SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 43


__ADS_3

"Mario? Kok kamu ada di sini?" Dila terkejut.


"Aku sedang mengambil beberapa foto kupu-kupu saat matahari terbit. Untuk pajangan hotel." jawabnya. Mario tampak santai dengan kaos dan jaketnya.


"Kamu hobi foto?" tanya Dila. Mario berjalan mendekatinya.


"Kamu lihat beberapa foto yang ada di lobi bawah? Semuanya adalah hasil fotoku. Cuma hobi sih." jawabnya. Dila pernah melihat beberapa foto di lobi saat ia sedang menunggu mobil. Ia tidak menyangka itu diambil oleh Mario.


"Bakat terpendam ya." Mereka tertawa. Dila lanjut berkeliling. Mario menjadi pemandu dadakannya. Ia banyak tahu soal spesies kupu-kupu di sana karena sering berkunjung.


"Mana Richie? Aku belum melihatnya dari tadi."


"Ia ada urusan sebentar di Jakarta. Nanti sore balik lagi kesini." jawab Dila.


"Ooh..Sudah berapa lama menikah dengan Richie?" tanyanya.


"Baru kok. Seminggu lebih. Hampir dua minggulah. Richie tidak mengundangmu?" tanya Dila sambil melirik ke arah Mario yang juga sedang menatapnya.


"Tidak. Dia melupakanku sepertinya hahaha... Mungkin dia lupa aku sudah kembali dari Amerika." Dila ingin bertanya alasannya bercerai. Tapi sepertinya itu tidak pantas ditanyakan.


"Kamu tambah cantik Dila." tambahnya. Jantung Dila berdegup kencang. Dulu Mario tidak pernah memujinya seperti ini, mengobrol saja tidak pernah.


"Terima kasih. Tapi sepertinya sama saja. Dulu kamu jarang berbicara seingatku."


"Aku bicara seperlunya saja kalau di luar. Pusing kalau kayak Jeno. Dia saja yang tahan dikerumunin gitu. By the way, Jeno juga masih tinggal di Jogja kan? Kami pernah berkirim kabar walaupun tidak sering." katanya.


"Aku sering bertemu Jeno. Dia pemilik stasiun radio tempat aku jadi penyiar."


"Kamu? Penyiar radio? Dila yang pendiam itu bisa jadi penyiar?" Mario seakan terkejut dengan apa yang didengarnya. Dila mengangguk.

__ADS_1


"Woow. Aku tidak menduganya. Dulu aku ingin sekali mengobrol denganmu. Tapi kamu seolah membentengi semua orang yang ingin mendekatimu." ucap Mario pelan.


"Hah? Masa? Aku tidak ingat ada yang ingin mendekatiku dulu." Dila tertawa. Ia ingat, teman dekat saja ia tidak punya. Sepulang kuliah ia tidak punya waktu untuk nongkrong ataupun jalan-jalan seperti mahasiswa lain. Dila harus kerja paruh waktu untuk mencari biaya kuliahnya dan sekolah Vio.


"Aku. Itu aku." jawab Mario. Ia berhenti. Dila pun ikut menghentikan langkahnya. Mario jadi salah tingkah. Ia mengambil foto kupu-kupu yang terbang di sekitarnya.


'Apa aku tidak salah dengar?' batin Dila dalam hati. Ponselnya berbunyi. "Hubbie."


"Ya sayang. Aku lagi di taman kupu-kupu. Kamu sudah sampai?"


"...."


"Baiklah. See you tonight."


"Itu Richie?" tanya Mario.


"Iya. Dia baru sampai di Jakarta." Mereka lanjut berkeliling.


"Oh tidak mengganggu kok. Aku senang bertemu denganmu. Sungguh." Mario menatap Dila yang sedang menikmati pemandangan di depannya.


Ardila Cintania. Mana mungkin ia melupakannya. Seorang gadis cupu saat kuliah dulu. Gadis yang tidak pernah terpengaruh oleh ketampanan Jeno walaupun Jeno sering menggodanya. Gadis yang dulu selalu menunggu angkot berwarna kuning di depan kampusnya. Gadis yang selalu memakai sepatu kets hitam yang akan basah jika terkena hujan. Ya hanya pada saat hujan pada hari itu Mario memiliki alasan untuk berinteraksi dengan Dila. Mario berbagi payungnya di saat gadis itu sedang menunggu angkot. Jujur saja, bukan Mario tidak berani untuk mendekati Dila. Hanya saja kedua orang tuanya sudah mengatur pertunangannya dengan seorang wanita sejak awal dan Mario tidak memiliki kuasa untuk menolaknya. Ia lebih memilih untuk menghindari hubungannya dengan wanita lain. Mario tidak mau jatuh cinta jika ia tahu akan berakhir dengan duka. Dan lihatlah gadis itu sekarang. Dila telah tumbuh dewasa bagaikan kupu-kupu yang sedang mengepakkan sayap cantiknya. Mario tersenyum memandang Dila. Cinta pertamanya.


*****


Richie menutup panggilannya ke istrinya. Meminta maaf dalam hatinya.


"Vina, lama banget sih kamu sampainya." panggil Richie. Ia dan Vina sudah janji bertemu di rumah sakit di daerah Pluit Jakarta. Airin tidak sengaja terkena pecahan kaca saat dia berantem dengan Aiden.


Sebenarnya luka di kepalanya tidak terlalu parah. Tapi sepertinya Airin sangat shock hingga tidak mau berbicara dengan Aiden. Aiden meminta bantuan Vina untuk membujuk Airin. Vina pun akhirnya mengajak Richie. Awalnya ia tidak tahu Richie sedang berbulan madu. Setelah ia tahu, malah Richie yang memaksa untuk ikut. Walaupun akhirnya Richie malah harus berbohong dengan Dila. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Dila jika tahu ia meninggalkan Bali karena Airin.

__ADS_1


"Aiden, bagaimana Airin?" tanya Vina. Ia melihat Aiden sedang berdiri di luar kamar.


"Masih sama. Ia...tidak mau berbicara padaku." Vina masuk. Richie masih tetap berdiri di luar.


"Aiden, bisa kita bicara?" tanya Richie. Aiden mengangguk, mengajaknya menjauhi pintu kamar Airin.


"Apa yang terjadi?" Richie bertanya.


"Airin terkena pecahan kaca. Saat itu aku emosi hingga melempar vas bunga. Tapi aku bersumpah aku tidak melemparnya ke arah Airin. Pecahan vas itu terlempar." Aiden kelihatan menyesal dengan perbuatannya.


"Maaf. Bukan aku mau ikut campur dengan urusan pribadi kalian. Tapi kamu tahu kan bagaimana aku menyayangi Airin. Walaupun aku sudah menikah, aku masih menyayanginya. Mungkin bukan sebagai wanita, tapi lebih sebagai sahabat. Aku mohon selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Tempatkan dirimu di posisinya. Kamu suaminya. Kamu pasti tahu Airin itu wanita yang tidak akan bertindak jika apa yang kamu lakukan tidak kelewatan." Richie mencoba menahan emosinya.


"Aku mengerti Richie. Aku ngerti. Tapi yang menurut aku biasa, bagi Airin itu sesuatu yang luar biasa. Ia selalu menganggap apa yang aku lakukan salah. Kelewatan. Tidak masuk akal. Aku bingung." Aiden terlihat sangat kusut sekarang.


"Cobalah bersikap tegas. Pria tidak bisa berpijak pada dua rumah Aiden. Airin cemburu karena ia mencintaimu. Aku tahu benar itu. Dan aku harap kamu bisa mencintainya lebih dari itu. Apalagi dia itu mantan istrimu. Jangan terlibat terlalu jauh. Aku tidak memihak siapa-siapa. Aku hanya berharap kamu bisa membahagiakan Airin seperti janjimu padaku dulu. Kamu pernah sempat kehilangan dia dulu. Jangan sampai kamu kehilangan dia lagi dengan sumber masalah yang sama." Richie menepuk pundak Aiden dan meninggalkannya. Membiarkannya berpikir.


Richie melihat Airin yang sedang menangis memeluk Vina. Ia mendekati mereka.


"Rin, kamu tidak apa-apa?" Richie membelai kepala Airin. Airin menoleh ke arah Richie. Ia mencoba berhenti menangis.


"Kamu..Kok kamu bisa di sini Ric?" tanyanya bingung.


"Kami di sini buat nemanin kamu." jawab Richie.


"Kamu yang sabar ya Rin. Pernikahan kalian sedang diuji. Jangan sampai biang masalahnya menang dan bersenang-senang dengan pertengkaran kalian." tambah Richie.


"Kurang sabar apa aku? Aiden keterlaluan. Benar-benar kelewatan!! " Airin menangis lagi. Richie dan Vina membiarkannya. Mungkin Airin memang butuh menangis untuk meluapkan kemarahannya.


Tidak lama kemudian Aiden masuk. Richie dan Vina berniat keluar kamar namun Airin menahan mereka. Ia ingin apa yang dikatakan Aiden juga bisa didengar oleh Richie dan Vina. Aiden berjanji tidak akan menanggung apapun yang berkaitan dengan Evelyn lagi. Ia hanya akan membantu Evelyn menemukan pekerjaan yang baru. Aiden tidak akan mempekerjakan Evelyn jika Airin tidak mengizinkannya. Ya, masalah selesai. Sepertinya begitu.

__ADS_1


Richie dan Vina berpamitan dengan mereka. Vina langsung pulang ke Bandung naik mobil dengan sopir pribadinya. Richie juga langsung kembali ke Bali. Tadi pagi ia sudah membeli tiket agar tidak kehabisan. Sayangnya pesawatnya delay hingga jam 7 malam. Berarti ia sampai ke Bali kira-kira pukul 9 malam. Richie mengirim pesan ke Dila. Baterai ponselnya hampir habis. Ia tidak membawa charger karena malas membawa tas.


*****


__ADS_2