SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 25


__ADS_3

Richie melepas pelukannya setelah Hannah sudah mulai agak tenang.


"Hannah, sudah ya. Kumohon kita jangan membahas ini lagi. Kamu berhak mendapatkan pria yang mencintai kamu. Kita bisa menjadi sahabat jika kamu mau." Hannah mengangguk. Ia memilih mengalah karena tidak ingin Richie membencinya. Setidaknya ia masih bisa melihat Richie tersenyum padanya suatu saat.


"Aku..akan meminta maaf dengan Dila nanti." Hannah merapikan rambutnya yang berantakan dengan jarinya. Ia merasa malu sekarang atas tindakannya yang sangat kampungan tadi. Hannah pamit. Ia seakan tidak memiliki muka untuk tinggal di sana lebih lama lagi.


Hannah berjalan keluar dari kantor Richie. Dia memakai masker di wajahnya agar tidak terlalu dikenali orang. Hari sudah mulai malam ketika Hannah berjalan tidak tentu arah. Ia ingin mencoba menikmati jalanan ramai dengan hiruk pikuk para pedagang dan wisatawan di penghujung minggu. Namun penampilan Hannah yang memang mencolok walau dengan masker di wajahnya membuat beberapa pria mencoba menggodanya. Hannah mencoba pergi dari sana. Ia mulai takut karena salah satu dari mereka mulai berani mencolek lengannya. Hannah ingin menangis, dia sungguh merasa sendiri sekarang. Ia merasa bodoh karena tidak berani melawan mereka. Hannah merasa ia sedang berada di titik lemahnya sekarang.


Ternyata empat pria itu mengikuti Hannah di belakang. Satu dari mereka menarik lengan Hannah. Hannah berteriak saat pria lain mencoba membuka maskernya. Tiiinn..tinnn.. Sebuah motor balap Ninja Kawasaki berwarna biru berhenti hanya dua meter dari mereka. Hannah melihat sang pria yang memakai helm hitam itu menyuruhnya naik. Entah pikiran Hannah sedang kosong atau bodoh, ia menurutinya. Ia berlari ke arah motor itu dan naik ke atasnya.


'Jika pria ini salah satu komplotan mereka, matilah aku.' Hannah baru berpikir jernih setelah lima menit perjalanan.


Motor itu akhirnya berhenti di pinggir sebuah jalan besar dan ramai. Hannah turun.


"Kamu tinggal di mana?" pria itu bertanya tanpa membuka helm nya. Ia menatap mata Hannah yang indah.


"Di hotel." jawab Hannah takut.


"Perlu aku antar atau mau naik taksi?" tanyanya lagi.


"Taksi saja." jawab Hannah.


"Ok. Di sini ada banyak taksi. Hati-hati ya." pria itu melaju pergi meninggalkan Hannah. Hannah bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. Ia masuk ke dalam sebuah taksi yang mangkal di sana dan memutuskan untuk pulang ke hotel secepatnya.


*****


Dila menuju White Cafe. Ia sedikit berdandan hari ini, tidak mau terlihat menyedihkan di depan Hannah. Tadi pagi Richie meneleponnya, Hannah ingin bertemu Dila untuk minta maaf. Dila melihat Hannah duduk di pojokan. Tidak sulit mengenali Hannah walau dari jauh karena ia selalu terlihat mencolok.


"Hai..Maaf Bu Hannah sudah menunggu." Dila duduk di kursi depan Hannah.


"Panggil saja Hannah. Mau minum apa?" Ia memanggil pelayan sebelum Dila menjawab.

__ADS_1


"Jus stroberi. Makasih." pesan Dila ke pelayan itu. Ia melihat Hannah sudah meminum kopi yang ada di depannya.


"Dila. Aku ingin...minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tidak bisa berpikir jernih lagi. Dari bandara aku langsung ke kantor Richie. Sepanjang perjalanan dari Jakarta pikiranku kacau. Aku ditelepon Tante Desy bahwa Richie berpacaran denganmu sekarang." Hannah bercerita. Sesekali Dila menunduk merasa sedikit bersalah.


"Aku juga minta maaf Han. Aku tidak pernah berniat berpacaran dengan Richie. Selama ini aku sudah membatasi diri untuk mengaguminya saja. Aku tidak berani. Apalagi ia memiliki pacar sepertimu. Aku tidak pernah mengharapkan apapun. Sungguh. Sampai Richie mengungkapkan perasaannya padaku dan memberitahuku bahwa kalian sudah putus. Kupikir kamu juga harus tahu bahwa aku tidak langsung menerimanya saat itu. Aku tidak percaya diri. Tapi akhirnya aku sadar aku tidak bisa menghindari cintaku yang begitu besar padanya." Dila mengungkapkan semua yang dia rasakan.


"Ya, aku tahu perasaan itu. Aku juga merasakan cinta yang begitu besar untuknya selama dua tahun ini. Tapi aku juga tahu perasaan cinta itu tidak pernah terbalas. Richie...entahlah. Pikirannya, apalagi perasaannya tidak pernah ada untukku walaupun kami sedang berdua. Walaupun aku belum bisa ikut berbahagia untuk hubungan kalian, tapi aku akan berusaha melepaskan Richie. Melupakannya agak mustahil untukku. Ikhlas juga sulit. Namun terpaksa melepasnya mungkin lebih baik karena lama-lama aku akan terbiasa tanpanya." Hannah tersenyum paksa.


"Kamu tahu Hannah. Kamu sangat luar biasa. Suatu saat pasti ada pria yang paling tepat untukmu." Dila tersenyum.


"Hahaha...iya aku tahu. Kalimat itu sering ada di script film." Hannah dan Dila tampak lebih santai sekarang. Sejam kemudian Richie menelepon bahwa ia sudah ada di luar untuk menjemput Dila.


"Jadi kapan kamu kembali ke Jakarta Han?" Richie berdiri di depan mobilnya.


"Besok pagi. Bisa antar aku? Ajak Dila juga."


"Boleh aku ajak Vio adikku? Ia penggemar beratmu Han. Sebenarnya tadi ia ingin ikut." kata Dila.


Tiiin..tiinnn.. Mereka bertiga menoleh ke asal suara itu. Sebuah motor yang dikenal Hannah berhenti tidak jauh dari mereka.


"Hai Cinta. Lagi ngapain?" pria itu membuka helm hitamnya.


"Kak Jeno." Dila mendekatinya. Richie tampak kurang menyukainya. Jeno seperti tipe pria yang bisa cepat menaklukkan hati wanita.


"Kalau aku tahu kamu banyak waktu gini, Suara Cinta aku buat tiga kali seminggu saja ya." Jeno tertawa. Ia turun dari motornya, menghampiri dua orang lagi yang sedang menunggu.


"Hai Richie. Ga usah pakai Pak lah ya. Kita hampir seumuran juga. And look at this beautiful girl. Hannah Fang." Jeno menatap wajah cantik Hannah.


"Kamu..yang semalam kan?" tanya Hannah.


"Yup. Sebenarnya semalam aku mengenalmu. Tapi aku tidak bilang karena nanti kamu jadi tambah takut. Aku Jeno, teman mereka." Jeno mengajaknya bersalaman.

__ADS_1


'Sejak kapan kita berteman?' Richie kesal dalam hati melihat Jeno yang mulai tebar pesona lagi.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Dila.


"Ga." jawab Hannah.


"Iya." jawab Jeno bersamaan.


"Ceritanya panjang, nanti aku ceritain." sambung Hannah.


"Kami duluan ya. Kalian bisa lanjutin ngobrolnya. Han, kalau dia macam-macam kasih tahu aku ya." ucap Richie. Ia merangkul pundak Dila seolah memberi tahu Jeno bahwa mereka berdua sedang menjalin hubungan. Jeno menertawakan tindakan Richie yang seperti anak kecil.


"Masuk lagi yuk. Kamu belum ada rencana apa-apa kan? Aku hanya ingin ngobrol." kata Jeno berharap ajakannya diterima. Hannah mengangguk.


Hannah memesan minuman lagi dan sepotong roti panggang. Ia merasa sedikit lapar setelah obrolannya dengan Dila tadi. Entah mengapa perasaan Hannah sedikit lega sekarang. Ia memandang pria ganteng yang mengenakan jaket kulit hitam di depannya.


"Jadi kamu mengenalku semalam?" tanya Hannah.


"90 persen aku yakin. Sisanya aku tidak yakin karena saat itu gelap dan masker yang menutupi wajah cantikmu itu. By the way, aku seorang pemilik stasiun radio dan merangkap penyiar di sana. So, aku banyak mengenal wajah-wajah artis dan penyanyi. Mau tidak mau aku harus mengikuti berita mereka." Hannah yakin Jeno pasti tahu ia dan Richie dulunya....


"Aku tidak akan menanyakan hubunganmu dengan Richie. Tenang saja." Jeno seakan tahu apa yang dipikirkan wanita cantik itu.


"Oh iya. Aku belum berterima kasih atas bantuanmu kemarin. Terima kasih banyak ya Jeno." Hannah tersenyum. Jeno membalas senyuman itu, namun ia tampak memikirkan sesuatu.


"Boleh ga aku minta sesuatu sebagai ungkapan terima kasihmu?" tanya Jeno. Hannah menaikkan sebelah alisnya.


*****


Jeno guys...


__ADS_1


__ADS_2