
"Malam ini kalian sudah dapat banyak sekali tips dari Hannah tentang beauty and health di Jeno's Choice. Ya walaupun dadakan tapi seru ya. Sekali lagi thank you so much Hannah Fang for being here, be our special guest tonight. And for the last song, Budi Doremi dengan Mesin Waktu." Jeno dan Hannah melepaskan headphone mereka.
"Thanks ya Han. Pendengar kami melonjak tajam malam ini hahaha..."
"Aku juga senang, baru sekali ini aku menjadi bintang tamu di radio." Hannah tertawa. Ia tidak menyangka Dila adalah salah satu penyiar juga di sana. Jeno tidak sengaja menceritakan itu tadi siang. Tapi Hannah berjanji akan menutup mulutnya.
"Aku antar pulang yuk. Sudah malam juga. Atau mau makan dulu?" ucap Jeno. Ia mengambil jaketnya dan kunci mobilnya.
"Langsung pulang boleh. Aku juga tidak lapar." jawab Hannah.
"Jack, nanti tolong masukin motorku ya, kunci di meja biasa. Aku duluan ya." Jeno dan Hannah keluar setelah pamit dengan semuanya.
"Kok ga naik motor?" tanya Hannah.
"Sudah malam. Nanti kamu masuk angin." Jeno membukakan pintu mobil untuk Hannah.
"Kayaknya sikap kamu manis banget ya sama cewek hahaha...Tau ga Richie sudah bilang padaku hati-hati sama Jeno. Dia playboy." Mereka tertawa.
"Aku sebenarnya bukan playboy. Mungkin memperlakukan wanita dengan hormat lebih tepatnya. Papa sudah lama meninggal. Aku sekarang hanya tinggal dengan mama dan adik perempuanku. Jadi secara tidak langsung aku sudah terbiasa untuk menghargai perempuan. Jadi saat Richie melihat bagaimana aku memperlakukan Cinta, dikiranya aku playboy hahaha..." Hannah tahu Jeno terbiasa memanggil Dila dengan sebutan Cinta.
"Besok jam berapa ke bandara? Aku antar ya." kata Jeno.
"Jam 8. Richie dan Dila akan mengantarku. Makasih tawarannya." kata Hannah. Mereka berdua diam setelah jawaban Hannah.
"Aku harap kita masih bisa bertemu." Jeno terdengar serius.
"Tentu. Hubungi aku jika kamu main ke Jakarta ya."
"Benarkah?" tanya Jeno.
"Serius. Senang bisa berkenalan denganmu di sini Jeno." Hannah maju memeluk Jeno sebelum ia turun. Jeno telah membantunya sedikit melupakan kejadian Richie dan Dila dua hari ini.
"I'll call you. Have a safe flight tomorrow." kata Jeno. Hannah mengangguk dengan senyuman. Ia berbalik masuk melewati pintu hotel. Sedang Jeno masih menatapnya hingga bayangan punggungnya menghilang, merasakan jantungnya yang hampir meledak karena pelukan singkat Hannah tadi.
*****
"Om, Dila akan menemui Bram sekali lagi. Dila akan memintanya baik-baik sebelum Dila melapor ke polisi." Dila menelepon Ivan di dalam mobil Richie yang terparkir di taman biasa. Richie akan mengantarnya ke stasiun radio sebentar lagi.
"Sudah? Apa kata Om Ivan?" tanya Richie.
"Dia bilang dia akan mendukungku apapun keputusanku nanti. Bukti telah om Ivan pegang." Dila sebenarnya ingin menyelesaikan semuanya dengan jalan damai. Tapi mengingat watak om Bram, sepertinya itu mustahil.
__ADS_1
"Aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya agar mamamu bisa merestui hubungan kita." kata Dila.
"Apa maksudmu Dila? Restu mama tidak ada hubungannya dengan ini."
"Tentu saja ada Richie. Kalau aku anak orang kaya, mamamu tidak mungkin menentang hubungan kita."
"Kamu kira mama aku gila harta?" Richie sedikit tersinggung dengan perkataan Dila.
"Aku tidak tahu. Tapi mungkin saja. Lantas menurutmu apa alasannya beliau menentang kita?" Dila bertanya balik. Richie terdiam.
"See...Aku harus menjadi orang kaya agar bisa diterima menjadi menantu mamamu. Agar aku tidak dihina, difitnah mau mengambil hartamu jika kita menikah nanti." Dila emosi.
"Cukup Dila! Aku tidak butuh itu semua. Aku bukan ingin menikahimu karena warisan orang tuamu. Berhenti berbicara begitu tentang mamaku." Richie ikut tersulut emosi.
"Kamu tidak mau mengakuinya walaupun kamu tahu itu benar." Dila keluar dari mobil meninggalkan Richie di sana. Tidak ada gunanya berbicara jika masing-masing sedang emosi.
Richie tidak bisa tidur. Ia mendengar Suara Cinta tadi. Suara Dila terkesan baik-baik saja setelah kejadian tadi. Ia kesal mengakui bahwa semua perkataan Dila mengenai mamanya sebenarnya adalah benar. Tapi itu melukai harga dirinya sebagai lelaki. Ia tidak mau dianggap menikahi Dila karena warisan orang tuanya. Walaupun tanpa warisan itu, Richie tetap akan menikahi Dila. Hanya saja dengan adanya warisan itu, akan mempermudah jalan mereka mendapatkan restu mama Richie. Ini pertengkaran pertamanya dengan Dila. Harusnya tadi ia tidak berbicara dengan nada marah. Harusnya ia mengerti dengan pemikiran Dila. Tapi mengerti akan hal itu berarti ia mengakui jika benar mamanya gila harta. Dan kesalahan terbesarnya adalah tidak menjemput Dila tadi. Aaaahhhh... Richie melempar bantalnya.
"Tumben Richie tidak menjemputmu?" tanya Jeno di dalam mobilnya.
"Dia sedang ada kerjaan." jawab Dila.
"Maaf Kak. Sudahlah tidak perlu dibahas. Masih kontak dengan Hannah, Kak?" Dila mencoba mengalihkan topik.
"Masih." Jeno menjawab singkat dan tersenyum. Dila melihatnya.
"Ciee..ciee... Kayaknya ada yang jatuh cinta nih." Dila menggodanya. Mereka tertawa.
"Tapi dia jauh di atasku Cinta. Kayak mau menggapai bintang."
"Dulu aku juga berpikir begitu tentang Richie. Tapi akhirnya bintang itu jatuh sendiri jadi meteor hahaha... Tidak ada yang tidak mungkin kok. Coba perjuangkan Kak. Wanita itu suka jika dicintai dan diperjuangkan."
"Dapat saran langsung dari pakar cinta nih hahaha..." Jeno menurunkan Dila di tempat biasa.
Dila melihat ponselnya setelah ia mandi. Lima panggilan tak terjawab dari Richie. Ia mengabaikannya. Dila sedang kesal dengan Richie. Ia mencoba mempertahankan hubungannya walaupun dengan cara merebut kembali warisan orang tuanya. Tapi Richie malah menganggap Dila menjelekkan mamanya. Dila tahu mama Richie pasti berpikir Dila bukan wanita yang pantas untuk Richie. Richie adalah salah satu pengusaha sukses di usianya yang terbilang muda dan tidak berada di bawah bayang-bayang papanya. Dila mendengus kesal. Besok ia pasti bertemu dengan Richie di kantor. Jika Richie menjemputnya besok pagi seperti biasa, mungkin Dila berpikir akan melupakan pertengkaran mereka hari ini.
*****
Ternyata Richie tidak menjemput Dila. Ok fine. Dila bisa pergi sendiri ke kantor. Lihat saja nanti, Dila berpikir akan memperpanjang pertengkaran kemarin. Sudah pukul 08.30 tetapi Richie belum juga datang. Akhirnya Dila memutuskan untuk menelepon Richie, setidaknya ia asisten Richie dan harus tahu di mana atasannya sekarang. Telepon pertama tidak diangkat. Kedua juga tidak diangkat. Ketiga telepon Richie sepertinya tidak aktif lagi. Dila bingung apa yang terjadi. Ia mencoba menghubungi hotel Sky bertanya apakah Richie berada di sana. Namun nihil, Richie tidak ada. Dila memutuskan untuk ke rumah Richie.
Mobil Richie terparkir di sana. Dila tahu ada kunci cadangan di bawah keset teras belakang. Ia mengambilnya dan masuk ke dalam. Dila langsung menuju ke kamar Richie, perasaannya tidak enak. Benar saja. Dila menemukan Richie berkeringat di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Richie, kamu kenapa?" Dila melihat Richie setengah sadar.
"Dila?" Richie merasakan kepalanya berdenyut.
"Kamu demam Richie. Sejak kapan? Sudah minum obat?"
"Semalam. Aku meneleponmu, tapi kamu ga angkat." Dila merasa bersalah tidak menelepon balik Richie.
"Maaf. Sepertinya kamu harus ke dokter." Dila melihat ada bintik merah di leher Richie. Dila memberanikan diri mengangkat kaos yang dipakai Richie. Sepertinya ia terkena cacar air.
"Ada kontak Dokter Nico di hp ku, minta dia datang saja sayang." Dila mengambil ponsel Richie yang ternyata mati habis daya.
"Sudah aku telepon. Kamu sepertinya kena cacar air Richie." Richie terkejut, pantas saja ia merasa agak gatal di beberapa area tubuhnya.
"Bukannya itu menular? Kamu jangan dekat-dekat Dila."
"Tenang saja, aku sudah kena pas kuliah dulu." Dila tertular oleh Vio yang juga tertular oleh teman sekelasnya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian dokter Nico tiba. Usianya mungkin baru 30an tahun. Ia memeriksa Richie dan benar Richie terkena cacar air.
"Saya resepkan obat demam dan anti virus ya, sama salep oles biar tidak terlalu gatal." Dila menerima resep yang ditulis oleh dokter Nico.
"Cepat sembuh ya Bro." dokter Nico menepuk kaki Richie.
"Thx Nic. Ntar gw traktir lo makan ya kalau sudah sembuh."
"Gampang. Gw duluan ya." Nico pulang setelah pamit dengan Dila juga.
"Richie, aku pergi nebus resep dulu ya." kata Dila.
"Temanin aku di sini saja sayang. Resepnya beli pakai aplikasi saja. Ada di hp ku." Dila menurutinya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Astagaaa..Aku lupa ngabarin anak kantor. Gimana kalau mereka mencariku? Mana kamu juga ga ke kantor."
"Aku sudah kasih tau Karin. Dia juga tahu hubungan kita." kata Richie.
"Kamu kasih tahu dia kalau kita pacaran?" mata Dila membelalak.
"Iya. Aku butuh orang yang bisa dipercaya selain kamu di kantor. Untuk hal-hal urgent begini." Richie memejamkan matanya. Ia merasakan sakit di semua tubuhnya, juga gatal.
"Ya sudah, aku masakin bubur ya. Kamu tidur dulu, nanti aku bangunin." Dila mencium kening Richie. Terasa suhu panas di keningnya.
__ADS_1