SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 39


__ADS_3

Dila akan mengganti tatanan rambutnya untuk nanti malam sekitar dua jam lagi. Sekarang ia hanya ingin meluruskan pinggangnya.


"Aaahhh...leganya. Aku masih belum terbiasa memakai high heels seperti itu. Kamu tinggi banget sih, jadinya aku disuruh pakai yang 10 cm. Nanti malam aku mau pakai yang 5 atau 7 aja lah. Tidak apa-apa kan?" ucapnya ke Richie yang sedang melepas sepatunya.


"Ya bolehlah, kenapa tidak. Ini kan acara kita." Richie ikut berbaring di sana. Ia menghadap ke Dila.


"Kamu cantik banget tadi pas jalan sama papa." kata Richie. Tadi Andirawan yang mengantar Dila ke depan mimbar tempat pemberkatan pernikahan. Mertua sekaligus walinya.


"Aku gugup banget tau ga. Apalagi lihat kamu di depan tadi. Seakan mimpi bisa menikah denganmu. Aku..sudah jatuh cinta padamu jauh sebelum kamu mencintaiku. Tapi aku tidak mungkin dan tidak berani mengakuinya."


"Tapi sekarang mungkin cintaku lebih besar dari cintamu." ucap Richie sambil membelai wajah Dila.


"Tahu dari mana lebih besar? Cinta itu tidak bisa diukur sebelum kita diuji. Kita tidak tahu kapan dan bagaimana ujian akan datang." Richie dan Dila terdiam setelah Dila mengucapkan kalimat itu.


"Sayang, jangan diam donk. Kalau kamu diam gitu pikiranku kemana-mana nih. Kalau sudah sekali cium nanti tidak bisa lepas lagi bagaimana?" Dila tertawa mendengarnya.


"Hahaha... Ya sudah, cerita donk si Chris sakit apa? Kok aku tidak tahu?" tanya Dila.


"Jangan sebarin ya. Chris itu sudah lama gay."


"Haaah??? Masa?? Kok dia pernah nembak aku?" Dila terkejut, lalu ia bangun dan terduduk bersandar.


"Aku juga bingung. Waktu dia cerita dia nembak kamu, aku marah-marah sama dia. Karena aku tahu dia gay, dan aku tidak mau kamu dipermainkan. Tapi dia bilang dia menyukaimu sebagai perempuan, dan mungkin kamu bisa membuatnya sembuh. Tapi peduli amatlah. Aku tidak mau kamu direbut olehnya."


"Kamu tahu dari mana?" tanya Dila.


"Dari Airin, Chris kan teman dekat suaminya, Aiden." jawabnya.


"Sayang, kamu sepertinya dekat banget sama Vely. Kamu memang suka ya sama anak-anak?" tanya Dila. Ia sempat cemburu tadi melihat kedekatan mereka. Tapi tidak mungkin Dila mengatakan apa yang dirasakannya tadi.


"Suka sih, tapi ya bukan yang suka banget. Biasa saja. Kalau Vely, aku mengenalnya sejak ia masih sangat kecil. Umur satu tahunan gitu lah. Makanya kami sangat dekat." Dila mengangguk. Ia tidak berani bertanya lebih lanjut. Dila tahu dulu Richie menyukai Airin. Sedalam apa cintanya, Dila tidak tahu. Itupun Dila mendengar saat pertengkaran Richie dengan mamanya di Jakarta kemarin.

__ADS_1


"Kamu ada mantan pacar? Harusnya kita bicarakan ini sebelum kita menikah ya." tanya Richie. Mereka tertawa.


"Mmmhh..Belum jadi pacar. Hanya aku menyukainya saja saat kuliah dulu." Sekarang giliran Richie yang duduk karena terkejut.


"Jeno?" tebaknya.


"Temannya. Jeno terlalu tampan untukku. Aku bisa dihabisi fans nya di kampus kalau aku ikut menyukainya dulu." Dila tertawa mengingat kejadian dulu. Ia dan Jeno berteman walaupun belum terlalu akrab. Dila tahu jika seorang perempuan mendekatinya pasti itu berhubungan dengan Jeno. Entah meminta nomor teleponnya, menanyakan akun media sosialnya, alamatnya, kegiatannya. Ya, Jeno sepopuler itu memang. Namun Dila ingat, yang menarik perhatiannya bukan Jeno, tapi Mario. Mario adalah sahabat Jeno. Sahabat se-geng. Mario juga setampan Jeno, hanya saja sifatnya jauh berbeda dengan Jeno. Mario lebih pendiam, cool kata orang. Ia tidak pecicilan seperti Jeno. Jeno suka tebar pesona, Mario tidak. Hanya dengan berjalan biasa dalam diam, ketampanannya sudah terlihat. Namun karena sikap dinginnya itu, tidak banyak perempuan yang berani mendekatinya, termasuk Dila. Dila hanya bisa melihatnya dari jauh. Mereka hanya pernah bertegur sapa beberapa kali, itupun karena Jeno berteman dengan mereka berdua.


"Jadi siapa donk?" Richie memecahkan lamunan Dila. Dila tersenyum melihat sikap Richie yang seolah-olah cemburu.


"Teman Jeno. Aku sebut namanya juga kamu tidak kenal Sayang. Kamu cemburuan ya? Kayaknya sih iya. Dulu sama Chris dan Jeno juga kamu begitu." Sejujurnya Dila senang jika Richie cemburu. Setidaknya itu menunjukkan jika Richie mencintainya.


"Iya cemburu. Aku bukan tipe pria yang diam saja jika cemburu." ucap Richie.


"Cemburu sih boleh. Tapi kamu harus percaya dengan yang aku katakan. Kalau aku bilang tidak ya tidak." Richie mengangguk. Ia mencium kening Dila.


"Sekarang hanya kening saja yang berani aku cium. Aku beruntung bisa menikahimu."


"Kamu bukan beruntung Dila. Kamu sangat pantas mendapatkan semuanya, bahkan untuk mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku. Berhenti memandang rendah diri kamu mulai sekarang. Kamu adalah istri Richie Andirawan sekarang." Dila memeluk Richie. Richie baru saja mau mencium bibir Dila saat pintu mereka diketuk. Airin muncul dengan dua orang dari pihak bridal.


"Sudah lumayan kan istirahatnya?" tanya Airin. Dila mengakui bahwa Airin sangat cantik dan manis. Dan Airin terlihat keren dengan pekerjaannya itu.


"Sudah mau make up lagi Rin?" tanya Dila. Tadinya ia memanggil Kak Airin, namun Airin memintanya untuk memanggil namanya saja. Ia tidak mau terlihat tua untuk istri Richie candanya.


"Iya." Dila duduk di depan meja rias. Airin menjelaskan lagi acara nanti malam. Bagaimana mereka masuk ke ruangan didampingi para dancer, kapan harus berdansa setelah Vely dan Darren. Dila dan Richie menyimaknya agar tidak terjadi kesalahan. Pintu kamar mereka diketuk lagi. Richie membukanya.


"Haaiiii... Selamat ya Ric, akhirnya lo melepas status lajang." Vina teman mereka muncul.


"Vina!!" panggil Airin. Ia memeluk sahabatnya itu.


"Hai, kamu Dila ya? Aku Vina, sahabat Richie dan Airin." Dila menyambut hangat uluran tangan Vina.

__ADS_1


"Jam berapa lo nyampe? Nginep di sini kan? Aku ada siapin kamar, tapi semalam doank, dua malam bayar." Dila jarang melihat Richie bercanda dengan teman-temannya.


"Pelit banget sih, laki gw cuma dokter, bukan pengusaha kayak lo. Diskon dikitlah." mohon Vina.


"Dokter sih, tapi kan direktur sekarang." Mereka tertawa.


"Akhirnya ya Ric, kejut gw waktu Airin bilang lo mau nikah. Coba kalian nikah dari dulu, gw keluar amplop cuma sekali kan hahaha..." Lengan Vina disenggol Airin.


"Maaf Dila, cuma bercanda." Vina merasa salah bahan candaan. Dila hanya tersenyum sambil mengucapkan bahwa ia tidak apa-apa.


"Vin, ngobrol di luar yuk. Aku pengen cerita." ajak Airin.


"Aku ikut. Sayang, tunggu bentar ya." Richie mengikuti dua wanita yang terlebih dahulu keluar. Dila harus menerima kenyataan bahwa sahabat suaminya adalah dua perempuan cantik. Untungnya mereka sudah menikah.


Dila melihat dirinya yang sedang dirias. Andaikan dulu ia tidak harus hidup kekurangan, Dila pasti lebih percaya diri. Penampilan lusuhnya saat ia sekolah, kuliah, hingga bekerja membuatnya kurang percaya diri. Hanya saat Dila menjadi Cinta, ia merasa bisa mengeluarkan semua kemampuan dan pikirannya tanpa dilihat orang bagaimana penampilannya.


Dila jadi mengingat Mario lagi. Satu-satunya kenangan indah yang membuatnya menyukai Mario adalah saat Mario berbagi payungnya ke Dila di saat hujan. Hanya sebentar karena saat itu Dila sedang kehujanan menunggu angkot di depan kampus mereka. Dila tahu ia dengan Mario adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Tapi Dila menyukainya selama tiga tahun. Hingga Mario yang tamat lebih dulu pergi entah kemana. Dila juga tidak pernah menanyakannya dengan Jeno. Akhirnya Dila pun mulai melupakannya pelan-pelan karena kehadiran si Bos Tampan, Richie. Dan lagi-lagi, Dila hanya bisa menyukai Richie dalam diam. Hanya fokus dalam mencari uang tanpa memikirkan kebahagiaan jiwanya.


Sekarang Dila sudah menjadi istri sah Richie. Tuhan Maha Baik. Tidak diragukan lagi melihat bagaimana harapan kecil yang berada di sudut hati Dila yang tidak terlihat bisa menjadi kenyataan karena terjamah oleh Tuhan.


Dila sudah selesai dirias dan sudah memakai gaunnya kembali. Gaun indah yang membuat tubuh mungilnya lebih terlihat berisi. Richie kembali, ia tampak takjub melihat istrinya.


"Sayang, kamu kelihatan luar biasa. Sayang sekali gaun itu harus dilepas malam ini." Asisten bridal itu tertawa mendengar apa yang diucapkan Richie. Wajah Dila tampak merona karena malu.


"Sudah selesai ngobrolnya?" tanya Dila.


"Sudah. Vina lagi makan siang dengan suami dan anaknya. Airin lagi ke taman belakang ngecek persiapan band dan lain-lain."


"Airin hebat ya bisa handle semuanya." puji Dila.


"Dia memang begitu kalau sedang kerja. Tidak pernah setengah-setengah. Dulu waktu kami baru merintis RAF, kebanyakan dia yang menghandle semua. Aku kan tidak bisa full urus RAF karena bantu papa juga." jawab Richie. Entah mengapa Dila merasa Richie selalu bersemangat jika bercerita tentang Airin. Panggilan salah satu staf dari RAF membuyarkan pikiran buruk Dila. Mereka diminta segera ke belakang venue.

__ADS_1


__ADS_2