SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 44


__ADS_3

"Pesawatku delay jam 7 malam." pesan Richie masuk ke Dila. Dila baru sampai di kamarnya. Seharian Mario menemaninya. Setelah dari taman kupu-kupu mereka pergi ke tempat Dila memesan perabot rumahnya. Dila ingin memeriksanya sebelum barang itu dikirim ke Jogja. Kemudian mereka wisata kuliner dan berkeliling. Sebenarnya Dila kurang nyaman jalan dengan Mario di saat Richie tidak ada. Namun Mario memaksa dengan alasan mereka adalah teman lama.


Dila sudah selesai mengeringkan rambutnya. Ia mengambil ponsel melihat beberapa foto dirinya dengan kupu-kupu. Sungguh indah foto yang diambil Mario. Hingga sekarang Dila masih tidak menyangka bisa berbicara dengan Mario seperti hari ini. Salahkah ia jika merasa sedikit bahagia? Toh Dila tidak melakukan apa-apa dengan Mario. Andaikan dulu Dila memiliki keberanian saat Mario memayunginya. Keberanian untuk mengucapkan kalimat selain sekedar terima kasih. Ahh.. Tapi apa bedanya jika ia memiliki keberanian itu. Tidak akan ada yang berubah. Mario bukan seseorang yang pantas untuknya saat itu.


'Aduuuh Dila. Kamu bayangin apaan sih? Sadar donk. Kamu itu istri orang sekarang!' Dila memukul ringan kepalanya. Tapi perasaannya berkata tidak ada yang salah dengan pikirannya. Dila bukannya amnesia. Ia tidak bisa begitu saja melupakan masa lalunya. Dila yakin setiap wanita memiliki seseorang yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya walaupun ia sudah menikah. Mantan terindah. Cinta pertama. Kedua. Ataupun ketiga. Pasti ada seseorang. Dan bagi Dila, mungkin itu Mario, karena tidak banyak pria yang hadir dalam hidupnya. Hanya Mario dan Richie.


Mario membuat Dila lebih semangat pergi kuliah. Walau Dila hanya bisa melihatnya dari jauh, namun bagi Dila itu lebih dari cukup. Dila bukan tipe wanita yang cepat menyukai seseorang. Hanya Mario selama tiga tahun ia kuliah. Tapi Dila tentu saja bukan stalker. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk itu.


Richie. Dila merindukannya sekarang. Ia tidak mungkin bisa memikirkan pria lain jika ada Richie di dekatnya. 'Apakah aku harus menjemputnya di bandara?' tanya Dila dalam hati. Sekarang baru jam enam sore. Masih sekitar tiga jam lagi Richie baru sampai. Ia akhirnya ketiduran dan terbangun pukul delapan malam. Dila buru-buru berganti pakaian. Ia hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans pendek. Berkaca sebentar dan langsung keluar kamar.


"Malam Mba, mobil yang aku sewa masih bisa dipakai tidak ke bandara sekarang? Mau jemput suami saya." tanya Dila. Wanita yang dipanggil 'Mba' itu terlihat menghubungi seseorang.


"Maaf Bu. Pak Wayan sudah pulang. Apa perlu saya minta beliau untuk datang lagi?" tanyanya. Dila bingung, tidak akan sempat jika menunggu sopir itu kembali ke hotel.


"Dila. Ada apa?" Mario muncul. Rambutnya tampak basah. Ia hanya mengenakan kaos dan celana santai pendek.


"Ah..Eh..Tidak apa-apa."


"Ada apa Ratih?" Mario bertanya kepada pegawainya.


"Maaf Pak. Ibu Dila mau pakai mobil, kebetulan Pak Wayan sudah pulang."


"Oh, kamu mau ke mana Dila? Aku bisa antar."


"Ke bandara, jemput Richie." jawab Dila.


"Ayo aku antar." Mario mengambil kunci mobil pribadinya dengan Ratih. Dila masih terdiam. Entah pilihannya benar atau tidak.


"Ayo..Nanti telat lho." kata Mario. Akhirnya Dila mengikutinya. Benar. Nanti telat.

__ADS_1


Sekarang Dila benar-benar hanya berdua dengan Mario dalam satu mobil. Tadi siang mereka berkeliling dengan mobil hotel yang pastinya ada Pak Wayan.


"Jam berapa pesawat Richie?"


"Dari Jakarta jam tujuh katanya." Dila sudah mengirim pesan ke Richie bahwa ia akan menjemputnya. Namun pesan itu tidak terkirim. Mungkin Richie sedang berada di pesawat pikirnya.


"Kamu sudah makan Dila?" tanya Mario.


"Belum. Aku ketiduran tadi. Maaf aku jadi mengganggumu. Kamu tidak pulang ya?" tanya Dila.


"Aku tidak punya rumah di sini. Rumahku di Jogja. Rumah lamaku. Di sini aku tinggal di hotel. Selantai dengan rooftop tempat kita makan malam kemarin." jawab Mario. Sebulir air menetes dari rambutnya. Dila melihatnya.


"Rambut kamu basah." kata Dila.


"Oh, aku tadi habis berenang. Bisa tolong ambil handuk di kursi belakang?" pinta Mario. Dila mengambilnya dan memberikannya pada Rio. Rio mengusap handuk itu ke rambutnya.


"Maaf, bisa pegang handuknya sebentar?" Dila mengambilnya dari tangan Mario. Ia melihat leher Rio yang masih basah. Dila ragu apakah boleh ia mengelapnya. Ah, bukan masalah besarlah. Dila memberanikan diri mengelap pinggir leher Mario dengan handuk yang dipegangnya.


Mario memarkirkan mobilnya di bandara. Ia turun menemani Dila. Dila melihat pesan yang dikirim ke Richie belum juga terkirim. Ia mencoba telepon namun gagal, tidak tersambung.


"Dila, harusnya flight dari Jakarta sudah sampai 30 menit yang lalu. Richie tidak menunggu bagasi kan?" Dila menggeleng. Mereka menunggu sekitar dua puluh menit, berharap Richie hanya ke toilet atau yang lain. Tapi yang ditunggu belum juga menampakkan bayangnya.


"Ya Ratih." Mario menjawab panggilan teleponnya.


"Oh ok. Tolong beri tahu Pak Richie kalau kami segera pulang. Makasih ya." Dila melihat ke arah Mario.


"Richie sudah sampai di hotel. Kita pulang yuk." ajak Mario.


"Maaf ya. Aku sudah merepotkanmu tanpa hasil." kata Dila sambil berjalan ke parkiran.

__ADS_1


"Siapa bilang tanpa hasil. Bisa berjalan berdua denganmu adalah hasil terbaikku selama ini." Mario berbicara tanpa melihat ke arah Dila, seakan terhanyut oleh pikirannya sendiri. Sekali lagi, Dila bingung dengan kalimat Mario yang tidak dimengertinya.


Richie duduk di lobi menunggu istrinya pulang. Ia sedikit kesal mengetahui Dila pergi dengan Rio walaupun itu untuk menjemputnya di bandara. Rio menikah di umur yang cukup muda, 24 tahun, sekitar dua atau tiga tahun lalu. Setahu Richie, Rio dijodohkan oleh orang tua mereka. Setelah ayah Rio meninggal, ia pun bercerai dengan istrinya. Mungkin selama ini Rio tidak pernah mencintainya. Richie tahu Rio bukan tipe pria hidung belang, namun jika membayangkan pria seganteng Rio jalan berdua dengan istrinya malam-malam, tetap saja ia cemburu.


"Sayang? Kok tidak naik ke kamar?" Dila muncul di depan Richie. Richie langsung memeluknya erat. Mencium kening dan juga bibirnya. Entah sengaja atau memang ia ingin memperlihatkan bahwa Dila adalah miliknya.


"Sayang, apaan sih? Malu dilihat orang." Dila melepaskan ciuman Richie.


"Biarin, kamu kan istriku. Rio, makasih ya sudah mau jemput. Tadi ponselku habis daya. Aku tidak menyangka istriku yang manis ini mau menjemputku. Mana diantar sama bos besar pula hahaha..." Richie tertawa. Mario pun ikut tersenyum.


"Santai bro. Kapan lagi aku bisa menjemputmu, tadi kebetulan Pak Wayan sudah pulang. Dila kelihatan ingin sekali menjemputmu." ucap Mario.


"Dia pasti sudah kangen suaminya. Sekali lagi terima kasih ya. Kami naik dulu." Richie melambaikan tangannya. Dila pun tersenyum sambil berkata 'thank you' tanpa mengeluarkan suaranya. Tapi Mario cukup mengerti dengan gerakan bibir itu. Ia tersenyum kepada Dila yang mulai menghilang masuk ke dalam lift.


"Kamu kok pergi sama Mario sih tadi?" Richie keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dila masih berdebar melihat Richie yang telanjang dada. Suaminya yang tampan namun cemburuan.


"Kan sudah dibilang tadi, Pak Wayan sudah pulang saat aku turun tadi. Kebetulan Mario muncul, dia nawarin mau antar ke bandara. Masa aku bilang tidak?" jawab Dila.


"Memangnya kenapa kalau kamu jawab tidak? Tidak salah kan?"


"Aku kan pengen jemput kamu. Sudahlah. Tidak usah diributkan. Lain kali aku tidak mau menjemputmu lagi. Niat mau berbuat baik malah dimarahin terus dari tadi." Dila ngambek. Ia membalikkan badannya dan bermain ponsel sambil berbaring.


"Iya, iya. Makasih sudah mau jemput aku tadi. Maaf ya.." Richie memeluk istrinya dari belakang. Dila berbalik lagi menatapnya.


"Masalah papa sudah selesai?" Richie tidak berharap pertanyaan itu keluar dari mulut Dila.


"Sudah. Besok kita bisa jalan-jalan lagi. Aku kangen banget sama kamu." Richie mulai mencium bibir Dila dan turun ke lehernya.


"Kamu tidak capek? Istirahatlah." Dila tertawa geli saat Richie mencium ujung telinga Dila.

__ADS_1


"Malah capeknya langsung hilang lihat kamu." Mereka melepaskan kerinduan sebagai sepasang pengantin baru. Tidak memikirkan hal lain lagi yang bisa menyebabkan kecurigaan kepada pasangan mereka. Bukankah mereka sudah cukup dewasa untuk menyikapi segala kecemburuan yang tidak mendasar? Hanya saja terkadang cemburu terasa penting untuk menyadarkan pasangan kita bahwa dirinya sudah ada yang punya.


*****


__ADS_2