangkan hari lainnya akan ada program baru untuk Meisya. Meisya gadis yang cantik dan dia masih berstatus mahasiswa. Dila sebenarnya sangat menyayangkan kehilangan setengah jadwal siarannya. Tapi ia terpaksa demi mendapatkan tujuannya sekarang.
Hujan deras malam itu terpaksa membuat Dila menunggu di depan stasiun radio tempatnya bekerja. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Richie.
"Halo, gimana surat cinta yang aku tulis untukmu tadi? Terharu ga?" tanya Richie.
"Iya, manis banget. Makasih Pak Richie." Tunggu. Dari mana ia tahu bahwa aku pasti mendengarkan radio.
"Bapak tahu dari mana kalau saya akan mendengarkan pesan Bapak di radio?" tanya Dila.
"Aku cuma tahu bahwa kamu yang akan membacakannya, Cinta. Dan kamu terlihat lebih cantik tanpa kacamata." Dila terkejut mendengar jawaban Richie. Lebih terkejut lagi saat ia melihat Richie turun dari mobil, meneleponnya sambil membawa payung. Dila memutuskan panggilan itu. Richie menghampirinya.
"Hai, Cinta. Saya Richie, penggemar berat kamu." Richie tersenyum.
"Sejak kapan Bapak tahu?" tanya Dila.
"Masuk mobil dulu yuk, celana saya basah nih kena hujan." ajak Richie. Ia merangkul pundak Dila, menariknya mendekat agar tidak basah terkena hujan. Samar-samar Dila mendengar teman kantornya berbisik membicarakan dia dan Richie.
"Pak, maaf. Harusnya saya tidak boleh bekerja tempat lain." Kalimat pertama Dila setelah masuk ke mobil.
"Aku sudah tahu lama kamu ada pekerjaan sampingan. Tapi sungguh aku baru tadi siang tahu kamu kerja di sini. Dan ternyata Cinta itu kamu." Richie memang sungguh tidak menyangkanya.
Tadi siang Richie menelepon Rena untuk memutar kamera pengawas hotel di saat tim Radio Future gathering di sana. Ia sangat penasaran dengan sosok Cinta selama ini, dan baru tadi siang ia ingat akan adanya cctv. Hanya sekedar ingin tahu saja. Jadi lah selama satu jam Rena nongkrong di kantor sekuriti mencari sosok Cinta. Tidak ada wajah Cinta tanpa masker yang di sana. Rena mengirim foto Cinta dengan masker yang paling jelas menurutnya. Richie tampak mengenalnya. Malah sangat mengenalnya, namun ia belum mempercayai hal itu. Richie meminta daftar tamu saat itu dari Rena. Semua tamu harus registrasi menggunakan KTP. Ardila Cintania. Dila. Cinta. Astagaaa... Richie merasa sangat bodoh tidak mengenal suara Dila sama sekali. Tapi memang gaya bicara mereka tidak sama. Richie juga menyesal tidak memeriksa kamera pengawas dari dulu.
Dila mendengarkan cerita Richie. Ia tidak menyangka Richie selama ini mendengarkan Suara Cinta. Dila bahkan sering membayangkan Richie saat ia harus menjawab pertanyaan seputar cinta.
"Pak, tolong jangan beri tahu HRD." Hanya itu alasan Dila menyimpan rahasianya.
"Dila, tolong jangan panggil aku Pak lagi, terutama jika kita tidak di kantor. Kedua aku tidak mungkin membuang peluangku untuk melihatmu setiap hari. Kalau kamu dipecat sama saja aku bunuh diri karena merindukanmu." Richie mulai menjalankan mobilnya.
"Saya..sudah bilang dengan Kak Jeno, jadwal siaran akan dikurangi jadi Selasa dan Kamis. Saya ingin menyelesaikan masalah dengan Bram secepatnya." Perkataan Dila membuat Richie senang. Ia memang tidak terlalu suka Dila sekantor dengan Jeno. Walaupun risikonya Richie akan jarang mendengar Suara Cinta. Tapi itu tidak masalah selama ia bisa mendengar suara Dila setiap saat.
__ADS_1
"Pak, macet banget. Sepertinya ga bisa lewat." Beberapa mobil yang melewati jalan itu diminta untuk putar balik oleh polisi karena ada pohon tumbang. Richie memutar arah mobilnya.
"Bagaimana Dila? Arah ke rumah kamu cuma itu. Mana hujan deras banget ini. Banjir di mana-mana. Kamu nginep di Sky aja ya. Atau di rumahku?" Dila terkejut mendengar dua pilihan itu. Di hotel ia malu bertemu beberapa karyawan yang mengenalnya. Di rumah Richie, ia takut banyak setan yang berbisik nanti.
"Tenang saja Dila. Aku tidak akan macam-macam kok. Ke rumahku saja ya, lebih dekat. Aku antar pulang jika hujannya agak mereda." Richie mengarahkan mobil ke arah rumahnya. Dila menelepon Vio agar ia tidak cemas.
Baru sekali ini Dila ke rumah Richie pada malam hari. Dila yakin bisa menjaga dirinya, ia juga percaya dengan Richie.
"Duduk Dila. Aku ambil minum bentar ya, sekalian mau ganti baju sebentar." Dila melihat pakaian Richie yang memang agak basah terkena hujan angin tadi. Sebenarnya ia pun kedinginan, tapi apa boleh buat ia tidak memiliki baju ganti. Tidak lama kemudian Richie datang membawa teh hangat.
"Baru sekali ini saya dibuatin minum sama Pak Richie." Dila tertawa, memegang cangkir panas itu untuk menghangatkan telapak tangannya.
"Panggil aku Richie kalau kita tidak di kantor. Tidak usah pakai bahasa formal juga. Kamu pakai softlen? Kok ke kantorku pakai kacamata?" Mereka duduk di ruang tamu Richie.
"Softlen bening Pak..Eeh Richie..Aku tidak percaya diri kalau ke kantor tanpa kacamata. Nanti Bapak aneh lagi lihat saya." Dila merasa bahasanya campur aduk sekarang.
"Sejak kapan kamu kerja jadi penyiar? Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu Cinta. Maksudku di sana gaya bicaramu begitu ceplas ceplos,begitu berbeda dengan Dila yang aku kenal." Richie bersemangat seolah masih belum mempercayainya.
"Richie." Richie meralatnya.
"Iya Richie. Maaf Pak, susah. Tidak terbiasa." Dila kikuk.
"Pelan-pelan pasti bisa. Jadi sebenarnya yang mana diri kamu sebenarnya? Dila atau Cinta?" tanya Richie.
"Mmmhh.. Dila yang ingin menjadi Cinta. Jauh di dalam diri Dila, ia ingin sekali ceria seperti Cinta." jawabnya. Hachiiii....Dila tidak bisa menahan bersinnya.
"Maaf Pak."
"Kamu kedinginan? Astaga bajumu basah Dila. Aku tidak sadar karena bajumu berwarna hitam. Ganti dengan kaosku dulu ya. Sini ikut aku." Richie menarik tangan Dila ke kamarnya. Richie memberinya sebuah kaos hijau tangan panjang.
"Pasti kebesaran di tubuhmu, ga apa-apa ya. Celanamu Dila?"
__ADS_1
"Ganti baju saja Pak. Celana ga usah." Dila seakan memberi tanda ke Richie menyuruhnya keluar. Richie tertawa.
Dila keluar dengan tubuhnya yang tenggelam dalam kaos hijau itu. Namun sangat cantik di wajah putih Dila dan rambutnya yang hitam panjang. Richie mendekatinya seperti kumbang yang mendekati bunga yang indah.
"Kamu cantik dengan warna hijau." Richie menundukkan sedikit kepalanya dan membelai wajah Dila. Mencium pipinya. Dila menatapnya penuh cinta. Sungguh ia mencintai Richie, sejak dulu. Hanya saja ia tidak berani untuk mengakuinya. Entah siapa yang memulai tapi sekarang bibir dan saliva mereka sudah menyatu. Richie mendorong pelan Dila kembali ke kamarnya. Richie menyukainya, berciuman dengan Dila seperti menjadi candu baginya. Ia menahan tangannya tetap berada di atas, di wajah dan leher Dila. Dila pun hanya berani memeluk leher dan membelai rambut Richie. Mereka seperti bisa membaca pikiran masing-masing dan akhirnya berhasil mengendalikan diri mereka. Napas mereka terengah-engah setelah melepaskan bibir mereka.
"Aku mencintaimu Dila." Richie menatap mata coklat itu.
"Aku juga mencintaimu, Richie." Richie senang mendengar namanya disebut. Setidaknya itu membuatnya tidak menjadi atasan yang mesum.
"Aku tidak akan menyentuhmu lebih dari ini sebelum kita menikah. Aku harap itu tidak membuatmu kembali berpikir bahwa aku bukan pria normal." Mereka tertawa.
"Oh iya Dila, aku mau menunjukkan sesuatu. Richie mengambil laptopnya.
"Aku sudah membuat janji dengan Ivan Nugraha hari Sabtu. Aku bilang ingin konsultasi tentang warisan orang tua. Besok pagi kita ke Jakarta." ajak Richie.
"Hah? Kok mendadak?" Dila terkejut.
"Sebenarnya aku mau mengajakmu minggu depan, tapi sekretaris Ivan bilang minggu depan ia berangkat ke Malaysia. Daripada dua minggu lagi, mending besok." Dila mengangguk mengerti.
"Dila, ini untukmu. Aku membelinya tadi siang. Hadiah pertama untuk calon istriku." Richie memberinya sebuah paper bag yang cukup besar dari dalam lemarinya. Dila membukanya dan menemukan beberapa potong dress, blazer, blouse.
"Jangan bilang ini gara-gara Chris." Dila menebaknya.
"Aku benci mengakuinya, tapi ya kau benar. Chris yang menginspirasiku. Maaf aku memang kurang peka dengan hal-hal begini. Jujur, bagiku kamu pacar pertama aku. Pacar sesungguhnya yang aku pilih atas dasar cinta."
"Kamu malah cinta pertama aku Richie." kata Dila. Richie memeluknya.
"Aku antar kamu pulang yuk. Besok kan kita mau berangkat. Tiket biar aku yang urus. Aku takut tidak bisa mengontrol diriku kalau kamu menginap di sini hahaha..." kata Richie.
*****
__ADS_1