
Dila menutup telepon dari suaminya. Ia melihat ke arah Mario yang sedang tertidur setelah diberi obat penenang dan penghilang sakit. Tadi sakit kepalanya kambuh dan ia merasa sangat kesakitan. Dila sampai merasa takut dan menangis melihatnya. Baru sekali ini ia melihat kondisi Mario yang seperti ini. Dila melihat sisa makanan Mario di pinggir tempat tidurnya. Hanya beberapa sendok yang bisa masuk ke tubuh Mario. Ia sudah tampak lebih kurus dibanding Dila bertemu Mario kembali dua bulan lalu.
Seorang perawat bersiaga di kamar mereka. Ia sedang duduk di sofa depan. Kamar Mario hampir sebesar kamar Richie di Sky. Bedanya di kamar Richie ada lemari buku yang cukup besar. Kamar Mario lebih simple, ruang tamu, kamar dan sebuah kamar mandi.
Dila memeluk bantal gulingnya yang malam ini berbeda dari malam sebelumnya. Ia menyentuh kening Mario sekedar merasakan suhunya. Tidak hangat lagi seperti tadi. Dila mencoba memejamkan matanya, membayangkan Richie yang menyentuh tubuhnya. Sial! Mengapa ia berubah menjadi perempuan mesum sekarang? Tidur Dila. Tidur.
Dila terbangun karena sinar matahari telah mengintip di balik jendela di ruang tamu depan. Ia masih sedikit ngantuk dan melihat pria yang berbaring membelakanginya.
"Sayang, belum bangun?" Dila mendekatinya dan memeluknya dari belakang sambil tetap memejamkan matanya. Mario terbangun karena suara dan pelukan itu. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Dila masih terpejam. Mario memeluknya erat. Dila menenggelamkan kepalanya di dada Mario. Mario tersenyum senang walaupun ia tahu jelas bahwa pelukan itu sebenarnya bukan untuknya. Ia mencium kening Dila dan memeluknya erat.
"Sayang, aku lagi kepingin." ucap Dila pelan setengah berbisik. Mario merasakan wajahnya memanas dan sesuatu bangkit di bawah sana. Dila memasukkan tangannya ke balik kaos Mario. Menyentuh perut dan dadanya. Lalu bergerak turun ke bawah. Mario menjauhkan tubuhnya yang mulai merespon sentuhan Dila.
"Cinta. Ini aku." kata Mario dengan suara rendahnya. Dila membuka matanya setelah mendengar suara itu.
"Mario?" Dila langsung terduduk, bangun dari tidurnya.
"Astaga! Apa yang aku lakukan? Maaf Mario, aku lupa kalau ini kamu." Dila menutup wajahnya yang pasti memerah.
"Tidak apa. Tadinya aku ingin menutup matamu dan melakukannya denganmu hahaha.. Aku hanya bingung, kemana larinya Ardila yang pemalu itu?" Mario tertawa. Ia mencairkan suasana untuk mendinginkan dirinya. Tubuhnya tadi sangat panas karena gairahnya. Ia pria normal dan hampir delapan bulan ia tidak pernah menyentuh wanita. Tapi tidak dengan Dila, ia tidak boleh melakukannya.
"Jangan membuatku malu Mario. Aku benar-benar lupa. Lagian ini karena kehamilanku. Aku agak kesulitan mengontrolnya." Dila tertunduk malu.
__ADS_1
"Mengontrol gairah seksualmu?" Dila mengangguk. Ia sedikit mengintip ke ruang tamu. Untung saja perawat itu tidak berada di sana.
"Sudah ya. Jangan dibahas lagi." ucap Dila. Ia lalu masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya yang memerah karena malu. Bisa-bisanya ia mengucapkan 'lagi kepingin'. Harusnya ia cukup dengan salah memeluk Mario. Cukup itu saja. Mengapa kalimat yang memalukan itu terucap juga dari bibirnya?
"Kita keluar yuk, jalan-jalan pagi. Pulang baru mandi." ajak Mario setelah Dila keluar.
Mereka berjalan bergandengan di jalan setapak tengah sawah. Menghirup udara pagi yang segar di sana.
"Cinta, maaf kemarin kamu harus melihat kondisiku yang mengerikan itu." ucap Mario.
"Mengapa kamu minta maaf? Itu bukan salahmu. Hanya saja itu membuatku bertanya. Saat kamu merasakan sakit yang luar biasa itu, mengapa kamu tidak berpikir untuk segera melakukan operasi?" tanya Dila.
"Aku pernah berpikir untuk dioperasi saat pertama aku pulang ke Indonesia. Aku tidak jadi dioperasi karena...kamu." Dila menghentikan langkahnya.
"Saat aku bertemu denganmu lagi dan kamu sudah menikah, entah mengapa aku merasa tidak ada gunanya aku hidup lebih lama. Aku lelah. Selama ini aku hidup bukan untuk kebahagiaan diriku. Seolah tidak ada tujuan dalam hidupku. Aku hanya ingin melihatmu di sisa hidupku." Mario menghela napas. Melanjutkan langkahnya dengan Dila yang sempat terhenti sejenak tadi.
"Lalu?" tanya Dila.
"Lalu saat aku mendengar kamu ingin aku tetap hidup, keinginan untuk dioperasi itu timbul kembali. Secinta itu aku sama kamu hingga semua permintaanmu aku turuti. Apa kamu tahu bahwa kemungkinan operasi itu berhasil hanya 60 persen?" Dila menutup mulutnya karena terkejut. Ia menggeleng karena memang tidak mengetahui itu. Mario tersenyum.
"Ya, hanya sebesar itu. Makanya aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kekasihmu untuk tujuh hari saja. Maunya sih sebulan, tapi Richie akan membunuhku hahaha...Itu keinginan terbesarku, berpacaran denganmu. Sejak dulu hingga sekarang walau aku tahu kamu sudah menikah." Dila merasakan jemari Mario yang menggandengnya lebih erat sekarang.
__ADS_1
"Mari kita pacaran." kata Dila. Ia tidak tahu bahwa persentase Mario bisa selamat hanya 60 persen. Ia berjanji akan membuat Mario bahagia selama enam hari yang tersisa ini.
"Boleh aku menciummu di sini?" tanya Mario. Dila mengangguk. Mario menginginkan itu, mencium Dila di tengah sawah selayaknya orang pacaran. Mario memeluknya dan mulai menciumnya. Dila mengalungkan tangannya di leher Mario dan membalasnya.
"Kita kembali ke kamar yuk. Nanti kamu lelah." ucap Mario setelah melepaskan bibir Dila yang sedikit membengkak karenanya. Dila memakai kembali masker yang tadi dilepasnya.
"Kamu mau sarapan apa Cinta? Biar aku pesan, kita makan di sini." tanya Mario setelah mereka sampai di kamar. Dila menatapnya dengan aneh. Ia terdiam. Baru lima menit lalu Mario memintanya untuk menelepon bagian dapur karena mereka ingin makan bubur ayam yang terkenal enak di hotel itu.
"Kita kan sudah pesan bubur ayam." jawab Dila. Mario terkejut dengan perkataan Dila. Namun ia mendadak tertawa kecil.
"Aku kelaparan. Aku masih ingin memesan yang lain. Kamu mau apa selain bubur ayam?" tanyanya lagi.
"Oh begitu. Aku minta roti panggang saja." Dila menjawabnya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali Mario lupa dengan apa yang dilakukannya. Kemarin malam saat mereka sedang mengobrol, sebelum sakit kepalanya kambuh. Ia menanyakan keberadaan perawat mereka. Padahal baru saja ia menyuruh mereka kembali ke kamar sebelah.
Dila mengirim pesan ke dokter yang menangani Mario. Tiara memintanya bertanya atau sekedar melapor jika ada hal aneh yang terjadi dengan Mario. Dokter menjawab bahwa kehilangan ingatan jangka pendek juga merupakan salah satu gejala tumor otak yang diderita Mario. Dila melihat Mario yang baru selesai mandi. Pria tampan yang sepertinya memiliki segalanya di usia muda itu ternyata tidak seberuntung yang dipikirkan orang.
*****
Richie membuka pesan yang baru dikirim Dila yang ternyata foto sawah di dekat hotel tempat mereka menginap dulu. Ia meletakkan ponselnya kasar di atas tempat tidurnya. Handuk masih terlilit di pinggangnya. Richie mencoba untuk tidak berpikir apapun tentang istrinya dan Mario. Ia berkonsentrasi dengan memilih pakaian kerja dan dasinya, jam tangan yang akan dikenakannya, ikat pinggangnya, lalu...Sial! Mengapa bayangan dua orang itu manari-nari di pikirannya? Richie terlanjur tahu bahwa satu-satunya pria yang pernah disukai Dila sebelum dirinya adalah Mario. Andai saja dia tidak mengetahui hal itu, mungkin Richie tidak segalau ini. Richie sering membaca bahwa perempuan sulit sekali melupakan cinta pertama mereka. Apalagi ia tahu bahwa Dila bukan tipe wanita yang sering bermain dengan perasaan. Richie melepas lagi dasi yang baru dipakainya. Dasi bergaris biru itu tidak cocok dengan kemeja yang dipakainya.
"Cepatlah pulang sayang." ia bergumam.
__ADS_1
*****