SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 60


__ADS_3

Dila menggenggam tangan Mario yang dingin. Sudah tiga jam ia tertidur dan akhirnya ia terbangun.


"Cinta?" Ia berupaya untuk bangun.


"Berbaringlah. Kamu lapar?" tanya Dila. Mario menggeleng.


"Kamu harus tetap makan jika tidak mau diinfus di sini." Dila menyuapi bubur putih dan sedikit kuah kaldu ayam untuknya. Mario menelannya dengan susah karena ia merasa sangat mual.


"Sudah merasa baikan?" Mario tersenyum dan mengangguk.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah." Ia berbohong. Dila tidak nafsu makan. Tapi tadi ia ada menelan sepotong biskuit.


"Maaf kamu jadi harus mengurusku begini. Aku panggil Etty ya."


"Tidak usah. Aku ingin menemanimu di sini." Dila memeluknya sambil berbaring. Berharap ia dapat memberi Mario sedikit kekuatan. Mario mencium kepala Dila.


"Terima kasih karena sudah menemaniku di sini. Aku..mencintaimu Cinta. Tapi aku harap kamu jangan terbebani dengan perasaanku. Aku hanya ingin kamu tahu." suara Mario terdengar sangat pelan.


"Aku tahu dan aku bisa merasakannya. Kalau kamu sembuh nanti, kamu, aku, dan Jeno, kita pergi ke kampus kita dulu yuk. Pasti banyak yang bisa kita kenang. Kemarin saat kita berkumpul, harusnya kita ke sana ya. Kok kita tidak kepikiran? Sudahlah, habis kamu dioperasi kita ke sana. Kamu juga belum pernah lihat aku siaran kan? Sebenarnya aku tahu kalau waktu itu kamu yang mengirimkan pesan ke Suara Cinta. Aku sudah menebaknya. Benar kan itu kamu?" tanya Dila. Mario tidak menjawabnya namun Dila masih merasakan pelukan Mario.


"Mario? Kok kamu tidak jawab? Malu ya karena ketahuan?" goda Dila. Namun tetap tidak ada jawaban.


Dila melihat ke arah Mario. Matanya tertutup. Apa Mario tertidur lagi, pikirnya. Dila menggoyangkan tubuh Mario. Namun ia tidak bergerak. Dila merasakan tubuh Mario yang mendingin. Ini tidak benar. Ia langsung berlari ke kamar sebelah sambil berteriak memanggil Etty.


"Mario, bangun. Kamu jangan nakutin aku donk." Dila menangis. Ia hanya bisa melihat Etty menyuntikkan obat ke tangan Mario.


"Bu Dila. Kita harus membawa Pak Mario ke rumah sakit sekarang." kata Etty. Dila merasakan pandangannya kabur. Entah karena air matanya atau karena ia tidak kuat melihat kondisi Mario.


"Bu Dila?" panggilan Etty membuat ia sadar.


"Iya, kita bawa sekarang." Mereka bergegas membawa Mario ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Dila mengabari tante Tiara kondisi Mario yang memburuk. Tiara berkata ia akan segera menjemput Mario dan membawanya ke Jakarta. Operasi akan dipercepat. Dila menangis sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Mario berbaring di pangkuannya.


"Mario, kamu dengar aku? Bangun donk. Kita masih ada tiga hari lagi di sini. Kenapa kamu tidak nepatin janjimu?" Dila takut. Ia tidak siap menghadapi ini sendirian.


Mario dibawa ke UGD. Etty menjelaskan kondisi Mario ke dokter jaga. Kemudian ia hanya bisa menunggu di luar. Dua puluh menit ia duduk bersama Vika dan Pak Wayan. Etty ikut masuk ke ruang UGD karena ia lebih tahu dengan kondisi Mario sebelumnya.


"Sayang?" Dila seperti berhalusinasi. Ia mendengar suara Richie. Dila hanya bisa menunduk seakan tidak memiliki tenaga untuk mencari sumber suara itu.


"Sayang?" Sekarang bukan hanya suara Richie yang didengarnya. Ia merasa ada tangan yang memegang kepalanya. Dila menoleh. Wajah yang selalu dirindukannya.


"Richie? Sayang? Apa benar ini kamu?" Dila menyentuh wajahnya dan langsung memeluknya erat.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Richie. Dila menangis sejadi-jadinya. Ia tidak peduli akan tatapan orang lain di sana. Dila merasa lega karena suaminya ada di sana menemaninya. Ia merasa tidak kuat lagi jika harus menghadapi situasi ini sendirian.


Richie hanya bisa memeluknya. Sesaat setelah Dila meneleponnya tadi sore, ia langsung kembali ke rumah mengambil beberapa barang penting dan menuju ke bandara. Richie merasa ia tidak akan bisa tidur tenang jika belum melihat istrinya. Tadinya Richie hanya ingin melihatnya dari jauh dan bersiap untuk menahan amarah dan cemburunya jika ia melihat Dila dan Mario sedang bersama. Tetapi saat ia sampai di hotel tadi, resepsionis memberitahunya bahwa Mario baru saja dibawa ke rumah sakit.


Etty dan dokter yang memeriksa Mario keluar.


"Bagaimana Mario?" tanya Dila.


"Sudah dok. Sebentar lagi mamanya datang menjemput Mario." kata Dila.


Mereka menunggu dua jam hingga Tiara datang. Dan selama dua jam itu, Mario sama sekali tidak membuka matanya. Tiara menangis melihat kondisi anaknya. Mereka bersiap untuk memindahkan Mario ke Jakarta dengan pesawat jet yang disewa Tiara. Dila dan Richie pun ikut ke Jakarta.


Waktu menunjukkan pukul 1 malam saat mereka sampai di rumah sakit Jakarta.


"Kamu harus istirahat sayang." kata Richie. Ia melihat Dila yang tampak lemas dan terus diam.


"Sebentar lagi." jawabnya. Richie bisa melihat Dila yang menyayangi Mario. Jujur, ia merasa cemburu. Tapi cemburu yang dirasakannya tidak sebesar empatinya untuk Mario.


Mario dipindahkan ke kamar untuk beberapa tes yang akan dilakukan dengan cepat mengingat kondisinya yang kritis. Ia sempat membuka matanya.


"Cinta?" panggilnya. Dila memegang tangannya.

__ADS_1


"Aku di sini. Kita lagi di Jakarta. Sebentar lagi kamu akan dioperasi. Kamu yang tenang ya, berdoa. Saat kamu sadar nanti, aku akan ada di sana. Aku janji." Dila membelai wajah Mario yang tersenyum.


"Tunggu aku." Hanya itu yang diucapkan Mario sebelum matanya tertutup kembali.


Operasi dimulai pukul 1.30 malam dan diprediksi akan berlangsung paling cepat delapan jam karena itu termasuk operasi yang sangat kompleks.


"Sayang, kamu istirahat dulu ya. Nanti jam enam baru kita ke sini lagi." bujuk Richie.


"Iya Nak Dila, istirahatlah dulu. Ada tante di sini. Nanti tante kabarin kalau sudah selesai." kata Tiara. Dila menurutinya. Ia dan Richie menyewa hotel di seberang rumah sakit untuk beristirahat.


"Aku tadi meminta Vicky mengirimkan beberapa pakaiannya ke rumah sakit. Kamu pakai dulu ya. Ada baju tidur dan baju untuk besok pagi." Dila tidak berbicara banyak, ia hanya menuruti setiap perkataan Richie.


"Sekarang kamu tidur ya." Dila memeluk suaminya erat.


"Aku mencintaimu." ucap Dila sebelum ia tertidur. Richie masih memeluknya sebelum ia juga tertidur.


*****


Dila terbangun pukul tujuh pagi.


"Sayang, bangun yuk. Kita ke rumah sakit." Ia membangunkan suaminya. Membasuh wajahnya sejenak dan mengganti pakaiannya. Richie pun menurutinya. Mereka bergegas ke rumah sakit walau Tiara belum meneleponnya.


"Tante? Belum selesai?" Dila membawakan roti dan segelas kopi untuk Tiara.


"Belum. Terima kasih Dila." Ia menerimanya. Tiara terlihat sangat mengkhawatirkan anaknya. Mukanya sembab. Dila menebak ia pasti menangis semalaman.


Sejam kemudian dokter keluar. Ia mengabarkan bahwa operasinya berhasil. Tiara dan Dila merasa lega. Tidak henti-hentinya mereka berterima kasih dengan tim dokter dan mengucap syukur kepada Tuhan. Kini mereka tinggal menunggu Mario sadar. Mario masih ditempatkan di ICU hingga dokter mengizinkannya pindah ke ruang pasien.


Dila masuk setelah Tiara keluar dari ruangan Mario. Hanya boleh satu pengunjung yang berada di sana. Ia memegang tangan Mario. Rambutnya dicukur habis dan kepalanya terbungkus perban.


"Kamu masih ganteng kok walaupun botak." Dila tertawa, berharap candanya dapat didengar oleh Mario.


"Aku masih menunggumu. Cepatlah sadar." ucapnya.

__ADS_1


'Setidaknya kita masih bisa berteman. Aku hanya ingin melihatmu hidup dan bahagia.' Doa Dila sebelum meninggalkan ruangan itu.


*****


__ADS_2