
"Hai Dila. Rambutmu basah." Mario mengusap wajah dan rambut Dila dengan sapu tangannya. Sementara tangannya yang lain sedang memayungi mereka berdua dari hujan deras siang itu.
"Terima kasih Kak Mario. Kakak pulang naik apa?" Dila bingung mengapa ia bisa berbicara begitu santai dengan Mario. Tidak ada perasaan sungkan ataupun malu.
"Aku sudah ditunggu." Mario menunjuk sebuah mobil limousine putih tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Dila. Kamu pegang payung ini ya. Jangan pernah kehujanan lagi karena aku tidak akan tenang. Jangan pernah menangis karena air mata bukan tercipta untukmu. Tersenyumlah karena senyumanmu yang akan membuatku tidak takut akan kematian." Dila tersenyum karena Mario menyukai senyumnya.
Mario memberikan payungnya ke tangan Dila. Ia berjalan di tengah hujan deras menuju ke mobil yang menunggunya. Namun saat Mario menaiki mobil itu, perlahan mobil itu berubah menjadi delman yang terbang ke atas langit. Dila berteriak. Ia melempar payung tadi dan mengejar Mario. Dila berlari sekencang-kencangnya hingga kehabisan napas. Tapi delman yang membawa Mario semakin jauh dan menjauh.
"Sayang, bangun sayang. Kamu kenapa?" Richie membangunkan Dila.
Dila membuka matanya. Mencoba bernapas. Ia merasa napasnya tersekat di tenggorokannya. Dila melihat Richie duduk di sebelahnya.
"Sayang." Dila memeluk Richie sekuatnya. Richie mengusap punggung istrinya agar ia tenang.
"Sudah tidak apa-apa. Hanya mimpi." ucap Richie. Dila melepaskan pelukannya. Ia melihat ke arah jendela. Hari sudah pagi rupanya. Dila melihat ke arah Richie yang sudah mandi tapi masih belum berpakaian.
"Kok belum berpakaian?" tanya Dila.
"Aku selesai mandi tadi kamu lagi gelisah begitu. Memang mimpi apa tadi?"
"Seram. Tapi lupa." Dila sedikit berbohong. Ia malas jika berselisih pagi-pagi. Dila bangun lalu menyiapkan pakaian suaminya.
"Kok pagi banget sayang. Mau kemana? Biasa juga jam sembilan baru ke kantor." tanya Dila sambil memakaikan dasi ke Richie.
"Mau lihat proyek klien. PT Samudera. Kamu tahu kan. Dia kan ambil barang kita banyak. Aku cuma mau survei sekilas saja."
__ADS_1
"Sayang, aku boleh siaran ya besok." Dila menunggu jawaban Richie.
"Lihat besok. Aku mau lihat kondisi kamu dulu. Ukur tensi. Kalau normal baru aku kasih."
"Mana bisa mendadak sayang. Penyiar kan harus stand by." rengek Dila.
"Lihat besok siang ya. Cukup kan waktunya cari penyiar lain kalau dari siang sudah dikabarin." Dila cemberut melihat kelakuan Richie yang *overprotecte*d padanya.
Selesai sarapan, Dila mengantar Richie keluar. Betapa terkejutnya Dila saat mendapati tante Tiara berada di teras depan rumahnya.
"Pagi nak Dila. Ini pasti Richie ya suami Dila." sapanya sambil tersenyum. Belum sempat Dila dan Richie membalas salam itu, Tiara berlutut di depan mereka.
"Tante, bangun donk. Ada apa ini?" Dila berjongkok mencoba memintanya untuk berdiri. Richie yang bingung dengan sosok di depannya bertanya dengan Dila dengan sedikit berbisik.
"Mamanya Mario sayang." Dila menjawab pelan.
"Tante. Nanti Dila bicarakan lagi dengan Richie. Tante berdiri dulu yuk." Tiara berdiri. Ia tidak memiliki cara lain lagi. Ia sudah mendengar ceritanya dari Rio. Rio yakin Richie tidak akan membiarkan Dila menjadi kekasihnya. Ia sudah pasrah. Rio sengaja memberi syarat yang tidak mungkin dikabulkan Dila dan Richie. Tapi Tiara tidak akan pernah membiarkan Mario untuk menyerah dengan penyakitnya. Tiara memilih untuk membuang harga dirinya. Harga nyawa Rio jauh lebih berharga dari sekedar berlutut. Tiara pulang sambil berharap ada keajaiban yang akan terjadi.
Dila masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Richie yang terduduk dipinggir ranjang mereka.
"Sayang." Dila memegang tangan Richie. Lalu memeluknya. Ia tidak bisa memaksa Richie untuk memberikan izinnya. Biarlah Richie yang memutuskan agar tidak ada keterpaksaan atas semuanya.
"Aku punya syarat sayang. Kamu harus menerimanya jika kamu mau membantu Rio." Dila melepaskan pelukannya. Mendengar apa yang menjadi syarat suaminya.
"Kalian tidak boleh berhubungan badan apapun kondisinya. Aku tidak akan pernah mentolerir hal itu." Dila mengangguk.
"Tidak akan pernah sayangku. Aku akan selalu menjadi milikmu. Aku janji."
__ADS_1
"Hanya tujuh hari. Boleh kurang, tidak lebih. Aku akan menganggapmu sedang pergi liburan. Aku mempercayaimu." Richie menangkup wajah Dila dan menciumnya.
"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." Dila membalas ciuman Richie.
"Aku sangat mencintaimu hingga rela membagimu dengannya. Aku suami yang cukup gila ya hahaha..." Richie menertawai keputusannya sendiri. Tapi jauh di dalam hatinya, ia juga menyayangi Rio. Tidak mungkin ia tega membiarkan Rio mati begitu saja. Apalagi mamanya sampai berlutut tadi. Jika Richie tidak mengizinkannya, ia pasti akan menyesali keputusan itu seumur hidupnya. Namun sangat berat memang membayangkan Dila berdua dengan Mario. Hanya mengobrol saja ia sudah cemburu minta ampun. Apakah Richie harus meminum obat tidur saja agar ia bisa tidur tujuh hari tujuh malam. Entahlah. Ia tidak tahu bagaimana melewati malam-malamnya tanpa Dila.
Richie menemani Dila menemui Rio di rumahnya. Ia sudah tidak menginap di Sky. Kondisinya sedang drop. Tiara memanggil perawat pribadi untuk menjaga Rio.
"Hai Bro. Apa kabar?" sapa Richie.
"Seperti yang kamu lihat haha.. Maaf aku menyusahkan kalian berdua. Sungguh aku minta maaf."
"Aku mungkin suami tergila yang di bumi ini. Bagaimana aku bisa mengatakan iya pada syarat gilamu itu. Rio, janji kepada kami bahwa tujuh hari lagi kamu akan kembali untuk dioperasi. Aku tidak mau pengorbananku sia-sia." ucap Richie. Ia mendekati Rio dan mengajaknya high five.
"Aku janji." Rio tersenyum dan mengucapkan terima kasihnya.
Rio sudah berencana untuk mengajak Dila ke hotelnya di Bali. Tiara meminta Mario membawa perawat pribadinya. Setidaknya perawat itu juga bisa menjaga Dila yang sedang hamil.
Dila dan Mario menuju ke Bali dengan pesawat jet pribadi yang disewa Tiara. Akhirnya mereka membawa dua perawat pribadi. Tiara mau mereka standby 24 jam secara bergantian. Tiara juga merasa bertanggung jawab untuk menjaga Dila. Richie tadi ikut mengantar mereka. Jika dalam tujuh hari mereka tidak pulang, Richie berjanji akan menjemput Dila ke sana.
Mario melihat ke arah Dila yang duduk di sebelahnya. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Dila. Betapa ia sangat memimpikan hari seperti ini datang kepadanya suatu hari. Dan hari ini, selama tujuh hari, mimpinya terwujud. Mario bersedia menukar nyawanya demi tujuh hari itu.
"Kamu bahagia?" tanya Dila. Mario mengangguk.
"Rio, boleh aku pakai masker saat masuk ke hotelmu? Aku takut dikenali karyawanmu dan mengira kita pasangan selingkuh." Mario tertawa mendengar perkataan Dila.
"Memang kita sedang selingkuh kan?" Dila cemberut.
__ADS_1
"Bercanda. Boleh. Terserah kamu." Rio tidak bisa bilang tidak. Bagaimanapun Dila memiliki suami yang masih harus dijaga nama baiknya.