SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 20


__ADS_3

"Kak Jeno, boleh bicara sebentar?" Dila menemui Jeno setelah selesai siaran.


"Ya Cinta, masuklah. Ada apa? Kok feelingku ga enak ya?" mereka tertawa.


"Gini Kak, saya mau minta pengurangan jadwal siaran. Mungkin bisa jadi dua kali seminggu saja. Ada hal pribadi yang harus saya lakukan. Saya tidak enak jika harus izin terus." Dila pasrah jika Jeno memecatnya.


"Kamu tahu kan Cinta, rating Suara Cinta lumayan tinggi. Itu semua juga karena kerja keras kamu."


"Saya menyukai pekerjaan ini Kak, sungguh. Dengan siaran saya bisa menjadi diri saya sendiri, mengungkapkan semua yang saya rasakan. Tapi maaf banget Kak, saya juga terpaksa karena ada hal mendesak yang saya juga tidak tahu sampai kapan selesainya."


"Gini aja deh Cinta, dua kali seminggu kan? Ok. Jangan kurang dari itu, jadwalnya kapan nanti baru kita atur lagi. Sebenarnya aku ada penyiar baru, rencana besok dia datang. Tadinya untuk program lain, tapi berhubung aku tidak mau Suara Cinta hilang, mungkin dia bisa menggantikan kamu. Besok kita bicarakan detailnya pas dia datang."


"Terima kasih banyak Kak. Saya pulang dulu." Dila bersyukur memiliki atasan seperti Jeno. Ia mengenal Jeno sejak kuliah. Jeno bisa tahu karakter suara Dila hanya dengan berbicara dengannya, tapi Dila tidak pernah percaya diri jika diminta siaran oleh Jeno. Lalu di saat Dila benar-benar kekurangan uang, ia mencobanya dan ternyata dia menyukainya.


Dila menunggu angkot tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya. Tampak sebuah mobil yang sudah sangat dikenalnya terparkir di sana. Richie keluar, memanggilnya masuk ke mobil. Dila takut Richie sudah mengetahui bahwa ia memiliki pekerjaan lain.


"Sudah makan?" tanya Richie.


"Sudah, Pak" jawab Dila. Namun perutnya yang mendengar kata 'makanan' seakan langsung meronta-ronta. Kruuk..Kruukk.. Dila mengutuki perutnya yang tidak bisa diajak kerja sama. Richie tertawa. Ia melajukan mobilnya menuju sebuah restoran ayam bakar terdekat.


"Makan dulu yuk, aku juga lapar." kata Richie. Dila menurutinya.


Richie tidak menanyakan apapun tentang alasan Dila yang masih belum pulang di jam segini. Tadi sore ia sudah mengantar Dila pulang ke rumah. Dila pun sudah mengganti pakaiannya. Hanya saja Richie sangat penasaran, pekerjaan apa yang hanya dilakukan kurang lebih tiga jam saja. Ia ingin bertanya namun ditahannya.


"Mba Hannah, sekarang jarang terlihat sama pacarnya, apakah hubungan kalian baik-baik saja?" seorang wartawan mewawancarai Hannah di luar sebuah gedung. Dila dan Richie menoleh ke televisi yang menjadi asal suara itu.


"Kami baik-baik saja, tapi dia sedang sibuk. Ya kalau ga saya ke sana, dia yang menghampiri saya di Jakarta pas weekend." jawab Hannah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jadi kapan kalian meresmikan hubungan?" tanya wartawan itu lagi.


"*Secepatnya. Doain saja y*a." Hannah masuk ke mobilnya.


Richie melihat ke arah Dila. Dila berusaha tenang sambil menyantap makanannya. Ini yang sering membuat Richie sulit menghadapi Dila. Dila jarang menunjukan apa yang ia rasakan, sulit ditebak.


"Dila, kami sudah putus." Richie menjelaskan tanpa diminta. Dila menyelesaikan makanannya.


"Bapak belum habis? Saya sudah kemalaman. Saya pulang duluan ya. Terima kasih makan malamnya. Permisi." Dila hendak pergi dari sana. Richie mengeluarkan uang dari dompetnya dan meninggalkannya di meja. Ia mengejar Dila.


"Dila, saya antar, masuk ke mobil sekarang." Dila tidak menggubrisnya.


"Masuk atau akan saya gendong!" Dila tahu Richie akan benar-benar menggendongnya jika tidak menurutinya. Ia masuk ke mobil.


"Dila, kami benar-benar sudah putus." Dila melihat ke arah jendela, merasa air matanya akan mengalir. Ia bahkan merasa sakit sebelum semuanya dimulai. Dila benar-benar harus bermental baja jika memilih berpacaran dengan Richie.


"Maaf, aku akan membicarakannya dengan Hannah. Jangan menangis. Percaya padaku Dila, aku tidak mencintainya, sungguh." Richie memeluknya. Dila percaya dengan Richie, hanya saja situasinya terlalu menyakitkannya.


"Apa Bapak masih mencintaiku?" Dila menatap Richie.


"Apa maksudmu dengan masih? Tentu saja. Dan aku harap kamu pun merasakan yang sama Dila."


"Aku juga mencintaimu Pak Richie. Ayo kita lalui ini bersama." Dila sudah tidak mau lagi berada di pihak yang lemah. Ia bosan dengan hidupnya yang selalu mengalah bahkan untuk apa yang menjadi haknya. Ia pantas untuk bahagia.


"Benarkah Dila?" Dila mengangguk. Richie tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia kira Dila akan marah dengan apa yang dikatakan Hannah.


"Ayo kita lalui ini bersama. Jangan pernah menyerah karena aku akan terus bersamamu. Terima kasih Dila." Richie mencium bibirnya pelan, hanya sebentar seolah meresmikan hubungan baru mereka.

__ADS_1


"Kita pulang ya, kamu pasti sudah lelah." Mereka pulang dengan perasaan bahagia dan lega. Cinta hanya butuh mencintai dan dicintai. Jika simbiosis itu sudah ada, apa yang salah dengan menjalaninya bersama.


*****


"Hannah, maksud kamu apa sih bilang ke media kita masih pacaran? Aku bahkan sudah suruh kamu bilang ke mereka bahwa kamu yang putusin aku. Bilang saja sudah tidak ada kecocokan lagi. Kalau kamu gini terus, aku tidak bisa menahan diri untuk bilang ke wartawan kalau kita sudah putus. Ada seseorang yang harus aku jaga perasaannya." Richie menelepon Hannah.


"Hah? Kamu sudah punya pacar baru? Segitu cepatnya? Gila ya kamu..tega banget." Hannah tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Aku minta maaf, tapi itu benar. Aku sudah menemukan orang yang aku cintai."


"Siapa dia? Aku ingin tahu siapa yang sudah merebutmu dari aku?"


"Kamu..tidak perlu tahu. Dan dia tidak pernah merebutku darimu, kita putus sebelum aku menyadari aku mencintainya."


"Siapa??" teriak Hannah.


"Maaf, tolong segera kamu klarifikasi ke media. Selamat malam." Richie memang terkesan sangat kejam. Di saat Hannah belum menerima putusnya hubungan mereka, Richie bahkan sudah menjalin hubungan dengan Dila. Tapi siapa yang bisa mengatur kapan datangnya cinta. Richie sangat bahagia Dila mau menerimanya secepat ini. Sekarang Richie hanya ingin membantu Dila menyelesaikan masalahnya secepat mungkin.


Richie mengambil laptopnya, mengetik nama Ivan Nugraha penasihat hukum. Richie akan mengajak Dila menemuinya akhir pekan ini.


*****


"Masih bersama Cinta di stasiun Future kesayangan kita 97.5 FM...Sekarang Cinta akan bacain chat terakhir pada malam ini. Hai Cinta, aku cowok RA 28 tahun. Melalui Suara Cinta, aku ingin berterima kasih atas saran-sarannya selama ini sehingga wanita yang aku cintai mau menerimaku pada akhirnya. Dia adalah AC. Seorang wanita luar biasa yang pada akhirnya mampu membuat hatiku bergetar kembali di saat aku mengira hati ini telah mati. Dia bisa membuat aku merasakan indahnya dan sakitnya merindu. Dia juga bisa membuat aku merasakan panasnya api cemburu. Dan semua itulah yang membuatku menjadi hidup di saat aku mengira semuanya meredup. Dear AC, kuharap kita bisa melalui semuanya bersama. Jangan pernah menyerah akan kita. Maafkan aku yang tidak biasa berkata romantis. Tapi aku tahu kamu bisa merasakan semua yang aku rasakan. So sweet... Sayang nama cowok dan cewek nya disamarin ya, kan sayang jadinya si cewek ga tau itu dari pacarnya. Itulah indahnya cinta ya. It's always take two to tango. Butuh dua orang untuk membangun pondasi cinta. Karena jika hanya dari sebelah pihak, pondasi itu tidak akan kuat. Oh ini, ada chat lagi dari nomor tadi, sebentar ya guys..Cinta baca sebentar. Namaku Richie Andirawan, surat tadi untuk AC yang merasa dicintai dan mencintai RA." Cinta terdiam sesaat. Bahagia karena surat yang indah itu untuknya. Tapi juga takut Richie mengetahui tentang pekerjaannya.


"Ok, Richie.. Lagu terakhir spesial untuk Anda dari Marcell dengan Takkan Terganti. See you next week di Suara Cinta 97.5 FM...Happy weekend." Dila melepas headphonenya. Ia masih tidak percaya Richie atasannya yang dingin itu bisa mengirim pesan manis untuknya di radio.


*****

__ADS_1


__ADS_2