SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 56


__ADS_3

Mereka akhirnya sampai di Bali. Rio menyuruh kedua perawat itu untuk tidak mengenakan seragam mereka agar tidak menarik perhatian.


"Selamat siang Pak Mario." Para karyawan menyapa Mario yang sudah tidak terlihat selama satu minggu lebih. Mereka melihatnya menggandeng seorang wanita mungil yang memakai masker putih di wajahnya.


Mario tersenyum ke Dila. Ia pernah memimpikan hal ini. Saat Dila dan Richie datang ke Bali berbulan madu dan menginap di hotelnya, Mario membayangkan ia adalah Richie. Gila memang. Namun fantasi itu kini menjadi nyata. Ia bisa menggandeng Dila masuk ke kamar pribadi yang ditempatinya selama ini.


"Kita satu kamar?" tanya Dila gugup.


"Iya. Para perawat di kamar sebelah. Mereka akan ke sini jika kita memanggilnya." Dila bingung. Ia benar-benar seperti istri yang berselingkuh sekarang. Ponselnya berbunyi. Richie. Ia menjawabnya.


"Hai sayang. Kami baru sampai." jawab Dila.


"Kamu baik-baik saja? Sehat kan?" Richie berusaha menahan nada suaranya tetap tenang. Ia tidak mau membebani Dila dengan perasaan cemburunya. Richie percaya bahwa Dila tidak akan mengkhianati cintanya.


"Sehat sayang. Kamu sudah makan?" tanya Dila. Mario mendengar percakapan mereka. Ia memeluk Dila dari belakang. Mencium rambut dan pucuk kepala Dila. Dila terkejut. Ia berusaha membalikkan badannya, namun Mario menahannya.


"Belum. Nanti ada janji makan siang dengan Evan, sebentar lagi aku baru jalan. Sayang, kalau mama telepon kamu, tolong jangan cerita apa-apa ya. Terus jangan lupa minum vitaminmu." pesan Richie.


"Iya sayang."


"Ok. Aku jalan dulu ya. Take care. I love you."


"I love you too." balas Dila. Ia menutup teleponnya.


"I love you Cinta." ucap Mario sambil tetap memeluknya.


"Kita benar-benar seperti pasangan yang berselingkuh sekarang." Dila berbalik menghadap Mario. Mario tersenyum.


"Aku yang menjadi selingkuhanmu. Apa kamu terpaksa melakukan ini?" tanya Mario. Dila terdiam.


"Maaf. Pertanyaan bodoh. Tentu saja kamu terpaksa." Mario melepaskan pelukannya. Ia mengambil kaos di lemarinya. Dila mendekatinya. Menarik lengannya hingga Mario berhadapan dengannya.


"Aku tidak terpaksa Mario. Aku ingin kamu bahagia sebelum melakukan operasi. Aku cukup tersanjung kebahagiaan yang kamu pilih adalah aku. Ayo kita berselingkuh selama tujuh hari." Dila tersenyum. Mario memeluknya.


'Richie, maafkan aku. Aku mencintaimu. Namun aku tidak bisa melihat Mario terpuruk dan putus asa. Aku harus membangkitkan semangat hidupnya. Bagaimanapun juga, Mario pernah menempati tempat terindah di hatiku sebelum kamu datang. Hanya tujuh hari. Aku janji.' ucap Dila di dalam hatinya.

__ADS_1


"Jadi kamu ingin kemana hari ini?" tanya Mario.


"Terserah kamu donk. Aku ikut saja. Atau hari ini kita di hotel saja. Nanti kamu kelelahan. Kita istirahat saja ya." ucap Dila. Mereka berbaring dan saling bercerita.


"Kamu tahu Cinta. Aku dulu seperti penguntitmu saat kita kuliah dulu." Mereka tertawa mengingat masa lalu.


"Masa sih? Aku kira aku yang menguntitmu?" jawab Dila.


"Dulu aku kira kamu menyukai Jeno."


"Aku tidak pernah menyukainya. Dulu aku menyukaimu." ucap Dila. Mario melihat seolah tidak mempercayainya.


"Benar. Aku menyukaimu dulu. Namun aku terlalu sibuk. Sepulang kuliah aku harus bekerja paruh waktu. Aku mengajar di bimbel. Kamu ingat yang kamu tulis bahwa setiap Jumat aku suka kembali ke kampus jam enam sore?" Mario mengangguk. Ia masih mengingat semuanya.


"Itu karena setiap Jumat bimbelnya tutup jam setengah enam sore. Makanya aku memanfaatkan waktu untuk membuat tugas di perpustakaan. Senin hingga Kamis aku harus mengajar hingga jam tujuh malam."


"Hidupmu pasti berat dulu." Mario membelai wajah Dila. Wajah yang selalu dirindukannya selama ini.


"Ya sedikit berat. Tapi aku berhasil melewatinya."


"Jangan pernah meragukan jalan yang sudah diatur oleh Tuhan. Mungkin jika dulu kita bersama, kita akan bercerai dan sekarang bermusuhan. Siapa tahu kan. Percayalah Mario. Waktu akan membuat segalanya menjadi indah." Dila menggenggam erat tangan Mario. Mario mendekatkan dirinya ke Dila. Ia memberanikan diri mencium bibir Dila yang selalu diperhatikannya dari jauh. Ia ingin merasakan ciuman itu.


Dila tahu hal ini akan terjadi. Berciuman dengan Mario. Dila setuju untuk menjadi kekasihnya selama tujuh hari, berarti ia juga telah setuju untuk melakukan ini. Ia memejamkan matanya saat Mario mencium bibirnya. Dila tidak munafik. Dulu sekali ia pernah memimpikan hal ini, berciuman dengan pria yang disukainya. Itu normal bagi siapapun yang sedang jatuh cinta. Tetapi setiap ia menikmati ciuman itu, saat itu juga ia merasa bersalah kepada suaminya. Tapi jujur, Mario is a good kisser. Pelan namun dalam. Tidak lebih baik dari Richie pastinya, pikir Dila kembali ke alam sadarnya.


Mario merasakan dirinya yang tidak akan bisa terkontrol jika meneruskannya. 'Jangan pernah berpikir untuk meniduri istriku!!' Pesan Richie yang entah diucapkannya berapa kali. Mario melepaskan ciuman itu. Ia masih bisa mengontrol dirinya. Dirinya merasa sudah banyak berutang dengan Richie dan ia tidak mau melanggar janji dengan temannya itu.


Dila secara tidak langsung bersyukur Mario melepaskan bibirnya. Gairah seksual Dila meningkat akibat hormon kehamilannya. Dan sialnya, ia berada di sini dengan selingkuhannya, bukan suaminya.


"Richie akan membunuhku jika tahu aku menciummu." kata Mario. Mereka tertawa. Terdengar suara bel pintu berbunyi, Dila membukanya. Ternyata perawat Mario datang untuk menyuntikkannya obat. Dan perawat satunya lagi mengecek tekanan darah Dila. Mereka keluar setelah menyelesaikan tugasnya.


"Kamu lapar? Aku pesankan cemilan ya. Kamu pasti sering lapar karena hamil." Mario menelepon bagian dapur untuk membawakannya beberapa makanan.


"Mario. Sejak kapan kamu tahu bahwa ada tumor di otakmu?" tanya Dila. Ia sangat penasaran tentang itu.


"Sejak aku masih di Amerika. Sebelum aku bercerai malah. Aku sering merasakan sakit kepala yang amat sangat. Saat aku periksa ke dokter, mereka menemukannya di otakku. Aku langsung memutuskan untuk bercerai karena papa juga sudah tidak ada lagi. Pikiranku hanya satu, kalaupun aku sampai mati, aku hanya ingin mati di sini. Ternyata Tuhan sangat sayang padaku. Aku masih diberi kesempatan untuk bertemu denganmu. Cinta pertama dan satu-satunya dalam hidupku. Setidaknya hingga sekarang hahaha.. Doakan aku mendapatkan jodoh lain jika kamu tidak mau denganku." Mario tertawa. Setelah sekian lama ia tidak pernah merasakan bahagia karena cinta, akhirnya ia bisa merasakannya walaupun untuk waktu yang singkat. Dila terenyuh mendengarnya. Pasti Mario sangat kesakitan.

__ADS_1


"Apa di sini?" Dila menyentuh kepala kiri Mario.


"Di sini." Mario memindahkan tangan Dila turun sekitar 4 cm dari posisi awal.


"Kamu yang kuat ya. Habis operasi kamu pasti bisa sembuh." Dila meneteskan air matanya.


"Hei Cinta. Kamu jangan menangis ya. Aku tidak mau membuatmu menangis. Terima kasih kamu telah memberikanku alasan untuk mau dioperasi. Kita di sini untuk bersenang-senang. Ok?" Dila mengangguk. Tidak lama kemudian, makanan yang dipesan Mario datang. Dila melahapnya. Mario benar, ia langsung merasa sangat lapar setelah melihat makanan yang sangat menggugah selera itu.


Mario tersenyum melihat pemandangan di depannya, membayangkan Dila adalah istrinya dan sedang mengandung anaknya. Dia menertawai lamunannya seperti orang bodoh. Mario tidak mau memikirkan penyakitnya sekarang. Ia ingin menikmati waktu yang singkat ini bersama Dila.


*****


Richie belum melewati malam pertamanya tanpa istrinya. Ia masih mendengar radio. Malam ini Dila yang seharusnya sedang siaran Suara Cinta. Dan sekarang Richie mendengar suara perempuan lain sedang mengisi acara yang sama. Richie mematikan radionya. Ia tidak tertarik jika bukan Dila alias Cinta yang membawakannya.


Richie melihat ponselnya. Dila sering mengiriminya beberapa gambar. Tadi siang ia mengirim foto cemilan, makan siangnya, dan pemandangan dari kamarnya. Sore menjelang malam, Dila mengirim foto makan malamnya, selfie dengan kedua perawatnya, dan juga foto dirinya sendirian. Richie tidak pernah melihat ada foto Mario. Mereka juga telah sepakat tidak akan melakukan video call. Richie tidak akan mau melihat istrinya bersama laki-laki lain walaupun itu Mario. Sebagai gantinya, mereka akan saling berkirim foto masing-masing.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia mencoba menelepon Dila sebelum tidur.


"Sayang, lagi ngapain?" tanyanya.


"Baru selesai ukur tensi. Kamu belum tidur?" tanya Dila.


"Belum. Lagi baca email kerjaan. Tensinya bagus? Anak kita tidak menyulitkan mamanya kan?" Richie merindukannya.


"Normal sayang. Anak kita hebat kok. Dia tahu papanya lagi jauh, jadi dia yang jagain mamanya. I love you sayang. Miss you so much." ucap Dila.


"Aku merindukanmu sepuluh kali lipat. Kamu tahu itu? Dan aku masih harus melewatkan enam hari tanpamu." Richie memeluk guling yang selalu dipeluk Dila. Menciumi bau istrinya yang tertinggal di sana.


"Jarak yang jauh ini bisa menyadarkan bagaimana kita sebenarnya sangat saling membutuhkan. Kamu tadi bertemu Jeno?" tanya Dila.


"Iya. Aku menceritakan semuanya. Dan dia menganggap aku pahlawan yang gila." Mereka tertawa. Tidak berapa lama, mereka mengakhiri pembicaraan itu walaupun masih rindu.


Rindu memang indah jika kita mengetahui rasa itu akan berakhir dengan pertemuan kembali. Tapi rindu akan menjadi penyiksaan bagi mereka yang tahu bahwa rasa itu tidak akan pernah berakhir.


*****

__ADS_1


__ADS_2