
Dila terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya. Pukul 08.20. Dila merasakan pinggangnya yang terasa berat. Dila membalikkan badannya dan ia berteriak karena terkejut. Richie tidur di sebelahnya dan memeluk pinggangnya dari belakang. Richie pun akhirnya terbangun karena teriakan itu.
"Kok kamu bisa di sini?" tanya Dila sambil menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia terbiasa tidak memakai bra saat tidur.
"Aku tidak bisa tidur di rumah sakit, tadi subuh Vicky datang. Jadi aku ke sini. Kan aku punya kunci kamar juga satu lagi." Richie masih terlihat lelah.
"Ya sudah. Tidur lagi lah. Masih bisa tidur dua jam." kata Dila.
"Tanggung. Sarapan yuk. Aku lapar banget Sayang. Daripada kamu yang aku makan hahahaha..." Richie menarik selimut Dila. Dila melemparkan bantal ke wajah Richie.
"Pagi-pagi pikirannya mesum. Mama sudah sadar?" tanya Dila.
"Sudah. Tapi masih agak lemas. Dokter bilang siang ini sudah bisa masuk kamar biasa." jawab Richie.
"Apa aku pergi sendiri saja ke tempat Bram? Ada om Ivan juga." kata Dila.
"Aku temanin." Richie memeluk Dila di tempat tidur.
"Nanti ada polisi juga teman om Ivan." kata Dila. Richie melepaskan pelukannya.
"Kok aku ga tau?" tanya Richie.
"Kemarin mau cerita, tapi takut kamu kepikiran. Mama kan baru dikabarkan sakit. Siap-siap yuk. Laper juga nih." Dila mencuci mukanya dan mengganti pakaian. Ia akan mandi setelah sarapan.
*****
"Siang Om Bram." Dila masuk ke ruangan Bram dengan penuh percaya diri. Richie berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Dila?" Seorang perempuan di belakang Bram maju memeluk Dila. Dila bingung dengan sosok itu. Ia tidak tahu siapa dia.
"Aku Tante Nancy. Kamu lupa?" tanyanya. Dila mengingatnya sekarang.
"Ya ya...Dila ingat dengan Tante. Tapi Tante tahu kan apa yang Dila ingat tentang Tante?" Dila tersenyum sinis. Kesalahan besar jika Bram membawa Nancy untuk membantunya. Dila malah semakin membenci karena mengingat semua perlakuan mereka berdua. Nancy, bahkan ia lebih kejam dari Bram.
"Wah wah...ini pacar kamu ya? Ganteng banget. Kerjanya apa? Kayaknya Tante pernah lihat kamu deh di mana gitu." Nancy menyapa Richie.
"Sudahlah Tante. Om Bram. Kita langsung saja ya. Dila ingin menanyakan semua aset papa Dila dulu. Masih ada di Om kan?" tanya Dila.
"Maaf Dila, tapi dari dulu itu milik Om. Almarhum papamu dari awal membuat semua sertifikat atas nama Om Bram." Bram mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam brankasnya dan memberikan ke Dila. Dila dan Richie memeriksanya.
"Om yakin ini sertifikatnya? Kenapa yang ada di Dila beda?" Dila mengeluarkan fotocopy sertifikat tanah dan rumahnya atas nama Deryanto Firdaus.
"Kamu...kamu dapat ini dari mana? Kamu palsuin ya? Mau nipu saya?" Bram berdiri dari duduknya, emosinya meledak. Richie pun ikut berdiri, ia tidak mau Bram sampai menyakiti Dila.
"Apa maksud kamu?" teriak Nancy.
"Cukup!! Tante tidak perlu ikut teriak. Dila bukan anak kecil lagi yang takut dengan teriakan Tante seperti dulu. Kita tidak perlu membicarakan sertifikat lagi, semuanya akan kembali menjadi milik Dila dan Vio. Kami ahli waris yang sah. Sekarang Om jawab. Di mana uang asuransi yang setahu Dila akan cair saat Dila berumur 17 tahun?"
"Itu...itu..." Bram terbata-bata.
"Om tidak bisa jawab? Dila panggil seseorang yang bisa bantu Om jawab ya." Dila menelepon seseorang dan memintanya masuk. Tidak berapa lama Ivan masuk dengan seorang polisi berpakaian preman.
"Ivan? Coba kamu jelaskan ke Dila semuanya. Bahwa dia salah paham atas warisan yang dikiranya adalah miliknya." ucap Bram.
"Pak Bram. Sudah berakhir Pak. Maafkan saya. Saya harus menebus semua kesalahan dan dosa saya. Anakku bisa hidup hingga sekarang sudah cukup bagiku." Bram dan Nancy sangat terkejut dengan perkataan Ivan. Mereka tidak menyangka Ivan akan berkhianat.
__ADS_1
"Dila, Om Ivan sudah melaporkan direktur Asuransi FA yang membantu pencairan uang asuransi jiwa ke penerima fiktif. Dia sudah dibawa ke kantor polisi. Mungkin penyelesaiannya dengan penyitaan aset Bram. Kita juga bisa menuntut ganti rugi lain nanti, karena dari kamu 17 tahun hingga sekarang 24 tahun uang itu harusnya masih bisa berkembang jika tidak ditarik. Kita akan membicarakan teknisnya nanti." Dila tersenyum mengucapkan terima kasih ke Ivan.
Ivan memberikan kode untuk polisi yang berada di belakangnya. Polisi itu maju memberikan surat perintah penangkapan untuk Bramantio Firdaus. Bram berteriak ketika tangannya diborgol. Nancy pun tidak kalah histeris.
"Maaf Om, kita bertemu di pengadilan nanti." ujar Dila. Bram diseret keluar. Di luar ruangan masih ada dua rekan polisi yang menunggu.
"Dila..Dila..Maafkan Om dan Tante. Tante mohon bebaskan Om Bram. Kita ngomong baik-baik ya."
"Maaf Tante. Dila sudah memberi kesempatan untuk Om Bram dari dua minggu lalu. Dila permisi." Dila dan Richie berbalik akan keluar ruangan. Tapi Nancy memanggil nama Dila dengan keras. Dila pun menengok ke belakang dan....Doorrrr...Dila tidak sempat melihat apa yang terjadi. Telinganya berdengung hebat. Saat tersadar, Dila melihat beberapa polisi tadi masuk lagi ke ruangan itu dan menangkap Nancy. Saat itu Dila baru melihat Richie memanggil-manggil namanya.
"Dila..Dila...Sayang.." Dila baru merasakan lengannya yang kanan sangat sakit, panas seperti terbakar.
"Richie, kamu tidak apa-apa? Suara tadi..."
"Aku tidak apa-apa. Tanganmu tertembak Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang." Richie menggendong Dila dan membawanya ke rumah sakit. Dila berada di antara sadar dan tidak. Ia mendengar suara Richie yang memanggilnya. Meminta Dila tetap tersadar. Dila ingin menjawabnya, namun suaranya tidak keluar.
Peluru di lengan Dila sudah dikeluarkan. Untungnya tidak terlalu dalam. Ia pun sudah sadar dan tengah berbaring.
"Richie, tidak perlu rawat inap kan? Aku tidak apa-apa kok. Kita pulang ya." kata Dila sambil membenarkan posisi penyangga lengannya.
"Setidaknya satu hari hingga jahitannya agak membaik. Sayang, aku takut banget tadi. Maaf aku tidak melindungimu. Aku tidak menyangka tu nenek sihir ada pistol. Gila. Kalau tadi kamu kenapa-kenapa, aku harus gimana Dila? Aku bisa gila. Atau mati." Suara Richie bergetar, matanya berkaca-kaca.
"Untung aku yang kena. Kalau kamu yang kena, aku ga bakal kuat gendong kamu kayak tadi. Aku bakal diomelin sama mamamu. Dan aku pasti seumur hidup merasa bersalah kamu terluka karena urusan pribadi keluarga aku." Richie menggeleng.
"Tidak ada yang lebih mending. Mari kita berdua hidup sehat hingga menua bersama." Richie mengecup kening Dila.
"Iya. Tapi pulang yuk. Aku mending istirahat di hotel daripada di sini. Aku benci suasana rumah sakit. Lagian kamu harus ke rumah sakit lihat mama." Dila memelas. Richie mengangguk.
__ADS_1
*****